
Mobil yang dimudikan Andre sudah bergerak melaju meninggalkan pekarangan rumah elit milik Ilham itu, terus berjalan dengan laju membela jalanan pagi itu.
Setelah sudah berbincang-bincang, Monita dan Ija begitu menikmati perjalanan mereka, terlebih Ija yang baru pertama kali melewati jalanan itu, anak remaja kelas satu SMA itu begitu kagum dibuatnya.
Beberapa menit berlalu, kini jalanan yang mereka lalui telah lumayan jauh dari padatnya jalanan kota.
Jalanan perlahan mulai terasa lengang, tidak ada kata macet bahkan udaranya juga terasa lebih sejuk dari sebelumnya.
Senyuman ranum Monita terus terlukis di bibirnya kala memandangi hamparan kebun teh yang membentang indah bak permadani di bagian sisi kiri dan kanan jalanan yang begitu mulus, Monita tersenyum senang saat kembali melewati jalanan itu setelah sekian lama.
“Nyonya, pemandangan di sini indah-indah ya.” Seru Ija kembali memecah keheningan yang sempat tercipta.
“Iya itulah sebabnya dari tadi saya hanya diam karena begitu menikmati pemandangan yang sudah lama tidak ku saksikan.” Jawab Monita melirik sejenak ke arah Ija lalu tersenyum.
“Oh ya Ja, jangan panggil saya Nyonya lagi ya, panggil saja kakak, saya bukan Nyonya besar di rumah itu, jadi rasanya tidak pantas kalau panggilan Nyonya disematkan padaku.” Tambah Monita.
“Baik kak Monita, tapi aku panggil kak Monita kakak bukan karena aku tidak menganggap kak Monita Nyonya di rumah tuan Ilham, tapi karena usia kakak yang masih muda, dan lagi, di mataku, kak Monita adalah Nyonya di rumah tuan Ilham.” Ucap gadis berusia 15 tahun itu lalu tersenyum hangat.
“Terserah kau saja Ija, yang pasti saya tidak merasa menjadi Nyonya di rumah itu.” Balas Monita merendah.
“Intinya kak Monita adalah Nyonya kami, karena jujur saja, semenjak ada kak Monita, kami yang berada di rumah itu di perlakukan sama dan tidak di beda-bedakan, bahkan kak Monita juga sering mengajak kami makan di meja makan kalau kak Monita makan sendirian, dulu Nyonya Naomi tidak pernah seperti itu pada kami, Nyonya Nancy dan tuan Agam juga, tapi mereka semua baik, hanya saja tidak seperti kak Monita yang tidak merasa gengsi jika harus makan di meja makan bersama pelayan.” Jelas Ija panjang lebar sembari tersenyum hangat.
__ADS_1
“Itu semua aku lakukan karena aku juga sama seperti kalian berasal dari kelurga sederhana, dulu sewaktu saya sekolah, ibu saya bekerja sebagai pelayan di rumah salah satu juragan besar di kampung, jadi pada dasarnya kita ini sebenarnya sama.”
“Tapi kak Monita sekarang sudah di peristri oleh seorang CEO seperti tuan Ilham, jadi derajat kak Monita sudah jauh lebih tinggi dari derajat kita.” Celoteh gadis remaja itu kemudian.
“Tapi bagi saya kita sama saja, lagi pula kak Monita tidak akan lama di rumah itu, setelah anak kak Monita ini lahir kak Monita akan kembali ke kampung dan menyerahkan anak ini kepada Mas Ilham dan Mbak Naomi, karena seperti itulah perjanjian kami dari awal, Mas Ilham akan meminta saya melahirkan anaknya dan dia akan memberikan saya uang yang banyak, kamu kan tau itu Ja.” Jelas Monita dengan nada lirih.
“Iya, kita semua yang di rumah itu tau posisi kak Monita sebenarnya, tapi yang aku lihat tidak seperti itu, kelihatannya tuan Ilham begitu mencintai kak Monita bahkan tuan Ilham pernah curhat ke ibu kalau tuan Ilham tidak mau kehilangan kakak, tuan Ilham dan ibu memang sudah dekat dari dulu, bahkan ibu yang membantu menjaga dan membesarkan tuan Ilham, jadi tuan Ilham tidak pernah sungkan kalau harus curhat ke ibu.”
