Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 133 Bahaya Mengintai


__ADS_3

Di jalan raya, tepat di kediaman Adhitama, seorang anak laki-laki berusia 5 tahun tengah menyebrang jalan demi mengambil bolanya yang terpental jauh ke seberang.


Begitu anak itu menyebrang, bersamaan dengan itu sebuah motor melaju dengan kecepatan tinggi. Orang-orang di sana terperanjat dan berteriak histeris karena mereka tidak sempat berlari ke arah anak itu untuk menyelamatkannya dikarenakan jarak mereka berdiri dan jarak anak itu berada terlalu jauh.


Eden yang kebetulan keluar rumah untuk mencari keberadaan anaknya ikut senam jantung melihat hal itu, tanpa pikir panjang ia berlari ke arah sana untuk menyelamatkan anaknya namun terlambat, anak itu sudah diselamatkan orang lain yang jaraknya lebih dekat dari jarak anak itu berada. Hampir saja, kini anak itu sudah ada di pinggir jalan bersama seorang wanita yang sudah menyelamatkannya, Eden melihat dengan mata kepalanya sendiri aksi penyelamatan itu dan orang yang menyelamatkannya. Ya anak laki-laki itu adalah putra Eden dan Andre yang biasa disapa Syakil.


Dengan perasaan yang tak karuan, Eden segera menghampiri putranya dan memastikan keadaannya, jantung Eden hampir lompat dari tempatnya. Bagaimana tidak, jika tidak ada wanita ini, dia akan menyaksikan tragedi berdarah sore ini, dengan mata kepalanya sendiri.


“Kamu tidak apa-apa kan nak?” Eden mengusap kepala anaknya dengan mata mengembun, tangannya bergetar karena sisa trauma yang ia rasakan sejak tadi.


“Syakil tidak apa-apa ma. Mama jangan menangis.” Jawab putranya seraya mengusap kristal bening yang sudah membasahi pipi ibunya.


Begitu memastikan anaknya baik-baik saja, lututnya sampai lemas dan beruntung wanita itu menahan tubuhnya yang hampir saja terjatuh. Lalu sepersekian detik berlalu, Eden menatap wajah wanita itu.


“Terima kasih banyak. Kamu sudah sangat baik mau menyelamatkan anakku.” Tuturnya sembari menggenggam jemari wanita tersebut. Telapak tangan Eden masih berkeringat dingin.


“Semua orang jika berada di posisiku juga pasti akan melakukan hal yang sama.” Jawabnya seraya menampilkan senyum hangatnya.


“Apa pun itu, aku harus berterima kasih padamu, dan aku harus membalasnya nona.”


“Tidak perlu sungkan, aku hanya kebetulan lewat, semua terjadi dengan spontan. Kejadiannya di depan mata saya, jadi saya berkewajiban untuk menyelamatkan putra anda.” Jawabnya seraya mengangkat dagu anak itu dan menatap manik indahnya.


“Terima kasih tante.” Ujar anak itu dengan polosnya. Wanita itu tersenyum lalu membungkuk demi bisa mensejajarkan wajahnya dengan Syakil.


“Tidak perlu sungkan sayang, tidak mungkin tante diam saja melihat kamu hampir ditabrak nak. Hati-hati ya, kalau tidak ada orang dewasa jangan menyebrang jalan sendirian, apa pun yang terjadi.”


“Oh ya, siapa namamu? Kita belum berkenalan.” Tanya Eden sembari mengulurkan tangannya.


“Saya Rosa.” Ia menyambut uluran tangan Eden.


“Eden.”


****


Karena Dikta sudah besar dan suka main playstation di kamarnya, Ilham dan Monita jadi punya waktu berdua. Jika sudah berdua begini, mereka masih sama seperti pengantin baru. Eden dan Rosa masih berada di luar, jadi dua insan itu belum tau huru hara apa yang terjadi di depan sana.


“Sayang, jalan-jalan yuk.” Ajak Ilham kala sedang melingkarkan tangan di pinggang sang istri.


“Kemana?” Tanya Monita tampak tenang dan berpikir bahwa Ilham benar-benar tengah mengajaknya jalan-jalan.


“Surga dunia cari madu, aku rindu sayang.”


Mendengar tempat yang ingin Ilham kunjungi, mata Monita berkedip berkali-kali.


“Nanti malam saja, kalau tiba-tiba Dikta cari aku kan bahaya mas.”


“Tidak lama kok sayang, sebentar saja, 25 menit janji.” Ilham berbisik tepat di telinga Monita.


“Bohong, nggak mungkin cuma 25 menit.”

__ADS_1


“Kita buktikan saja kalau tidak percaya, one, two three… kita coba sekarang.” Ilham membopong tubuh Monita tanpa aba-aba.


“Aku bisa berjalan Ilham.” Teriak Monita khawatir sekali jika dirinya jatuh.


