Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 34 Sahabat Lama


__ADS_3

Tiga hari kemudian, Monita sudah diperbolehkan pulang, kondisinya yang sudah lebih baik dari sebelumnya membuat dokter menyetujui keinginan Monita untuk pulang, tentu saja hal itu adalah permintaan Monita yang terus merengek pada Ilham untuk membawanya pulang.


“Kamu bisa pulang bukan berarti bisa bebas melakukan ini itu Monita.” Celetuk Ilham tiba-tiba.


“Ini itu bagaimana?” Monita balik bertanya.


“Ya melakukan hal yang membahayakan anakku.” Jawab Ilham tanpa menatap Monita.


“Astaga Mas, aku bukan wanita gila yang dengan gampangnya bisa mencelakai anakku, sesuatu yang berbahaya itu seperti melompat ke jurang kan.” Timpal Monita geram.


“Monita, semenjak hamil, bibirmu selalu asal bicara saja!” Geram Ilham lalu menarik pelan hidung Monita.


Sesampainya di rumah, Ilham tanpa permisi langsung menggendong tubuh Monita menuju kamar mereka.


Ilham merebahkan tubuh Monita di atas ranjang dengan perlahan lalu menyelimuti tubuh istrinya itu sampai batas perut.


“Istirahatlah, aku akan meminta bibi’ untuk memasakkan makanan untukmu, kamu mau makan apa?” Tanya Ilham yang sedang duduk di tepi ranjang, sembari mengelus pipi Monita.


“Aku mau makan buah langsat.” Jawab Monita sembari tersenyum manis kepada suaminya.


“Baiklah, aku akan menyuruh Andre untuk membelikannya untukmu.” Ucap Ilham mulai meraih ponselnya di atas nakas.


“Aku tidak mau Andre.” Tukas Monita mengerucutkan bibirnya, hingga membuat Ilham semakin gemas dan sontak mencubit pelan pipi Monita.


“Lalu kamu mau siapa sayang?”


“Kamu! Aku mau kamu yang mencarikan buah langsat itu untukku.” Jawab Monita dengan wajah memelas.


“Hmmm baiklah, apapun untukmu sayang.” Balas Ilham yang mendadak bersikap begitu manis.


Ilham pun mulai beranjak untuk meraih jaketnya, namun Monita segera menahan tangannya hingga membuat Ilham membalik badan dan menatap Monita lalu bertanya.


“Ada apa lagi sayang?”


“Kenapa tiba-tiba sikapmu padaku jadi begitu manis?”


“Tentu saja karena kamu sedang mengandung anakku.” Jawab Ilham tersenyum lalu kembali duduk di tepi ranjang sembari mengusap perut Monita yang masih tampak rata.


Mendengar itu, Monita menepis tangan Ilham dari perutnya lalu memalingkan wajahnya enggan menatap Ilham lagi.


“Sayang, salah satu sebabnya karena itu tapi sebab utamanya karena aku sangat mencintaimu, bukan kah aku sudah pernah mengatakannya padamu waktu itu?” Tukas Ilham sembari mengusap lembut pipi mulus Monita, seakan mengerti dan begitu peka dengan perasaan Monita.


Monita pun jadi tersipu malu lalu menahan senyumannya yang tampak begitu kentara jika senyuman itu sedang ia tahan.


“Kamu percaya padaku kan?” Tambah Ilham lagi, yang langsung diangguki Monita.


“Ya sudah, ayo pergilah aku sudah sangat ingin memakan buah langsat sekarang.” Monita melepaskan tautan tangan Ilham di pipinya dan mendorong pelan tubuh Ilham.


“Aku akan pergi tapi kamu harus menciumku dulu.”


Monita pun semakin mengembangkan senyumnya lalu mendengus dan akhirnya.

__ADS_1


Cupp


Sebuah ciuman singkat mendarat di bibir Ilham, setelah Monita melepaskan tautan bibirnya, Ilham pun kembali meraih tengkuk Monita lalu langsung ******* bibir Monita begitu saja, Monita sontak membuka mulutnya, membuat Ilham semakin gencar dan leluasa menjelajahi rongga mulut Monita dengan lidahnya.


Hingga semakin lama, ciuman itu jadi semakin menuntut, seolah lupa dengan niat awalnya untuk membeli buah langsat, Ilham mulai merebahkan tubuh Monita di ranjang lalu menindihnya pelan dengan keadaan kedua bibir yang masih bertautan.


