
Ilham bertanya seraya melingkarkan tangannya di pinggang sang istri. Monita mendongak menatap wajah suaminya yang kini tengah tersenyum padanya. Monita hanya diam tanpa berniat untuk menjawab pertanyaan Ilham. Pria itu memang terlalu dewasa jadi wajar saja.
Hingga sepersekian detik berlalu, Monita terbuai oleh sentuhan Ilham yang dengan lembut menelisik wajahnya.
“Aaarrgghh.” saking fokusnya melamun, Monita terperanjat kala Ilham menggigit dadanya. Monita tersiksa dengan serangan mendadak dari sang suami.
“Apa sakit?” Tanya Ilham seenteng itu, bekas gigitan Ilham kini terukir jelas di pundak dadanya.
“Sakit lah, masih saja bertanya.” ucap Monita dengan wajah cemberut sembari menepuk bibir Ilham lumayan kuat.
“Awww, balas pake bibir Mon.”
Disaat dua insan tengah bercanda di kamarnya. Ada insan yang lainnya sedang terbakar api cemburu, kala melihat wanita pujaannya tengah bercengkrama dengan pria lain.
Dia mengepalkan tangannya dan rahangnya mengeras, giginya bergemeletuk saking geramnya melihat pria yang sok asik jika di depan Eden itu.
Kelas Eden baru selesai sore ini, dan seperti biasa Andre datang menjemputnya. Namun betapa kesalnya pria itu kala melihat wanitanya tengah bersenda gurau dengan pria lain begitu ia datang. Andre sudah memendam kebencian kala dirinya melihat pria bernama Arga itu sejak awal, Arga suka memberikan perhatian lebih untuk Eden.
Pria itu melangkah panjang menuju gazebo tempat Eden dan Arga duduk. Sorot tajamnya melirik sekilas tangan Arga yang dengan lancang mengusap pelipis Eden, seakan menyingkirkan sesuatu yang menempel di sana.
“Hentikan tangan lancangmu itu dari pelipis pacar saya.” cetus Andre dengan nada tak bersahabat secara tiba-tiba dan sukses membuat dua orang itu terkesiap.
“Kak?” Eden terkejut dengan kehadiran Andre yang entah sejak kapan. Gadis itu menangkap sorot amarah dari mata Andre.
“Pacar? Apa benar itu Den?” tanya pria jangkung seumuran Eden itu sembari menatap Andre dengan wajah tengilnya.
Melihat wajah tengil Arga, pria itu semakin muak saja. Anak kemarin sore tapi sudah berani menatapnya seperti itu.
Eden tak menjawab pertanyaan Arga, ia tertegun mendengar pengakuan Andre yang menyebutnya pacar. Pasalnya selama ini Andre belum memberikan Eden titik terang tentang bagaimana hubungan mereka.
“Ada apa dengan tatapanmu itu? Eden adalah pacarku dan sebagai pacar, aku berhak untuk melarang siapa pun yang berani menyentuhnya.”
__ADS_1
“Anda terlalu percaya diri, sejak tadi, tidak ada validasi dari Eden kalau kalian pacaran, iya kan Den?” Tanya Arga seraya mulai meraih tangan Eden namun gadis manis itu segera menepisnya lembut.
“Maaf Ga, aku pulang dulu. Kak Andre ayo kita pulang.”
“Tapi Den, apa tidak lebih baik pulang bersamaku saja? Kamu tidak takut kena amukan kakakmu, jika dia lihat kamu pulang dengan om-om.” ujar Arga frontal sekali tanpa disaring lebih dulu.
Mendengar sebutan om yang Arga sematkan padanya, sontak membuat Andre semakin tersulut emosi. Pasalnya walau pun usianya sudah 30 tahun, tapi wajahnya awet muda, bahkan tak menunjukkan usianya. Tapi bedebah ini? Berani sekali dia memanggil Andre dengan sebutan om. Lagi pula, tau apa pria ini perihal hubungan Andre dengan kakak Eden, belum tau saja dia kalau ternyata Andre adalah tangan kanan Ilham selaku kakak ipar Eden.
“Kau sebut aku apa tadi?” Tanya Andre hendak mencengkram kerah kemeja pria itu, namun Eden segera mencekalnya.
“Kak tolong jangan diperpanjang, kenapa omongan dia kakak jadikan masalah sih?”
“Tapi dia panggil aku om Den.”
“Lah emang kenyataan kok.” jawab Eden sebal kemudian menarik tangan Andre agar segera menjauh dari Arga. Bukan apa-apa, gadis itu takut kalau wajah Arga akan tak berbentuk lagi kalau sampai dihadiahkan bogem mentah dari Andre.
“Ppphhfff…” tawa Arga hampir saja keluar, namun sontak terhenti karena mendapat tatapan luar biasa tajam dari Eden.
Eden hanya memuji, tidak ada maksud apa-apa. Namun tanpa dia sadari betapa menari-narinya hati Andre saat ini mendapat pujian dari wanita tercantiknya.
Glek..
Arga menelan salivanya yang mendadak pahit, sekak awal mereka ospek, pria itu sudah menaruh hati pada Eden, namun tak mendapat balasan dari gadis itu. Bahkan Arga juga sudah mengungkapkan perasaannya beberapa waktu lalu, namun ditolak secara halus oleh Eden.
Andre menatap dengan raut wajah kemenangan menatap Arga. Sangat jelas sekali saat ini jika Arga sedang mati kutu dan bisa dipastikan, hatinya tengah merana kala wanita yang ia sukai membelah pria lain.
