
Bulan demi bulan silih berganti, tak terasa sudah setahun mereka hidup dengan damai, begitu pun dengan Naomi dan Monita. Mereka tampak akur karena Naomi sudah mulai menerima kehadiran Monita beserta anaknya.
Namun Ilham masih tetap sama, meski pun hubungan Naomi dan Monita sudah membaik, Ilham masih enggan pulang ke rumah utama bahkan Ilham sudah tidak pernah lagi tidur bersama Naomi. Yang tersisa dari perasaan Ilham untuk istri pertamanya itu hanyalah rasa bersalah, oleh karena itu hingga detik ini, dia masih mempertahankan Naomi.
Jika ditanya apa Ilham takut kehilangan Naomi atau tidak? Jawabannya adalah iya, bahkan Ilham sendiri bingung dengan perasaannya, dia masih takut kehilangan Naomi, tapi dia selalu mengabaikan Naomi dan secara tidak sadar menempatkan Monita sebagai prioritas utama, semua itu muncul karena nalurinya. Apa mungkin kadar cinta untuk Naomi berkurang? Ilham juga tidak tau, sejauh ini ia hanya menyimpulkan perasaannya terhadap pemilik netra cantik itu sudah hilang.
Hari ini tepat setahun usia Dikta. Mereka kompak merayakan ulang tahun pewaris tahta itu bersama-sama. Diantara semua, Naomi lah yang paling antusias mengadakan pesta ulang tahun tersebut, bahkan dia sudah membelikan hadiah serta berbagai macam dekorasi serta balon-balon untuk menghias ruangan keluarga yang akan dijadikan area perayaan ulang tahun Dikta.
“Ini mbak Naomi yang dekor sendiri?” Tanya Monita memandangi dekorasi ruangan tersebut dengan kagum.
Dekorasi bertema batman tersebut tampak unik di mata Monita. Semua serba batman, mulai dari kue dengan karakter batman, meja makan dengan penutup meja batman, kursi berjuba, karangan bunga berbentuk kelelawar dan semuanya dengan bentuk batman.
“Iya, bagus kan?”
“Bagus sekali, terima kasih ya mbak.” ungkap Monita seraya menggenggam jemari Naomi.
“Sama-sama Mon, aku bahagia bisa melakukan semua ini untuk Dikta, untuk saat ini kebahagiaan kalian adalah kebahagiaanku juga.”
Tanpa mereka berdua sadari, saat ini di depan pintu ruang keluarga yang terhubung dengan teras samping, Ilhan bingung mengartikan perasaannya itu seperti apa. Bersamaan dengan rasa senangnya melihat kedekatan Naomi dan Monita, ada perasaan bersalah yang terus menghantui.
“Apa yang kamu lihat Ilham?” lamunan Ilham seketika buyar begitu mendengar pertanyaan tersebut.
“Mama.”
“Kamu lihat mereka?” mata mama Nancy menyorot dua wanita yang sedang asik berbincang dan sesekali tertawa lepas.
“Iya ma, aku tidak menyangka mereka akan seakur itu sekarang, mengingat sebelumnya Naomi tidak mau menerima kehadiran Monita meski dia yang meminta.” ucap Ilham mulai terbuka tentang semuanya, karena sejak mama Nancy tau siapa dalang dari sandiwara itu, tak tanggung-tanggung wanita paruh baya itu menginterogasi Ilham dan memarahinya agar jangan sampai dibodoh-bodohi Naomi, tepat di depan Naomi. Bahkan dia juga sempat meluapkan amarahnya pada Naomi kala itu, itulah sebabnya Naomi mau menerima kehadiran Monita dan Dikta kemudian.
“Mama si tidak yakin, kalau itu benar-benar tulus atau hamya pura-pura.” di saat Monita percaya seratus persen dengan Naomi, mama Nancy justru menunjukkan hal yang berbeda. Dia tidak yakin dengan perubahan sikap Naomi, oleh karena itu dia masih bersikap ketus terhadap menantu pertamanya itu.
“Entah lah, tapi aku pikir apa salahnya kita coba untuk percaya padanya kali ini.” pernyataan bodoh Ilham itu nyatanya disambut pukulan keras di pundak Ilham.
