Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 55 Bimbang


__ADS_3

Ilham duduk di tepi ranjang sembari meremas rambutnya, di kepala ranjang, Naomi sedang duduk bersandar sambil menatap suaminya dengan tatapan luka dan kecewa.


“Kamu tidak percaya kalau tanda merah ini bekas terbentur ujung meja Mas?” Tanyanya dengan menitikkan air mata.


“Bekas terbentur ujung meja bukan seperti itu Mi.”


“Apa kamu pernah terbentur ujung meja?”


Ilham diam, dia memang belum pernah terbentur ujung meja, tapi tidak mungkin kan jika dia mencoba membenturkan tubuhnya di ujung meja demi membuktikan ucapan Naomi?


Ilham bingung dengan sikapnya, kenapa dia terus befikir kalau pu**ng Naomi bukan bekas terbentur ujung meja, dia yakin itu perbuatan laki-laki selain dirinya, walaupun dia mencoba menyangkal berkali-kali, tetap saja dia tidak bisa menutup mata dan telinga kalau tanda merah itu bukan apa-apa.


“Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya Mas? Apa perlu aku membenturkan pay***raku yang satunya lagi agar kau bisa percaya?”


“Tidak perlu, jangan menyakiti diri sendiri.” Tukas Ilham.


“Lalu kalau aku tidak membuktikannya dengan cara seperti itu, apa kamu akan percaya?”


Naomi menghampiri Ilham dan memegang kedua lengan kekar sang suami dan bersimpuh di hadapannya, dengan linangan air mata.


“Ini memang benar-benar kecelakaan Mas, aku tidak mungkin mengkhianati rumah tangga kita yang sudah bertahun-tahun lamanya, kamu adalah lelaki yang kelewat sempurna, baik sikap maupun penampilan, kamu adalah lelaki baik, tampan dan kaya raya, cuma wanita gila yang akan berselingkuh darimu.” Jelas Naomi dengan deraian air mata.


Ilham tercenung, mendengarkan ucapan Naomi yang ada benarnya juga, mereka menjalin kebersamaan belasan tahun lamanya dan menikah selama 5 tahun, tidak ada permasalahan yang berarti, mereka saling menaruh kepercayaan yang begitu tinggi, lalu tiba-tiba saja datang suatu hal yang mengusik kepercayaannya.


“Mas masih tidak percaya? Perlu bukti apa lagi agar kamu percaya? Jika saja meja itu bisa bicara, aku ingin dia bicara dan menjelaskan semuanya padamu kalau tanda merah ini gara-gara dia.” Iba Naomi dengan suara parau.


“Maaf ya Mi.” Ilham ingin mempercayai tutur kata Naomi, tapi rasanya sangat sulit.


Ilham mengusap air mata Naomi, merasa bersalah karena sudah membuat sang istri menangis sesenggukan seperti itu.


“Mungkin aku yang terlalu sensitif, jujur aku lelah Mi, pekerajaan di kantor membuatku penat seperti ini.”


Tanpa permisi, Naomi memeluk tubuh kekar sang suami, dia kembali menangis di ceruk leher Ilham dan berkali-kali meyakinkan kalau dia tidak selingkuh.


“Mas percaya kan? Yang aku butuhkan sekarang adalah kepercayaan darimu.”


Mau tidak mau, Ilham mengangguk lemah, meskipun separuh hatinya masih menyangsikan penuturan Naomi.


“Mas harus mempercayaiku, ya ya ya?” Mohon Naomi.


Saat ini Ilham benar-benar tidak nyaman, isakan Naomi begitu membahana di telinganya, menjalar sampai ke kepala dan membuatnya pusing, rengekan Naomi juga berhasil membuat telinga Ilham berdengung.


Dia ingin pergi, merenung dan mencoba mempercayai ucapan sang istri, dengan cara menemui Monita, namun dia berusaha mencoba bertahan di dalam kamar Naomi, lalu mengajak Naomi tidur, karena jika Naomi sudah tertidur dia akan pergi dengan leluasa ke kamar Monita, rasanya hanya Monita yang dia butuhkan saat ini untuk menyalurkan energi tambahan dalam dirinya.


Pria tampan itu juga tidak ingin rumah tangganya hancur begitu saja hanya karena tanda merah yang tidak jelas asal usulnya itu.


Namun Ilham tidak akan tinggal diam, dia akan menyuruh Andre untuk mencari tau informasi tentang istrinya, Andre awalnya ragu, namun mengingat karena dirinya yang juga tidak terlalu suka dengan sikap Nyonya utama di kediaman Ilham itu membuatnya ingin menuruti perintah Ilham tersebut.


Tik tok tik tok


Tak terasa waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, Naomi sudah tertidur lelap di sisi Ilham dengan posisi memeluk tubuhnya dari samping, ini merupakan kesempatan bagi Ilham untuk menemui Monita di kamarnya.


Ilham mulai melepaskan tangan Naomi dari tubuhnya dengan sangat pelan, lalu bangkit dari tempat tidur dengan perlahan, dan keluar dari kamar itu meninggalkan Naomi yang masih tertidur dengan lelapnya.


