Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 81 Terciduk Lagi


__ADS_3

“Sayang, kamu sudah sadar?” Tanya Ilham begitu melihat Monita mulai membuka matanya secara perlahan.


Monita tak menggubris pertanyaan Ilham dengan jawaban dari mulutnya, ia hanya mengangguk singkat saja.


“Maafkan aku sayang, aku tau tidak ada yang perlu aku jelaskan karena perkataanku tadi, aku tau perkataanku itu mengundang perih di hatimu, tapi kau tak sendiri kan sayang, saat itu sedang dilanda kebimbangan, tapi percayalah, jauh ke dalam lubuk hatiku, aku sangat sangat mencintai kamu, bahkan aku rela menjadi budak cintamu sayang.” Jelas Ilham panjang lebar.


“Mas… a-ummpph!”


Tidak ingin mendengarkan ucapan Monita sampai selesai, Ilham langsung mencium sang istri begitu saja.


Dalam kungkungan Ilham, Monita memberontak hebat, ia memukul-mukul dada Ilham dengan super keras.


Walaupun dadanya sakit akibat pukulan Monita, Ilham memilih tidak menggubris, sepasang tangan kecil itu dengan mudahnya ditahan Ilham dengan sebelah tangannya.


Cukup lama Monita berontak hingga akhirnya dia kehabisan tenaga dan pasrah menerima ciuman Ilham, dia hanya menerima namun tidak membalas ciuman itu.


Ilham melepas tautan bibir mereka sebentar saja, hanya untuk mengambil napas beberapa tarikan.


“Mas itu a-ummmpphh!”


Ilham benar-benar tak membiarkan Monita bicara satu kalimat pun, dia kembali melum*** bibir Monita, lum*** itu memang tak begitu kasar, namun tetap saja Monita kelabakan akibat ulahnya.


Tangannya tidak tinggal diam, jari-jarinya bermain di perut buncit Monita, menyapa calon anaknya di sana.


“Apa yang kalian lakukan?!”


Lengkingan yang tak asing dari ambang pintu itu membuat Monita terkesiap, sadar apa yang sudah terjadi, dia dengan sekuat tenaga mendorong tubuh Ilham, tubuh kekar itu terhuyung ke belakang.


Monita buru-buru menyapu bibirnya yang basah, lalu bangkit dari ranjang, menghadap seorang wanita yang sejak tadi ada di ambang pintu kamarnya, Ilham yang baru sadar ada orang lain di apartemennya segera berdiri, sayangnya belum sampai di ambang pintu tubuhnya membeku.


“Na.. Naomi?” Lirih Ilham. Matanya membulat sempurna. Wajahnya memucat sempurna.


“Kenapa bisa sampai ada di sini?”


Naomi, wanita yang berteriak tadi berjalan ling lung menghampiri Ilham dan Monita, mulutnya menganga, gurat keterkejutan menyelimuti wajahnya dengan pekat.


“Insting seorang istri itu kuat, dan hari ini aku sudah membuktikannya, sejak kepergianmu aku gelisah, apa benar kamu pergi ke luar kota untuk urusan pekerjaan? Namun siapa sangka aku malah menemukanmu ada di sini dan sedang mencumbunya.” Lirih Naomi dengan mata berkaca-kaca.


“Bahkan bukan hanya itu, di depan mataku kamu mengatakan kalau kamu sangat mencintainya.”


Monita buru-buru mendekati Naomi, dia menggenggam kedua tangan lentik milik istri pertama Ilham itu dan berkata.


“Mbak Naomi ini…”

__ADS_1


Naomi menepis tangan Monita dan


PLAAKK!


Secara dramatis ia menampar pipi Monita sangat keras, pipi Monita langsung memerah bahkan mengeluarkan darah dari ujung bibirnya.


“Naomi! Apa-apaan kamu!” Ilham langsung menghampiri Monita dan mengelus pipinya berkali-kali lalu mengusap darah di ujung bibirnya.


“Mas jangan membuat mbak Naomi semakin salah paham!” Ucap Monita lalu mendorong tubuh Ilham menjauh darinya, ia memundurkan kakinya beberapa langkah.


Sakit, panas, perih semua berbaur menjadi satu dan menimbulkan sesak di dada Monita, tubuhnya bergetar hebat karena ketakutan, seumur-umur baru kali ini dia mendapat tamparan sekeras itu.


“Dasar pelacur! Akhirnya kau kembali pada derajatmu yang sesungguhnya, aku pikir wanita malam adalah wanita juga, namun nyatanya aku keliru!” Pekik Naomi.


Dengan emosi yang menggebu, Naomi mendorong tubuh Monita sekuat tenaga, membuat tubuh mungil itu terjatuh, pantat Monita membentur lantai dengan keras, dia meringis, buru-buru dia mengusap perutnya mencoba menenangkan calon bayinya kalau mereka akan baik-baik saja.


“Monita!” Teriak Ilham kalap.


“Kamu tidak apa-apa?” Ilham cemas menatap wajah Monita yang tampak pucat, ia turut mengusap perut istri keduanya itu.


“Naomi apa yang kau lakukan!” Tegur Ilham dengan wajah memerah.


“Karena dia pantas mendapatkannya mas! Naomi melotot ke arah Ilham.