“Jangan berisik, kita harus memanfaatkan waktu jika hanya berdua begini. Aku belum olahraga hari ini.”


Begitu sampai kamar, Ilham merebahkan tubuh istrinya di ranjang dan tanpa menunggu lama, ia mengecup bibir Monita dengan begitu dalam.


Kerinduannya sudah membuncah, bagaimana tidak, Monita sudah sebulan ini tidak mengajak Ilham terbang ke awang-awang karena mood Monita yang naik turun akibat hormon kehamilan. Hingga tak lama kemudian, kecupan yang sejak tadi biasa saja kini semakin menuntut menjadi lum**an. Monita yang tak mau kalah, ikut mengimbangi ciu**an panas yang diberikan suaminya.


Entah siapa yang memulai, kini tubuh mereka sama-sama polos bak bayi baru lahir. Ilham mengecup setiap inci tubuh istrinya yang sudah bertahun-tahun ini menjadi candu baginya. Meski pun Monita sudah pernah melahirkan, namun dia masih seperti gadis. Kalau kata Ilham, jepitannya masih sama dan tidak ada yang berubah. Ya semua jelas saja karena Monita pandai merawat tubuh.


Monita mengerang kala suaminya terus melayangkan serangan demi serangan. Lenguhannya terdengar merdu di indera pendengaran Ilham, hingga membuat ia semakin bersemangat menggerayangi istrinya.


Tak lama kemudian, begitu permainan sudah setengah jalan, ketukan pintu tiba-tiba saja terdengar. Ilham tidak ingin menggubrisnya, dia terus saja melanjutkan aktivitasnya, namun Monita semakin panik saja karena ketukan pintu itu semakin terdengar keras dengan suara Dikta yang melengking dari balik pintu.


“Tu kan mas, aku bilang juga apa, jangan sore ini karena Dikta pasti akan mencariku.” Ujar Monita seraya melepaskan bibir suaminya yang terus mencum** tubuhnya.


“Pura-pura tidur saja sayang.”


“Mana ada!”


“Tapi sudah setengah jalan Mon, mas bisa sakit kepala nanti.”


“Bodo amat, nanti malam kan bisa, sudah mas lepaskan aku.” Monita mendorong paksa tubuh suaminya dan berhasil.


Cepat-cepat Monita mengenakan pakaiannya dan melirik suaminya yang masih polos juga.


Bukannya memakai baju, Ilham malah menarik selimut dan menutupi tubuhnya yang masih polos sampai sebatas pinggang.


“Biarkan saja, katakan saja papanya baru habis olahraga.” Jawab Ilham dengan kekesalan yang sudah di ubun-ubun.


“Gila kamu ya mas!” Monita tak habis pikir, suaminya terlalu kekanak-kanakkan, hingga akhirnya Monita berinisiatif memunguti pakaian Ilham satu persatu yang masih berceceran di lantai, bisa gawat kalau sampai Dikta melihat.


“Ada apa nak?”


“Ma, tante Eden nungguin papa dan mama di bawah, katanya ada seseorang yang mau tante Eden kenalkan.” Tutur miniatur Ilham itu seraya melirik ayahnya yang saat itu hanya diam sembari menatapnya yang sedang berada di ambang pintu.


“Papa kenapa tidak pakai baju?” Tanya Dikta dengan polosnya.


“Gerah, papa baru selesai olahraga sayang.” Jawab Ilham sontak membuat Dikta mengerutkan keningnya.


“Olahraga apa di dalam kamar begini?”


“Ah ya, Dikta tunggu saja di bawah ya, mama dan papa nanti menyusul.” Merasa ketar ketir, Monita secepat itu mengalihkan pembicaraan ayah dan anak itu. Monita sangat tau bagaimana watak suaminya yang tengil dan asal ceplos, takutnya nanti dia akan jujur tentang apa yang sedang mereka lakukan beberapa menit lalu.


“Jadi ini rumahmu?” Tanya Rosa begitu Eden membawanya masuk, sempat mendapat penolakan dari security di pos depan, akhirnya Rosa bisa lolos juga berkat Eden yang memaksanya. Mana mungkin mereka berani membantah ipar dari tuan besar mereka, terlebih begitu Eden menjelaskan bahwa Rosa sudah menyelamatkan Syakil barulah Rosa bisa diizinkan masuk.


Meski pun tidak pernah melihat Rosa dan tidak tau masa lalu wanita itu seperti apa di keluarga Adhitama, mereka sudah diberi warning oleh Ilham agar tidak mengizinkan wanita itu masuk dengan memberitahu namanya dan menunjukkan fotonya. Namun semuanya terpatahkan karena hari ini Rosa telah menjadi penyelamat Syakil, tuan kecil mereka.

__ADS_1


“Ini rumah suami kakakku. Dari lama kami ingin pindah, tapi kakakku belum mau berjauhan denganku.”


“Jadi benar kamu adalah adik ipar mas Ilham?