“Aduh sakit ma.” keluh Ilham mengusap-usap pundaknya akibar serangan mendadak itu.
“Kamu masih cinta perempuan itu Ilham? Mama tidak mau tau ya, pokoknya kamu harus melupakan dia, bodoh sekali kamu kalau sampai masih mencintai penipu itu, sudah lah ceraikan saja Ilham.” sentak mama Nancy berhasil membuat mata Ilham membola. Ia tak menyangka mamanya berbicara sefrontal itu, padahal dulu dia tidak ingin rumah tangga Ilham dan Naomi sampai retak.
“Mama, astaghfirullah istighfar ma, mama menyuruh Ilham bercerai? Cerai itu dibenci Allah ma, apalagi Naomi tidak bersalah, selagi Naomi tidak mengkhianati Ilham, Ilham tidak akan melepaskan Naomi.”
“Belah saja terus, kesalahan Naomi itu fatal, dia sudah menipu mama dan papa, mertuanya sendiri.”
“Tapi itu kan kesalahan Naomi pada mama, bukan pada Ilham. Naomi dan Ilham tidak ada masalah apa-apa.”
“Iya, dan bodohnya anak mama juga ikut-ikutan menipu mama. Sudah lah mama capek, lebih baik mama main sama cucu mama, dari pada sama anak tidak tau diri seperti kamu.” ketus mama Nancy kemudian berlalu dari hadapan Ilham begitu saja, dengan wajah yang luar biasa masam.
__ADS_1
“Ma…. Mama…”
Ilham mendengus kesal, dia bukan percaya sepenuhnya pada Naomi, dia juga curiga, hanya saja dia tidak mungkin menuduh Naomi secara nyata karena selagi kelicikan Naomi tidak terbukti Ilham tidak akan semudah itu mengambil tindakan. Dia tidak ingin menyakiti penghuni yang pernah bertahta dalam hatinya selama bertahun-tahun itu. Walau sudah terlanjur menyakiti secara tidak sadar, Ilham tetap akan menjaga perasaan Naomi secara sadar.
Pesta ulang tahun berlangsung begitu meriah. Semua anak-anak dari teman-teman Ilham serta teman-teman Naomi berdatangan. Termasuk anak-anak Shaka dan Amira. Walau pernikahan kedua Ilham sudah terendus sampai keluar, tapi tak sedikit juga yang tau kalau istri Ilham saat ini adalah Naomi. Sehingga mereka salah paham dan mengirah, Dikta adalah anak Ilham dan juga Naomi.
“Ibunya Naomi, tapi kenapa yang mendampingi anak itu wanita lain?”
“Iya ya, atau jangan-jangan itu istri kedua pak Ilham?”
“Huss jaga bicara kalian, nanti kalau jeng Naomi dengar bagaimana.”
“Mungkin itu adik sepupu pak Ilham.”
Bisik-bisik itu santer terdengar, bahkan sampai ke telinga Amira. Tuduhan demi tuduhan yang mereka lontarkan, lambat laun kian membuat kuping Amira memanas. Tak ingin menyia-nyiakan fungsi telinganya, Amira segera menghampiri ibu-ibu mulut ember itu.
“Ekhemm.”
Mereka pun serentak menoleh.
“Eh jeng Amira.” mereka menyapa Amira secara bersamaan, ya ibu-ibu kematian itu tidak lain adalah teman-teman arisan Amira dan juga Naomi.
“Sebaiknya kalian nikmati saja pesta ini selagi kalian masih bisa menikmatinya, karena kalau kalian masih terus ghibah, aku pastikan hasil ghibah kalian ini sampai ke telinga pak Ilham, kalian tau kan bagaimana pak Ilham kalau marah? 11 12 sama suami saya.” ancam Amira dan sukses membuat mereka bungkam dan merasa takut.
“Ma-maaf jeng.” ucap mereka kemudian bergegas pergi dari sana dan berpindah di tempat lain.
