Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 108 Berdamai Dengan Keadaan


__ADS_3

Pemandangan pagi sebelumnya memang indah, namun lebih indah lagi kala Ilham melihat istrinya yang kini tengah menyibukkan diri bersama bi’ Rani menyiapkan sarapan.


“Lagi apa sayang?” Tanya Ilham sembari melingkarkan lengannya ke pinggang rata Monita, pria itu menyandarkan dagunya di bahu sang istri.


Monita hanya tersenyum tanpa menjawab pertanyaan Ilham, sudah jelas ia tengah menggoreng telur mata sapi yang sengaja ia masak sepenuh hati untuk Ilham pagi ini.


Dia tidak menyukai roti, Monita orang indonesia asli yang tidak kenyang jika tidak makan nasi.


“Mas awas dulu, Monita tidak bisa bergerak.” ujar Monita kala dia hendak mengambil wadah untuk memindahkan telur tersebut dari wajan.


“Sayang.” panggil Ilham saat dia sudah bersandar di sudut meja dapur sembari bersedekap dada dengan santainya.


“Ya.” sahut Monita tanpa menoleh.


“Jalan-jalan yuk.”


Ilham ingin mengajak Monita jalan-jalan karena selama ini dia jarang mengaajak sang istri jalan-jalan. Sebagai suami yang pintar meratukan pasangannya, Ilham ingin membahagiakan Monita. Ilham akan terasa bahagia jika dia bisa memberikan kebahagiaan untuk wanita yang sangat ia cintai.


“Mas tidak masuk kerja?” tanya Monita melirik penampilan Ilham dari atas sampai bawah. Dari penampilannya jelas terlihat tidak ada tanda-tanda Ilham akan ke kantor.


“Tidak.”


“Mas? Kenapa kamu tidak masuk kerja? Kamu lupa sudah punya anak istri sekarang? Apa lagi istri kamu ada dua, jangan malas-malasan dong mas.” tegur Monita seakan bicara pada suami yang pengangguran.


Monita lupa atau bagaimana, suaminya ini tajir melintir, hartanya tidak akan cepat habis. Bahkan uangnya saat ini bisa dipakai sampai Dikta S2.


“Kita sudah kaya sayang, itu kantorku, Andre bisa menghandle semua pekerjaanku, jangan khawatir, kekayaan kita tidak akan habis sampai tujuh turunan.” jelas Ilham sembari mencolek dagu istrinya. Ia sengaja menyebut kekayaan kita, bukan hanya ‘kekayaanku’ karena Ilham benar-benar menempatkan Monita menjadi bagian hidupnya.


“Kalau kita jalan-jalan, lalu Dikta bagaimana?”


“Kita titip saja Dikta sama mama.”


Titip mama kata dia? Seenteng itu dia berkata, Monita memandangi suaminya dengan kening berkerut. Tanpa menjawab Monita hanya diam seraya menata makanan di meja makan itu.


“Sayang, mau ya jalan-jalan berdua.” Monita menghentikan sejenak aktivitasnya dan menatap suaminya dengan wajah datar.


“Aku tidak_” ucapan Monita terhenti karena teriakan seorang wanita dari arah ruang keluarga.


“Diktaaa… Dikta… di mana kamu nak?” Lengkingan suara yang tak asing bagi Monita, menggema di ruangan tersebut.


“Mas?”

__ADS_1


“Iya sayang, semalam aku sudah katakan pada mama kalau pagi ini kita akan piknik. Dan mama tidak keberatan waktu aku meminta mama untuk menjaga Dikta sebentar.” ujar Ilham sembari menampakkan gigi-gigi rapinya.


Monita menghela napas dalam, dan dengan terpaksa dia mengangguki permintaan Ilham. Bukan apa-apa, Monita tidak pernah pergi jauh meninggalkan anaknya dalam waktu yang cukup lama. Itu lah mengapa dia tidak langsung mengiyakan ajakan Ilham tersebut.


