Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 27 Menantang


__ADS_3

“Dari mana?” Tanya sang pemilik suara bariton dari sofa kamar.


Monita pun terperanjat, dia membulatkan matanya dengan mulut menganga lebar, suara itu? Bukankah itu Ilham? Kenapa dia bisa bisa ada di sini, mobilnya kan tidak ada? Rentetan pertanyaan itu muncul di benak Monita.


Dengan perlahan, Monita membalikan badannya menghadap Ilham yang kini sudah berdiri dengan tenang sambil memasukkan tangan di saku celana, ada gurat amarah yang tersembunyi di sana.


Ilham memang sengaja tidak menunjukkan emosinya, posisi Ilham saat ini adalah untuk membujuknya agar mau berbaikan lagi dengannya, namun melihat Monita pulang diantat pria lain membuat emosi Ilham terusik, sulit sekali rasanya menampung rasa cemburu di dalam hatinya, dadanya kembang kempis tinggal tunggu meledak saja, apalagi sang empu hanya diam tak bergeming saat dia bertanya.


“Kamu pulang diantar David kan?” Kali ini suara Ilham terdengar angker.


Monita masih terus terdiam dengan raut wajah tegang, saat ini posisi Monita benar-benar terpojok, Ilham terus menyerangnya dengan rentetan pertanyaan, Monita benar-benar bingung harus jawab apa, kalau dia mengatakan ‘iya’ bisa jadi Ilham akan semakin meradang, kalau Monita mengatakan ‘tidak’ itu sama saja dengan membangunkan singa tidur, gadis berumur dua puluh tahun itu sudah tidak bisa mengelak lagi, jelas-jelas Ilham sudah melihat dirinya diantar oleh David.


“Jawab Monita! Dari mana saja kalian?” Tanya Ilham meremas kuat kedua bahu Monita menciptakan ringisan di sana.


“Aaawww.” Monita mendesis.


“Saya tinggalkan kamu lembur bukan untuk keluyuran tidak jelas dengan lawan jenis, saya kira sudah salah menuduhmu perempuan murahan, tapi ternyata memang benar kamu murahan!”


Mendengar ucapan Ilham, Monita jadi sakit hati, namun ia hanya diam saja, mengingat dirinya juga salah di sini, sudah bersuami tapi masih nekat jalan dengan pria lain, siapa yang tidak kesal coba.


“Apa kurang yang saya berikan? Besok saya tambah!” Tutur Ilham dengan nada sinis.


“Jangan keluarkan air mata buayamu itu!” Cetus Ilham saat melihat mata Monita yang sudah mengembun.


Ilham sudah pulang sejak satu jam yang lalu, mobilnya tidak terlihat karena mogok dan sudah dititipkan di bengkel dekat kantor, jadi Ilham pulang hanya diantar Andre, begitu sampai rumah, Monita tidak ada, suami mana yang tidak kesal coba, Monita pergi dari rumah tanpa izinnya.


Monita tidak jadi menangis, dia menahan dadanya yang sesak, ya sudah, akan ia tahan, apapun yang Ilham katakan, meski itu menyakitkan, akan ia telan.


“Tidak bisakah kamu setia hanya dengan satu pria Monita?”


Ilham terus saja menyinggung dirinya yang merupakan mantan wanita penghibur, entah kenapa Ilham terus menganggapnya wanita murahan, padahal Ilham sudah membuktikan sendiri kalau Monita masih perawan, cemburu memang membutakan segalanya.


Kenyataan bahwa Monita mau dinikahi Ilham karena Ilham akan memberinya banyak uang, ya Monita memang menjual dirinya untuk Ilham.

__ADS_1


“Kenapa diam saja? Apa setelah melahirkan anak dariku, kamu akan melakukan hal yang sama pada pria lain di luar sana?”


Sebenarnya Ilham cemburu melihat Monita dekat-dekat dengan pria lain, hanya saja cara dia mengutarakan rasa cemburunya itu lain dari pada yang lain, ia malah memperovokasi Monita, dengan menghina dan mencelanya, seolah Monita makhluk hina yang tak pantas dipuja.


“Kalau iya kenapa Mas?! Selama dia bisa memberikan rumah yang besar dan uang yang banyak!” Cetus Monita tanpa pikir panjang.


“Murahan!”


Monita hanya memalingkan wajah, ya dia memang wanita murahan, semenjak dia menandatangani kontrak itu, dia sudah menjadi wanita paling murah sedunia, sealam raya ini.


“Mari buat Monita hamil! Dan kita akhiri semua ini!” Ucap Monita dengan lantang meski hatinya menjerit.


