Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 42 Tidur Dengan Ibu


__ADS_3

Begitu sampai rumah, Eden langsung turun dari mobil dan berlari kecil menghampiri Monita yang sudah berdiri menunggunya di teras rumah.


Sama halnya dengan Eden Monita pun tampak girang dan menjulurkan tangannya hendak memeluk Eden adik satu-satunya.


“Kakaaaakkk!” Seru Eden dengan begitu girangnya menyambut uluran tangan kakaknya, dan memeluknya.


Dua wanita beda usia itu saling berpelukan saking girangnya, karena baru pertama kali kembali bertemu setelah sekian lama.


“Aaa kakak, akhirnya kakak pulang juga.” Ucap Eden sembari menggoyang-goyangkan tubuhnya dalam pelukan Monita.


Monita melepaskan tautan tubuh mereka, menghela nafas panjang dengan masih memegang kedua pundak Eden, Monita pun berkata.


“Kakak hanya dua hari sini dek, lusa kakak balik lagi, kakak masih banyak pekerjaan di sana.”


“Yah, Eden pikir kakak akan lama di sini.” Ucap Eden tampak lesu.


“Nanti kalau kakak dapat cuti lagi, kakak pasti pulang ke sini, jangan cemberut begitu dong adik kakak yang manis.” Ucap Monita sembari mencubit pipi mulus Eden.


Eden pun beralih menatap Andre yang masih berdiri mematung di samping mereka yang sedang tersenyum tipis padanya.


“Hmmm pak, apa boleh bapak masuk duluan? Ada yang ingin Eden bicarakan berdua dengan kakak.”


“Oh iya, maaf ya, kalau begitu saya masuk dulu.” Jawab Andre kemudian berlalu meninggalkan Eden dan Monita.


“Eh Ndre.” Panggil Monita yang sontak menghentikan langkah Andre.


“Ya.” Jawab Andre begitu ia menoleh.


“Terima kasih ya sudah repot-repot menjemput adik saya.”


“Tidak apa-apa, lagipula saya senang kok.”


“Ya sudah kau sudah boleh masuk.” Ucap Monita sembari tersenyum lebar.


“Baik, saya permisi dulu.” Andre pun kembali melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamarnya.


Eden terus melihat punggung Andre yang sudah semakin jauh, setelah memastikan Andre sudah masuk, Eden segera menarik tangan kakaknya, dan mendudukkan dirinya di tempat duduk yang terletak di depan rumah mereka.


“Kenapa Den?” Tanya Monita tampak mengerinyitkan dahinya.


Eden pun menghela nafas panjang, lalu memberanikan dirinya untuk bertanya.


“Kak, pria itu namanya Andre ya?”


“Iy..ya.” Jawab Monita agak heran melihat tingkah adiknya yang sedikit aneh itu.


“Tampan sekali dia, aku mau dong kak dijodohkan dengannya.” Seru Eden memuja-muja Andre secara berlebihan.

__ADS_1


“Hah?!” Monita mendelikkan matanya tampak begitu terperanjat mendengar pengakuan adiknya.


“Den? Sifat kamu dari dulu benar-benar tidak berubah ya, kamu masih saja centil seperti ini, kakak saja tidak begini, ibu juga tidak, kenapa kamu tampak begitu agresif?” Tanya Monita tak habis pikir dengan adiknya yang sangat berbeda dengannya.


Benar saja, jika dibandingkan dengan Monita, sifat mereka jauh berbeda, Monita yang tampak malu-malu jika harus berhadapan dengan makhluk yang bernama laki-laki, namun tidak dengan Eden, ia tampak lebih agresif, terlebih melihat lawan jenis yang begitu tampan di depannya.


“Emangnya kenapa kak? Salah kalau Eden suka dengan dia, lagipula selama ini, laki-laki yang sudah berhasil merebut hati Eden itu cuma Andre.”


Eden memanglah agresif dan tidak bisa melihat pria tampan karena ia pasti akan memuji-muji pria tersebut secara berlebihan, namun tidak sampai memacari pria-pria yang ia kagumi itu, dan itu sudah terbukti dari pergaulan Eden selama ini yang tidak pernah berpacaran, baru dengan Andre dia seperti itu, bukan hanya ingin pacaran, tapi dia ingin langsung menikah.


“Den kamu serius? Lalu kenapa tidak mengatakan langsung di depan orangnya, tadi dia berdiri di sini, kamu malah menyuruhnya masuk.” Ujar Monita begitu terkekeh.


“Aku serius kakak, kenapa malah menertawakan aku.” Protes Eden tampak cemberut dengan bibir yang mengerucut.


“Iya iya maaf, ternyata seagresif-agresifnya kamu, kamu tidak punya nyali ya untuk mengatakan langsung di depan orangnya.” Tutur Monita yang masih sedikit terkekeh.


“Ya iya dong kak, jaga image, Eden ini cuma agresif tapi bukan murahan loh, ingat itu.” Ungkap Eden sedikit menunjukkan protesnya pada Monita.


“Iya iya, kakak tau, tapi kamu sekolah dulu minimal ujian baru bicara soal menikah oke.”


“Iya deh kak, tapi jangan lupa ya pokoknya kakak harus mengawasi kak Andre jangan sampai dia diembat wanita lain, selama Eden sekolah.”


“Eden! kenapa sih kamu ini, tunggu tunggu kamu benar-benar suka sama Andre?” Tanya Monita mencoba memastikan lagi, sembari mengulum senyumnya.


Eden pun hanya menganggukkan kepalanya sembari menundukkan wajah.


