
Tepat pukul 18.00 malam, Monita mulai terbangun dari tidurnya, ia mulai menatap Ilham yang juga sedang tidur di sofa yang tak jauh dari ranjang.
Melihat Ilham yang tertidur pulas, Monita berinisiatif untuk menyelimuti tubuh Ilham dengan kain yang ia kenakan, dengan mengendap-endap, Monita melangkahkan kakinya ke arah sofa dan mulai menyelimuti tubuh Ilham, namun begitu Monita hendak berbalik, alangkah terkejutnya dia saat Ilham secara tiba-tiba mulai menarik tangannya, hingga membuat Monita terjatuh dalam dekapan Ilham.
Monita membulatkan mata saking terkejutnya lalu dengan refleks menutup mulutnya agar suara jeritannya tidak didengar oleh Ilham
Ilham mulai mengeratkan pelukannya, hingga Monita dapat melihat Ilham dari jarak yang sangat dekat.
“Ternyata dia sangat tampan.” Gumam Monita dalam hati, dengan senyuman kagum yang mulai terbit dari bibirnya.
“Naomi.” Ternyata Ilham sedang memimpikan Naomi istri pertamanya.
Senyuman kagum yang sejak tadi Monita tampilkan, mendadak jadi berubah, Monita kembali menepis rasa kagumnya itu pada Ilham, karena sadar kalau Ilham sudah beristri dan sangat mencintai istrinya, perlahan Monita mulai melepaskan tubuhnya dari dekapan Ilham, namun pelukan Ilham ternyata semakin erat sehingga membuat Monita sulit untuk melepaskan diri.
“Naomi pasti nama istrinya.” Gumam Monita dalam hati.
“Naomi.” Lagi-lagi Ilham memanggil nama Naomi.
“Mas.. Mas…” panggil Monita mencoba membangunkan Ilham, namun Ilham masih tetap tak bergeming.
“Naomi jangan ceraikan aku.” Kata-kata itu berhasil membuat Monita tertegun dan merasa iba.
“Cerai? Apa Mbak Naomi akan menceraikan Mas Ilham? Tapi kenapa? Sudah tampan dan kaya begini saja masih mau diceraikan, ada-ada saja deh si Mbak Naomi ini, kalau tidak mau, ayo berikan saja padaku Mas Ilhamnya, aku dengan senang hati mau menerimanya.” Celetuk Monita dalam hati, namun lagi-lagi Monita tersadar dan kembali menepis pikiran konyolnya itu.
“Tapi kan dia bucin sekali dengan istrinya itu, lagi pula itu cuma mimpi, belum tentu juga Mbak Naomi mau menceraikan suami sesempurna Mas Ilham ini.”
“Mas… Mas… ini aku Monita bukan Naomi.” Teriak Monita berhasil menyadarkan Ilham.
Melihat Monita yang sedang dalam dekapannya membuat Ilham membulatkan matanya dengan sempurna dan sontak langsung menolak kasar tubuh Monita hingga membuat Monita terjatuh ke lantai.
“Awwww.” Keluh Monita menahan bokongnya yang terasa begitu sakit akibat dorongan Ilham tadi.
Sadar kalau dia sudah mendorong tubuh Monita dengan sedikit kasar, membuat Ilham tersentak dan refleks langsung menghampiri Monita.
“Kamu tidak apa-apa kan? Saya sangat terkejut, makanya saya tadi refleks mendorong tubuhmu, saya pikir yang saya peluk tadi adalah istri saya.” Ucap Ilham mencoba membantu Monita untuk bangun.
“Tu kan berarti benar dia sedang mimpi memeluk istrinya, dasar bucin, apa dia sudah tidak bisa membedakan aroma tubuh istrinya dan aroma tubuhku, benar-benar dibutakan oleh cinta.” Gerutu Monita dalam hati sembari memutar bola matanya saking kesalnya.
“Eh ada apa dengan matamu itu? Apa kau mulai mengumpatku ya? Kau pasti sedang mengumpatku dalam hati.” Teriak Ilham sembari mengecakan pinggangnya.
“Tidak! kata siapa, mataku tadi kelilipan, jadi aku putar seperti ini, supaya tidak kelilipan lagi.” Jawab Monita asal kemudian kembali memutar bola matanya lalu mengejapkan matanya beberapa kali.
__ADS_1
“Dan pantas saja tadi Mas menyebut nama Naomi.” Lanjutnya.
“Apa iya? Apa kau mendengarnya?
“Emmm.” Jawab Monita singkat.
“Kenapa asam lambungmu sampai naik? Apa kau tidak makan selama kutinggal 3 hari di sini.” Tanya Ilham dengan ketus mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Aku makan kok, tapi tadi aku tidak sempat makan, karena pada saat aku pergi keluar untuk cari makan, tiba-tiba aku kecopetan, dompet dan ponselku yang ada dalam tas, semuanya dijambret orang, jadi terpaksa aku kembali lagi ke sini dan terpaksa menahan lapar hingga aku ketiduran.” Jelas Monita apa adanya.
Mendengar itu, sejenak rasa kasihan muncul di benak Ilham, ternyata sejak tadi Monita tidak makan karena kecopetan, namun ia segera menepis rasa kasihannya itu dan mulai menyampaikan niatnya ke hotel.
“Kalau begitu kau tinggal bersama kami di Vilaku, istriku memintaku untuk membawamu pulang ke rumah kami, dia ingin memastikan apa keadaanmu baik-baik saja atau tidak, kamu akan mengandung calon anak kami, jadi dia ingin merawatmu sendirian untuk memastikan kesehatanmu terkontrol dengan baik.”
