Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 99 Penyatuan Lagi


__ADS_3

Berjalannya detik merangkai waktu, kian lama kian panjang. Malam makin larut, bahkan udara di luar tampak sunyi. Ilham dan Monita kini sedang berada di tempat tidur. Dua insan itu masih belum tidur, mereka masih ingin terjaga demi membunuh rindu yang kian menyapa. Mereka memang tidak terpisah, semenjak dari rumah utama Ilham memang pulang bersama Monita. Karena sejak di rumah utama Monita sibuk bersama Ija dan bi’Ratih Ilham sampai terabaikan.


“Mas, boleh aku bertanya?” Tanya Monita tiba-tiba mengeluarkan kalimat pembuka andalannya yang sukses membuat jantung suaminya tidak aman.


“Apa sayang?” Tanya Ilham sebegitu lembutnya, seraya merapikan anak rambut istrinya yang menutupi wajah cantik bak dewi itu.


“Apa selama kamu berdua dengan mbak Naomi, kalian pernah melakukannya lagi?”


Benar dugaan Ilham, kalimat pembuka andalan Monita tadi berhasil membuat Ilham ketar ketir. Bukannya apa-apa, Ilham takut kalau dia jujur, Monita akan marah dan tidak sudi lagi untuk ia jamah.


Ilham menatap manik indah itu lekat-lekat, netra coklat itu seakan menuntut kejujuran dari Ilham. Detik berikutnya, Ilham menarik napas dalam, memejamkan mata sesaat lalu mulai buka suara.


“Ya, waktu itu usai aku berhasil membujuknya agar tidak jadi ke pengadilan. Aku membujuknya dengan cara itu agar dia terlena dan luluh.” Jawab Ilham ragu-ragu. Ia menggenggam jemari lentik istrinya yang menatap kecewa padanya.


Perempuan itu memang aneh, dia yang bertanya tapi dia juga yang kecewa. Bahkan wanita selembut Monita pun memiliki perangai yang sama dengan wanita pada umumnya. Tak bisa dipungkiri wanita memang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok, sehingga apabila diluruskan dia akan patah sama halnya dengan perangainya yang selalu merasa benar.


“Jangan marah ya sayang.” Ujar Ilham mulai ketar ketir sembari mengecup punggung tangan istrinya berkali-kali.


“Aku tidak menyangka mas setegah itu, aku pikir ketika mas sudah melabuhkan cinta padaku, mas tidak akan macam-macam lagi dengan wanita lain. Tapi entahlah mas, aku tau dia memang istri pertama kamu, tapi kenapa hatiku sakit mendengarnya.” Imbuhnya sembari mengelus dadanya yang terasa sesak.


“Sayang dengar dulu, aku memang menyentuhnya, tapi tidak sampai menerobos gawangnya. Entah kenapa, begitu dia sudah hampir mencapai *******, tiba-tiba milikku layu dan tidak bisa turn on.” Jelas Ilham dengan gamblang. Dia tidak bohong, tapi itulah yang terjadi, malam itu begitu dia hendak membujuk Naomi, dia memang sempat khilaf dan mencumbu istrinya, dia sudah membuat Naomi melayang bahkan hampir mencapai *******. Saat itu tubuh mereka sudah sama-sama polos bagai bayi, tapi begitu dia hendak menancapkan senjatanya, entah kenapa tiba-tiba layu dan tidak bisa bangun lagi.


“Apa itu benar mas?” Tanya Monita seakan mendapat angin segar. Wajahnya mulai berubah, namun tidak sepenuhnya menampakkan kebahagiaannya.


“Iya benar, cuma sama kamu aku bisa turn on sayang. Entah kenapa kala melihatmu, si Robert selalu berdiri tegak.”


“Apa mas? Robert siapa?” Tanya Monita dengan polosnya berfikir kalau Robert adalah nama orang. Bahkan sepersekian detik kemudian, dia menatap luar biasa tajam ke arah suaminya karena tega membiarkan laki-laki lain menatapnya dengan nafsu.

__ADS_1


“Robert ini sayang.” Ujar Ilham dan dengan lancangnya meraih tangan istrinya dan meletakannya di area sensitif miliknya.


Mendapat perlakuan seperti itu sontak membuat Monita mendelik dan segera menarik tangannya dengan kasar.


“Kenapa ditarik?”


“Dasar mesum!” Omel Monita kesal.


