Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 118 Rencana Ilham


__ADS_3

“Bi’ Rani? Sarapannya belum siap?” tanya Eden kala dirinya sudah rapi, dia ada mata kuliah pagi ini.


“Eh non Eden, maaf non tadi nyonya besar ke sini dan melarang bibi’ masak, katanya nyonya saja yang masak, jadi bibi’ ke belakang buat nyiram tanaman, eh pas balik nyonya besar sudah tidak ada di dapur, berasnya juga belum sempat di masak masih d wastafel ini dalam keadaan basah.” jelas bi’ Rani yang juga bingung ke mana sesepuh dalam keluarga itu pergi.


Mama Nancy sudah tidak sempat meneruskan pekerjaannya lagi pasca mendengar cerita Ilham mengenai Naomi.


“Trus kak Monita sama kak Ilham mana?”


“Mungkin masih di kamarnya non.” jawab bibi’ yang memang tidak tahu menahu apa yang sudah terjadi.


“Ya sudah aku cek ke kamar dulu ya.”


Eden kembali menaiki anak tangga menuju kamar utama. Begitu sampai di depan kamar dia mendengar suara tangis Dikta. Sepertinya suara tangisan itu berasal dari kamar utama.


“Den!” panggil Monita dengan wajah khas bangun tidur, nampaknya Monita benar-benar kesiangan, tidak seperti biasanya. Monita yang kerap bangun pagi-pagi sekali demi menyiapkan semuanya kini tengah mengumpulkan kesadarannya karena baru saja bangun. Bagaimana tidak, wanita ini tidur jam empat subuh karena kekalutan yang mengganggu benaknya sepanjang malam. Semalaman waktunya digunakan untuk beradaptasi dengan rasa kecewanya pada Naomi setelah setahun terakhir ini dia mulai menyayangi wanita itu layaknya saudara.


“Kakak baru bangun?”


Monita tak menggubris pertanyaan adiknya. Di malah fokus mendengar suara tangis bayi dari dalam kamar utama yang terdengar begitu keras itu.


Wanita itu mengabaikan Eden dan membuka gagang pintu kamar utama dengan segera. Namun alis Monita bertaut, pasalnya Dikta hanya sendirian tanpa ada Ilham di sana. Dia segera meraih Dikta dalam dekapannya, lalu duduk di tepi ranjang untuk menyusui bayinya. Kesal sekali rasanya dia, dia berpikir Ilham sudah ke kantor dan membiarkan Dikta dalam keadaan kacau begini. Benar-benar tidak bertanggung jawab. Kepanikan Ilham membuat dia berhasil melupakan anaknya tidur sendirian di kamar utama.

__ADS_1


“Kakak iparmu sudah ke kantor?” tanya Monita tampak gusar, putranya memangis sampai sebegitunya.


“Mana aku tau, aku baru keluar dari kamarku. Tapi katanya tadi mama Nancy datang.” ucap Eden sengaja menggantung kalimatnya.


“Trus? Di mana mama sekarang?” tanya Monita dengan mengerutkan dahinya, rupanya dia sudah sangat kesiangan sampai mama mertua datang dia tidak tau, secebis rasa tidak enak menyeruak dalam benaknya, dia menggigit bibir bawahnya, bagaimana kalau mama Nancy marah.


“Kata bi’ Rani mama Nancy sempat masak, tapi belum juga kelar masakannya, sudah pergi lagi.” jelas Eden apa adanya.


Monita tampak berpikir, sepertinya ada sesuatu yang tidak beres sedang terjadi, tapi apa? Monita juga tidak tau. Akhirnya dia fokus menyusui Dikta dulu.


“Kamu tidak ke kampus Eden?”


“Minta uang semester.”


Monita juga wanita yang pintar, meski pun dia tidak sampai ke bangku kuliah, tapi dia mengambil jurusan bahasa sewaktu duduk di bangku SMA, itulah mengapa dia juga lumayan menguasai bahasa inggris dan tidak kesulitan berinteraksi dengan penduduk negara asing waktu di Swiss dulu.