“Dikta!!” suara cempreng itu kembali menggema, membuat Monita beegegas menghampiri wanita paruh baya itu di ruang keluarga.


“Mama.” Monita menyapa mertuanya sembari melepas apron yang ia kenakan.


“Mana cucu mama?” Tanya Nancy masih dengan wajah juteknya.


“Ada di kamarnya ma. Ayo Monita antar.” ajak Monita dengan ramah.


Nancy pun mengangguki sembari mengikuti langkah menantunya dari belakang, ini kali pertama untuk Nancy menginjakkan kaki di rumah baru anak dan menantu keduanya ini, itulah sebabnya dia tidak menolak sewaktu Monita menunjukkan kamar Dikta padanya.


“Ini kamarnya ma.” ucap Monita sembari membuka pintu kamar putra sulungnya itu begitu mereka sudah sampai di kamar Dikta.


“Wah kamarnya lebih besar dari kamar mama, lucu lagi.” seru Nancy berdecak kagum kala ia mengedarkan pandangan di kamar cucunya yang seluas lapangan golf itu. Tak lupa dengan karakter-karakter anime one piece yang didominasi gambar Choper itu di beberapa dinding kamar.


Meski usianya sudah tak muda lagi, tapi Nancy menyukai karakter Chopper dalam anime itu. Dia memang tidak pernah menonton series tersebut, hanya saja dia sering melihat boneka itu di toko orange yang ada di ponselnya.


Namun dia segera menyadarkan dirinya dan kembali ke tujuan awal. Masih ada yang lebih lucu lagi dari Chopper pikirnya, siapa lagi kalau bukan Dikta. Ia segera menghampiri tempat tidur Dikta dan menggendong bayi itu dengan girangnya.


“Iya oma, Dikta sudah mandi.” jawab Monita menirukan suara bayi.


Nancy terdiam, secepat itu ekspresinya berubah. Dia menatap Monita dengan tatapan yang masih sama juteknya.


“Aku tidak sedang bicara denganmu ya.” ketus Nancy merubah panggilan dirinya dengan sebutan aku setelah beberapa waktu lalu dia seformal itu dengan Monita.


“Kan Dikta belum bisa bicara ma, jadi Monita saja yang mewakili.”


Selalu ada saja jawaban yang Monita lontarkan, Nancy tak menggubris lagi, ia kembali mengalihkan pandangannya pada Dikta dan kembali berinteraksi dengan cucunya tersebut.


Monita terenyuh melihat kedekatan Nancy dan anaknya, dia menarik sudut bibirnya dengan jelas, hatinya menghangat seketika. Walau pun Nancy masih bersikap ketus padanya, namun dari gestur tubuhnya Monita sudah bisa menebak kalau Nancy sudah memaafkannya. Terlebih saat ini sudah ada Dikta sebagai pelengkap kebahagiaannya bersama orang-orang terkasih.


“Kenapa senyum-senyum, mau piknik atau tidak? Kalau tidak mama pulang lagi deh, mama sibuk, tapi mama tinggal kesibukan mama itu demi memenuhi permintaan Ilham yang meminta mama untuk menjaga Dikta.”


Woaah! Apa tadi? Mama? Akhirnya mama Nancy merubah panggilan dirinya lebih tinggi satu tingkat, dia menyebut dirinya mama kala berinteraksi dengan Monita. Hati Monita dibuat menari-nari seketika, dia senang sekali Nancy mulai mau menerimanya.


Namun detik berikutnya, Nancy dibuat lemas seketika begitu Monita menanggapi omongannya dengan serius.


“Jadi mama sibuk? Ya sudah mama selesaikan saja urusan mama itu, nanti pikniknya di tundah deh.” ujar Monita dengan polosnya membuat Nancy ingin sekali menggigit kedua pipi chubby nenantu kecilnya ini saking gemasnya.

__ADS_1


“Mama pulang tapi Dikta mama bawa ke rumah selama dua bulan penuh.” tegas Nancy memberi penekanan pada Monita agar menantunya itu sadar kalau saat ini, dia sedang memberi lampu hijau untuk mereka berdua pergi berssma.


