
Monita mendengus pelan lalu tersenyum. Akhirnya ia mulai bangkit dari duduknya, melirik kesana kemari untuk memastikan tidak ada orang di sekitar mereka.
Perlahan wanita cantik itu membuka cardigan jeans yang saat itu ia kenakan, kemudian resleting bagian belakang punggung juga ia buka, Monita merosotkan dress tersebut dengan sedikit ragu. Hingga membuat tubuh seksinya semakin terlihat jelas karena hanya memakai underware berwarna hitam dan br* dengan warna yang senada.
Dengan sedikit ragu-ragu, Monita berjalan menuju kolam, tempat dimana Ilham sudah lebih dulu berenang di air yang sejuk itu. Ia bersedekap dada saking dinginnya udara di sekitar air terjun itu, begitu sudah berada di tepi kolam, Monita menghentikan langkahnya.
“Mas.” panggilnya lembut.
Ilham pun menoleh, pria itu sontak tampak terkejut saat mendapati Monita yang sudah berdiri di pinggir kolam dalam keadaan yang sudah sangat terlihat seksi.
“Jangan tatap aku seperti itu.” ucap Monita yang terlihat sedikit malu.
“Kamu seksi.” jawab Ilham sembari mulai berenang ke pinggir kolam, tempat dimana Monita berdiri.
“Airnya dingin ya?” tanya Monita lagi.
“Nanti kamu tau sendiri kalau sudah masuk ke sini.” jawab Ilham seraya menjulurkan tangannya untuk membantu istrinya turun ke kolam.
“Ayo raih tanganku, percayalah.” ujar Ilham yang melihat manik indah itu tampak ragu.
Akhirnya Monita meraih tangan Ilham karena ia mulai mempercayai suaminya. Perlahan ia menyelupkan kakinya ke dalam air dan Ilham meraih sebelah tangannya lagi, dengan memegang kedua tangan Ilham, Monita mulai memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam kolam yang dingin itu.
“Oouugghh! Dingin sekali.” celetuknya nampak terkejut.
Ilham hanya tersenyum manis melihatnya lalu kembali berenang-renang ke dalamnya.
“Bagaimana sayang? Apa yang kamu rasakan?”
“Rasanya sangat dingin, tapi juga menyenangkan.” jawabnya dengan senyuman yang terus terukir di wajah manisnya.
“Ayo menyelam.” ajak Ilham.
“Menyelam?”
“Iya.”
Monita pun patuh dan mengikuti Ilham untuk menyelam bersama. Airnya sangat bening sehingga Monita bisa melihat jenis ikan yang ada di kolam itu.
Sepersekian detik berlalu, mereka kembali ke permukaan dengan nafas yang terengah-engah.
“Bagaimana?” tanya Ilham lagi.
“Sangat indah.”
“Kamu suka?”
“Sangat suka, aku bahkan bahagia sekali mas ajak ke sini.”
“Mulai sekarang, aku akan sering mengajakmu ke sini, bahkan kalau Dikta sudah besar, kita bertiga akan sering ke sini bersama.”
“Mas sepertinya menyukai alam.”
__ADS_1
“Ya betul, aku suka sekali tempat yang sepi, jauh dari keramaian, jauh dari pemukiman, dingin dan belum terjamah, datang ke sini akan membuat pikiran kita jadi tenang.”
“Tempat ini memang sangat menyenangkan.” tambah Monita dengan senyum di bibirnya namun saking dinginnya bibir itu sedikit gemetar.
“Kamu terlihat pucat sayang, bibirmu gemetaran.”
“Iya sebenarnya aku kedinginan sekarang.” jawab Monita tampak terkekeh.
“Kamu dingin?” tanya Ilham lembut dan mulai menghampiri Monita.
Monita mengangguk sembari menatap sepasang netra itu dengan begitu lekat begitu pula dengan Ilham, ia semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Monita lalu perlahan meraih pipi sang istri.
“Aku sudah bilang sebelumnya kalau aku bisa mengatasi hal ini.” ujar Ilham dengan suara yang teramat lembut dan semakin pelan.
“Bagaimana caranya?” tanya Monita dengan suara yang tak kalah pelan.
Perlahan tapi pasti, Ilham semakin mendekatkan wajahnya pada Monita. Wanita itu terdiam menantikan apa yang akan dilakukan sang suami padanya, dan tanpa sepatah katapun lagi, Ilham mengecup lembut bibir ranum Monita.
Pria itu melum*** dengan gerakan yang sangat lembut. Mata Monita dibuat terpejam menikmati sentuhan bi*r Ilham yang terasa lembut.
Setelah cukup lama berciu*** Ilham melepas tautan bi*r mereka dan tersenyum kala ia memandangi wajah Monita yang terlihat begitu natural tanpa ada polesan make up.
“Aku janji tidak akan melakukan hal yang akan melukaimu sayang.” ucap Ilham lembut sembari mengusap pipi istrinya yang basah.
Monita mengangguk dan ikut tersenyum, Ilham pun semakin mengembangkan senyumannya dan kembali melahap bi*r Monita.
Perlahan ciu*** yang awalnya lembut itu mulai menuntut, membuat Monita kembali membuka mul*tnya dan membiarkan Ilham mengabsen seluruh rongga mul*tnya.
Monita tak mau kalah untuk membalas ciu*** yang diberikan Ilham, ia semakin terbuai bahkan mengalungkan tangannya ke leher sang suami.
“Kita akan melakukan di sini hanya jika kamu mau!” ucap Ilham disela-sela ciu*** mereka.
