
“Kenapa menelepon?”
“Rindu mas, kapan mas pulang?” Tanya Naomi dari seberang telepon.
Ilham meringis, dia tidak pernah ke luar kota, dia ada di apartemen tinggal bersama Monita, sibuk dengan urusan pekerjaan hanya jadi alibi Ilham saja agar bisa menemani istri keduanya.
“Tapi kan ini belum juga sehari Mi.” Ilham menghela nafas lelah, tak kentara.
“Tapi aku rindu mas, minggu ini kamu pulang ya.” Pinta Naomi.
Ilham terdiam, ia menatap kosong punggung Monita yang ada di hadapannya, sebetulnya Ilham sudah lelah, lelah berbohong pada Naomi dan bertemu diam-diam dengan Monita seperti ini.
“Nanti ya Mi, kalau bisa pulang aku kabari.” Jawab Ilham akhirnya.
Ilham masih bingung dan belum bisa memutuskan apa yang terbaik untuk kedua istrinya ini, Ilham tak tega bila harus berterus terang pada Naomi agar bisa mencintai Monita dan bersama dengannya selamanya, tapi bertemu diam-diam dengan Monita seperti ini justru jadi beban baginya.
“Kamu sudah tidak seperti dulu lagi mas, kamu banyak berubah.” Ucap Naomi dengan suara sendu.
“Berubah? Apanya yang berubah?” Tanya Ilham gugup.
“Kamu tidak sadar ya mas? Akhir-akhir ini kamu sudah tidak pernah turn on lagi saat menyentuhku, kamu juga sudah tidak pernah bersikap romantis padaku.”
“Ti… tidak begitu Mi.
“Tu kan, bahkan sekarang kamu suka memanggilku dengan sebutan nama.”
Ilham sadar kalau selama ini dia sudah jarang bersikap manis pada Naomi, karena sikap manisnya itu rasanya hanya pantas diberikan pada Monita, rasanya hanya Monita yang pantas mendapatkan perlakuan manis itu dari Ilham.
“Atau sekarang kamu sedang bersama Monita ya mas?”
“Mi, apa maksud kamu?” Tubuh Ilham spontan menegang.
Tanpa sadar, Ilham mendorong tubuh Monita dengan kasar agar menjauh, pria itu bangkit dari ranjang dan berjalan mondar mandir di kamar, Ilham gelisah, ia takut ketahuan Naomi.
“Aku tidak sedang bersama dia, kenapa kamu berfikir seperti itu Mi?” Ujar Ilham dengan gusar.
“Kamu itu aneh mas, kamu sudah jarang bersikap manis padaku, bahkan sekarang tiba-tiba ke luar kota selama seminggu lagi, aku jadi punya feeling kalau kamu sedang tidak ke luar kota tapi sedang ke apartemen Monita.”
“Naomi, kenapa kamu berfikiran seperti itu? Ak…”
“Aku yakin mas kamu sedang bersama Monita kan? Iya kan?!” Suara Naomi semakin meninggi.
“Kamu menuduh aku berbohong?”
“Memang kamu merasa tidak sedang berbohong?” Tahya Naomi dan membuat Ilham memijit pelipisnya.
“Ya tidak lah Mi, aku tidak membohongi kamu, aku tidak mungkin mengabaikan kamu apalagi membohongi istri yang sudah bertahun-tahun ini aku nikahi, dan sudah aku cintai selama belasan tahun lamanya.”
__ADS_1
Namun Naomi malah terisak di seberang sana.
Ilham jadi tak nyaman mendengar suara isakan tangis Naomi.
“Apa kamu punya bukti? Bukti kalau aku sedang bersama Monita? Iya?” Tantang Ilham.
“Aku tidak perlu bukti mas, karena sikap kamu sudah menunjukkan segalanya.”
“Naomiii…” Ilham menghela nafas sebelum melanjutkan ucapannya.
“Aku bersikap seperti ini hanya semata-mata karena aku stres dengan pekerjaan.”
“Tidak apa kalau kamu berbohong mas, kalau kamu memang tetap kekeh untuk bersama Monita terserah kamu saja, toh aku juga tidak bisa melarang agar kamu tidak mencintai dia kan.”
