
Kini Ilham menghampiri istrinya yang berada di kamar bu Rahayu, saat itu Monita terlihat tengah duduk di tepi ranjang sembari mengusap ranjang ibunya dan kembali menangis pilu.
Ilham yang melihat itu semakin tak bisa membendung rasa ibanya, buliran bening kini tampak menggenang di pelupuk matanya, ia berjalan gontai duduk di samping Monita dan mendekap tubuh Monita dengan hangat demi menyalurkan kekuatan kepada sang istri.
“Tadi Mas mengatakan kalau aku harus kuat demi Eden, aku bisa terlihat kuat di depan Eden, tapi sebenarnya hatiku juga terluka Mas, aku sama terpukulnya dengan Eden, tapi aku harus menahan kepedihanku demi menguatkan Eden, sebenarnya aku rapuh Mas, aku tidak kuat.” Isak tangis Monita semakin terdengar pilu.
“Sayang, aku mengerti dengan perasaanmu saat ini, tapi aku mohon tolong ingatlah kalau saat ini kamu sedang hamil, stres untuk ibu hamil itu tidak baik sayang.” Jelas Ilham yang mengusap lembut punggung istrinya.
Mendengar ucapan Ilham membuat tangis Monita mulai mereda, ia mengusap lembut perutnya yang masih rata, dia baru ingat kalau di dalam sana ada malaikat kecil yang sedang bergantung hidup padanya, rasa ego kembali menyelimuti hatinya.
“Aku tidak mau memberikan anak ini untuk kalian, aku tidak mau, aku sangat menyayangi anak ini, ini anakku, aku yang mengandungnya, tidak ada yang boleh merawat anak ini selain aku.” Ucap Monita tiba-tiba sembari menggeleng-gelengkan kepalanya dengan tatapan kosong.
“Sayang hei apa maksud kamu?” Tanya Ilham dan meraih dagu Monita agar bisa berhadapan dengannya.
“Tolong jangan ambil anak ini, aku mohon, dia adalah pengganti ibuku, di dunia ini aku hanya memiliki Eden dan juga anak ini, jadi aku mohon kepadamu jangan ambil anak ini, aku janji aku akan mengembalikan semua uang yang kau berikan padaku, tapi jangan pisahkan aku dengan anakku.” Monita menangkupkan kedua telapak tangannya di depan dada sebagai tanda permohonan.
“Sayang, kita akan merawat dan membesarkan anak ini bersama-sama, aku tidak akan memisahkan kalian, tolong tenangkan dirimu sayang.” Ilham mengusap kedua pipi Monita dan menatapnya dengan lekat, lalu memeluk hangat tubuh istrinya.
“Tolong jangan ambil anakku.” Ucapan Monita semakin terdengar lirih.
“Tidak akan Monita, tolong kamu tenanglah, tugasmu saat ini adalah menjaganya dengan baik, jangan memikirkan hal-hal yang hanya akan membahayakan dia, kamu menyayanginya kan?” Ucap Ilham dengan refleks mengusap lembut perut Monita.
__ADS_1
Monita pun mengangguk singkat dengan keadaan mata yang semakin sembab, bagaimana pun jawaban Ilham saat ini tidak membuat ia puas, berbagai pikiran-pikiran buruk kini sedang menari-nari di kepalanya, bagaimana jika Ilham pada akhirnya akan mengambil anaknya? Bagaimana jika pada akhirnya Monita akan ditendang dari kehidupan Ilham? Namun lagi-lagi Monita memilih untuk bungkam dulu, pikiran yang berkecamuk dan duka yang masih begitu dalam ia rasakan membuat ia tidak berminat membahas hal itu lebih jauh lagi.
“Kita akan membawa Eden pulang besok siang, tapi izinkan aku pulang malam ini ya, aku akan membawa Andre ikut bersamaku karena besok setengah tujuh pagi, aku dan Andre akan mengadakan meeting dengan seorang klien, begitu urusanku selesai, aku akan langsung menjemputmu ke sini.” Jelas Ilham kemudian.
“Iya Mas, jangan lama-lama ya, cepat jemput aku.” Rengek Monita.
