Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 140 Kebersamaan (End)


__ADS_3

“Mau apa kau?!” Bentak pengawal yang tengah membopong Rosa.


“Lepaskan dia!”


“Kau mau cari gara-gara?!” Sergah anak buah Bela yang lainnya dengan wajah garang namun tak membuat pria itu ciut sedikit pun.


Pria yang sejak tadi membopong Rosa sontak menurunkan wanita itu dan siap menghadapi pria yang tidak lain dan tidak bukan adalah David.


David maju selangkah dan menarik paksa Rosa dari sisi mereka.


“Sial kembalikan perempuan itu!”


“Dia istriku! Jangan macam-macam kalau tidak ingin mati di tanganku.” Ancam David yang sontak membuat mereka bergeming.


Istri? Yang benar saja? Sejauh ini yang mereka tau Rosa belum menikah, tapi mengingat wanita itu menghilang selama dua minggu semakin yakinlah mereka bahwa Rosa benar-benar sudah menikah. Anak buah mami Bela yang bodoh itu dibuat bingung dengan apa yang terjadi sebenarnya. Sementara mami Bela, sedang menonton rekaman cctv halaman belakang. Dia membulatkan matanya karena Rosa dijemput oleh seorang presdir ternama di kota ini. Mana berani mami Bela melawannya, jika dia sampai berani mengusik David bisa-bisa club ini akan rata dengan tanah. Sama bodohnya, mami Bela juga termakan omongan David yang mengakui Rosa sebagai istrinya.


Satu minggu mereka lewati tanpa bertemu, mantan kekasihnya hilang bak ditelan bumi dan membuat sepotong hati itu di relung jiwa seorang wanita merasakan kehilangan yang begitu dalam.


Sungguh David menyesal sudah meninggalkan Rosa sendirian. Padahal secara nyata Rosa mengaku tidak akan meneruskan pekerjaan kotornya ini, tapi dia malah diculik secara paksa tanpa sepengatahuan David.


Pria itu tau keberadaan Rosa lewat aplikasi lacak di ponselnya. David membawa Rosa dengan sejuta sesal dihatinya dan amarah yang membuncah tentu saja.


Anak buah Bela tak bisa berbuat apa-apa, ketika David membawa wanita itu pergi. Begitu sudah berada di dalam mobil, tanpa pikir panjang David langsung menancap gas mobilnya dengan kecepatan penuh.


“Vid pelan-pelan.” tegur Rosa dengan ketakutan yang membuncah. Bagaimana tidak, David mengemudi dengan kecepatan setengah setan.


Setelah dirasa sudah jauh dari club tersebut, David menepikan mobil dan menatap lekat manik indah Rosa. Perlahan pria itu meraih tengkuk Rosa, bukan mencium melainkan hanya menempelkan keningnya ke kening Rosa, pria itu merasa letih. David memejamkan mata seraya menarik napas dalam, sesesak itu hatinya kala jauh dari Rosa. Hampir terlambat, kalau dia tidak segera datang tidak tau lagi apa yang akan terjadi pada Rosa.


Rosa merasakan deru napas David, dia juga turut memejamkan mata dengan napas teratur. Setelah merasa lega, David menarik Rosa ke dalam dekapannya. Seerat itu dan tidak akan dia lepaskan semudah itu. Tanpa kata, David merengkuh tubuh mungil Rosa dan menghujaninya dengan kecupan di puncak kepala. Sesayang itu David padanya ternyata.


Detik berikutnya, mata David membasah, dia menangis? Iya sedikit, pria tampan itu berjanji dalam hatinya tidak akan melepaskan Rosa walau hanya sedetik. Apa lagi saat ini dia menemukan Rosa dalam versi terbaiknya.


“Rosa?” Panggil David tanpa melepaskan pelukan.


“Hm?”


“I love you Ros. I really love you, aku ingin menikahimu.” Ungkap David masih dengan mata terpejam. Itu bukan pertanyaan tapi pernyataan, pria itu tidak butuh jawaban penolakan dari Rosa.


Mendengar itu Rosa tersenyum bahagia. Sudah tiga kali ini David menolongnya, dan Rosa sangat bersyukur. David perlahan melepaskan tautan tubuh mereka dan kembali menatap Rosa sedalam itu.


“Tapi mas, apa kamu_”


“Shut! Aku tidak menerima penolakanmu Rosa. Kau harus menerima lamaranku karena aku tidak sedang bertanya.” Ilham menempelkan jari telunjuknya tepat di bibir wanita bermanik indah itu.


“Apa kamu menerima aku apa adanya?” Tanya Rosa Yang dibalas anggukan oleh David.


“Meski aku sudah terjamah?”