“Apa itu benar Ija? Mas Ilham mengatakan itu ke bi Ratih?” Tanya Monita tampak tak percaya, Monita memang sudah mendengar pengakuan cinta Ilham beberapa kali, tapi dia masih belum yakin sepenuhnya, namun setelah mendengar pernyataan Ija kalau Ilham sudah mengatakan itu kepada bi Ratih, membuat Monita merasa senang, itu berarti Monita sudah menjadi wanita spesial di hati Ilham karena biasanya jika seseorang sudah masuk dalam sebuah pembahasan, itu bearti orang itu sudah berhasil menempati tempat terpenting di hatinya.
“Iya nona, yang saya lihat juga seperti itu, tuan sangat mencintai nona, bahkan mungkin cinta tuan ke nona saat ini sudah melebihi cinta tuan pada Nyonya Naomi, hanya saja sampai saat ini tuan Ilham belum menyadarinya.” Ucap Andre menambahkan setelah sejak tadi hanya diam dan fokus menyetir.
“Saya sangat tau sifat tuan Ilham, jika dia sudah bersikap manis dan berkorban seperti itu untuk seorang wanita, dia tidak akan melepas wanita itu begitu saja.” Ujar Andre.
“Tapi kalau boleh jujur, saya lebih suka jika istri tuan itu adalah nona, karena selama ini Nyonya Naomi kurang perhatian terhadap tuan, nyonya tidak pernah memasak sarapan tuan setiap pagi, semua tugas selalu ia limpahkan pada bi Ratih, nyonya Naomi hanya memikirkan uang saja, bahkan di mata saya nyonya Naomi adalah perempuan matrealistis, sangat jauh berbeda dengan nona Monita yang selalu memasak dan menyiapkan sarapan untuk tuan Ilham sebelum ke kantor, mengurus segala keperluan tuan dan tidak matre.” Jelas Andre mulai mengaluarkan uneg-unegnya selama ini.
Andre memang kurang suka dengan istri pertama tuannya itu, namun dia tidak berani mengutarakannya secara langsung karena takut Ilham akan marah padanya, mengingat Naomi adalah wanita yang sangat Ilham cintai.
Namun semenjak adanya Monita, Andre seperti mendapat keyakinan bahwa, jodoh Ilham sebenarnya adalah Monita bukan Naomi, buktinya sampai saat ini Naomi pergi meninggalkan Andre entah ke mana.
Selama ini Andre hanya diam saja, dia tidak berhak ikut campur lebih jauh dengan urusan rumah tangga atasannya itu, selagi Naomi masih setia, Andre akan merasa lega, setidaknya hati Ilham tidak akan disakiti.
__ADS_1
Mendengar pengakuan Andre barusan membuat hati Monita jadi semakin sesak, bagaimana tidak, selama ini Ilham tidak di urus dengan baik oleh istrinya, namun lagi-lagi Monita kembali menyadarkan dirinya tentang posisinya yang sebenarnya.
“Sebaiknya kita jangan bahas itu dulu Ndre, kita jalani saja dulu sejauh mana Ilham akan bertahan denganku.” Balas Monita lirih.
“Baik nona.” Jawab Andre dengan singkat.
Setelah menempu dua jam perjalanan, tibalah mereka di sebuah desa yang nampak asri, sebelum sampai ke pekarangan rumah Monita, mereka kembali di suguhkan dengan pemandangan yang begitu indah sudah tidak ada bangunan-bangunan atau rumah lagi selain hutan pinus yang alami dan asri di sisi kiri dan kanan jalanan.
Tak lama, mereka kembali mendapati rumah-rumah warga setelah melewati hutan pinus tadi, sepuluh menit kemudian, dengan mengikuti arahan Monita, sampailah mereka di pekarangan rumah Monita.
Begitu sampai, Monita langsung disambut hangat oleh ibunya yang sejak tadi sudah menunggunya di teras depan.
Begitu turun dari mobil, Monita mengedarkan pandangannya di sekitar rumahnya, sudah banyak yang berubah mengingat sudah cukup lama Monita pergi merantau ke luar kota.
Mata Monita kembali berkaca-kaca saat melihat ibunya yang sedang berjalan gontai menghampiri dirinya, Monita sangat merindukan wanita paruh baya itu, wanita yang sudah melahirkan dan membesarkannya, yang sudah dia tinggalkan merantau cukup lama.
Begitu sudah berdiri berhadap-hadapan, Monita sontak memeluk hangat ibunya dengan buliran bening yang sudah lolos membasahi pipinya, bu Rahayu juga membalas pelukan Monita sembari mengusap lembut punggung anaknya.
“Ibu, Monita rindu.” Ucap Monita dengan nada lirih.
“Ibu juga lebih merindukanmu nak, akhirnya kau pulang juga.” Balas sang ibu yang juga meneteskan air mata haru.
__ADS_1