
Monita yang tampak lemas mulai duduk bersandar di sofa tempat mereka bergulat tadi, dengan nafas yang masih terengah-engah, begitu pun dengan Ilham, mereka sama-sama duduk bersandar di sofa dalam keadaan tubuh yang sudah basah dengan keringat.
Tak lama kemudian ditengah pikiran kosongnya, Monita teringat wajah Naomi, setiap melakukan hubungan ranjang dengan Ilham, Monita selalu merasa bersalah pada wanita yang sudah sangat baik padanya itu.
Sebenarnya Monita tidak tega jika harus menyakiti Naomi, namun entah kenapa, dia juga tidak mampu menahan gejolak yang membara setiap Ilham mulai menggodanya, bagaimana pun Monita sudah sangat mencintai Ilham, pergolakan hatinya itu seakan berdebat tiap kali Ilham mengajaknya berduaan di belakang istri pertama Ilham.
“Mas.” Panggil Monita tanpa menatap Ilham.
“Ya.” Jawab Ilham kemudian mengubah posisinya jadi menghadap Monita sembari mengusap lembut rambut Monita yang sudah tampak sedikit acak-acakan karena ulahnya.
“Sepertinya yang kita lakukan ini salah, kita sudah menyakiti Mbak Naomi.” Ucap Monita menatap lekat Ilham.
“Kita tidak salah sayang, lagi pula kita sudah menikah, qt sudah sah dan aku berhak atas tubuhmu, aku pun sudah teramat sangat mencintaimu.” Ilham menggenggam tangan Monita lalu mengecupnya.
“Tapi Mbak Naomi sudah tidak mengizinkan kita untuk berdua seperti ini, mengingat aku yang sudah hamil, waktu itu Mbak Naomi membiarkan kita berdua berduaan agar aku cepat hamil, dan sekarang aku sudah hamil, jadi secara tidak langsung Mbak Naomi sudah menciptakan tembok tinggi untuk kita berdua.”
“Ya, I know! Tapi cinta bukanlah suatu kesalahan, kita tidak minta perasaan cinta ini dihadirkan pada hati kita, tapi kita juga tidak punya pilihan bahkan tidak bisa memilih pada siapa hati ini akan berlabuh kan?”
“Ya tapi…”
“Monita sssttt!!!” Ilham pun dengan cepat menempelkan jari telunjuknya pada bibir Monita yang sudah tampak pucat akibat lum**an yang diberikan Ilham dengan ganasnya pada bibirnya.
“Kamu sungguh mencintaiku kan?” Tanya Ilham dengan raut wajah yang tampak serius.
Monita pun mengangguk pelan.
“Apa kamu akan berfikir untuk menghindariku seperti sebelumnya?” Tanya Ilham lagi.
Kali ini Monita menggelengkan kepalanya.
“Kalau begitu, mari kita jalani saja hubungan yang seperti ini, selama itu bisa membuat kita sama-sama bahagia, maka teruskan saja.” Ungkap Ilham.
“Tapi Mas…”
“Demi Tuhan aku sudah tidak bisa lagi jauh darimu Monita! Kamu sudah menjadi candu bagiku.”
“Lalu, apakah ketika bersama Mbak Naomi Mas akan melakukan hubungan ranjang dengannya?”
“Tidak! Aku tidak akan melakukan hubungan ranjang dengannya lagi Monita.” Tegas Ilham mengingat kembali tanda merah yang ada di pay***ra Naomi tadi, bagaimana pun hal itu sudah membuat Ilham enggan untuk menyentuh Naomi lagi sampai dia mendapatkan bukti perselingkuhan Naomi.
__ADS_1
Namun entah kenapa, Ilham belum sepenuhnya ingin melepas Naomi selama Naomi terbukti tidak bersalah, bahkan saat ini meskipun kemungkinan Ilham sudah tidak akan menyentuhnya lagi, Ilham masih belum siap kehilangan Naomi, sang istri pertama, cinta pertama dan pujaan hatinya itu.
“Begitu kah?”
“Demi Tuhan hanya kau Monita! Only you! Aku tidak mau wanita mana pun lagi.” Perkataan Ilham kali ini memang benar, bahkan untuk saat ini Ilham hanya ingin melakukan hubungan ranjang dengan istri mudanya itu, api ga**ah nya pada Naomi seakan padam semenjak dia meniduri Monita dan bahkan mungkin saja api ga**ah itu sudah tidak akan menyalah lagi, karena kecurigaannya pada Naomi malam ini.
“Tapi Mas, kenapa kau sudah tidak ingin menyentuh Mbak Naomi lagi? Apakah itu tidak aneh? Dulu Mas begitu mencintainya melebihi cinta Mas padaku.”
“Lebih baik kau tidak usah bertanya tentang Naomi lagi, lebih baik kita bahas tentang kita saja, itu akan lebih baik.” Ucap Ilham menimpali.
“Aku tidak bisa jauh darimu Monita, aku sangat mencintaimu, bahkan aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu, aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun itu.”
“Walaupun aku hanya istri keduamu?”
“Aku tidak peduli!!”
Monita pun terdiam sembari terus menatap Ilham.
“Please tetaplah seperti ini! Tidak peduli seberapa banyak rintangan serta halangan yang akan menimpah hubungan ini, aku tetap mau menjalaninya, pelase.” Ilham terus memohon di hadapan Monita, dengan raut wajah sedikit sendu.
