Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 75 Nginap Di Apartemen


__ADS_3

“Aduh mas Ilham kenapa lama sekali pulangnya, sudah jam segini, lama sekali dia dari apartemen wanita itu!” Gerutu Naomi sambil berjalan mondar mandir di kamarnya.


Ia melirik jam dinding yang sudah menunjuk ke angka 11.00 malam, Naomi semakin kesal dibuatnya, kali ini Ilham sudah benar-benar keterlaluan, berani-beraninya mengabaikan Naomi sampai sebegitunya.


Naomi ingin menyusul Ilham ke apartemen itu, namun dia tidak tau di mana tepatnya apartemen tersebut, wanita itu semakin kesal saja.


Seketika dia teringat Andre, ia pun segera mengetik nomor Andre dan menghubunginya untuk menanyakan apartemen Monita.


Begitu ditelepon, ternyata nomor Andre tidak aktif, hal itu membuat Naomi semakin gusar saja, ia membaringkan tubuhnya di ranjang dan menatap langit-langit kamarnya.


“Aku benar-benar sudah tidak melihat cinta yang begitu dalam seperti dulu dari balik mata suamiku, semenjak kehadiran Monita, hati mas Ilham sudah bercabang dua.” Batin Naomi sembari meremas seprei dengan tangannya sendiri.


****


Ketika bulan menggantung tinggi, semilir angin sepoi-sepoi masuk lewat jendela yang terbuka sedikit, menciptakan hawa dingin yang menembus kulit, Ilham menutup jendela itu rapat-rapat, sedangkan Monita masih setia di depan televisi menonton sebuah sinetron.


“Sayang, kenapa tontonanmu seperti itu?” Ucap Ilham memecah keheningan.


“Ah… adanya cuma ini saja yang seru, sisanya cuma berita kriminal saja.”


Bumil itu masih asik menonton layar lebar di depannya, tangannya tak lepas dari toples yang berisi cemilan itu.


Ilham baik sekali, tadi ia keluar untuk membeli cemilan, seakan tau kalau istrinya selalu merasa lapar.


“Coba nonton film!” Serunya sambil menyodokan tempat kaset berbentuk antik.


Tanpa berkomentar, Monita meraih apa yang diberikan Ilham padanya.


“Film Inggris?”


“Iya.”


“Mana enak nonton film beginian.” Batin Monita dalam hati, pasalnya bumil ini hanya mau menonton drakor, drachin, drathai dan serial Indonesia lainnya.


Alhasil, Monita memasukkan kepingan CD ke dalam DVD player.


Belum apa-apa, matanya sudah mengantuk ketika menonton film yang kurang ia sukai itu.


Berbeda dengan Ilham, matanya terus fokus menonton film kesukaannya itu.


Film sudah setengah jalan, Monita malah tidur gadis itu terlelap sembari menyandarkan kepalanya di sandaran sofa yang empuk.


“Sayang, kamu sudah tidur?”


Suara Ilham membuatnya terjaga, Monita mengusap kedua matanya, karena dikuasai rasa kantuk yang hebat, Monita berdiri dari sofa, baru saja beberapa langkah, kakinya tersandung karpet yang super tebal dan lembut tersebut.


Namun dengan sigap Ilham menyokong tubuh Monita yang hampir terjatuh dan membantunya kembali bangkit.


“Hati-hati sayang.”


“Maaf mas, Monita ngantuk.”

__ADS_1


Mendengar penuturan Monita, tanpa pikir panjang, Ilham langsung menggendong tubuh Monita ala bridal style dan membawanya masuk ke kamar.


Belum lama berada di kamar, Monita sudah memejamkan matanya saking ngantuknya, sementara Ilham, seluruh tubuhnya sudah nyut-nyutan begitu melihat Monita yang sudah memakai kimono tipis dan transparan itu.


Sudah setengah jam, mata Ilham enggan untuk terpejam, manik mata itu malah fokus menatap langit-langit kamar.


Ilham jadi keki sendiri, pasalnya Monita sudah tertidur pulas disampingnya.


Akhirnya Ilham menatap wajah Monita yang sudah mendengkur halus tersebut.


“Manis!” Batinnya saat melihat wajah Monita dengan lekat.


Setelah puas mengamati wajah polos, natural dan cantik itu, mata Ilham beralih menatap bi**r ranum Monita.


Ilham mengikuti naluri lelakinya sebagai pria dewasa.


Perlahan ia mencoba mendekatkan wajah ke arah Monita yang sedang tidur miring menghadap padanya.


Sedikit lagi b***r mereka bertemu, akan tetapi karena merasa hembusan nafas yang hangat menerpa wajahnya, Monita membuka matanya.


Istri muda Ilham itu terkesiap, matanya berkedip-kedip, bingung harus bagaimana.


“Bagus! Dia bangun juga.” Batin Ilham.


Karena Monita sudah bangun, Ilham melanjutkan aksinya.