“Tapi kan ini milik kamu seutuhnya sayang. Dia tau kepada siapa dia harus bangun.”


Monita mencebik kala suaminya selalu membahas ke arah yang iya iya. Namun tak bisa dipungkiri, batinnya bergejolak dan meronta-ronta.


“Ja-jadi… namanya Robert?” Tanya Monita yang mulai menampilkan senyum tipis, amat sanga tipis.


“Iya, bahkan Robert sudah sangat sesak sekarang, mencari gawangnya yang ada padamu.”


Mendengar itu Monita bersemu merah. Ilham sudah sangat mengganggu ketenangan batinnya yang juga ingin segera disalurkan.


Hanya anggukan, tanpa ada jawaban karena sesaat kemudian, Ilham sudah membenamkan bibirnya dan wanita itu hanya bisa terpejam.


Cukup lama menahan, Ilham tak ingin hilang kesempatan. Ilham mengharapkan hal itu dari Monita.


Pria itu menelusuri tubuh sang istri dengan jemarinya, tubuh Monita tidak bisa berbohong, dia menginginkannya juga meski ia tahan. Hingga tak lama, lenguhan itu lolos begitu saja dari bibirnya kala Ilham turun ke leher dan lainnya membuat ia merasa Monita sudah memberikan ia lampu hijau.


Hanya dengan sekali tarikkan, Ilham sudah berhasil melucuti pakaian Monita, itu adalah kemampuan terpendamnya.


Tidak ada yang menyakiti dan memaksa di sana, percintaan itu berjalan secara sehat.

__ADS_1


Ilham sengaja menundah dan membuat istrinya terbuai, pria itu ingin sang istri memohon padanya. Jemari lentik itu sejak tadi mencari tempat berpegang kala sang suami berhasil membuat ia kembali merasakan surga dunia, padahal serangan yang sesungguhnya belum Ilham luncurkan.


Monita sudah tak tahan lagi, ia menatap Ilham yang secara nyata dapat ia tangkap tengah tersenyum miring padanya. Ilham menyukai hal ini, melihat tubuh yang tengah ia kuasai bergetar membuktikan jika dia adalah pria sejati.


Tubuh Monita terkunci, Ilham menenangkan istrinya dengan kecupan sebelum ia benar-benar memasuki inti milik Monita yang ada di bawah perut. Ilham melakukannya dengan perlahan, dan hal itu berhasil membuat Monita seakan melayang ke langit ke tujuh.


Dalam keheningan angin malam, deru nafas dua insan itu menyatu. Rambut Monita tak beraturan dengan keadaan tubuh yang sama-sama mandi keringat. Mereka meracau sebebas itu karena takkan ada yang mendengar kecuali pelayannya sengaja berdiri di depan pintu.


“Mon-nita.”


Tubuh Ilham menegang begitu ia berhasil memuntahkan lahar panasnya, detik berikutnya ia ambruk di atas tubuh Monita dengan nafas yang tersengal-sengal sementara Monita kini hanya memejamkan mata.


Monita seakan tak masalah meski suaminya berada di atas tubuhnya. Ia melingkarkan lengannya di pundak suaminya. Pria itu masih menenggelamkan wajah di ceruk sang istri, wanitanya yang akan selamanya menjadi milik Ilham.


Sepersekian detik kemudian, deru nafas Ilham mulai tertarur, semudah itu suaminya tertidur.


“Berat mas.” Monita mencoba mendorong tubuh Ilham, pada akhirnya ia sadar tubuh suaminya memang berat sekali.


“Mas Ilham!!” rengek Monita sembari menepuk pundak suaminya berkali-kali namun tak ada respon dari Ilham hingga membuat Monita berpikir kalau suaminya pingsan.


“ILHAMM!!! Mati aku kalau begini.” jika pasangan lain akan berakhir manis begitu selesai melakukan ritual suami istri, Monita justru merasa tersiksa karena tubuh Ilham yang semakin berat menindihnya sedemikian rupa.


“MASS!!!”


“Ya kenapa sayang?” Dari tadi suaminya ini sadar atau bagaimana? Sungguh Monita tak habis pikir.


“Awas mas aku kejepit.”

__ADS_1


“Maaf maaf… aku tidak sadar sayang.” Semudah itu dia berucap, tidak sadar katanya? Pria itu kini merubah posisinya dan tidur namun tetap meminta dipeluk Monita.


“Good night sayang.”


__ADS_2