Mendengar itu Monita pun tertunduk, saat ini ia benar-benar dilanda kebingungan yang teramat sangat, hati dan pikirannya seakan berselisih paham, hingga membuat Monita bingung harus mengikuti yang mana.
“Seberapa yakin Mas mau menjalani hubungan yang sangat rumit ini?”
“Sangat yakin, asal kamu mau bersamaku selamanya hingga anak kita lahir, hingga dia besar, hingga dia menikah dan memiliki anak, bahkan jika Tuhan masih berkenan memberi kita umur panjang, aku ingin terus bersamamu hingga anak kita mempunyai cucu nanti.” Tegas Ilham.
“Mas, aku sudah cukup kejam saat dengan sadar melakukan hubungan ranjang denganmu dan berduaan di belakang Mbak Naomi, aku tidak mau jadi orang yang lebih kejam lagi, Mbak Naomi sudah begitu baik padaku, bahkan dia sudah menganggap aku seperti adik kandungnya sendiri, dia sudah pernah mengatakan padaku kalau dia percaya aku tidak mungkin mengkhianatinya dengan cara berhubungan diam-diam dengan Mas Ilham di belakangnya.” Jelas Monita mengulang ucapan Naomi tempo hari yang mengatakan kalau dia percaya Monita tidak akan mengkhianatinya.
“Monita please, jangan memikirkan hal lain dulu, aku hanya ingin menjalani hubungan ini denganmu terus menerus sampai kita tua.”
“Dengan cara menyembunyikan ku seperti ini?” Pertanyaan Monita berhasil membuat Ilham bungkam, sejujurnya dia masih ragu apakah suatu saat Monita akan menjadi satu-satunya dalam hidupnya atau akan terus menjadi yang kedua.
“Kamu saja bahkan tidak bisa menjawabnya Mas!” Ucap Monita yang akan beranjak dari duduknya namun dengan cepat Ilham menarik tangan Monita hingga terjatuh ke pangkuannya.
“Tolong jangan menghindar lagi dariku sayang.” Ilham menatap lekat wajah Monita.
“Aku benar-benar bingung Mas, sejujurnya, aku sudah terlanjur terjebak, bahkan aku sudah merasa terbelenggu hingga tidak bisa meloloskan diriku lagi.” Ungkap Monita dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
Ilham pun memeluk hangat tubuh Monita.
__ADS_1
“I love you so much sayang.” Ucap Ilham semakin mengeratkan pelukannya.
“I love you more.” Jawab Monita.
“Apa kamu ingin melakukannya sekali lagi?” Tanya Ilham dengan suara pelan, sembari menampilkan senyuman menggoda.
Monita pun kembali tersenyum geli.
“Memangnya kamu masih sanggup?” Tantang Monita sembari menatap Ilham dan tersenyum.
“Aku masih sangat kuat, bahkan aku bisa melakukan 3-4 kali dalam waktu yang dekat.”
“Hmmm benarkah?” Monita pun mulai mengangkat kedua alis matanya.
“Mari kita buktikan!” Jawab Ilham dengan senyuman penuh keyakinan, lalu mulai melahap bibir Monita dengan ganas.
Monita pun pasrah saat tubuhnya kembali digerayangi sang suami yang begitu perkasa dalam hal hubungan ranjang, bahkan Monita sangat menyukai perlakuan liar Ilham yang membuat dia tidak bisa berpaling lagi dari Ilham.
Suara rintihan Monita yang begitu mendayu-dayu kembali memecah keheningan malam, bahkan terdengar bersahut-sahutan dengan suara des**an Ilham yang cukup gahar di pendengaran Monita.
Tidak lagi melakukan di atas sofa yang sempit, Ilham menggendong tubuh Monita yang polos tanpa busana menuju ranjang empuk itu, begitu Monita sudah terbaring di atas ranjang, Ilham menyusul tubuhnya dan semakin leluasa menggerayangi tubuh istrinya itu semaunya.
Dengan Monita Ilham benar-benar tak terkendali, di tengah malam yang pekat dan dingin, kedua insan dengan ga**ah yang tak terbendung, saling beradu dan saling memangsa dengan ganas hingga membuat ranjang itu jadi sangat berantakan.
Ilham bahkan terus memangsa tubuh Monita dengan begitu lahapnya, membuat Monita tidak punya waktu untuk bernafas lega dan terus terengah.
Hingga tak terasa waktu bergulir begitu cepatnya, kini waktu sudah menunjuk ke angka 01.35 dini hari, Monita bergegas memakai kembali pakaiannya setelah mereka sudah mencapai puncak untuk kedua kalinya.
“Kenapa buru-buru sekali?” Tanya Ilham yang duduk bersandar di kepala ranjang itu, dengan keadaan tubuh yang masih polos tanpa busana.
“Ya, aku harus kembali ke kamarku sebelum Mbak Naomi terbangun, dan Mas juga harus cepat kembali ke kamar Mbak Naomi.” Jawab Monita sembari mengikatkan tali kimononya ke pinggangnya yang ramping.
“Tapi, aku masih ingin denganmu.”
Monita pun mendengus pelan dan tersenyum tipis.
“Waktu mu malam ini sudah habis.” Bisik Monita.
“Benarkah? Lalu bagaimana dengan besok? Aku masih ingin melakukannya lagi besok.”
__ADS_1
“Kita lihat saja nanti.” Monita pun mulai beranjak keluar dari kamar itu begitu saja.