Awalnya, Monita menutup mulutnya rapat-rapat, bumil tersebut merasa tak nyaman, baru bangun tapi langsung disosor.


Sedikit g**tan, Monita langsung membuka mulut.


Seakan tak mau menyia-nyiakan moment ini, Ilham langsung menerobos masuk, Monita pun mengg***at karena Ilham menyesapnya lembut dan dalam.


Tangan Ilham mulai berkelana ke tempat yang tak seharusnya disebut.


Malam ini, mereka akan kembali menyelami lautan asmara yang penuh dengan peluh, mereka akan mandi keringat lagi malam ini.


Dering ponsel Ilham terus berbunyi, namun Ilham mengabaikannya, sejak tadi Ilham sengaja mematikan suara dering ponselnya agar tak terdengar, Ilham tidak ingin diganggu, dia ingin menghabiskan malam bersama sang istri kedua.


Tiga jam kemudian.


Ilham bersandar pada sandaran ranjang yang besar itu, sementara Monita juga bersandar di atasnya.


Tangan Ilham membelai lembut kepala Monita dan sesekali mengecupnya dengan lembut.


“Aku suka aromamu sayang.”


“Itu kan karena shampo yang mas belikan.”


“Tapi wanginya beda sayang.”


“Masa?” Monita mengambil sebagian rambutnya dan menc*** rambutnya sendiri.

__ADS_1


“Sama saja kok mas.”


“Beda sayang.” Ilham tetap kekeh seakan tak mau mengalah.


“Ya sudah anggap saja beda.”


“Mas, setiap kali kita melakukan itu, kenapa punyaku selalu bengkak?” Tanya Monita kemudian.


Mendengar pertanyaan itu, seketika Ilham menyunggingkan senyuman penuh arti.


“Itu tandanya, kamu harus sering melakukannya agar terbiasa dan tidak akan bengkak lagi.”


Kaget dengan jawaban Ilham, Monita langsung menarik diri, ia memilih menjaga jarak dari suaminya itu, malam ini Monita benar-benar lelah, dia ingin tidur nyenyak malam ini, Monita takut kalau nanti Monita setuju dengan saran Ilham, yang ada kepunyaannya akan semakin bengkak karena Ilham pasti akan melakukannya berulang kali, namun tak bisa dipungkiri, pertahanan Monita akan tetap runtuh saat Ilham mulai menggodanya.


Monita sendiri tak paham, padahal mereka sudah sering melakukannya, tapi masih saja tetap bengkak, Monita tidak tau apa karena miliknya begitu kecil? Atau milik Ilham yang kelebihan besar?


“Bagaimana? Kamu setuju?”


Monita semakin tersentak dengan ucapan Ilham.


“Setuju apa?” Tanya Monita pura-pura polos.


Gemas, Ilham langsung menarik Monita ke dalam dekapannya dan ronde kedua pun dimulai.


Pagi harinya di apartemen…


Mata Ilham terbuka, tangannya mencari-cari Monita yang sudah tidak ada disebelahnya.


Namun dia teringat dengan istri pertamanya, lalu meraih ponsel di atas nakas dan melihatnya, detik berikutnya mata Ilham membulat sempurna begitu melihat nama Naomi terpampang nyata di layar ponselnya, 100 panggilan tak terjawab, badan Ilham lemas seketika.


Ia bergegas bangkit dari tempat tidur menuju kamar mandi, mencuci muka dan meraih jaketnya lalu keluar dari kamar tersebut mencari-cari keberadaan Monita.


“Sayang… kamu dimana?”


“Aku di sini mas.” Jawab Monita begitu hendak mendekati Ilham.


“Yuk sarapan, aku sudah membuatkan sarapan untukmu.” Ucap Monita lagi lalu menarik tangan Ilham namun Ilham menahannya.


“Maaf aku harus pulang.”


Senyuman Monita pudar seketika, gurat kekecewaan terpampang jelas diwajah ayunya.


“Mbak Naomi sudah menunggu?” Tanya Monita seakan tau kegundahan yang dialami suaminya itu.


“Iya, dari semalam dia meneleponku, tapi aku tidak menjawabnya karena ponselku dalam mode senyap, jadi pagi ini aku harus pulang untuk menemuinya.” Jawab Ilham sembari mengusap pipi kanan Monita sedangkan tangan yang satunya menggenggam sebelah tangan Monita.


“Ya sudah pergilah mas!” Monita melepas usapan tangan Ilham dari pipinya dan juga tautan tangan mereka, sembari memalingkan wajah dari suaminya.


Ilham bisa melihat raut kekesalan dari wajah istri mudanya itu, Ilham pun meraih dagu Monita agar bisa bertatapan dengannya, lalu tanpa aba-aba, Ilham mengecup singkat kening Monita.


“Aku pergi ya.” Pamit Ilham.

__ADS_1


“Nanti malam aku kembali lagi.” Tambahnya, kemudian berlalu dari hadapan Monita yang seakan tidak rela waktunya bersama sang suami berakhir.


__ADS_2