Perlahan Ilham tanpa ragu mulai meraba area dada Monita dan membuka satu persatu kancing kemeja yang saat itu dikenakan Monita.


Kali ini Monita sudah tidak bisa menolak lagi karena ia pun sudah mulai menikmatinya, kini satu persatu pakaian yang mereka kenakan telah terlepas dan sudah berhamburan ke segala arah, alunan-alunan kenikmatan yang keluar dari mulut Monita kala Ilham menerobos lubang surgawinya begitu menggema di ruangan itu.


Hingga sudah berapa lama mereka bergulat di atas ranjang, dengan keadaan tubuh yang sudah bermandikan keringat, akhirnya tubuh kokoh Ilham ambruk di atas Monita.


“Huh…huh…huh…kamu benar-benar membuatku hilang akal Monita.” Celetuk Ilham pelan.


“Jadi sekarang Mas menyalahkan aku?” Tanya Monita sembari tersenyum.


Ilham pun mendengus pelan dan ikut tersenyum.


“Mas! Pergilah cari buah langsat untukku.”


“Hmmm baiklah.” Ucap Ilham lalu perlahan beranjak dari tubuh Monita.


Ilham memunguti pakaiannya yang sudah berhamburan di lantai dan membantu memunguti pakaian Monita yang juga sudah tercecer di lantai.


Ilham kembali memakai pakaiannya dan meraih ponsel yang ada di atas nakas untuk menghubungi Andre.


“Halo tuan.” Jawab Andre dari seberang telepon.


“Ndre, ke rumahku sekarang, kita akan pergi cari buah langsat untuk nona Monita.” Ucap Ilham bergegas sembari mencium singkat ujung kepala Monita kemudian berlalu meninggalkan Monita yang masih berada di atas ranjang dalam keadaan tubuh yang masih polos di balik selimut.


“Ndre, cepat sekali kau sampai?” Tanya Ilham dengan tenang sembari memasukkan tangan di saku celana.


“Iya tuan, sebenarnya saya sebelum tuan menelepon, saya sudah di jalan menuju ke sini.”


“Memangnya ada apa Ndre?”


“Begini tuan, sahabat tuan yang bernama pak Rendy sedang di jalan menuju ke sini, katanya mau membahas kontrak kerja samanya dengan tuan yang pernah tuan dan pak Rendy bahas tempo hari, itulah mengapa saya sudah berada di sini lebih cepat dari yang tuan perintahkan.” Jelas Andre dengan seksama.


“Hmmm… begini saja, tolong kamu belikan buah langsat untuk istri saya yang sedang mengidam, saya tunggu di sini saja takutnya jika saya yang pergi Rendy sudah sampai di sini.”


“Baik tuan.” Jawab Andre sembari menerima uang yang disodorkan Ilham padanya.


Lalu setelah itu, Andre menaiki mobilnya dan mulai melajukan mobil meninggalkan pekarangan rumah Ilham.


Tak lama setelah kepergian Andre, muncul sebuah mobil sedan berwarna putih dan turun seseorang yang begitu familiar berjalan menghampiri Ilham.


“Hei bro! Apa kabar?” Tanya orang tersebut memeluk singkat tubuh Ilham layaknya pelukan sesama laki-laki.


“Baik, kau sendiri?”


“Aku juga baik, sudah lama ya kita tidak bertemu, begitu bertemu kamu semakin sukses saja.” Seru pria itu yang tak lain adalah Rendy sahabat lama Ilham.

__ADS_1


“Ah biasa aja bro! Ayo masuk.” Ajak Ilham menawarkan.


Rendy pun mengangguk dan mengikuti langkah Ilham menuju ruang tamu rumah mereka.


Begitu masuk, Rendy langsung disambut hangat oleh bi’ Ratih yang sudah tau kedekatan Rendy dan Ilham dari dulu, karena Rendy yang sering berkunjung ke rumah Ilham bahkan sampai sering menginap di rumahnya semasa mereka sekolah dulu.


“Nak Rendy!” Seru bi’ Ratih nampak kaget namun senang juga dengan kedatangan Rendy saat itu.


“Bi’ Ratih? Bibi’ juga ikut Ilham dan Naomi ke sini?”


“Iya Mas Rendy, bibi’ ikut tuan Ilham dan Nyonya Naomi ke sini karena permintaan bu Nancy yang meminta bibi’ untuk ikut ke manapun tuan Ilham pergi.”


“Oh begitu rupanya, oh ya Ilham, dimana istrimu? Dari tadi aku tidak melihat Naomi.”