“Bukan kah yang pertama menjamahmu itu aku? Aku tidak peduli dengan riwayat pekerjaanmu itu Ros, kau sudah berubah dan membuktikan padaku bahwa kau tidak akan kembali lagi ke dunia hitam itu.”


“Kau harus mau menikah denganku.” Imbuhnya lagi.

__ADS_1


Rosa meneteskan air mata seraya mengusap lembut wajah David dengan tangan yang sedikit gemetar.


“Ros kau harus mau.” Desak David, kesal juga karena sejak tadi Rosa hanya diam.


“Iya mas aku mau.” Lirih Rosa masih dengan tangisnya. Bahu Rosa bahkan sampai bergetar, saking terharunya dia malah menangis sesenggukan.


“Kenapa sayang? Kenapa menangis?”


“Ak_aku masih tidak menyangka saja kalau pelacur sepertiku masih ada yang mau menikahi.”


“Shut! Jangan sebut dirimu pelacur, dimataku kau adalah wanita baik-baik Ros. Tidak ada manusia yang sempurna.”


“Tapi aku sudah kotor Vid. Banyak yang sudah menjamah tubuhku ini, aku merasa hancur dan hilang percaya diri. Bahkan aku sempat berpikir, tidak ada pria baik-baik yang sudi menyentuhku dan memperist_”


Rosa belum sempat menyelesaikan kalimatnya namun David sontak membungkam wanita itu dengan bib*rnya. David mengecup bib*r Rosa dengan sangat dalam, jika sudah berani memulai, David akan sulit mengakhirinya. Pria itu malah memperdalam ciu**annya semakin dalam hingga kecupan itu berubah menjadi luma**n.


Hingga ditengah ciu*an panas itu Rosa tersentak kala David mulai menyentuh bagian tubuhnya yang tak pantas disebut itu. Rosa segera mencekal tangan pria itu dan melepaskan pagutan mereka. Rosa menggeleng dan menatap mata David yang sudah dipenuhi kilatan gair**.


“Vid, sepertinya kita sudah terlalu jauh. Aku benar-benar ingin berubah Vid dan aku ingin kau melakukannya di malam pertama pernikahan kita.”


David menatap mata Rosa sedalam itu, dia berusaha menetralkan jantungnya yang sejak tadi sangat tidak aman.


“Maafkan aku Ros, aku khilaf.” Ucapnya dengan napas yang tersengal.


Rosa memaklumi lalu kemudian mengangguk singkat seraya menampakkan senyum manis yang setiap saat selalu membuat irama jantung David tak karuan.


“Kalau begitu kita akan menikah minggu depan.” Ungkap David seraya menancap gas mobilnya dan kembali melanjutkan perjalanan.


Satu minggu kemudian…


Bel pintu utama rumah Ilham dan Monita berbunyi. Ibu dua anak itu berjalan dengan langkah panjang untuk membukakan pintu. Begitu pintu dibuka, Monita dibuat melongo dengan kedatangan David dan Rosa yang bergandengan tangan seraya menampilkan senyum bahagia mereka.


“Siapa sayang?”


Ilham yang kala itu tengah menggendong Devan sudah tidak kaget lagi, Ilham menarik sudut bibirnya, mengingat prediksinya tidak meleset. Sejak dia mendengar David menerobos masuk ke markas mereka demi menyelamatkan Rosa dia sudah ada feeling kalau dua insan itu akan CLBK.


“Sayang, tamunya dipersilahkan masuk dong.”


Monita yang sejak tadi tenggelam dalam lamunan segera mempersilahkan mereka masuk.


“Maaf ya Vid, Ros, aku sampai kaget loh liat kalian datang bersama. Duduk yuk.” Ajak Monita mempersilahkan dua pasangan itu duduk.


“Apa yang kalian bawa itu David?” Tanya Ilham yang sebenarnya sudah tau apa yang mereka bawa namun dia ingin mereka mempertegasnya.


“Ini undangan untuk kalian. Aku harap kalian bisa hadir di pesta pernikahan kami minggu depan.” Rosa menyerahkan undangan berwarna purple itu kepada Ilham.


Melihat itu mata Monita membulat sempurna, apakah dia bahagia? Tentu saja iya. Wanita pemilik dagu belah itu bahagia David kembali menemukan tambatan hatinya yang dulu sempat hilang.


“Ka_kalian akan segera menikah?” Tanya Monita ingin kembali memastikan.


“Iya.”

__ADS_1


“Iya.”


Jawab mereka serentak dengan raut wajah yang masih memerah malu. Tentu saja yang memerah itu adalah Rosa, dia tersipu terlebih saat ini di depan dua pasutri itu David tak melepaskan rangkulannya dari pundak Rosa.