“Iya sayang, aku janji akan cepat datang menjemputmu.” Ucap Ilham sembari mencium pipi Monita namun tidak melepaskan tautan tubuh mereka.
Ilham memang akan mengadakan meeting besok pagi, tapi begitu selesai meeting, dia akan langsung menemui pelaku tersebut dan memberikannya pelajaran, namun alasan dia yang satu itu tidak dia beritahukan pada Monita, karena Monita pasti tidak akan mengizinkannya, mengingat dirinya yang akan menghadapi bahaya, karena pasti akan banyak ajudan pelaku tersebut di rumahnya, namun hal itu tak membuat nyali Ilham ciut, berapapun jumlah ajudan mereka di rumahnya, dia akan tetap menghadapinya sekalipun itu hanya seorang diri.
Malam harinya….
Kini Ilham dan Andre sudah berangkat menggunakan mobil masing-masing menuju kota, Ilham pulang ke rumahnya sedangkan Andre pulang ke apartemennya.
Tak terasa dua jam kemudian, mobil yang Ilham kemudikan sudah melesat semakin jauh dari pedesaan dan mulai memasuki jalanan kota.
Ilham melajukan mobilnya membelah jalanan malam yang tampak begitu lengang, waktu pun sudah menunjukkan pukul 01.00 dini hari, karena Ilham berangkat dari desa pukul 11.00 malam.
Mobil melaju terus menerus dengan kecepatan tinggi hingga tak terasa, mobil Ilham sudah terparkir sempurna di pekarangan rumahnya.
Begitu sampai, Ilham belum langsung turun dari mobil, ia menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kemudi sembari melonggarkan dasinya, Ilham tampak begitu lelah, namun amarahnya tidak akan padam mengingat rencananya yang akan menemui pelaku bejat itu.
__ADS_1
“Benar-benar tak disangka, orang yang selama ini aku anggap baik ternyata begitu kejam, aku pikir dia berubah, ternyata topengnya yang jatuh, mungkin itu sudah tabiatnya dari dulu, namun aku baru menyadarinya sekarang.” Gumam Ilham dalam hati dengan tangan yang mulai mengepal.
“Keterlaluan!! berani sekali dia membunuh ibu mertuaku, mungkin baru kali ini dia akan melihat sisi terburukku.” Geram Ilham merutuki kesalahan sahabat lamanya itu, ya pelakunya tidak lain dan tidak bukan adalah Rendy.
Ilham pun memutuskan untuk masuk dan istirahat dulu demi mempersiapkan tenaganya besok, dia sudah menelepon beberapa anak buahnya untuk bersiap-siap pergi mengepung rumah Rendy begitu dia beri aba-aba.
Ilham sudah turun dari mobil, berdiri di depan pintu hendak mengetuk pintu, begitu Ilham mengetuk dan pintu sudah terbuka, Ilham begitu terperanjat melihat siapa gerangan yang membukakan pintu untuknya, mata Ilham sontak membulat sempurna, Ilham mendadak jadi begitu tegang.
“Na… Naomi!” Ilham yang nampak begitu tercengang melihat istri pertamanya yang kini sudah berada di depannya.
“Surprise!!!” Seru Naomi tersenyum lebar sembari merentangkan kedua tangannya.
Ilham yang masih nampak syok dengan kehadiran Naomi secara tiba-tiba itu akhirnya menunjukkan senyuman termanisnya, yang sesungguhnya itu hanyalah senyum keterpaksaan.
Hingga akhirnya Ilham mengayunkan kakinya mendekati Naomi lalu memeluk tubuhnya dengan hangat, bagaimana pun Ilham masih begitu merindukan istri pertamanya itu, mereka saling berpelukan erat dengan mata yang terpejam menuangkan rindu yang sudah lama terpendam.
Tak lama mereka melepaskan tautan tubuh mereka dan saling berpandangan satu sama lain.
“Dari mana saja kamu? Kenapa kamu begitu tega pergi dari rumah ini dan meninggalkan aku?” Tanya Ilham dengan nada lembut.
“Lebih baik kita masuk dulu, nanti kita bicara di dalam.” Jawab Naomi kemudian menggandeng tangan Ilham dan membawanya masuk ke dalam rumah.
__ADS_1