Sementara di rumah utama, begitu Nancy sampai ke lantai atas suasana ruangan itu sama sepinya, sudah seperti kuburan saja. Mama Nancy sengaja mencari Naomi ke kamarnya, wanita paru baya ini sudah hafal tingkah menantu pertamanya itu, mana mungkin dia berkutat di dapur pagi-pagi begini.


Mata mama Nancy menyisir ke sana kemari, namun langkah keduanya terhenti saat mereka samar-samar mendengar suara yang sedikit aneh. Mama Nancy mencoba menajamkan pendengarannya dan mencari dari mana suara itu berasal. Sama halnya dengan mama Nancy, Ilham pun penasaran dan fokus mencari di mana sumber suara itu.


Perlahan, Ilham dan Nancy mulai melangkah menuju kamar utama, tempat di mana Naomi dan Rendy sedang bercum**. Semakin dekat jarak mereka dari kamar itu, suaranya kian jelas dan nyata. Suara desah*** seorang wanita terdengar begitu mendayu-dayu di telinga mereka. Jantung Ilham semakin berdegub kencang.

__ADS_1


Mama Nancy dan Ilham saling pandang, dengan raut wajah penuh makna. Mama Nancy yang dasarnya tidak sabaran, menolak pintu kamar itu hingga terbuka setengah. Namun alangkah terkejutnya mama Nancy dan Ilham kala melihat bagaimana Naomi yang tidak berbusana sama sekali sedang duduk di atas tubuh pria yang Ilham kenal betul siapa orangnya. Naomi menggoyang-goyangkan tubuhnya layaknya seseorang yang tengah berkuda dengan begitu bergai**nya. Ditambah lagi dengan Rendy yang begitu menikmati sensasi goyangan yang diberikan Naomi, terus memainkan kedua tangannya pada gundukan sintal milik Naomi.


Mata ibu dan anak itu membulat sempurna, tangan Ilham mengepal kuat, begitu pun dengan mama Nancy. Wanita itu hendak mendobrak pintu tersebut dengan keras namun Ilham segera menahannya.


“Benar-benar menjijikkan, rasanya mama ingin muntah sekarang.” umpat Nancy dengan emosi yang sudah naik ke ubun-ubun.


“Ilham sedang memikirkan sebuah rencana.”


“Rencana apa lagi? Hah kesal mama lama-lama sama kamu Ilham.” gerutu mama Nancy dan ingin kembali ke kamar itu untuk memergoki mereka namun lagi-lagi Ilham menghalanginya.


“Apa si kamu ini, bodohnya minta ampun.” umpat mama dengan tatapan luar biasa tajam seperti hendak menguliti Ilham hidup-hidup.


“Ilham sangat tau bagaimana busuknya Rendy ma. Sudah dua kali dia melakukan kesalahan pada Ilham. Orang yang dengan sengaja menabrak ibu Rahayu, adalah dia. Ilham sudah mencarinya selama ini, tapi dia menghilang bak di telan bumi. Dan sekarang dia muncul tiba-tiba dalam keadaan begini, jelas saja Ilham tidak mau gegabah. Mama tidak tau bagaimana susahnya Ilham mencari badjingan itu.” jelas Ilham mencoba memberi pengertian untuk mamanya.


Kalau di tanya bagaimana perasaan Ilham saat ini? Jelas merasa terhina tentunya. Sakit hati kala melihat istri pertamanya bercum** dengan pria yang tidak lain adalah sahabatnya itu sudah tidak Ilham rasakan lagi. Tinggallah rasa jijik yang tengah ia rasakan saat ini, rasa cintanya untuk Naomi sudah hilang bersamaan dengan rasa bersalahnya selama ini.


“Biadab! Badjingan! Kejam sekali anak itu, kenapa dia jahat sekali, mama tidak mau tau Ilham, kamu harus memberikan mereka pelajaran yang setimpal.”


“Iya tapi sabar dulu ma.”


“Lalu apa langkah kamu selanjutnya?”

__ADS_1


“Sebentar. Mama tunggu di sini.” titah Ilham sembari merogoh ponselnya.


Mama Nancy menuruti perintah Ilham sembari memantau kegiatan putranya. Kali ini dia sudah lumayan tenang, dia percaya putranya tidak akan mungkin tinggal diam, putranya tidak sebodoh itu, biarlah semua jadi urusan Ilham, pikirnya.


__ADS_2