“Iya, tapi kenapa security di depan tidak mengizinkanmu masuk? Apa kamu mengenal keluarga Adhitama sebelumnya?” Tanya Eden nampak ragu, dia khawatir Rosa akan tersinggung dengan pertanyaannya.


“Dulu sebelum mas Ilham kenal Naomi, aku dan mas Ilham pernah dekat, kami hampir pacaran, tapi seseorang memfitnahku, katanya aku punya pria lain padahal tidak sama sekali, sayangnya Ilham menelan bulat-bulat omongan orang tersebut dan meninggalkanku serta memberi batasan padaku agar tidak seenaknya masuk rumah ini.” Jelas Rosa panjang lebar, tentu saja semua itu bohong, mereka tidak pernah dekat jangankan pacaran, menatapnya saja Ilham tidak pernah. Lebih tepatnya tidak mau.


“Tapi kamu tenang saja, aku sudah sangat lama melupakan mas Ilham dan sekarang aku hanya ingin berdamai dengannya karena aku tidak ingin punya musuh dalam hidupku.”


“Tidak apa-apa Ros, lagi pula itu hanya masa lalu, aku tau kamu wanita high value, tidak mungkin kamu mau sama suami orang.” Tutur Eden dengan senyum teduhnya.


“Siapa Den?” Suara Monita sontak membuat Eden menoleh.


“Itu kakakku.” Rosa yang sejak tadi membelakangi Monita, kini berbalik menatapnya hingga tatapan mereka bertemu.


Monita terperangah, matanya membola dengan mulut yang sedikit menganga. Seperti mimpi, mereka kembali dipertemukan setelah sekian lama, dalam rangka apa Eden mengenalkannya. Apa mereka berteman? Sejuta tanya kini menghiasi benak Monita.


Sama halnya dengan Monita, Ilham pun merasakan hal yang sama. Bagaimana bisa wanita itu masuk, sedangkan dia sudah memberi peringatan pada security dan para bodyguardnya agar tidak mengizinkannya masuk. Seketika Ilham mengepalkan tangannya dan menatap Rosa dengan tatapan tajam. Api yang sudah padam itu kembali menyala-nyala. Hanya gara-gara wanita ini, Ilham terpaksa harus menghentikan aksinya dalam membawa Monita terbang ke surga dunia hingga membuatnya sakit kepala.


Seakan tau penyebab mata tajam suaminya hendak lepas, Monita berkesimpulan kalau mereka saling mengenal.


“Mas kenal Rosa?”


“Kakak belum tau?_”


“Tapi tunggu, kakak juga kenal Rosa?”


“Iya, dia teman kakak, kalian bagaimana bisa kenal?” Tanya Monita sembari berjalan menghampiri Rosa, hati Monita seluas samudra, meski pun dulunya Rosa banyak menyakiti Monita dengan mulut pedasnya, tapi dia masih saja mau menganggap Rosa teman.


Eden pun menjawab pertanyaan Monita dengan menjelaskan semuanya secara detail. Eden dan Monita bisa saja percaya, tapi tidak dengan Ilham, pria itu yakin sekali ada udang dibalik batu, tidak mungkin itu murni karena menolong. Sebagai orang yang kenal betul bagaimana liciknya wanita ular ini, Ilham tidak mudah percaya begitu saja. Ilham akan menyelidikinya sendiri.


Tidak lama berselang, setelah tiga wanita itu berbincang ringan, akhirnya Rosa pamit pulang. Di luar dugaan, Rosa berhasil merebut hati Monita sekaligus, dia pikir wanita itu akan dendam, nyatanya tidak, Monita malah menyambutnya sehangat itu.


****


“Mas kenal Rosa?” Tanya Monita begitu masuk di dalam kamar, sejak tadi dia menahan, mulutnya terasa gatal ingin bertanya tapi dia tahan karena masih ada Rosa.


“Tidak begitu kenal.” Jawab Ilham singkat, padat dan sama sekali tidak jelas.


“Teman?” Tanya Monita lagi dan mendapat anggukan dari Ilham.


“Teman dekat?” Tanya Monita memastikan, bagaimana bisa seorang Ilham Adhitama punya kenalan wanita malam. Meski dulu mereka bertemu di club, tapi Ilham bukan tipe pria yang sering bertandang di club malam.


“Tidak juga. Sudah lah sayang, itu tidak penting, dari pada kamu tanya-tanya begitu, lebih baik kita lanjutkan yang tadi.” Ilham memeluk istrinya dari samping sembari menatap genit sang istri.


****


“Kerja bagus.” Ucap Rosa seraya memberi amplop coklat pada seorang pria yang dia ajak bersekongkol itu.

__ADS_1


Rosa sangat puas, dia tersenyum sinis, langkah pertamanya berjalan mulus, akhirnya dia berhasil masuk ke rumah Ilham melalui perantara Eden dengan berkedok penyelamatan.


__ADS_2