“Hah? Tapi kan mama, nanti Monita sedih kalau Dikta mama bawa selama dua bulan penuh.” ungkap Monita masih tak peka juga.


“Ya makanya, kalau kamu mau mama jaga Dikta di sini, kamu pergi saja sama Ilham sana.”


“Ya sudah ma, tapi mama tidak keberatan kalau harus jaga Dikta seharian kan?” tanya Monita jadi tak enak hati.


“Ini cucu mama, menunggu dia selama bertahun-tahun saja mama sabar, apalagi hanya menjaganya seharian. Sudah sana, senengin anak mama.”


Monita pun tersenyum dan mengecup pipi gembul putranya berkali-kali seakan mau berpisah lama.


****


Sembari menunggu Monita siap-siap, Ilham duduk di ruang tamu seraya menyeruput teh hangat buatan bi’ Rani.


Seperti biasa wanita kalau siap-siap itu lama sekali, perlu waktu berwindu-windu untuk menunggu, seperti hendak siap-siap ke kondangan saja padahal cuma piknik ke kota sebelah.


Drrrtt drrttt drrrttt


Ponsel Ilham bergetar, matanya membulat kala nama “Naomi” terpampang nyata di layar ponselnya. Kontak Naomi yang dulunya bertuliskan “my wife” kini berganti dengan tulisan Naomi saja. Secepat itu hati Ilham berubah, bahkan dia sudah tidak pernah pulang ke rumah utama lagi meski pun Naomi memintanya secara langsung untuk pulang hari itu.


“Halo.”


“Mas di mana?” tanya Naomi dari balik telpon.


“Di luar kota, aku ada urusan bisnis.” jawab Ilham kemudian. Tentu saja itu bohong, tidak mungkin dia jujur akan piknik ke luar kota beraama Monita. Jujur saja, sampai detik ini dia masih takut kalau harus jujur yang sebenarnya pada istri pertamanya itu. Ya sekiranya Ilham masih ingin menjaga perasaan Naomi, meski pun caranya salah.


“Yah padahal aku mau ajak mas sama Monita beserta anaknya ke sini.”


Ilham tidak salah dengar kan? Dia tidak tau ini pertanda baik atau tidak, tapi istri pertamanya ingin bertemu Monita? Seketika hati Ilham bersorak gembira, alangkah baiknya jika seperti ini terus, punya dua istri yang akur. Bahkan ini moment langkah sepanjang sejarah, istri pertamanya dan istri kedua bakal akur.


“Besok aku janji akan membawa mereka ke sana, sabar ya tidak akan lama kok.”


“Tapi Mi, tumben kamu mau ajak ketemu Monita dan Dikta? Apa kamu baik-baik saja?” Pertanyaan Ilham sontak membuat Naomi bungkam, Ilham tidak bermaksud apa-apa begitu dia bertanya, ia hanya ingin memastikan saja.


“Ma-maksud aku, apa kamu tidak keberatan kalau harus dipertemukan dengan Monita?” takut wanitanya tersinggung, dia kembali memberi penjelasan.


“Tidak mas, setelah dipikir-pikir, aku ingin berbaikkan saja dengan Monita. Untuk apa lama-lama bermusuhan, semua sudah terjadi nasi sudah menjadi bubur dan aku sadar kalau cinta kalian hadir karena kesempatan besar yang aku berikan. Aku sadar, semua yang terjadi bukan salah kalian, tapi salah aku yang dengan mudanya membiarkan suamiku bersama wanita lain, aku yang sudah membuka peluang untuk kalian, dan kini aku sadari itu.” jelas Naomi dengan suara sendunya.


Entah ada angin apa, Naomi yang amat sangat membenci Monita, tiba-tiba ingin berdamai dengan keadaan. Mungkin dia lelah atau apa itu namanya, yang jelas Author juga tidak tau.

__ADS_1


__ADS_2