Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 35 Salah Paham


__ADS_3

*Prok prok prokkk*


Hari itu, suara sorakan serta gemuruhnya suara tepukan tangan begitu meriah dan banyaknya orang pun terdengar nyaring, saat seorang Ilham Adhitama baru saja memotong pita sebagai tanda peresmian atas dibukanya launching produk baru untuk perusahaan mereka yaitu produk susu ibu hamil.


Terlihat seorang wanita sudah duduk di jajaran kursi paling depan, ia pun seketika langsung berdiri menampilkan raut wajah yang begitu sumringah sembari terus bertepuk tangan dengan semangat karena saking bangganya.


Kedua orang tua Ilham tidak hadir karena mereka sedang berada di luar negeri dan Ilham mengabari mereka pagi saat hari H, sehingga membuat kedua orang tuanya tidak bisa hadir dalam waktu yang sesingkat itu.


Setelah selesai dengan pemotongan pita, Ilham pun mulai menyampaikan berbagai ucapan terima kasih kepada semua orang yang ikut andil dalam berjalannya program tersebut sampai sukses, ia juga mengucapkan terima kasih kepada orang-orang yang membantu menyelenggarakan acara tersebut dengan meriah, dan terakhir dia mengucapkan terima kasih pada seorang wanita yang kini menjadi tamu VIPnya, siapa lagi orang itu kalau bukan Monita.


Monita pun tampak gugup saat Ilham menunjuk dirinya sebagai tamu VIP di acara tersebut dan mengundangnya untuk berdiri di depan para tamu tepatnya di samping Ilham.


“Aku?” Tanya Monita sembari menunjuk dirinya sendiri, seolah ingin meyakinkan.


Ilham pun tersenyum dan mengangguk sembari memberi kode dengan tangannya agar Monita bisa berdiri di sampingnya agar ia bisa lebih mudah memperkenalkan Monita, kali ini bukan sebagai istri, tapi sebagai tamu spesial.


Monita pun sejenak merasa sedikit kecewa karena Ilham tidak memperkenalkan dirinya sebagai istri tapi hanya sebagai tamu undangan saja, Monita pun tetap berusaha berpikiran positif mengingat posisinya saat ini, dia hanya istri simpanan, dan hal itu cukup membuat Monita sadar sesadar sadarnya.


Akhirnya setelah menghela nafas panjang demi mengusir rasa gugupnya, Monita pun perlahan mengayunkan kakinya menghampiri Ilham.


“Jadi ini dia tamu VIP saya, karena dia lah saya terinspirasi untuk menciptakan produk susu ibu hamil ini.” Ucap Ilham saat Monita sudah berdiri di sampingnya.


“Terima kasih banyak Monita.” Tutur Ilham kemudian yang kini beralih menatap Monita dengan begitu lekat.


Monita pun hanya mengangguk singkat sembari tersenyum tipis.


Sementara dari kursi tamu seorang lelaki menatap Monita dengan tatapan yang berbeda, senyuman sinis kian menghiasi wajahnya, ia terus bertepuk tangan seperti para tamu lainnya dengan tatapan yang tak lekang menatap Monita dengan tatapan tak biasa.

__ADS_1


Lelaki itu tak lain dan tak bukan adalah Rendy, sahabat lama Ilham sekaligus tamu Monita sewaktu bekerja di club malam waktu itu.


Begitu masuk ke acara makan-makan, semua tamu sudah berdiri di samping meja makan untuk menyantap berbagai hidangan makanan elit yang sudah tersedia.


Sementara Monita kini terlihat tengah berdiri sendiri sembari memegang gelas kristal berisi minuman bersoda sembari menatap Ilham yang sedang serius berbincang dengan rekannya yang lain.


“Ekhem.” Suara deheman itu seketika mengejutkan Monita dan sontak melirik ke arah sumber suara.


Namun begitu menoleh, alangkah terkejutnya Monita saat mendapati seorang lelaki yang begitu familiar kini sudah berdiri di sampingnya.


“Tu… tuan Rendy.” Seru Monita dengan tergagap.


“Hahaha ternyata kau masih mengenalku ya, kau wanita malam yang ada di club malam itu kan? Tepatnya sedang menemaniku minum, bahkan kita hampir….” Ucapan pria itu terhenti seketika saat Monita menyuruhnya diam.


“Diam tuan!” Sergah Monita tanpa menatap pria yang tak lain adalah Rendy.


Monita pun terdiam dengan raut wajah tegang.