“Den, kakak setuju-setuju saja kalau kamu menyukai Andre, tapi untuk menikah sebaiknya tunggu kamu sampai lulus dulu, kan ujiannya tinggal enam bulan lagi, nanti akan kakak bantu deh biar kamu bisa dekat dengan Andre.”


“Nak ayo kita makan malam.” Ajak Rahayu yang tiba-tiba muncul di depan kedua putrinya.


“Eh ibu, ya sudah ayo bu.” Jawab Eden mulai beranjak dari duduknya begitu pun dengan Monita yang juga mulai beranjak dari duduknya.


Eden dan Monita pun mengikuti langkah ibunya dan bersiap untuk makan malam, di meja makan sudah ada Andre dan juga Ija yang menunggu.


Andre pun tersenyum tipis begitu melihat Eden begitu pun dengan Eden, entah kenapa setelah menyatakan rasa tertariknya pada Andre di depan kakaknya tadi membuat Eden semakin canggung dan salah tingkah ketika berhadapan langsung dengan Andre, apalagi posisi duduk Eden berada tepat di depan Andre, hal itu sengaja Monita lakukan karena sesuai janjinya tadi, dia akan membantu Eden dekat dengan Andre.


Makan malam pun berlangsung dengan khidmat, setelah selesai makan malam, Ija pun berdiri untuk membereskan meja makan.


“Ja, tidak usah Nak biar ibu saja.” Cegah Rahayu menghentikan aktivitas Ija.


“Ah tidak apa bu, sebaiknya bu Rahayu mengobrol saja dengan kak Monita dan kak Eden kan cuma sekali ini saja Ija membantu ibu membereskan meja makan.”


“Tidak usah Ja, biar ibu saja, sudah kamu istirahat ya.” Ujar Rahayu mengambil alih piring kotor yang ada di tangan Ija.


“Biar Monita bantu ya bu.” Monita pun berdiri dan mulai mengangkat beberapa piring kotor yang ada di atas meja.


“Eden juga.” Ucap Eden yang ikut berdiri.

__ADS_1


Rahayu pun tidak bisa menolak, ia hanya tersenyum hangat melihat kedua putrinya yang begitu kompak ingin membantunya.


Kini ibu dan kedua anak itu sudah berada di dapur untuk mencuci piring.


“Bu, Monita mau tidur dengan ibu saja ya malam ini.” Ucap Monita tiba-tiba, seakan tidak ingin jauh dari ibunya, dia seperti ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan sang ibu mengingat waktunya di rumah hanya sebentar.


“Kamu kan tidur dengan Ija nak, masa Ija mau ditinggal sendiri.” Sanggah Rahayu kemudian.


“Biar Eden saja bu yang menemani Ija, lagipula kita berdua kan sudah sering tidur bersama, sedangkan kak Monita baru sekarang bisa tidur lagi dengan ibu.”


“Ya sudah, kebetulan ibu juga ingin tidur dengan Monita, sudah lama ibu tidak memeluk kamu sambil tidur nak.” Ujar Rahayu menyelipkan anak rambut Monita ke belakang telinga.


Kini waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 malam, Eden sudah masuk ke kamar bagian tengah untuk tidur dengan Ija, sedangkan Monita masuk ke kamar bagian belakang bersama ibunya.


Monita pun membaringkan tubuhnya di samping ibunya yang sudah lebih dulu berbaring, dengan posisi tidur menyamping, menggunakan tangan untuk menopang kepalanya sebagai pengganti bantal.


“Bu, Monita senang sekali akhirnya Monita bisa melihat wajah ibu lagi, Monita begitu takut kehilangan ibu waktu itu, makanya Monita mati-matian cari uang untuk kesembuhan ibu.” Ungkap Monita menatap wajah sang ibu dengan seksama.


“Ibu juga senang akhirnya bisa tidur denganmu seperti ini, kamu jaga kesehatan ya selama di sana, jangan terlalu lelah.”


“Iya bu, Monita janji kalau ada cuti lagi Monita pasti akan pulang ke sini.”


“Ya sudah kamu tidur ya, besok pagi ibu mau ke pasar mau beli bahan kue untuk dijual besok siang.”


“Ibu masih jualan kue?”


“Iya nak, untuk menyambung hidup ibu dan Eden selama di sini.”


“Bu, kan Monita sudah bilang, ibu tidak usah capek-capek lagi cari uang, biar Monita yang cari uang dan mengirimkan uangnya untuk ibu dan Eden, memangnya uang yang Monita kirimkan selama ini tidak cukup ya bu?” Tanya Monita dengan raut wajah cemas melihat ibunya yang sepertinya begitu lelah.


“Bukan nak, uang kamu bahkan sangat lebih dari cukup, Ibu hanya tidak mau terlalu bergantung padamu nak.”


“Tidak apa bu, tidak usah bekerja lagi ya, janji ya bu.”


Rahayu pun tampak berpikir sejenak sembari menatap langit-langit kamar.


“Bu.”


“Iya ibu janji tidak akan bekerja lagi.”


“Nah begitu baru benar!” Seru Monita semakin mengembangkan senyumannya dan memeluk hangat tubuh sang ibu.


“Tapi ibu mau tetap ke pasar besok mau beli bahan makanan untuk memasak sarapan pagi kalian.” Ucap Rahayu membalas pelukan sang anak.


“Iya bu, nanti Monita temani ya.”


“Iya, ya sudah kamu tidur gih, ibu juga sudah mengantuk.”

__ADS_1


“Iya bu.”


Ibu dan anak itu mulai tidur sambil berpelukan hangat, Monita yang begitu manja dengan ibunya tampak senang bisa kembali tidur sembari memeluk ibunya.


__ADS_2