“Dan satu lagi, kamu tidak akan pernah bisa memiliki Eden karena saat ini, dia sudah melabuhkan cintanya untukku.” sentil Andre sebelum beranjak dengan senyuman yang tak kalah tengil, kemudian berlalu dari hadapan Arga, seraya menggenggam tangan Eden. Sengaja biar cecunguk itu panas, pikir Andre.
Sepanjang jalan, Eden hanya diam tak bergeming. Ia bersandar di kaca jendela mobil sembari melihat ke arah luar jendela menyaksikan pohon-pohon rindang dan beberapa gedung pencakar langit yang mereka lintasi.
Andre melirik gadis itu dengan ekor matanya, sejak tadi Eden hanya diam tanpa sepatah katapun. Melihat tingkah Eden yang seperti itu sebetulnya Andre heran. “Apa dia marah karena aku membentak laki-laki itu?” Tutur batin Andre bertanya-tanya.
__ADS_1
Namun sepersekian detik kemudian, Andre memicingkan matanya kala melihat Eden senyum-senyum sendiri di depan ponselnya. Dia pikir Eden sedang berbalas chat dengan lelaki itu, hingga hatinya dibuat panas seketika. Tak bisa dipungkiri, rasa cemburu menyeruak ke dalam hati pria itu. Andre yang posesif dan cemburuan persis seperti Ilham, tak rela jika ada pria lain yang mampu mengguncang hati Eden.
Akhirnya, dua puluh menit perjalanan sampailah Andre di gerbang rumah Ilham. Sorot tajamnya melirik ke arah Eden yang masih asik dengan benda pipih itu hingga tak sadar bahwa saat ini dia sudah sampai. Melihat itu Andre semakin gusar saja, apa sebenarnya hal yang membuat gadis ini betah dengan ponselnya. Pikiran Andre terlalu jauh, saat ini Eden tidak sedang berbalas chat dengan Arga atau lelaki mana pun, dia sedang berselancar di akun media sosial miliknya dan berbalas komen dengan sahabat wanitanya yang baru saling mengenal saat mereka masuk ke universitas ternama di ibu kota itu.
“Ekhem.” mendengar deheman Andre, gadis itu sontak menoleh dan memasukkan benda pipih itu ke saku. Eden melihat sekelilingnya, rupanya mereka sudah sampai sejak tadi, Eden yang terlalu asik dengan dunianya sejenak dibuat lupa, kalau sebenarnya mereka sudah sampai rumah.
“Maaf ya kak, aku tidak fokus. Aku masuk dulu ya.” Eden berpamitan dan hendak membuka pintu mobil mahal itu namun…
“Tunggu.”
Eden menoleh ke arah Andre dan mengurungkan sejenak niatnya yang hendak berlalu dari mobil Andre. Raut wajahnya menunjukkan bahwa kini dia tengah menanti apa yang akan Andre sampaikan.
“Ada apa kak?”
“Mulai sekarang, tolong kamu jauhi Arga atau pria mana pun yang hendak mendekatimu.” cetus Andre melirik Eden dengan tatapan sendunya.
Mendengar itu, Eden mengerutkan kening, memangnya pria ini siapa berani melarangnya? Pacar saja bukan, pasalnya sejak dulu Eden menanti, Andre belum juga mengutarakan isi hatinya, bagaimana Eden bisa tau isi hati pria itu yang sesungguhnya. Dan tunggu, sepertinya Eden hampir melupakan satu hal, dia ingin menuntut jawaban dari pengakuan Andre tadi di depan Arga tentang hubungan mereka.
“Memangnya kenapa? Bukan kah kita tidak punya hubungan spesial sejak awal?” sarkas Eden dengan sengaja agar pria ini sadar dengan perilakunya terhadap Eden yang seolah menggantung hubungan mereka. Eden bukan tidak sadar atau apa pun itu tentang perasaan Andre, jujur saja gadis itu takut dighosting.
Pria tampan dengan tubuh proporsional itu terpaku kala mendengar pertanyaan Eden yang cukup menohok. Bukan pengecut, hanya saja dia takut mengakui perasaannya karena tidak siap jika Eden menolaknya. Ya sebenarnya mereka tak ada bedanya, sama-sama salah paham dengan perasaan masing-masing.
“Kenapa diam? Tidak bisa jawab? Seharusnya aku tidak perlu bertanya.” ujar Eden seraya menampakkan senyuman getirnya.
“Seharusnya, kakak tidak perlu menyiksaku dengan larangan-larangan konyol itu. Aku sudah dewasa bukan anak SMA lagi yang harus dilarang pacaran. Aku berhak dekat atau pacaran dengan pria mana pun. Kakak hanya sebatas rekan sekaligus tangan kanan kakak iparku, jadi kakak tidak punya hak untuk melarangku.” pungkas Eden dan sukses membuat Andre terdiam.
“Dan satu lagi, jangan pernah mengaku pacar di depan teman priaku.” tuturnya sembari membuka pintu mobil dan turun dari mobil itu tanpa melirik Andre sedikit pun.
Ucapan Eden mampu membuat Andre bungkam, dia yang mengira Eden tidak memiliki perasaan apapun padanya berkali-kali menyadarkan dirinya agar harus tau diri jika namanya, tidak terukir indah dalam hati gadis pujaannya itu.
Andre mengusap wajahnya kasar, ia memejamkan mata dan menarik napas dalam demi menetralkan perasaannya yang pertama kali dibuat kacau karena seorang wanita. Seumur-umur tidak ada wanita yang mampu menarik perhatiannya selain Eden. Tak pernah ia duga, hatinya terkoyak hanya karena gadis belia itu.
__ADS_1