Pesta ulang tahun berakhir sudah, semua tamu hendak pulang usai mengucapkan selamat ulang tahun secara langsung pada Dikta. Hingga pada beberapa orang terakhir, mata Monita dibuat membeliak melihat seorang pria datang memberikan kado ulang tahun untuk Dikta. Tak hanya Monita, Ilham pun sama terkejutnya, dengan sorot tajamnya dia menatap pria itu begitu ia sampai di depan Dikta.
Pria itu menyamakan tingginya dengan Dikta, lalu menjulurkan kedua tangannya yang memegang kado dengan ukuran yang lumayan besar itu.
“Happy brithday jagoan.”
Namun Dikta hanya diam tak bergeming, pasalnya dia sudah lupa siapa pria itu, sudah setahun ini, dan pria itu kembali menampakkan wajah di depan Dikta, wajar jika dia lupa. Bahkan dia mundur selangkah, karena orang itu masih begitu asing di matanya.
“Buang saja kado itu karena anakku tidak mau menerimanya.”
Mendengar itu Monita sontak menoleh ke arah suaminya, tapi dia tidak bisa apa-apa, tidak mungkin dia membelah David, itu sama saja dengan Monita membangunkan singa tidur.
David menarik sudut bibirnya lalu berdiri dan menatap Ilham dan tatapan tengilnya yang selalu membuat Ilham muak.
“Rupanya kau masih dendam tuan Ilham. Percaya lah saya ke sini hanya ingin memberikan ucapan selamat ulang tahun untuk putraku, dan memberikan kado ini padanya.”
Ilham melayangkan tatapan yang luar biasa tajam ke arah David. Apa tadi katanya? Putraku? Ilham benar-benar panas mendengarnya, dia tidak sudi kalau putranya diakui David sebagai anaknya juga, Dikta adalah miliknya, Ilham tidak ingin berbagi dengan lelaki ini. Kesabaran Ilham setipis kulit lumpia, ia mengepalkan tangannya dan hendak melayangkan pukulan ke wajah David namun Monita segera menahannnya.
__ADS_1
“Mas, tolong sabarlah, jangan buat pesta ini kacau, ada Dikta di sini, aku tidak ingin Dikta mengalami trauma karena melihat kekerasan di depan matanya.” ujar Monita mengusap dada bidang sang suami agar Ilham lebih tenang.
“Kalau saja tidak ada Dikta, aku pastikan wajahmu hancur tak berbentuk David.” ucap Ilham sembari mengeraskan rahangnya.
“Rupanya kau masih cemburuan juga Ilham, aku memang masih mencintai istrimu, cinta ini tidak akan hilang meski kau halangi sekali pun. Tapi tenang saja, aku tidak akan merebutnya, hanya biarkan saja saya mencintainya.”
“Kau!!”
“David, tolong pergi dari sini, jangan memancing emosi suamiku, andai memang cinta itu belum hilang dari hatimu, tolong kau simpan saja sendiri dan jangan pernah ungkapkan lagi, tidak pantas mengungkapkan cinta di depan pemilik yang lebih berhak.” ucap Monita sengaja memotong ucapan suaminya demi memperkecil masalah.
Ucapan Monita sukses menohok hati David, demi apapun dia malu luar biasa begitu mendengar pernyataan Monita. Dia tidak menyangka akan mendapat sambutan yang seperti itu dari Monita, pasalnya dia memang masih sangat mencintai Monita, Monita yang selama ini terkenal lembut dan tidak pernah mempermalukan dia seperti ini jelas saja membuat hatinya terkoyak. Dulu Monita memang menolaknya berkali-kali, tapi itu bukan di depan umum seperti ini. Monita hanya akan menolaknya hanya jika mereka berdua saja.
Nancy yang mendengar itu tersenyum bangga pada menantunya, dia hendak turun tangan menghadapi David, tapi Monita sudah lebih dulu mengeluarkan ultimatumnya.
Tak hanya itu, orang-orang yang tadinya bertanya-tanya siapa Monita, kini jadi tau jika dia adalah istri kedua Ilham. Ya secara langsung semua yang hadir di sana mendengar percakapan David dan Monita. Alih-alih menggubris ucapan David, mereka malah terfokus pada sebutan ‘istriku dan suamiku’ dari Ilham dan juga Monita.
