
Kini Ilham dan Monita sedang melangkah masuk ke dalam suatu acara yang di selenggarakan di hotel termewah di kota tersebut.
Bak tamu VIP, mereka di persilahkan masuk dengan tangan terbuka, bahkan sebuah karpet merah sudah menunggu untuk menyambut pasangan tersebut.
Ilham yang awalnya ingin menyembunyikan pernikahan mereka kini sudah tidak peduli lagi, semenjak kejadian Monita pergi jalan-jalan dengan David, Ilham jadi semakin was-was, dia tidak ingin Monita dekat-dekat dengan pria mana pun.
Setelah masuk ke dalam dan membaur bersama orang-orang penting di sana, mata Ilham memindai seluruh ruangan, ia sedang mengincar tuan Aslan.
Mereka harus bertemu dan menandatangani perjanjian baru, ini sangat penting demi keberlangsungan Anugrahjaya.
Lama Ilham clingak-clinguk seperti mencari sesuatu, begitu terlihat sosok tuan Aslan, pria itu langsung mengejar langkah konsultan dari Turki tersebut.
“Tunggu di sini, saya akan kembali.” Pesannya pada Monita saat ia akan mengejar tuan Aslan.
Monita, gadis cantik itu kini duduk seorang diri, seperti orang tersesat, Monita bingung di tempat asing itu.
“Hai.” Sapa seseorang dan membuat Monita terhenyak, karena di tempat asing ini ada yang menyapa dirinya.
“Mas David.” Seru Monita dengan wajah berbinar.
“Sendirian?” Tanya pria tiga puluh satu tahun itu, dengan dasi kupu-kupu di lehernya.
“Tidak, dengan Mas Ilham, Mas sendiri?”
“Dengan Naomi juga?”
Monita menggeleng, David pun mengulas senyum.
“Sendiri juga, yuk ke sana, aku kenalin ke teman-teman bisnisku.”
“Tidak terima kasih!”
“Ayolah!”
“Tidak Mas David, Monita lagi pusing.” Bohong Monita mencari alasan, sesungguhnya dia sangat tidak enak hati menolak ajakan David, tapi dia takut Ilham marah.
“Kamu pusing? Saya antar ke rumah sakit ya.” Wajah David tiba-tiba khawatir.
“Tidak perlu Mas, tidak apa-apa, masih bisa ditahan kok.”
David pun sangsi, sehingga dengan refleksnya dia menempelkan punggung tangannya di dahi Monita.
__ADS_1
“Monita!”
Saat dua orang itu duduk bersama, Ilham datang dengan perasaan tidak suka, emosinya semakin tersulut saat David menempelkan tangannya di dahi Monita, genit juga Monita, baru ditinggal sebentar, sudah sama David aja.
“Ayo kemari!” Ilham menarik paksa Monita dari tempat duduknya.
“Ham, jangan kasar dong! Dia kan adik sepupu kamu.” Tutur David menarik tangan Monita.
Ilham menatap David dengan tatapan tajam dan membunuh, dia melangkah mendekati David, kini mereka berdiri berhadap-hadapan, dengan kasar Ilham menyentak tangan Monita dari tangan David, lalu Ilham menarik tangan Monita, menyembunyikannya di belakang tubuh Ilham, terlihat seperti menyembunyikan mainan dari seorang teman yang hendak merebut mainannya.
“Siapa kamu berani ikut campur urusan keluarga saya!” Cetus Ilham dengan nada pelan namun penuh penekanan.
“Saya calon suami Monita.” Jawab David dengan senyum percaya diri.
Mendengar itu Ilham semakin menajamkan tatapannya, sejenak dia menoleh ke arah Monita yang kini ia sembunyikan di belakang tubuhnya, Monita pun beringsut mundur, namun Ilham semakin mengeratkan genggamannya.
“Maksud anda apa?” Tanya Ilham kembali menatap David.
“Baiklah, saya akan berterus terang, malam itu tepat di mana saya pernah mengantar Monita, saya melamarnya secara pribadi, meski pun Monita belum menjawabnya, tapi saya sudah menganggap Monita sebagai calon istri saya, jadi saya harap kakak ipar merestui saya.” Ujar David sembari menangkupkan kedua tangan di depan dada.
“Sepertinya saya tidak jujur satu hal pada anda ya tuan David.” Ilham tersenyum sinis.
“Sepertinya saya tidak jujur pada anda kalau sebenarnya saya dan Monita bukan saudara sepupu.”