“Aku tidak mungkin membohongi kamu Naomi, mana mungkin aku mengabaikanmu hanya demi wanita yang baru sebentar aku kenal, tidak ada yang lebih baik darimu Naomi, hanya kamu satu-satunya wanita yang aku cintai, aku tidak akan meninggalkanmu demi wanita miskin yang rela menjual anaknya pada orang lain hanya demi uang.”
Disaat pria tampan itu berusaha mati-matian meyakinkan Naomi, ia tidak tau ada hati lain yang terluka.
Ucapan terakhir Ilham tadi membuat hati Monita teriris, ia menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Apa Ilham sedang menyindirnya? Wanita miskin yang menjual anak demi uang.
Pada akhirnya Ilham tetap menganggapnya sebagai mesin pencetak anak, lalu perhatian yang Ilham curahkan selama ini? Apa itu palsu?
Monita pikir dia akan hidup bahagia dengan Ilham, suami yang sudah mencintai dan menerima dirinya apa adanya.
Bumil itu akhirnya bangkit dari tempat tidur dan membungkus tubuhnya dengan selimut, lalu berjalan melewati Ilham begitu saja yang sedang sibuk meyakinkan istri pertamanya, ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi dan membasahi tubuhnya di bawah guyuran shower.
Tok tok tok…
Detik berikutnya suara ketukan pintu terdengar, namun Monita tak kunjung membukanya.
Sedangkan Ilham yang sejak tadi mendengar suara guyuran air shower menjadi semakin panik, karena pintu kamar mandi itu tak terbuka juga ketika dia sudah berulang kali mengetuknya.
Tak lama, Ilham berinisiatif mendobrak pintu kamar mandi itu dan berhasil, begitu pintu terbuka lebar, mata Ilham menatap panik tubuh Monita yang sudah tergeletak di bawah guyuran shower.
Ilham bergegas masuk ke dalamnya dan mematikan shower lalu menepuk-nepuk pelan pipi Monita namun ibu hamil itu tak merespon juga, alhasil Ilham menggendong Monita dan merebahkan tubuhnya di ranjang dalam keadaan basah kuyup.
Ilham mulai mengambil asal baju Monita di lemari lalu mengganti pakaian Monita yang sudah basah itu dengan pakaian kering.
Bahkan saking paniknya, Ilham memanggil dokter kandungan Monita ke apartemen, untuk memeriksa kondisi wanita hamil itu.
Ilham dengan penuh rasa bersalah menggenggam tangan Monita yang sudah terasa dingin dan mengecupnya berkali-kali, karena kelalaiannya dia malah tidak memperhatikan Monita, bahkan dia baru sadar ucapannya tadi di dengar langsung oleh Monita, mungkin itu yang membuat istri sirihnya ini marah dan kecewa, lalu mengunci diri di kamar mandi.
Hati Ilham bagai teriris sembilu kalah melihat keadaan Monita, bagaimana tidak wanita yang tengah mengandung benihnya itu tak sadarkan diri di depan matanya.
Menit berikutnya, sang dokter pun tiba.
__ADS_1
“Dok, tolong periksa keadaan istri saya dan berikan penanganan yang terbaik untuk janin dan juga istri saya.”
“Iya tuan, permisi sebentar, saya akan memeriksa keadaan nona Monita dulu.”
Ilham pun menggeser tubuhnya memberi jalan pada sang dokter agar bisa dengan leluasa menangani Monita.
“Bagaimana keadaan janin dan juga istri saya dok?” Tanya Ilham begitu dokter selesai melakukan pemeriksaan.
“Maaf tuan, sebelumnya apa nona Monita mengalami stres yang berlebih? Sudah berulang kali saya katakan, stres untuk ibu hamil itu tidak baik, jadi sebisa mungkin tuan harus menjaga mood istri anda setiap harinya agar selalu dalam keadaan baik-baik saja, karena jika tidak, hal seperti ini akan terulang kembali.” Jelas sang dokter secara detail.
“Iy… iya dok, tadi dia sempat mengalami stres dan mungkin sampai menangis.” Jawab Ilham dengan lirih.
“Saya harap ini tidak akan terulang lagi ya tuan Ilham, tuan harus menempatkan nona Monita dalam suasana hati yang baik.”
“Iya dok, saya janji saya akan menjaga istri saya lebih ekstra lagi.”