“Jadi pak Ilham nikah lagi?”
“Lalu itu anak siapa? Anak Naomi atau anak wanita itu?”
“Tapi kelihatannya masih remaja ya. Apa pak Ilham menikahi gadis belia?”
“Kasihan bu’ Naomi, tapi dia terlihat terima-terima saja, kalau aku jadi dia, aku pasti mengamuk.”
Obrolan orang-orang di sana, sampai juga ke telinga Ilham. Hingga perhatian Ilham teralihkan, dia lupa mengenalkan Monita di depan khalayak ramai, meski dia sudah melegalkan pernikahan mereka, tapi Ilham belum mengumumkan siapa Monita sebenarnya. Pria itu berniat mengatakan yang sebenarnya demi meredam mulut-mulut tak berpendidikan dari orang-orang gila urusan itu.
“Dengarkan semuanya.”
Mereka pun menoleh dan semua perhatian tertuju pada pria tampan berjas abu-abu itu.
“Sepertinya aku belum mengenalkan wanita ini pada kalian.” ucap Ilham sembari merengkuh pundak Monita.
Hal itu sontak membuat Monita membeliak, dan menatap Naomi dengan rasa sungkannya, namun Naomi hanya menganggukkan kepala seraya mengukir senyum teduhnya demi membuang rasa tidak sungkan di hati Monita.
“Dia adalah Monita Maheswari Kusuma, istri kedua saya dan anak ini, Dikta Anugerah Adhitama adalah putra saya dengan Monita. Pernikahan kami sudah setahun ini berjalan, dan istri pertama saya Naomi tidak keberatan dengan pernikahan ini. Mereka akur dan tidak ada masalah apapun, jadi harapan saya, semua spekulasi yang menjurus ke keluarga saya tidak berkembang kemana-mana, dan cukup sampai di sini saja.”
Mereka pun terdiam dan mengangguk, tak sedikit dari mereka memaklumi bahkan mereka berfikir Monita adalah wanita gila harta yang rela menikah di usia muda dengan pria beristri, mereka juga berspekulasi, pernikahan Monita dan Ilham awalnya tanpa sepengetahuan Naomi. Bahkan anggapan itu berlanjut sampai pada Naomi juga, mereka menganggap Naomi terpaksa menyetujui pernikahan kedua dari suaminya, karena tidak mau meninggalkan kemewahan yang Ilham berikan.
Tanpa disadari, dari kejauhan, ada yang mengabadikan moment tersebut, untuk dijadikan konsumsi publik.
“Tapi pak Ilham, maaf kalau saya lancang, bukan kah bu’ Naomi pernah hamil dua kali, kami sempat berpikir kalau, Dikta adalah anak yang dikandung bu’ Naomi dulu.” tanya salah seorang wanita yang tadinya mendapat semprotan dari Amira.
“Untuk hal itu biarlah jadi privasi kami sekeluarga, yang pasti, Dikta Adhitama adalah putra saya bersama Monita.” jawab Ilham enggan menjawab lebih jauh lagi pertanyaan mereka, bukan tanpa alasan, dia hanya ingin privasi keluarganya terjaga dan tidak perlu diketahui khalayak ramai.
__ADS_1
“Saya rasa pertanyaannya cukup sampai di sini, ini adalah pesta ulang tahun anak saya bukan forum tanya jawab.” pungkas Ilham demi membungkam mulut-mulut mereka yang banyak tanya dan nanti hanya akan menyakiti hati dua wanita yang ada di sampingnya kini.
Mendengar itu, hati Naomi berdenyut, habislah sudah, Monita sudah dikenalkan di khalayak ramai sebagai istri kedua Ilham. Bagaikan dihantam bongkahan batu besar tepat di dada, Naomi mencoba sabar dan berusaha seakan baik-baik saja. Dia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerima saja tanpa banyak bicara. Dia akan berusaha tegar dan tidak ingin menciptakan kekacauan kembali yang hanya akan membuat mertua dan juga Ilham semakin membencinya.