Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 103 Keceplosan


__ADS_3

“Lalu bagaimana dengan perasaanmu terhadap Naomi Ilham?” Tanya Shaka memastikan apa benar ada orang yang bisa mencintai dua wanita sekaligus, dalam waktu yang sama dan dengan porsi yang sama jua.


Mendengar itu Ilham tersenyum getir. Betapa jahatnya dia kala tidak pulang-pulang semenjak menemukan Monita beberapa hari yang lalu. Raut wajah rasa bersalah itu tampak jelas di mata Shaka. Sahabatnya ini mulai plin plan rupanya.


“Aku juga bingung Ka. Dulu aku amat sangat mencintainya, entah kenapa sekarang rasanya cintaku berkurang. Aku jahat ya Ka?” lirih Ilham dengan senyuman getir, wajahnya berubah sendu.


Pernikahan Ilham dan Monita sudah terendus hingga ke telinga keluarga besar, sahabat lama dan sahabat dekat juga tak terkecuali Shaka. Bahkan pria itu sangat geram kala mendengar ada beberapa pihak yang menyalahkan Ilham dalam hal ini, bajingan lah brengsek lah, dan berbagai macam umpatan lainnya yang mereka sematkan dalam diri Ilham, tanpa tau semuanya. Pasalnya mereka menyayangkan Ilham yang dengan tega mengkhianati dan menduakan istri pertamanya. Apalagi para perempuan, mereka tak membenarkan tindakan Ilham yang sudah meluluh lantakkan hati Naomi dan menyakitinya dengan tega.


Dan yang sangat disayangkan lagi, Naomi seakan tutup telinga kala mendengar suaminya direndahkan. Ya sedikit banyak Ilham tau mengenai Naomi dari cerita Amira istrinya. Antara mereka memang tidak ada rahasia, karena Amira suka bercerita hal random pada suaminya.


“Yah kalau menurut aku, alangkah baiknya kamu harus ambil keputusan dan harus berani memilih.”


“Sulit Ka, aku sangat mencintai Monita dan takut kehilangannya, tapi aku juga tidak sanggup jika harus berpisah dengan Naomi. Bayangkan Ka, 11 tahun total kebersamaan kami, bagaimana aku bisa tega meninggalkannya?”


“Kalau aku lihat, saat ini kamu mempertahankan Naomi bukan karena takut kehilangan tapi lebih ke tidak enak hati jika harus menceraikannya.”


Ilham bungkam, dia tidak menjawab dan seolah membenarkan ucapan Shaka itu. Semakin lama, semakin nyata kalau kadar cintanya untuk sang istri pertama sudah berkurang dan dia sadari itu.


Jujur saja, Shaka amat sangat geram bahkan rasanya dia ingin melempar Naomi ke laut mati kala melihat tingkah istri pertama Ilham itu yang banyak ulah. Pasalanya dia sendiri yang minta Ilham menikah lagi, bahkan mengancam bercerai kalau Ilham tidak menyetujuinya giliran Ilham setuju, dia malah kebakaran jenggot dan merasa paling tersakiti di dunia.


****

__ADS_1


“Gara-gara kamu, saya sampai makan makanan terlarang itu lagi Monita.” Gerutu mama Nancy kala dia selesai menghabiskan satu piring besar indomie goreng buatan Monita.


“Loh kenapa jadi Monita yang salah? Padahal mama sendiri yang mau Monita suapin. Lagi pula sejak kapan Indomie seenak itu jadi makanan terlarang ma.” sanggah Monita membela diri, seakan tak mau kalah.


“Iya tapi tetap saja, kamu seperti itu sudah menggoda iman mama yang setipis kulit bawang ini untuk makan indomie goreng itu.”


“Padahal indomie enak loh ma, apalagi buatan Monita, iya kan ma?” Tanya Monita tanpa rasa bersalah sedikit pun sembari menampilkan gigi-gigi rapihnya.


Nancy memutar bola matanya malas melihat tingkah menantunya ini yang persis anak-anak. Padahal memang masih anak-anak.


“Eh Monita, saya mau tanya sesuatu dong.” ujar mama Nancy mulai mencairkan suasana.


“Bagaimana hubungan kamu dan Naomi sebelumnya?” mama Nancy bukan kepo atau curiga, tapi hanya ingin tau saja karena dia penasaran bagaimana interaksi istri pertama dan kedua kala mereka tinggal satu atap.