“Apa?” Tanya Monita dengan begitu tersentak.
“Tapi Mas…”
“Tidak ada tapi tapi, ayo bereskan semua barang-barangmu kita pergi sekarang.” Ucap Ilham tak terbantahkan.
“Apa itu tidak berlebihan? Mengajakku tinggal serumah dengan istri pertamamu? Apa kata tetangga nanti?”
“Tetangga di kompleks saya tinggal tidak seperti tetangga di desamu, di tempat saya tetangganya masa bodoh, beda dengan tetangga di desamu, kalau tidak lemes mulutnya, hidupnya tidak akan tenang.”
“Iy… iya tuan.”
“Apa katamu?” Tegas Ilham mulai meninggikan suaranya.
“Tuan Mas maksud saya, kenapa harus teriak si.”
“Monita!”
“Iya iya ini juga mau beres-beres kok.”
Monita mulai membereskan semua barang bawaannya.
Sementara di dalam sebuah kamar, Naomi mulai duduk merenung di balkon kamarnya, menunggu Ilham yang tak kunjung datang.
“Apa malam ini dia tidak akan pulang? Apa dia akan menginap di hotel itu bersama gadis itu?” Lagi-lagi buliran bening mulai membasahi netranya.
“Ini kan sudah malam.”
__ADS_1
“Tapi aku tidak boleh menyesali ide yang aku buat sendiri, semua hanya soal waktu saja, kalau gadis itu sudah hamil dan melahirkan, aku akan mengambil anak kami dan memberikannya uang agar dia mau pergi dari kehidupan kami.” Sambungnya, lalu mulai menyeka air mata yang sejak tadi sudah membanjiri pipinya.
Tak lama, bel pintu rumah pun berbunyi, Naomi tersentak dan bergegas turun ke bawah untuk membukakan pintu.
Begitu pintu dibuka, mata Naomi dibuat sedikit mendelik saat melihat sosok yang ada di balik pintu, ya itu adalah Ilham dan Monita, sama halnya dengan Monita ia pun juga tak kalah terkejutnya saat pertama kalinya melihat istri pertama suaminya.
“Apa dia yang bernama Mbak Naomi ya? Cantik sekali dia, pantas Mas Ilham tergila-gila padanya dan takut kehilangan dia.” Gumam Monita dalam hati.
“Jadi ini istri kedua suamiku? Pintar juga dia memilih calon ibu dari anak kami, sangat cantik bak bidadari, kalau sudah seperti ini, aku malah semakin takut kalau Mas Ilham lambat laun akan tergoda padanya.” Celetuk Naomi dalam hati.
“Ekhem.” Ilham berdehem.
“Apa aku dan Monita sudah boleh masuk?” Tanya Ilham mencoba membuyarkan lamunan kedua istrinya.
“Iy..iya Mas, ayo masuk.” Ucap Naomi menampilkan senyum keterpaksaan dan menarik lembut tangan Monita untuk membawanya masuk ke dalam rumah.
“Apa kalian tidak kenalan dulu?” Tanya Ilham berhasil menghentikan langkah kedua wanita itu.
“Oh iya, kenalkan saya Monita, dan Mbak pasti Mbak Naomi kan?”
“Iya, bagaimana kamu bisa tau nama saya?” Tanya Naomi mulai mengerinyitkan dahinya.
“Jelas tau dong Mbak, tadi waktu Mas Ilham tidur aku tidak sengaja….” Ucapan Monita tiba-tiba terpotong saat melihat Ilham mulai memelototi matanya, hingga berhasil membuat Monita terdiam.
“Tidak sengaja?” Tanya Naomi mencoba memastikan.
“Ti…. Tidak sengaja…” Monita jadi semakin gelagapan sendiri.
“Sayang, sudah tidak usah di pertanyakan lagi, lebih baik kita makan yuk.” Ajak Ilham mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Ya sudah ayo Monita, kita makan sama-sama ya.” Ujar Naomi mulai menggiring Monita menuju meja makan.
Begitu sampai di meja makan, mata Monita kembali dibuat mendelik saat melihat beberapa menu makanan lezat yang sudah terhidang di atas meja, setelah sudah dipersilahkan duduk, Monita pun duduk dan mulai menyendok makanan ke piringnya, dengan porsi yang banyak, melihat itu Ilham menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Apa porsi makanmu memang sebanyak itu?” Tanya Ilham lalu mendengus kesal.
“Aku lapar Mas, sejak tadi aku tidak makan, dan tidak siang juga Mas hanya menyuapiku sedikit lalu perutku sudah mulai tidak enak.” Jawab Monita dengan polosnya.
“Mas? Jadi dia juga sudah memanggil Mas Ilham dengan sebutan Mas? Dan tadi Mas Ilham menyuapinya?” Naomi bertanya-tanya dalam hati, sejenak rasa sakit mulai menyeruak jauh ke dalam hatinya yang terdalam, sangat ngilu rasanya, namun Naomi mulai menghela napas lalu membuangnya dengan perlahan.
“Mas sudah lah, bukankah semakin banyak makanan yang dia masukkan ke dalam perutnya akan semakin bagus? Itu artinya dia akan mempersiapkan diri untuk kesehatan calon anak kita.” Sergah Naomi kemudian.
__ADS_1
Ilham maupun Monita sama-sama terdiam lalu mulai menyantap makan malam mereka dengan tenang dan damai.