Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 90 Dikta Anugerah Adhitama


__ADS_3

“Kenapa susah sekali? Pertanyaan itu lolos dari mulut pria berhati baja tersebut.


“Mungkin usia mengurangi skil.” Jawab Monita yang kembali merasa kesal.


“Kau terlalu meremehkanku.” Ujar Ilham seakan ingin membuktikan kalau tanggapan Monita padanya itu salah.


“Kamu operasi?” Tanya Ilham begitu melihat bekas luka di perut sang istri.


“Sakit?”


“Setelah operasi ya sakit, tapi sekarang sudah tidak lagi.”


Ilham mengecup perut Monita berkali-kali, cukup lama dia mengecupnya karena rindu sudah melewatkan moment langka itu, begitu puas mengecup perut istrinya ia beralih mengecup bibir ranum Monita, dan menelusuri bagian tubuh wanita itu.


“Kamu pakai implant? Dulu tidak sebesar ini.” Pertanyaan konyol itu lolos begitu saja dari mulut Ilham, sudah jelas-jelas Monita punya bayi, jadi wajar kalau ukurannya berubah.


“Dikta ASI mas.” Jawab Monita dengan kesabaran ekstra tetap menjawab pertanyaan sang suami.


Medengar jawaban Monita, Ilham tersenyum dan meraup dada Monita dengan rakus, belum apa-apa ******* kecil sudah lolos dari bibir sang istri, mendengar erangan Monita, Ilham semakin bersemangat.


Sungguh Ilham sangat merindukan suara lenguhan Monita, selama ini, ia hanya menonton rekaman cuplikan cctv yang menampilkan adegan panas dirinya dan juga Monita di berbagai sudut ruangan, karena hanya itu yang menjadi penenang Ilham saat dia merindukan istrinya.


“Ssshhh, mas.”


Monita semakin mendesah kala Ilham menyesap seraya merem** gundukan sintal milik Monita. Ilham tersenyum melihat ukurannya bertambah dua kali lipat lebih besar dari sebelumnya, Monita mendongak seakan mengerti begitu Ilham menelusuri lehernya.


Bak pengantin baru, mereka mengulang kembali malam panas mereka di kamar itu, riak rindu yang mereka rasakan tadi kini perlahan menghilang, tertutup oleh kenikmatan yang tiada tanding, mendengar lenguhan Monita yang semakin menjadi membuat Ilham menginginkan hal yang lebih.


Napas Monita mulai tak teratur, karena tadi langsung menyerang area intinya dan sulit masuk, Ilham melakukan pemanasan dulu.


Ilham membuka ka** Monita lebar-lebar dan ia pandangi beberapa saat, tanpa keraguan lagi, Ilham kini percaya Monita benar-benar masih suci selama berpisah dengannya, terbukti karena betapa sulitnya miliknya menerobos lubang surgawi itu.


Perlahan, Ilham mengecup bagian inti istrinya yang sudah basah itu dengan begitu lembut, sebagai wanita yang selalu menjaga kesuciannya selama jauh dari suami, membuat Monita benar-benar terbuai.


Kecupan lembut itu berubah menjadi lum*** yang kian dalam, rambutnya kini Monita tarik sebagai bentuk pelampiasannya.


Ilham menarik ping** nya kala sang istri tampak bergeser karena tak mampu menahan kenikmatan yang berasal dari lid** sang suami yang terus beraksi di bawahnya.


Ilham mengangkat wajahnya dan mengubah posisi berlutut di hadapan Monita.


Denhan posisi seperti ini, dia bisa memandangi sang istri lebih jelas tanpa penghalang.

__ADS_1


Ilham kembali menggesekkan senjatanya di permukaan milik Monita, ia sengaja melakukan pemanasan lebih agar mudah untuk masuk.


“Tubuhmu semakin seksi, kamu rajin olahraga?” Tanya Ilham masih terus menggesekkan senjatanya padahal permukaan itu sudah sangat licin sejak tadi.


“Seseka… aakkh..”


Ilham terkekeh kala melihat Monita yang sudah tak tahan lagi, bahkan meloloskan satu kalimat saja rasanya sulit.


Pria itu tidak berbohong, tubuh Monita memang semakin seksi dan perutnya tetap langsing padahal sudah memiliki anak.


Monita memejamkan matanya yang memang sudah tertutup naf**, dia sudah sangat siap menerima Ilham dengan segenap raganya.


Ilham mendorong miliknya perlahan dan berhasil, senjatanya bisa masuk, ia memejamkan matanya kala miliknya tenggelam ke dalam lubang kenik**tan sang istri.


“Aagghh.”


Monita menjerit dan mencengkram lengan Ilham hingga ada bekas kuku.


Ilham menggerakkan tubuhnya perlahan ke atas dan ke bawah, sedangkan tubuh Monita bergerak sesuai irama hentakan Ilham, ini adalah pelepasan rindu yang paling dahsyat yang pernah mereka rasakan.


Ilham yang terlanjur masuk, menekan kembali kedua sisi pah* Monita agar semakin lebar, dia terlena hingga ******* dan rintihan keduanya tak terkondisikan.


“En** sayang?” Tanya Ilham memastikan, dia tidak ingin istrinya kesakitan sedangkan dia meraskan kenikm*** sendiri.


