Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 63 Dia Milikku!


__ADS_3

Hari demi hari bergulir begitu cepatnya, kini kandungan Monita sudah menginjak usia lima bulan, sudah dua bulan ini Naomi selalu pulang pergi Indonesia dan Prancis demi mengurus brand fashion miliknya itu.


Hari ini, Ilham dan Monita akan berkunjung ke rumah sakit tepatnya di bagian kandungan, untuk memeriksakan kandungan Monita.


Begitu sampai di rumah sakit, Ilham dan Monita langsung masuk ke ruangan dokter kandungan, untung saja Ilham dan Monita datang lebih awal sehingga mendapat antrian nomor satu, dokter meminta Monita untuk berbaring di atas brankar tepat di dekat alat USG.


Dokter menyingkap baju Monita, memperlihatkan perut mulus Monita yang sudah agak buncit, setelah mengoleskan jelly ke perut Monita, dokter mulai menempelkan benda pipih itu ke perut Monita.


Di layar USG, sudah terlihat janin yang sudah berukuran sebesar buah kelapa, Ilham dan Monita masih agak bingung dengan bentuk janin di layar USG itu.


“Ini janinnya ya pak, bu, sudah sebesar buah kelapa.” Jelas sang dokter sembari menunjuk si buah kelapa itu di balik layar USG.


“Oh jadi itu janinnya ya dok? Apa dia tidak apa-apa dok di dalam sana? Apa dia tidak sesak nafas di tempat sesempit itu.” Tanya Ilham sembari terus menatap layar USG itu dengan seksama.


Mendengar itu dokter dan Monita saling pandang, lalu kemudian tertawa, Monita tidak habis fikir dengan CEO satu ini, apa dia tidak punya pengetahuan sedikit pun tentang kehamilan? Benar-benar konyol.


“Mas, mana ada janin sesak nafas di dalam kandungan, jangan konyol deh Mas.” Ucap Monita dengan senyum yang ditahannya.


“Dalam kandungan pertukaran karbondioksida dan oksigen terjadi pada tapi pusar yang terhubung dengan tubuh ibu, karena paru-paru bayi belum berfungsi dengan sempurna, sehingga ibulah yang membantu janin untuk bernafas dalam kandungan, saat ibu bernafas, darah yang telah mengikat oksigen akan dialirkan melalui tali pusar hingga mencapai jantung janin, kemudian jantung bayi memompa darah tersebut untuk dialirkan ke seluruh tubuh.” Jelas sang dokter secara detail, sembari menahan senyumnya.


“Oh hehehe begitu ya dok? Aku benar-benar tidak tau.” Ujar Ilham cengengesan sembari mengusap tengkuknya.


“Apa ini anak pertama anda tuan?”


“Iya dok, ini anak pertama kami.” Jawab Ilham.


“Pantas saja, memang kebanyakan orang tua baru seperti itu, suka memikirkan hal yang tidak-tidak saking inginnya melindungi si janin.” Ujar sang dokter kemudian.


Begitu selesai pemeriksaan, Ilham dan Monita pamit pada dokter kandungan tersebut dan berlalu meninggalkan dokter dalam ruangannya.


“Sayang, biar resep vitaminnya aku yang tebus ya, kamu tunggu di sini.” Ucap Ilham sembari mengusap lembut lengan Monita.


“Iya Mas.” Ilham pun berlalu meninggalkan Monita sendiri.


Monita menatap punggung Ilham yang semakin menjauh, begitu ia hendak mendudukkan dirinya, suara bariton milik seseorang menyapanya.


“Monita?”


“Kak David?” Monita tampak sumringah.

__ADS_1


“Kau di sini? Apa kau sakit?” Tanya David dan refleks memegang kedua pundak Monita, dengan raut wajah cemas.


“Aku… aku tidak sakit kak.” Jawab Monita.


“Lalu?”


“Karena dia hamil.” Jawab seorang pria yang tiba-tiba muncul di hadapan mereka sembari memasukkan satu tangannya di saku celana sedangkan tangan sebelahnya memegang plastik berisi vitamin.


David dan Monita beralih menatap Ilham yang sudah berdiri di hadapan mereka, dengan spontan David melepaskan tangannya dari pundak Monita.


Ilham dengan tenang, berjalan menghampiri mereka, dia berdiri tepat di hadapan David menciptakan jarak diantara mereka berdua, sembari menyembunyikan Monita di belakang punggungnya.


“Apa benar, Monita hamil?” Tanya David dengan nafas yang memburu, ia sontak mengepalkan tangannya, bagaimana pun dia masih sangat mencintai Monita, dia tidak bisa melupakan Monita, ternyata melupakan itu adalah hal yang paling sulit, bahkan diam-diam dia sering mengawasi Monita dari kejauhan, melihat setiap aktivitas yang dilakukan oleh gadis manis itu.


“Ya, kenapa? Kau kesal?” Tanya Ilham masih dengan nada bicara yang santai, dan melirik tangan David yang sudah ia kepalkan.


“Benar-benar gila kau Ilham, kau malah menghamilinya tapi kau tidak bisa memberikannya kepastian.” Umpat David dengan kekeselan yang membuncah.


“Kami saling mencintai, dan kami adalah pasangan sah, lalu kenapa? Tidak ada yang salah kan?”