Suasana rumah sudah sepi, beberapa lampu telah dipadamkan, dan seluruh penghuni rumah sudah memasuki kamar masing-masing.


Ilham berjalan tenang di tengah keheningan ruangan besar yang sudah terlihat remang-remang menuju kamar Monita.


“Semoga saja dia belum keluar kamar.” Celetuk Ilham dalam hati.


Namun begitu ia membuka pintu kamar Monita, ada Eden ternyata di kamar itu, Eden sedang tidur bersama Monita.


Ilham pun menghela nafas kasar, akhirnya Ilham berjalan menuju dapur, seolah sudah paham dengan kebiasaan Monita yang suka keluar di malam hari untuk meminum air putih, malam itu, Ilham berniat menunggu kedatangan Monita.

__ADS_1


“Semoga saja tadi dia belum keluar kamar.” Celetuk Ilham dalam hati.


Ilham berdiri dan bersandar di kulkas yang ada di dapur, lalu sesekali mondar mandir menunggu kedatangan Monita.


“Kenapa lama sekali? Apa jangan-jangan dia sudah keluar?” Ilham bertanya-tanya dalam hati sembari menatap ke arah lantai dua tepatnya di kamar Monita.


Beberapa menit menunggu, akhirnya yang ditunggu datang juga, Monita dengan mengenakan gaun tidur yang lumayan seksi, nampak mulai menuruni anak tangga untuk menuju dapur seperti biasa.


Ilham yang menyadari hal itu langsung tersenyum senang, ia memilih bersembunyi di balik kulkas, hal itu ia lakukan agar Monita tidak menghindar, ia cemas jika Monita melihat dirinya di dapur, wanita cantik itu akan putar haluan dan memilih kembali masuk ke kamarnya dari pada harus berhadapan dengan Ilham.


Monita berjalan dengan tenang menuju dapur, dan langsung menuangkan segelas air putih dan meneguknya, di saat Monita sudah selesai meneguk segelas air itu, Ilham langsung saja keluar dari persembunyiannya dan langsung memeluk tubuh Monita dari belakang.


Monita pun terkejut dan hampir berteriak, Ilham yang sudah tau hal itu akan terjadi, sontak membekap mulut Monita dan berbisik.


“Jangan berteriak, ini aku.” Bisiknya lembut tepat di belakang telinga Monita.


Monita mengurungkan niatnya untuk berteriak, ia masih tampak begitu tercengang.


“Mas.. da.. dari mana Mas muncul?” Tanya Monita yang nampak masih begitu terkejut.


“Tidak penting dari mana aku muncul.” Jawab Ilham dengan lembut.


“Apa Mas sudah ada di sini dari tadi? Apa Mas sengaja menungguku di sini?” Tebak Monita.


“I miss you so much.” Bisik Ilham lirih tanpa menjawab pertanyaan Monita, dan terus memeluk tubuh Monita dengan posesif.


Monita pun terdiam sejenak, dalam hati yang terdalam, ia tentu merasakan hal yang sama seperti Ilham, namun dia tidak mengutarakannya.


“Do you miss me?” Tanya Ilham tepat di belakang telinga Monita.


Hembusan nafas Ilham mulai terasa mengenai daun telinga Monita, hal itu cukup mengganggu baginya karena bisa membuat ia mulai terangsang.


“Mas, apa yang kamu lakukan?” Tanya Monita yang akhirnya mulai menoleh ke arah Ilham yang masih berdiri di belakangnya, demi mengalihkan rasa gelinya.


“Tentu saja salah, Mas tau ini di mana ha?” Monita pun mulai berusaha untuk melepaskan tangan Ilham yang melingkar erat di pinggangnya.


“Lalu di mana aku bisa memelukmu dengan leluasa?” Rengek Ilham pelan layaknya anak kecil.


“Mas!! Hentikan, bagaimana jika Mbak Naomi melihat.” Monita pun mulai nampak panik sembari terus berusaha meloloskan diri meski pun hal itu akan sia-sia.


“Tidak mau!” Jawab Ilham dengan begitu manja dan malah semakin mengeratkan pelukannya.


“Mas!! Jangan begini, tolong lepaskan, Mas benar-benar sudah gila ya?”


“Akan aku lepaskan kalau kamu menjawab pertanyaanku.”


“Pertanyaan apa?”


“Jika bukan di sini, lalu di mana aku bisa memelukmu dengan leluasa?”


Pertanyaan itu kembali membuat Monita terdiam.


“Apa mungkin di kamar tamu itu? Atau di ruang kerjaku?” Bisik Ilham sembari menunjuk kamar tamu dan ruang kerjanya yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.


Bisikan Ilham tepat di belakang telinga Monita lagi-lagi membuat Monita menggeliat geli.


“Monita, aku akan ke kamar tamu lebih dulu, berjanjilah setelah ini kau akan menyusulku ke kamar.” Bisik Ilham lagi dan lagi.


“Itu tidak akan mungkin!” Jawab Monita.