Mereka berbincang ringan sembari mempertanyakan bagaimana perkembangan pertemuan kembali mereka. Hingga ditengah perbincangan mereka, ponsel Ilham bergetar.


“Kebetulan dia menelpon, apa kalian tidak sekalian undang mereka juga?” Tanya Ilham sembari menunjukkan ponselnya yang tertera nama Shaka di sana.


“Dia sudah diundang secara online.” Jawab David menanggapi.


David dan Rosa sudah memberikan undangan online pada keluarga Buwana, mereka tidak dekat sebelumnya, hanya saja mereka kenal dengan Shaka Buwana selaku CEO di negara ini. Meski pun David juga kaya dan terkenal tapi David tidak pernah berbincang hangat dengan Shaka sebelumnya.


“Kau juga dapat undangan Ham?” Tanya pria itu dari seberang telepon.


“Iya, apa kalian akan datang? Atau jangan-jangan cuma hadir secara virtual saja.” Sarkas Ilham karena selama ini dua pasutri itu hanya selalu hadir lewat virtual saja. Seperti halnya pesta pertunangan dan pernikahan Eden dulu.


“Sebenarnya aku juga ingin hadir Ham, tapi kau tau sendiri kan kalau istriku baru melahirkan putri kami.”


“Iya juga ya.”


“Heii Geona.” Sapa Monita yang pandangannya kini beralih pada putri ketiga Shaka yang menggemaskan itu.


“Namanya Geona ya Ka?”


“Hahaha sebenarnya istrimu yang memberi nama.” Ungkap Shaka yang sontak membuat Ilham menoleh ke arah istrinya yang sedang tersenyum sembari menampilkan gigi-gigi rapihnya.


“Kamu yang memberinya nama Geona sayang?”


“Iya, itu ada artinya loh mas namanya Geona Hanania artinya perempuan mulia yang dikasihi Allah, bagus kan?”


“Kalian setuju Ka?”


“Iya, lagi pula anak kami sudah tiga. Jadi yang lain biar Monita saja yang kasih nama.” Jawab Shaka dan diangguki oleh Amira.


“Ros, coba lihat deh anaknya Amira. Nanti kalian harus berkenalan juga.” Monita beralih menatap Rosa dan memanggilnya untuk bergabung.


Rosa pun ikut bergabung dan duduk di samping Monita. Benar saja, putri bungsu Shaka Buwana cantik sekali dengan perpaduan wajah Shaka dan Amira. Rasanya wanita itu penasaran dan ingin memiliki seorang putri yang wajahnya mirip dirinya. Benar-benar keluarga panutan, keluarga Shaka Buwana dan keluarga Ilham Adhitama. Senang sekali rasanya Rosa bisa bergabung dalam circle mereka. Orang-orang baik, yang mempunyai hati seluas samudra.



Ilham Adhitama : Kau memang bukan yang pertama bagiku, tapi kupastikan kau adalah yang terakhir dalam hidupku. Istri kedua yang akhirnya menjadi istri satu-satunya, tidak ada yang lebih tulus dari kasih sayang mama Nancy dan Monita. Ilham bersyukur, pertemuannya bersama Monita berhasil membuka matanya bahwa, Naomi Ratu istri pertamanya sudah mengkhianatinya sebrutal ini. Namun beruntungnya semua itu dia ketahui begitu hatinya sudah terpaut pada Monita hingga sakitnya pengkhianatan itu tidak terasa.



Monita Maheswari Kusuma : Terima kasih karena sudah mau mencintai wanita miskin dan mantan pelacur sepertiku. Meski aku pelacur yang tak terjamah, namun rasa tidak percaya diri kala itu kerap mengguncang jiwa. Hingga kau datang dan mengajarkan aku untuk tidak selalu merendahkan diri karena dimatanya aku sangat sempurna.



Amira Zavia Wijaya : Meski aku wanita beranak satu, tapi dia tetap mau menerimaku lengkap dengan putriku Queen Edelenyi Buwana. Bahkan dia juga menyematkan nama belakangnya di nama putri bawaanku. Terima kasih karena sudah mau bertanggung jawab atas perbuatan yang bukan kesalahanmu sama sekali.


__ADS_1


Shaka Buwana : Aku sudah pernah merasakan cinta pada seorang wanita di masa remajaku. Tapi tidak pernah aku merasakan jatuh cinta, yang sejatuh-jatuhnya pada seorang wanita bernama Amira Zavia Wijaya. Bahkan bukan hanya menerimanya, tapi aku juga menerima putri yang selama ini membuat hatiku sakit jika ada yang menyebutnya bukan putriku.


...TAMAT...


__ADS_2