
Ilham bukan pria bodoh, dia bukan memberikan kesempatan pada Naomi, tapi dia sedang menyelidiki Naomi. Jika ditanya dia kecewa atau tidak? Jelas saja iya, bahkan amat sangat kecewa. Dia tidak berharap istri pertamanya akan berubah sejahat ini, Naomi yang dia kenal tidak seperti ini. Sama sekali dia tidak menduga kalau Naomi yang dulunya bak bidadari kini menjelma jadi ratu iblis.
Bertahun-tahun dia mengenal wanita ini, tidak pernah dia temukan sisi buruk Naomi yang seperti ini. Walau tak bisa dipungkiri, sifat plin plan Naomi memang sudah melekat dalam dirinya sejak dulu. Namun tidak pernah Naomi berbuat jahat pada siapa pun sejauh yang dia kenal.
Drrrtt drrtt drrrttt
Ponsel Ilham bergetar begitu dia sudah dalam perjalanan pulang, pria itu meliirk sejenak ponsel yang terpampang nama Shaka di layar utama.
Segera ia menggeser icon hijau untuk menjawab panggilan Shaka.
“Ilham, aku sudah tau siapa dalangnya.”
“Ya aku juga sudah tau.” jawab Ilham lesu.
“Hah?”
“Pelakunya istri pertamaku.”
__ADS_1
“Ja-jadi kau sudah tau?”
“Iya, aku tidak menyangka dan kenapa harus dia pelakunya. Aku benar-benar sedang ada di persimpangan jalan Ka, aku ingin menyelidiki dia lebih lanjut lagi dan memperketat penjagaan Monita karena dia sedang merencanakan pembunuhan untuk istriku itu.”
“Apa Ham? Merencanakan pembunuhan?” tanya Shaka terdengar panik, rupanya dia ketinggalan satu informasi.
“Iya, aku mendengarnya langsung. Tadi aku berkunjung ke rumah utama, dan secara tidak sengaja aku memergoki Naomi berbincang dengan seseorang lewat telpon membahas rencana pembunuhan itu. Tapi aku sudah meminta dia klarifikasi untuk meredam isu tak sedap ini.”
“Bagus Ham. Tapi kamu tenang saja, aku akan bantu kamu menyelidiki semua perbuatan buruk Naomi di belakang kamu.”
“Terima kasih Ka. Kamu sudah banyak membantuku.”
Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Ilham kembali melajukan mobilnya menuju kediaman barunya. Meski pun hatinya dilanda kekecewaan atas fakta kejahatan wanita pertamanya, dia juga sangat lega karena sudah mengetahui dalang dari semua kericuhan yang ada.
Waktu untuk sampai di rumah yang harusnya sampai 30 menit, kini hanya 10 menit perjalanan. Ketakutan akan sang istri bangun dan mencarinya tengah malam begini mencuat begitu saja. Ilham bukan suami takut istri, dia hanya takut istrinya terancam kala berada di kamar sendirian. Apa lagi dia baru mendengar Naomi memerintahkan seseorang untuk membunuhnya. Ilham semakin tidak tenang.
Setibanya di kamar, Ilham bernapas lega kala melihat istrinya tertidur lelap di ranjangnya. Dia melirik ponsel istrinya yang hingga detik ini dia sita. Pria itu belum memberikan ponsel Monita dan tetap belum mengizinkan istrinya menonton televisi. Dia sudah memberi pengertian pada istrinya dengan alasan takut mental istrinya terganggu. Monita yang memang penurut setuju setuju saja kala Ilham menyita ponselnya.
__ADS_1
Syukurlah istrinya belum terbangun, Ilham menunduk lalu mengecup pemilik netra cantik itu. Saat ini dia sudah persis seorang ayah yang meninggalkan putrinya.
Ilham membelai surai indah itu, rupanya sang istri kelelahan hingga tidurnya selelap itu. Dia tersenyum, cantik sekali istrinya meski dalam keadaan tidur sekali pun. Bak melepas beban berat berkilo-kilo gram, Ilham bernapas lega karena isu miring tersebut akan berakhir.
“Kesedihanmu akan berakhir sayang, besok isu tersebut akan redam, malam ini aku sudah menemukan dalangnya.”
Usai berkata seperti itu, Ilham beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Gemericik air mulai terdengar, sepasang mata itu terbuka pelahan bersamaan dengan tangan yang mengusap kening di wajahnya.
“Aku tidak salah dengar kan? Dia menemukan dalangnya?” Monita bermonolog sendiri.
Mental Monita tak sekuat itu, sepanjang isu itu, dia terus mengurung diri, Monita paling kalah soal fitnah yang menyerang dirinya. Bukan Monita lemah, dia diam karena dia tidak tau siapa yang tega menyebar berita sekejam itu tentangnya. Guna apa dia berontak sedangkan pelakunya saja tidak tau siapa, tidak mungkin dia marah pada netizen yang kebanyakan pakai akun fake itu.
Seandainya jika itu hanya menyangkut dirinya, dia tidak mau ambil pusing, masalahnya berita terakhir yang dia baca sampai menyeret anaknya. Monita membaca berita dari ponsel bi’ Rani. Bukan bi’ Rani lancang tidak mendengarkan perintah Ilham, hanya saja permata Ilham ini yang memaksa dengan janji Ilham tidak akan mengetahuinya. Mana berani Rani membantah, nyonya besar rumah ini yang meminta.
Anak hasil zina itu kini sudah menginjak usia satu tahun.
__ADS_1
Mata Monita memanas kala membaca berita sadis itu. Anaknya disebut anak hasil zina, Monita tidak terima, putranya diseret-seret dalam isu sinting tersebut. Dadanya bergemuruh, wajahnya memerah karena marah, emosi Monita mendadak naik ke ubun-ubun. Tadi dia sempat tenang karena belum tau siapa pelakunya, tapi begitu Ilham berbisik sudah menemukan dalangnya Monita kembali meradang. Dia duduk di tepi ranjang untuk menanti suaminya keluar dari kamar mandi.