“Baik ma. Bahkan sangat-sangat baik. Mbak Naomi yang ajak Monita tinggal di rumah utama dan dia juga selalu melayani segala keperluan Monita, seperti menyiapkan susu tiap pagi, menyiapkan sarapan untuk Monita bahkan semua urusan kecil mau pun besar Monita mbak Naomi yang urus. Tapi itu sebelum negara api menyerang ma.” jelas Monita dengan polosnya. Bahkan saat ini dia tidak sadar kalau dia sudah menggalih kuburan untuk Naomi.


Mendengar itu Nancy mengerutkan dahi. Ia memicingkan mata kala mendengar penuturan menantu kecilnya ini. Pasalnya, Naomi mengaku terpaksa menjalankan sandiwara itu, dia juga mengaku kalau dia tidak setuju dengan ide Ilham yang hendak membawa Monita masuk dan menetap di rumah utama, tapi Ilham dengan tega malah membawa Monita. Ya secara sadar saat itu Naomi sudah mengkambing hitamkan suaminya sendiri.


Tega? Jelas iya, satu persatu perangai buruk Naomi mulai tampak. Ingin memancing lebih jauh lagi, Nancy terus mengajukan pertanyaan persis mewawancarai pelamar kerja di sebuah perusahaan.


“Negara api bagaimana?” Tanya Nancy tak suka Monita menggunakan kata-kata kiasan seperti itu. Menurutnya itu terlalu berbelit-belit, kesabaran mama Nancy tak seluas samudera.

__ADS_1


“Sebelumnya mbak Naomi sudah memperingatkan Monita agar menjauh dari mas Ilham begitu Monita sudah hamil. Monita sudah menjalankan apa yang ia katakan, tapi mas Ilham yang selalu saja mencari celah untuk mendekati Monita, dan Monita juga tidak bisa lari karena mas Ilham selalu memaksa Monita dan Monita perlahan terbuai juga ma.” Monita tidak berbohong. Apa yang dia katakan itu memang benar adanya, dan mama Nancy memakluminya, karena sebagai ibu dia paham betul sifat pemaksa anaknya.


“Lalu?”


“Lalu, suatu hari mas Ilham bohong, dia beralasan ke mbak Naomi untuk ke luar kota menyelesaikan pekerjaan, tapi nyatanya dia datang ke apartemen Monita dan mau tinggal di sana.”


Mama Nancy masih setia mendengarkan cerita Monita, meneliti setiap ucapan Monita kata demi kata.


“Terus?” Jelas sudah, perlahan Nancy mulai paham watak menantu pertamanya itu, dia sengaja memancing Monita untuk cerita semakin jelas lagi.


“Terus mbak Naomi marah, dan mendorong Monita hingga Monita terduduk di lantai, bokong Monita sakit dan hampir saja Monita kehilangan Dikta saat itu.”


Mendengar itu Nancy terperanjat kaget, betapa brutalnya menantunya yang satu itu. Beruntung kandungan Monita tidak kenapa-kenapa, andai saja saat itu ada dia, dia pasti akan memarahi Naomi habis-habisan, hampir saja dia kehilangan penerus Adhitama lagi. Tapi cerita Monita belum menjawab sepenuhnya siapa dalang dari sandiwara ini. Anaknya atau menantunya. Akhirnya Nancy memutuskan untuk mencari tau semuanya dengan benar. Jika saja Naomi dalangnya, maka Nancy tidak akan memaafkan wanita itu. Terlahir sebagai wanita yang pantang dibohongi dan dimanipulasi, Nancy jelas tak terima jika ada yang membodohinya.


****


“Mas.” Panggil Naomi begitu dia sudah sampai di ruangan Ilham.


Ilham menoleh dan tersenyum tipis. Dia mempersilahkan Naomi duduk namun matanya tetap fokus ke layar monitor yang ada di depannya kini. Jika saja yang datang Monita, maka bedah lagi ceritanya. Dia akan melepas pekerjaan apapun itu, demi menyambut kedatangan Monita. Bahkan jika pekerjaannya tidak bisa ditinggal, dia akan meminta Monita duduk di pangkuannya.


Tidak adil? Jelas saja iya, tidak ada manusia di dunia ini yang bisa menandingi keadilan Tuhan.

__ADS_1


__ADS_2