“Rupanya penampilanmu sudah berubah, dari berpenampilan binal, jadi berpenampilan anggun seperti sekarang.” Seru Rendy sambil menatap Monita dari atas sampai bawah.


“Kalau kau sudah selesai dengan Ilham, kau bisa datang kepadaku, aku akan membayar berkali-kali lipat lebih mahal dari bayaran Ilham.” Lanjut Rendy setengah berbisik.


“Lagipula Ilham tidak akan marah, dia pasti akan dengan senang hati menyerahkanmu padaku setelah urusan kalian selesai.” Ujar Rendy, tak hentinya mencecar Monita dengan berbagai pernyataan.


Mendengar itu, Monita menajamkan tatapannya pada Ilham, yang kala itu tengah asyik mengobrol dengan beberapa rekan bisnisnya yang lain, dadanya terasa sesak, tubuhnya mulai lemas, hingga akhirnya dia pun bertanya.


“Apa Ilham mengatakan itu padamu?” Tanya Monita dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya, hingga hanya dengan satu kedipan saja mampu membuat buliran bening itu lolos mengenai pipi mulusnya.

__ADS_1


“Antara aku dan Ilham tidak ada rahasia.” Bisik Rendy dengan tatapan menggoda.


Monita pun tak menggubris ucapan Rendy, ia dengan langkah panjang-panjang berjalan begitu saja meninggalkan Rendy dan juga meninggalkan pesta sembari menyeka air matanya yang sudah tumpah.


Ternyata hal itu tak luput dari perhatian Ilham, ia melihat Monita berjalan cepat meninggalkan pesta dengan mata yang sembab, dengan rasa penasaran, Ilham langsung pamit pada teman-temannya kemudian berlalu menyusul Monita.


Begitu sampai rumah, Monita sudah tampak begitu marah dan kesal hingga ia pun mulai mengemasi satu persatu pakaiannya untuk di masukkan ke dalam koper dengan air mata yang tak henti-hentinya mengalir begitu saja, namun pada saat ia memasukkan baju terakhir, tiba-tiba tangan seseorang terlihat mencekal tangan Monita dengan lembut, Monita pun menoleh dengan tatapan yang begitu membunuh.


“Untuk apa Mas menghalangiku? Lepaskan tanganku!” Bentak Monita berusaha melepaskan tautan tangan mereka.


“Tidak, aku tidak akan melepaskan tanganmu jika tangan ini akan kamu gunakan mengemasi barang-barangmu untuk meninggalkanku.” Ujar Ilham mulai menatap Monita dengan lekat.


“Apa yang terjadi padamu Monita?” Tanya Ilham dengan lembut sembari meraih sebelah tangan Monita dengan satu tangannya lagi.


“Lepaskan tanganku!”


“Aku akan melepasnya, tapi kamu harus berjanji dulu tidak akan pergi meninggalkan aku.”


“Aku akan tetap pergi, biarkan aku melahirkan anak ini di mana saja, lalu aku akan memberikannya padamu, bagaimana bisa kamu mengangkatku setinggi langit lalu kemudian menjatuhkan ku.” Tutur Monita semakin menangis, bahkan suara tangisnya semakin memilukan.


“Apa maksudmu Monita?” Tanya Ilham mengerinyitkan dahinya.


Monita pun hanya menangis sembari menundukkan kepalanya.


“Monita hei! Ada apa? Tolong katakan padaku, agar aku bisa meluruskannya.” Tanya Ilham sembari mengangkat pelan dagu Monita agar bisa menatapnya.


“Kenapa kamu mengatakan pada tuan Rendy kalau setelah ini kamu akan menyerahkan ku padanya, seakan aku adalah piala bergilir, pantas saja tuan Rendy berkata kalau… kalau aku sudah… sudah selesai denganmu maka aku harus datang padanya, karena dia akan memberikan bayaran yang berkali lipat lebih besar dari bayaranmu! Kalian pikir aku wanita seperti itu? Aku bahkan masih perawan sebelum kamu menyentuhku!” Cetus Monita di sela-sela tangisnya hingga membuat ia terbata-bata.

__ADS_1


“Apa?!” Ilham pun terperanjat, bagaimana mungkin lelaki yang sudah lama dia anggap sahabat bahkan sudah seperti saudara itu mengatakan hal tak senonoh pada istrinya, Ilham pun mulai geram sembari mengepalkan tangannya, namun dia berusaha mengontrol emosinya, urusan Rendy biar nanti dia mengurusnya, saat ini dia harus membujuk Monita terlebih dahulu.


__ADS_2