“Aku mau!” Jawab Monita langsung mengangguk cepat, karena sudah tidak bisa menahannya lagi.
Ilham mengajak Monita untuk berenang ke pinggir kolam, Monita menyandarkan tubuhnya di bebatuan dengan ukuran yang cukup besar yang tersebar di pinggiran kolam. Ilham tersenyum dan mendekatinya lalu kembali menyambar bi*r Monita untuk kesekian kali. Seakan sudah sangat lihai, tak perlu menunggu lama, Ilham menggerakkan tangannya menuju punggung Monita dan melepas pengait pada br* Monita.
Kedua mata Monita terpejam dan mendongak ke langit yang cerah itu saat suaminya mulai menggarapnya, ia seperti dibawa terbang ke awang-awang kala merasakan setiap sent**an yang diberikan Ilham.
Bebatuan besar itulah saksi saat kedua insan itu saling mencum** satu sama lain. Ilham tak peduli lagi dengan apa yang ada disekitarnya, yang ia tau adalah saat ini Monita hanya miliknya seorang.
“Aaagghh.” Lenguhan Monita terdengar begitu merdu kala Ilham mulai memasuki bagian intinya yang sejak tadi sudah bas** karena ga***ah yang membuncah.
Setelah sekian lama, Ilham mulai menambah ritme gerakkan pinggulnya, saat merasakan ada yang ingin keluar dari dalam sana. Akhirnya, setelah sudah sampai puncak, Ilham memuntahkan lahar panas itu ke dalam inti Monita. Dengan nafas yang bersahut-sahutan, Ilham kembali mengusap lembut pipi Monita.
“Sayang, kamu benar-benar membuatku candu.” ungkap Ilham lembut.
“Terima kasih karena sudah mencintaiku mas.” ucap Monita tak kalah lembut.
“Aku yang seharusnya berterima kasih padamu sayang, karena sudah mau menjalani hubungan yang rumit ini bersamaku.”
Monita tak kuasa menahan haru, ia segera memeluk hangat tubuh kokoh Ilham.
__ADS_1
Setelah cukup lama saling mengungkap cinta, Monita dan Ilham berjalan menuju area rerumputan, tempat dimana mereka menanggalkan baju mereka.
“Apa kamu tidak akan memakai bajuku sayang?” tanya Ilham kala ia melihat Monita mulai memunguti pakaiannya.
“Tidak perlu, bajuku tidak basah, hanya saja dalamanku sudah basah semua.”
Ilham pun tersenyum bahkan terkekeh pelan.
“Kenapa kamu tertawa?”
“Kalau untuk hal itu aku tidak punya solusinya sayang.”
“Tidak apa, aku akan tetap memakainya walaupun basah.” jawab Monita enteng seraya mulai mengenakan dressnya.
“Jangan sayang, aku tidak mau kamu sampai masuk angin.” cegah Ilham nampak cemas.
“Lalu? Apa mas ada solusi lain?” tanya Monita sembari mengangkat kedua alisnya.
Ilham pun kembali mengembangkan senyumannya lalu mendekat dan berbisik pada Monita.
“Tidak usah pakai.” bisik Ilham tepat di telinga istrinya.
Monita pun seketika mendengus dan tersenyum.
“Jadi maksud mas, aku hanya menggunakan dress dan cardigan ini saja tanpa dalaman?”
“Iya kenapa tidak.”
“Dasar mesum!” Monita sontak memukul lengan Ilham.
“Aku mesum hanya ketika bersamamu.”
Monita pun terus tertawa pelan sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Mereka pun siap-siap kembali karena langit mulai mendung, setelah usai bersiap-siap, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju mobil untuk segera pulang.
Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di mobil, Monita langsung masuk ke mobil dan mendudukkan diri di kursi samping kemudi begitu pun dengan Ilham.
Perlahan tapi pasti, Ilham mulai menjalankan mobilnya meninggalkan kawasan hutan itu, ia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang karena masih ingin berbincang-bincang dengan sang istri.
“Mas.” panggil Monita tiba-tiba teringat sesuatu.
“Ya sayang, ada apa?” tanya Ilham menoleh ke arah istrinya.
“Aku penasaran, siapa sebenarnya orang yang sudah berani menabrak ibu.”
Setelah sekian lama, barulah Monita menyakan hal itu, bukannya dia lupa atau semacamnya, hanya saja dia tidak tau harus mencari orang itu dimana, hendak bertanya pada Ilham, tapi niat itu selalu ia urungkan, karena ia pikir, suaminya juga belum menemukan pelakunya.
Sama halnya dengan Ilham, pria itu bukan sengaja tutup mata dan telinga atas kejadian itu, bahkan sampai detik ini dia selalu mencari tau dimana keberadaan Rendy. Pria badjingan itu menghilang bak ditelan bumi, entah dimana rimbahnya, Ilham juga tidak tau. Bahkan dia juga sudah mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan Rendy, tapi tetap saja hasilnya nihil, tapi hal itu tidak akan membuat Ilham putus asa, dengan bantuan Andre dan Doni, Ilham masih terus mencari tau. Dia sengaja belum memberitahu Monita siapa dalang di balik itu, hanya karena tidak ingin istrinya kepikiran dan stres berkepanjangan karena pelaku pembunuh ibunya masih bisa berkeliaran dengan bebas.
“Aku janji sayang, aku akan segera menemukan pelakunya, kamu tenang saja. Karena selama ini, aku dan anak buahku masih terus mencari tau siapa dalangnya.”
__ADS_1