“Akan menjadi mungkin kalau kamu mau.”


“Tidak bisa, Mbak Naomi akan terbangun.”

__ADS_1


“Kalau begitu, biarkan dia berada di kamarnya, dan aku akan memelukmu seperti ini terus sampai dia turun ke sini dan mencariku.” Ilham kembali mengeratkan pelukannya.


Entah kenapa, pelukan Ilham kala itu benar-benar menghangatkan jiwa Monita, meski pun dalam situasi yang cukup berbahaya baginya, namun anehnya ia masih merasakan kenyamanan dari hal itu.


“Tidak! Aku tidak mau ambil resiko, tolong lepaskan aku!” Ucap Monita lagi.


“Kalau begitu aku akan melepaskannya, asal kamu berjanji akan menyusulku ke kamar tamu.”


“Hmm ok ok fine.” Jawab Monita akhirnya.


“Fine? Apa kamu yakin?” Tanya Ilham yang tak menyangka.


Monita pun mengangguk pelan.


“Kamu tidak bohong kan?”


“Ti.. tidak.”


“Ok!” Ilham pun akhirnya tersenyum puas, dan mulai melepaskan pelukannya.


Ilham berdiri di hadapan Monita dan menatapnya begitu lekat lalu kembali berbisik.


“Kamu jangan berani membohongiku, jika sampai kau membohongiku, aku sendiri yang akan menyeretmu masuk ke kamar Naomi dan menyatakan kalau aku sudah sangat mencintaimu dan aku akan hidup bersama selamanya denganmu di hadapan Naomi.” Ucap Ilham seolah memberi peringatan pada Monita, namun masih dengan senyuman tipisnya yang terlihat begitu manis.


“Mas tidak mungkin berani.”


“Oh kamu menantangku? Kurasa kamu banyak tau kalau aku ini adalah orang yang nekat, coba saja kalau mau bukti.” Jawab Ilham dengan tenang hingga membuat Monita menciut dan kembali terdiam.


Bagaimana pun Monita sangat menyayangi Naomi, dia tidak tega jika harus menyakiti Naomi yang sudah terlalu baik padanya, bahkan Monita sudah menganggap Naomi seperti kakaknya sendiri.


“Ok, aku tunggu kamu di kamar itu selama 10 menit, jika sampai 10 menit kamu tidak datang menyusulku, maka siap-siap, aku akan mengutarakan seluruh isi hatiku padamu di hadapan Naomi.” Ilham kembali mengembangkan senyumannya.


Sementara Monita, ia masih terdiam dengan perasaan yang campur aduk.


“Aku duluan.” Ucap Ilham yang akhirnya berlalu begitu saja meninggalkan Monita.


Ilham terus berjalan memasuki kamar tamu, namun Monita masih saja diam terpaku, terpaku memandangi punggung Ilham yang semakin menjauh.


“Dia selalu menempatkan aku pada posisi yang sulit.”


Monita pun akhirnya berkali-kali menghela nafas panjang demi membuatnya lebih tenang, dia kembali menuangkan air putih dan meneguknya lagi, sembari terus berpikir panjang.


Dengan ragu, Monita ingin memastikan sendiri apa Naomi sudah tidur atau belum, Monita sudah menapaki anak tangga dan kini sudah berdiri di depan pintu kamar Naomi yang sedikit terbuka, Monita melihat Naomi yang sudah tertidur dengan pulasnya di atas ranjang.


“Mbak Naomi sudah tidur?” Gumamnya.


Begitu melihat Naomi yang sudah tertidur, perasaan bimbang mulai menyelimutinya, antara iya atau tidak.


Monita nampaknya masih menahan dirinya untuk tidak menemui Ilham, namun ia takut Ilham membuktikan ucapannya tadi, akhirnya, Monita kembali menuruni anak tangga lalu berjalan pelan menuju kamar tamu.


Monita kembali menghela nafas panjang, lalu perlahan mengumpulkan keberanian untuk mengetuk pintu kamar itu.


Saat itu Ilham tengah duduk berselonjor di atas ranjang seakan menunggu kedatangan Monita.


Monita mengetuk pintu kamar itu dengan pelan agar tidak ada yang mendengar.


Membuat bunyi ketukan pintu yang samar-samar membuat Ilham terkesiap.


“Itu suara ketukan pintu, aku tidak sedang berhalusinasi kan?” Tanya Ilham yang nampak tak percaya.


Bagaimana tidak, seperti biasanya, membujuk Monita untuk berduaan dengannya di belakang Naomi seperti ini sulitnya minta ampun, dia harus memaksa atau memberi ancaman seperti tadi dulu baru Monita akan mau.


Tok tok tok…

__ADS_1


Namun begitu mendengar suara ketukan pintu yang kedua, senyuman Ilham semakin mengembang, ia begitu senang dan puas, Ilham sontak langsung bangkit dari ranjang, dengan langkah cepat menuju pintu dan langsung membukanya, begitu pintu terbuka dia begitu terkesima dengan wajah cantik jelita sang istri muda yang ada di balik pintu.


__ADS_2