“Sepertinya kamu sudah tidak sabar ingin cepat-cepat cari mangsa baru!”


“Terserah apa katamu!”


Monita sudah lelah karena Ilham terus berpikir buruk tentang dirinya, dari pada membela diri, Monita memilih Ilham terus tenggelam dalam kesalahpahaman itu, Monita sudah capek.


Kecewa dengan jawaban Monita, Ilham menghempaskan tubuh Monita ke ranjang.


“Mas mau apa?”


“Menghamilimu, kamu ingin perjanjian cepat selesai kan?”


Monita hendak turun dari ranjang namun Ilham mencegatnya.


“Mau ke mana kamu?” Ilham kembali menghempas kasar tubuh Monita ke ranjang.


Monita menatap Ilham dengan tatapan tajam.


“Kenapa? Akan ku bayar dua kali lipat!” Tawar Ilham tanpa perasaan.


Makin hancurlah hati Monita saat itu juga, ternyata Ilham benar-benar menganggapnya wanita murahan, dia pikir pria itu punya hati walau hanya sedikit, nyatanya selama ini, Monita hanya dianggap barang yang tak ada nilainya.

__ADS_1


“Baiklah! Lakukan sekarang!” Monita yang hatinya terasa mati mulai duduk di tepi ranjang dan mengarahkan tangan Ilham ke bukit kembarnya.


“Lakukan dengan benar agar kita tak perlu mengulangnya lagi!” Tuntutnya lagi dengan penuh emosional.


Ilham mendengus kesal melihat tingkah Monita yang tiba-tiba berani padanya, kerasukan setan apa anak ini sampai bisa mendapatkan keberanian seperti ini.


Monita sendiri kini menatap kesal ke arah Ilham, ini semua karena pria tiga puluh tahun itu menganggap rendah dirinya.


“Kenapa hanya diam saja? Jangan-jangan, Mas yang tidak bisa menghamili Mbak Naomi!” Celetuk Monita yang ingin balas mengatai suaminya.


Mendengar Monita yang bicara makin ngawur, membuat Ilham langsung menutup mulut wanita itu, bukan dengan kain atau lakban, tapi dengan bibirnya sendiri.


Manik mata yang gelap, hitam terpendar itu langsung terbelalak ketika Ilham menempelkan bibirnya.


Monita kaget dengan aksi Ilham yang tanpa aba-aba.


Ilham sendiri sudah tidak bisa menahan dirinya, kata-kata Monita yang menyudutkan dirinya adalah sebuah ucapan yang mempertanyakan keperkasaannya, kata-kata itu sangat memprovokasi Ilham.


Dia pria normal, sehat dan jantan! Masalah anak itu lain lagi, anak itu kuasa Tuhan! Bila saatnya diberikan, maka tidak ada apapun yang bisa menghalangi karunianya itu, tapi sekeras apapun usaha kita, kalau Tuhan belum menghendaki, ya harus sabar, entah sampai kapan, karena sabar itu tak terbatas.


Kali ini Ilham sudah kehilangan akal, sepertinya malam ini, pria itu akan mencoba membuat gadis nakal yang sudah berani menantangnya itu, akan mencoba melakukan proses pencetakan spesies baru.


Malam ini, ia akan membuktikan pada Monita kalau dia adalah pria tulen, jantan dan kuat!


Tidak tahan lagi dan tidak mau bertele-tele, Ilham langsung melepas jas yang semula ia kenakan, tanpa melepaskan Monita.


Ya, bibir mereka masih bertaut, sengaja pria itu tak melepaskan Monita, biar kebas tu bibir yang sudah berani mengatainya.


Ilham tidak sadar, baru dikatai begitu sudah marah, sementara Monita yang selama ini dia kata-katai, sudah ia maki-maki hanya diam saja, begitulah Ilham, pandai betul melihat kesalahan orang walau hanya kecil, kesalahan sendiri ia sering lupa.


Di sisi lain Monita sudah panik, serangan brutal dan mendadak itu kembali ia rasakam, setelah terakhir Ilham menghajarnya habis-habisan di kamar hotel kota Bern kala itu, sungguh ia hanya membalas kata-kata Ilham, tak menyangka kalau Ilham akan menyerangnya seperti ini.


Monita menyesal, lebih baik dia diam saja, membalas kata-kata Ilham sama saja dengan membangunkan singa tidur.

__ADS_1


Bibir Monita benar-benar sudah terasa kebas, apalagi Ilham tadi juga sempat menggigitnya, meskipun tak sampai berdarah-darah, tetap saja pria dingin tersebut hampir saja membuat dia mati rasa, bahkan lipstik yang semula memoles bibirnya kini hilang tak tersisa.


__ADS_2