“He-em.” Jawab Monita sebisanya karena sesungguhnya dia sudah tidak sanggup menjawab semua pertanyaan Ilham karena saking nikm**nya ketika tubuhnya dikuasai Ilham seperti ini.


Bersamaan dengan lenguhan Monita, suara tangis Dikta terdengar, hingga membuat Ilham berhenti sejenak. Keduanya saling pandang dengan Ilham yang masih bertahan di posisinya.


“Mas Dikta mena…”


“Shuutt, dia bisa diam sendiri?” Tanya Ilham kemudian.


“Mana ada diam sendiri, dia harus diberi susu.”


“Ya Tuhan Dikta… sebentar lagi sayang, boleh ya?” Ilham bertanya sembari mencoba bergerak pelan dan Monita menepuk pundaknya dengan kesal.


“Mas tidak dengar dia menangis sekeras itu? Awas dulu.” Ucap Monita kemudian mendorong tubuh Ilham yang tampak gusar.


Ilham memilih pasrah, dia tidak punya pilihan, terpaksa ia mengikuti kemauan istrinya untuk mengutamakan putranya, padahal mereka sama-sama belum mencapai puncak.


Monita segera memakai pakaiannya kembali, tidak mungkin dia menggendong putranya dalam keadaan tubuh yang polos seperti itu.

__ADS_1


“Cup cup sayang, jangan menangis.”


Tangis Dikta mereda begitu sudah berada dalam pelukan ibunya. Monita duduk di tepi ranjang dan menyusi anaknya, bukan tidak peduli dengan Ilham, karena memang saat ini Dikta lebih penting.


“Dia biasa bangun tengah malam begini sayang?” Tanya Ilham saat dia sudah kembali berada di dalam kamar Monita, ia mengambil jedai rambut Monita lalu menjepitnya karena terlihat mengganggu.


“Biasanya tidak, tapi mungkin terganggu dengan suara mas tadi, kamar ini tidak kedap suara, makanya berisik.” Ujar Monita tidak mau disalahkan padahal dua-duanya sama saja.


“Kamu yang berisik!” Balas Ilham yang juga tidak mau kalah.


Ilham yang hanya mengenakan dalaman, duduk di samping Monita sembari memperhatikan Dikta yang berkeringat sampai rambutnya basah.


Dikta sefokus itu sampai ia menepis wajah Ilham yang selalu mengusiknya.


“Keringatnya banyak sekali, apa memang begini Monita?” Tanya Ilham yang tidak pernah melihat bayi menyusu, ini adalah pengalaman pertama ia menatap pemandangan yang menyedapkan mata itu.


“Iya memang begitu.”


“Wanginya… apa seluruh anak kecil wangi begini ya sayang?” Melihat putranya, Ilham seakan lupa rasa sakit kepalanya ketika permainannya berhenti di tengah jalan.


Hanya dengan mendengar decapan Dikta, hati Ilham luluh.


Monita tersenyum simpul, sembari terus menatap Dikta. Jika dilihat dari ciri-cirinya sepertinya bayi ini tidak akan tidur sampai larut malam.


“Dikta sudah belum? Ayolah tidur, papa belum selesai.” Ilham mengecup dahi putranya dengan begitu dalam, berharap Dikta akan mengerti.


Namun bukannya mengerti bayi itu malah melepaskan tautannya dari dada Monita lalu menatap Ilham dengan senyum yang merekah, matanya semakin cerah saja, tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk.


Ia menoleh karena mengira Ilham mengajaknya bermain, terbiasa dengan perlakuan David, Dikta mengira Ilham orang yang sama hingga pada akhirnya tak lagi peduli pada ASI-nya.


Mendapati Dikta yang justru mengajaknya bermain, Ilham benar-benar melupakan sesaknya yang belum usai. Gelak tawa bayi itu membuatnya luluh, apalagi ketika gusi-gusinya terlihat jelas.


“Ah iya, saking rindu padamu akan sampai lupa tidak menanyakan nama lengkap anak kita ini, siapa nama lengkapnya sayang?” Tanya Ilham merasa bersalah pada pemilik pipi bulat yang ada di hadapannya ini.


“Aku belum menyematkan nama lengkapnya mas.” Jawab Monita, tidak mungkin dia mengaku sudah menyematkan Bramntyo di nama belakang Dikta. Bisa-bisa Ilham akan kembali meradang, mengetahui David akan menjadi calon suaminya saja sudah sukses memantik emosi yang membara di hati Ilham, apalagi ini sampai menyematkan nama pria itu di belakang nama darah dagingnya.


“Ah pas sekali kalau begitu, aku yang akan memberikan nama lengkap padanya.” Ujar Ilham tampak antusias.


“Nama lengkapnya adalah Dikta Anugerah Adhitama.” Aku sengaja menyematkan nama Anugerah di tengahnya agar sama seperti nama kakekku dan juga nama perusahaan kami, saya ingin nama kakek tetap hidup walau orangnya sudah tiada, lagi pula Dikta memanglah anugerah dalam hidup kami.


“Kehadiran Dikta bagai pelita yang berhasil menyinari keluarga Adhitama yang sudah bertahun-tahun ini sempat redup karena ketidakhadiran seorang pewaris tahta.” Tambahnya lagi, Monita setuju-setuju saja, lagipula pernikahan Monita dan David tidak terjadi dan Dikta juga belum dibuatkan akta kelahiran.

__ADS_1


__ADS_2