“Mas!” Pekik Monita lirih, ada apa dengan lelaki ini? Bukannya dia sendiri yang meminta agar pernikahan ini dirahasiakan? Kenapa sekarang jadi dia yang membongkarnya?
“Lalu?”
“Saya suami sah Monita, Monita ini adalah istri kedua saya.”
“Hah?!” Pekik David, suaranya tercekat di tenggorokan, air liurnya terasa pekat dan sulit di teguk.
Wanita yang baru saja dia jadikan pujaan hatinya itu ternyata istri orang, istri rekan bisnisnya sendiri, seketika jantung David bergemuru dengan begitu kencangnya.
“Saya ingin mendengar sendiri dari mulut Monita.” Ucap David ingin lebih memastikan.
“Mas!” Seru Monita kini beralih berdiri di samping Ilham dengan keadaan tangan mereka yang masih bertautan.
Monita semakin tidak enak hati pada David, dia tidak berniat menolak David dengan cara seperti ini, dia akan menolaknya secara halus, namun semua tak sesuai ekspektasi, Monita juga tak menyangka mereka akan bertemu di situasi seperti ini.
Perlahan Monita mencoba melepaskan tautan tangan mereka saat David melirik kedua tangan yang saling berpaut itu, namun rupanya Ilham semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Monita, seolah menunjukkan kalau itu adalah miliknya, tidak ada satupun yang boleh merebutnya.
__ADS_1
“Monita! Apa…. Itu… benar?” Tanya David kini beralih menatap wajah cantik istri Ilham itu dengan sangsi.
Monita tak mampu bersuara, ia hanya mengangguk perlahan membenarkan pernyataan Ilham.
“Lalu kenapa waktu di bandara kamu bilang dia saudara sepupu kamu?”
“Maaf Mas David aku terpaksa karena….”
“Sayang, aku tidak suka kamu memanggilnya dengan sebutan Mas! Hanya aku yang boleh kamu panggil Mas! Aku tidak mau mendengar panggilan itu kau sematkan pada orang lain!” Tegas Ilham yang kini beralih menatap Monita.
“Apa? Aku tidak salah dengar kan tadi? Dia memanggilku sayang?” Wajah Monita sedikit berbinar, namun dia menepis rasa bahagianya itu.
“Tidak tidak, mungkin dia sedang bersandiwara di depan Mas David, makanya dia sok mesra begini.” Lanjut Monita terus mengoceh dalam hati.
Sejenak dia menatap David dengan raut wajah rasa bersalah.
“Maafkan aku Mas David!”
“Monita!!!” Ilham mengingatkan Monita saat Monita kembali menyematkan kembali panggilan ‘Mas’ untuk David.
“Apaan sih!” Bisik Monita lirih.
“Tidak perlu minta maaf, tidak apa-apa, kalau begitu, apa kita masih bisa berteman?” tanya David meletakkan tangannya di kedua pundak Monita, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Monita.
Melihat itu Ilham jadi sakit mata, pemandangan di depannya ini sangat mengganggu penglihatannya.
“Ekheeemm.” Ilham berdehem sembari menurunkan kedua tangan David dari pundak istrinya.
“Ilham Ilham, ternyata seorang Ilham Adhitama punya dua istri, apa kau yakin mampu membahagiakan mereka dan bisa berlaku adil? Kalau tidak bisa, sebaiknya kau serahkan saja Monita padaku, aku bisa membahagiakan dia dan satu lagi, aku tidak akan pernah menduakannya, bersamaku dia hanya akan jadi satu-satunya.”
Medengar itu Ilham mengepalkan tangannya, rahangnya mengeras.
“Kau!” Ilham hendak meninju mulut David namun Monita segera mencegatnya.
“Mas! Tenangkan dirimu, ayo lebih baik kita pulang saja!” Monita mencekal tangan Ilham dan mendorong pelan tubuhnya agar menjauh dari David.
“Ma… emmm kak David, maaf kami pamit dulu, permisi.” Ucap Monita hampir saja salah sebut lagi.
David tak bergeming, dia tidak bisa berbuat apa-apa, tampaknya dia masih syok dengan fakta yang baru di dengarnya tadi.
“Monita istri Ilham? Ada apa lagi ini Tuhan? Baru saja aku menambatkan hati pada seorang wanita, tapi aku kecewa lagi, kenapa harus saya Tuhan, dulu saya dikecewakan oleh seorang wanita, dan sekarang pun saya kecewa lagi, apa kebahagiaan memang tidak akan pernah berpihak padaku?” Tanya David dalam hati dengan tersenyum getir.
__ADS_1