“Pasangan siri kan?”


“Kau benar-benar brengsek Ilham, kau sudah merusak masa depan seorang wanita!” David menarik kerah kemeja Ilham dengan tatapan yang membunuh.


Melihat itu Monita tak tinggal diam, dia segera melerai mereka sebelum hal yang tak diinginkan terjadi.


“Kak David, tolong, lepaskan.” Ucap Monita sembari memegang tangan David agar tersingkir dari kerah kemeja suaminya.


Ilham yang dasarnya memang cemburuan tidak rela jika istrinya memegang tangan orang lain, dengan segera Ilham mencekal tangan Monita lalu menghempaskan tangan David dari kerah kemejanya dengan kasar.


Ilham pun menarik tangan Monita dan membawanya pergi dari hadapan David, Ilham tampak kesal, sepanjang jalan wajahnya merah padam karena menahan amarah, perlakuan David sangat membuatnya kesal, seenaknya saja menyentuh istrinya di belakangnya.


Begitu sampai di basemen rumah sakit, Ilham membuka pintu mobil untuk Monita, wanita cantik itu memasuki mobil tersebut dan disusul Ilham yang ikut duduk di kursi kemudi.


Ilham terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, membuat Monita takut bukan kepalang, dia melirik wajah Ilham, matanya menyiratkan api amarah yang begitu membara, Monita jadi tampak kesal melihat tingkah Ilham yang tidak bisa mengontrol emosinya.


“Mas pelankan mobilnya!”


Namun Ilham tidak menggubrisnya, dia malah menambah kecepatan mobilnya dengan kecepatan tinggi.

__ADS_1


“Mas! Jika kamu ingin mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi seperti ini, lebih baik kamu saja sendirian di dalam mobil, aku masih ingin hidup, dan anak dalam kandunganku ini juga masih ingin hidup, sekarang turunkan aku!!” Bentak Monita yang sudah tidak tahan dengan emosinya, buliran bening membasahi pipinya, sembari menahan perutnya agar tidak terguncang.


Mendengar kata anak, Ilham perlahan mulai menurunkan kecepatan mobilnya, bagaimana pun dia tidak ingin membahayakan anaknya, emosi sudah menguasai diri Ilham, membuat Ilham kalap dan mengikuti amarahnya begitu saja.


“Maaf sayang.”


“Ada apa denganmu Mas? Kau marah karena aku tidak sengaja bertemu kak David tadi?”


“Aku paling tidak bisa melihat kamu disentuh pria lain walau pun itu hanya di pundak Monita, apa lagi pria itu David, orang yang menyimpan rasa cinta padamu.” Jelas Ilham tampak kesal lalu beralih menoleh ke arah Monita.


Ilham meraih tangan Monita, dan mengecupnya dengan lembut, lalu dengan perlahan Ilham mulai menepikan mobilnya di tempat sepi.


Tidak tahan, Ilham pun melepas sabuk pengaman yang ia kenakan, ditatapnya Monita dalam-dalam, diraihnya dagu ibu hamil itu dan dengan sekejap tangisnya sirna.


Ilham berhasil membuat Monita meremang, pria itu sangat bisa membuat bulu kudunya berdiri sempurna.


Ilham sedang tinggi-tingginya, dia tidak sadar mereka sedang berada di dalam mobil, di pinggir jalan pula.


Ingin menghentikan aksi suaminya, Monita menekan sedikit dada Ilham, namun begitu tangannya menyentuh roti sobek milik Ilham, Monita malah mulai tertarik.


Seperti Ilham yang tangannya mulai berkelana kemana-mana, Monita pun melakukan hal yang sama gilanya.


Seketika suhu di dalam mobil menjadi panas, terbakar oleh dua jiwa yang sedang membara di dalam sana.


“Monita, kamu milikku, aku akan kembali membersihkan seluruh tubuhmu dengan sentuhanku.” Batin Ilham seakan Monita sudah disentuh pria lain, padahal yang sebenarnya adalah, David hanya menyentuh kedua pundak Monita.


Hati Ilham seolah terikat, dan tak mau lepas, aura wanita hamil memang beda, semakin mengundang candu untuk Ilham.


Bagai terhipnotis, Ilham sulit mengendalikan hatinya bila menginginkan gadis yang 10 tahun lebih muda darinya, masih sangat belia, tapi apalah artinya usia! Itu hanya angka, batin Ilham.


“Aku sangat menginginkanmu saat ini juga sayang.” Bisik Ilham tepat di telinga Monita, selain berbisik, Ilham juga menggigit gemas telinga sang istri, membuat Monita sulit berpikir jernih.


Seolah melayang, tubuh dan jiwanya terbuai oleh Ilham yang kini mulai mengendurkan dasinya, tubuh Ilham terasa panas.


“Heemmm…!” Monita tak mampu menjawab dengan kata-kata, tubuhnya juga ikut memanas.


Dua insan yang di dalam mobil itu bagai cacing kepanasan, kelimpungan karena has**t yang membara.


Pria berbadan tegap dan atletis itu kembali menggerayangi tubuh Monita walau pun di dalam mobil dia tidak peduli, toh jalanan itu juga sepi, apalagi mobilnya menggunakan kaca film, jadi orang dari luar tidak bisa mengintip mereka di dalam.

__ADS_1


__ADS_2