“Jadi begini sifat aslimu Monita? Wajah polos, tutur kata sopan, tapi ternyata suka bermain api dengan suami orang!” Ucap Naomi kembali memandang Monita dengan tatapan meremehkan dan jijik.


“Tidak pernah menggodamu? Lalu kenapa kamu membohongiku dan malah datang ke sini bersama dia? Apa kamu yang menggodanya lebih dulu mas? Bahkan kamu sudah melewati batas mas, sudah berulang kali aku katakan, jangan pernah mencintai Monita dan jangan pernah bermain api lagi dengannya setelah dia hamil, tapi kamu malah melanggarnya!”


Ilham menggelengkan kepalanya berkali-kali, Monita memang tidak menggodanya, dia berulang kali menyuruh Ilham pergi, memang benar Ilham yang terlalu getol mengejar Monita.


“Aku yakin suami aku tidak merayumu lebih dulu! Pasti kamu yang lebih dulu merayunya kan Monita? Mengaku kamu! Jangan diam saja! Gunakan mulutmu itu untuk bicara! Jangan hanya digunakan untuk mencumbu suami orang! Dasar perempuan jal*ng!”


“Naomi sudah cukup!” Murka Ilham, dia tak akan membiarkan Monita dihina, bahkan oleh Naomi sekalipun.


Ilham berdiri di depan Monita, bermaksud menghalangi Naomi yang hendak menghampiri Monita lagi,


“Minggir kamu mas!” Teriak Naomi, dia memberontak begitu Ilham menghalanginya mendekati Monita yang sejak tadi hanya tertunduk dalam, ia tak mengeluarkan sepatah katapun.


“Heh pelacur! Kenapa diam saja? Ayo bicara!”


“Naomi! Jaga mulut kamu, Monita bukan pelacur!” Ilham tidak suka Monita dikatai pelacur, dia suci luar dalam sampai Ilham menidurinya dengan paksa.


“Ada apa ini?”

__ADS_1


Eden tiba-tiba masuk ke dalam kamar dan berjalan melewati Naomi dan Ilham, lalu berdiri di samping Monita dan mengusap kedua pundak kakaknya itu.


Tak lama Andre pun muncul menyusul Eden yang baru saja masuk ke dalam kamar itu.


“Jangan ikut campur kamu anak kecil!” Bentak Naomi memandang ke arah Eden yang tiba-tiba nimbrung.


“Aku memang anak kecil, tapi aku akan berubah jadi orang yang sangat kejam jika kamu berani melukai kakak saya!” Balas Eden tak kalah garangnya.


“Lagi pula, kamu harus terima kenyataan kalau suami kamu ini sudah mencintai kakak saya, kamu tidak sadar-sadar juga ya, mereka saling mencintai itu karena kamu yang memberi mereka peluang.”


“Diaaammm!” Teriak Naomi sembari menutup kedua telinganya.


Tak lama Naomi menarik napas dalam dan mencoba menenangkan dirinya, lalu mulai berbicara dengan tenang.


“Kalau begitu, ceraikan aku saja mas, aku sadar dengan posisiku saat ini!”


Ilham langsung terperanjat mendengar kalimat tak terduga itu.


“Mi, tolong jangan ucapkan kata itu, aku tidak ingin menceraikanmu.”


Naomi menggeleng kuat-kuat, menyangkal semua yang dikatakan Ilham.


“Lebih baik kita bercerai mas! Karena pada akhirnya, meski aku sudah bertahun-tahun bersamamu, akan tetap terusir juga karena seseorang yang mampu memenuhi satu keinginan kamu.”


Di saat Ilham dan Naomi beradu argumen, Monita berdiri gelisah di tempatnya, perutnya terasa nyeri, tapi dia sadar ini bukan saat yang tepat untuk mengaduh.


Monita bertekad melerai pertengkaran ini, ia tidak ingin rumah tangga Naomi dan Ilham yang sudah dibangun bertahun-tahun kandas begitu saja.


“Mbak Naomi!” Monita buka suara meski dia tau Naomi takkan menggubrisnya.


“Aku dan mas Ilham cuma nikah kontrak, jika mbak Naomi ingin aku pergi dari kehidupan mas Ilham sekarang, aku akan pergi.” Ujarnya tanpa ada keraguan.


Sementara Ilham, menatap Monita dengan pandangan keberatan, ia menegur Monita dengan suara lirih.


“Monita apa maksud kamu?”


Ilham mengguncang pelan tubuh Monita, berusaha menyadarkan sang istri kedua dari ucapannya yang membuat telinga berdengung.


“Tidak mas! Aku harus pergi sekarang jika mbak Naomi menginginkan aku pergi sekarang, aku akan pergi, aku tidak akan mengganggu rumah tangga kalian.”


Tak lama Monita berjalan menuju lemari, mengambil seluruh pakaiannya lalu mengisi pakaian itu ke dalam koper besar.


“Nona, berhenti!” Pekik Andre menghalangi Monita mengemasi baju-bajunya.

__ADS_1


“Tuan! Kenapa tuan diam saja!”


Saat ini Ilham sedang berada di persimpangan jalan, bingung jalan mana yang harus ia tuju, jalan yang satu akan mengantarkannya pada Naomi, wanita yang sudah berada di sampingnya selama belasan tahun, sedangkan jalan yang lain akan mengantarkannya pada Monita, wanita yang sudah memberikan hadiah terindah dalam hidupnya.


__ADS_2