“Tapi dok, bagaimana keadaannya sekarang? Apa sudah membaik?” Tambah Ilham lagi.
“Iya syukurlah keadaannya sudah membaik, untungnya tekanan darahnya normal, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, hanya saja pesan saya tadi, tuan harus membantu menjaga suasana hatinya agar selalu dalam keadaan baik, ini vitaminnya, begitu dia bangun tolong langsung diberikan.”
“Iya dok terimakasih banyak.”
“Sama-sama tuan Ilham, saya permisi dulu.” Pamit dokter tersebut kemudian berlalu dari hadapan Ilham.
Begitu dokter tersebut pergi, Ilham menatap nanar istrinya yang sedang terbaring lemah, betapa bodohnya dia berkata seenaknya begitu saat sedang bersama Monita, Ilham benar-benar merutuki kebodohannya itu, karena kesalahannya, ia hampir menempatkan calon anaknya yang sudah bertahun-tahun lamanya ia tunggu dalam bahaya, Ilham benar-benar menyesal dan berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak akan menyakiti hati Monita lagi.
****
Dikamarnya Naomi tampak gelisah, meski pun Ilham sudah meyakinkannya, tapi ia tetap ingin memastikannya sendiri, apa benar Ilham ke luar kota, atau malah tinggal di apartemen Monita, instingnya kali ini benar-benar kuat kalau Ilham sedang membohonginya.
Seketika ia teringat Andre, ia ingin mencoba menghubungi Andre lagi untuk menanyakan di mana pastinya apartemen Monita berada, dia ingin memergoki suaminya di sana, dan jika benar Ilham terbukti berbohong, dia akan mengajukan cerai pada suaminya itu karena sudah berani mematahkan kepercayaannya.
Naomi pun mengetik nomor Andre dan menghubunginya, dan tak butuh waktu lama, Andre sudah menjawab panggilan telepon Naomi.
“Halo nyonya.” Jawab Andre dari seberang telepon.
“Ndre, tolong kamu kirimkan alamat lengkap Monita ke saya.”
Deeggg…
Jantung Andre seakan berhenti berdetak, tubuhnya menegang, kalau dia memberikan alamat Monita, yang ada kebohongan Ilham akan terbongkar.
“Ndre? Kenapa kamu diam? Tolong kirimkan padaku sekarang juga alamat lengkap Monita, kalau tidak, saya akan memberitahu rahasia ini di depan kedua mertua saya dan saya akan mengarang cerita kalau ini semua adalah ide busuk Ilham sendiri, tidak hanya itu saya juga akan memberitahukan ke media kalau Ilham sudah menikah diam-diam dengan wanita malam yang berasal dari rumah bordil.” Ancam Naomi untuk membuat Andre dilemah.
“Tapi nyonya, kenapa anda harus setegah itu pada suami anda sendiri? Kalau sampai media tau, bukan hanya tuan Ilham yang hancur tapi nyonya juga!”
“Kalian yang tegah Andre! Kamu membiarkan suami saya membohongi saya bahkan mendukung kebohongannya juga! Saya tidak peduli jika saya harus jatuh miskin, toh saya tinggal menceraikan Ilham dan meninggalkannya, saya akan lihat, apa dia tahan hidup miskin atau tidak, bahkan saya yakin dia tidak akan tahan jika harus hidup melarat!”
__ADS_1
Mendengar ancaman Naomi benar-benar membuat hati Andre dilanda kebingungan, dia heran dengan majikannya yang satu ini, suka sekali memaksa, akhirnya mau tidak mau, Andre memberikan alamat Monita pada Naomi, sejauh ini yang dia kenal Naomi adalah wanita yang nekat, dia tidak ingin jika semua ucapan Naomi tadi terbukti, namun untuk berjaga-jaga, Andre akan menghubungi Ilham dan memberitahu padanya kalau Naomi akan ke apartemen Monita agar Ilham bisa bersembunyi pada saat Naomi datang.
Namun begitu dihubungi, nomor Ilham malah tidak aktif, hati Andre semakin tak karuan, ia pun menyelesaikan dulu pekerjaan kantor yang menumpuk dan sangat urgent itu lalu akan menyusul ke apartemen Monita begitu semuanya kelar, ia berharap semoga saja Naomi tidak sampai lebih dulu di sana.