Pertanyaan Rendy sukses membuat Ilham kembali lesu, bagaimana tidak, cinta pertamanya itu pergi entah ke mana sekarang, membuat Ilham yang sejenak melupakan Naomi kini kembali merindukannya, rupanya selama bersama Monita, dunia Ilham seakan teralihkan, bahkan dia sempat melupakan Naomi sejenak.


“Ham? Kenapa diam saja?” Tanya Rendy membuyarkan lamunan Ilham, sembari melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ilham.


“Eh maaf, Naomi sedang pergi liburan bersama sahabatnya.” Bohong Ilham memberi alasan pada sahabatnya itu.


Rendy pun hanya mengangguk dan langsung mendudukkan dirinya di sofa.


Tak lama bi’ Ratih pamit untuk membuat minuman dan juga cemilan untuk Rendy dan Ilham.


“Oh ya, sebelum kita bicara lebih jauh, aku ingin ke toilet dulu, sejak tadi aku menahan ingin buang air kecil.”


“Ya sudah sana, periksa kembali celanamu barang kali sudah ada setetes yang keluar.” Seloroh Ilham kemudian tertawa.


“Hei bro, apa-apaan kau ini, mana mungkin pria setampan aku bisa kencing sembarangan.” Sergah Rendy sejenak lalu berlari kecil menuju toilet untuk menuntaskan hajatnya.


Sementara Monita yang sedang berada di kamarnya tiba-tiba saja haus dan ingin turun ke dapur untuk mengambil minum, begitu turun Monita mengerutkan dahinya melihat Ilham yang terduduk di sofa ruang tamu.


Akhirnya tanpa pikir panjang, Monita menghampiri Ilham lalu memegang pundaknya dari belakang karena posisi Ilham yang duduk membelakangi tangga, merasakan sentuhan di pundaknya, Ilham pun menoleh.


“Sayang?”


“Kenapa kau belum pergi?” Tanya Monita dengan kening yang mengkerut.


“Maaf sayang, saat aku keluar untuk membelikan buah langsat untukmu, tiba-tiba saja Andre mengabari kalau sahabat lamaku akan datang berkunjung demi membahas kontrak kerja sama dengan perusahaan kita karena perusahaannya sudah hampir bangkrut, jadi aku menyuruh Andre untuk mencarikan buah itu untukmu, aku tidak enak jika harus meninggalkannya karena dulu pada saat aku butuh pertolongan, dia selalu sigap membantuku bahkan dalam keadaan sibuk sekalipun, tidak apa-apa kan sayang?” Tanya Ilham mulai berdiri sembari meraih tangan Monita dan mengusapnya.


“Ah tidak tidak, teman Mas kan butuh pertolongan jadi akan lebih baik jika Mas Ilham lebih dulu menemuinya.” Jawab Monita sembari mengusap lembut pipi Ilham.


Mendapat perlakuan manis dari Monita seperti itu membuat Ilham tersenyum hangat lalu mengusap tangan Monita yang ada di pipinya dan mengecupnya dengan singkat.


“Katanya temanmu ada di sini, lalu di mana dia sekarang?” Tanya Monita mengedarkan pandangannya kesana kemari.


“Dia sedang ada di toilet.”


“Baiklah kalau begitu, aku ke dapur dulu untuk ambil minum, tenggorokan ku kering dan tiba-tiba saja aku merasa haus.” Ujar Monita sembari melepaskan tautan tangannya dari Ilham, lalu beranjak menuju dapur.


“Iya sayang, tunggu aku di kamar ya.” Seru Ilham yang hanya diangguki oleh Monita.

__ADS_1


Ternyata semua obrolan Ilham dan Monita sudah di dengar oleh Rendy dari balik dinding, bahkan Rendy juga melihat kemesraan Ilham dan juga Monita di sana, Rendy pun tersenyum penuh arti begitu dia melihat Monita, awalnya dia kaget melihat Ilham dan Monita bersama, namun karena dipikirnya Monita adalah wanita malam dan Ilham adalah lelaki mapan dan tampan yang tentunya digandrungi banyak wanita membuat Rendy maklum, ternyata Rendy adalah salah satu tamu Monita yang sering Monita temani minum di club tempat kerja Monita dulu.


Itulah sebabnya begitu melihat Monita, Rendy tidak berani memunculkan batang hidungnya, dia akan kembali menemui Monita namun bukan dalam keadaan seperti sekarang.


__ADS_2