
Pagi harinya Monita sudah bangun lebih awal mempersiapkan sarapan untuk semuanya, waktu baru menunjukkan pukul 05.00 pagi Monita sudah berkutat di dapur, pagi ini dia memasak nasi goreng sea food kesukaan Ilham, omelette kesukaan Eden dan Naomi, kebetulan dua wanita itu menyukai makanan yang sama.
Begitu sedang asik memasak, tiba-tiba saja terdengar suara bi’ Ratih dari belakang tubuh Monita.
“Ya ampun nona, kenapa nona yang harus memasak? Biar bibi’ saja nona, bibi’ tidak ingin dimarahi tuan Ilham dan Nyonya Naomi.” Ucap bi’ Ratih sembari meraih spatula dari tangan Monita namun Monita melarangnya.
“No no no, tidak perlu bi’ tidak apa-apa, lagi pula sudah lama aku tidak memasak, aku hanya ingin memasak sarapan untuk Mas Ilham dan seluruh orang yang ada di rumah ini.” Jawab Monita yang masih melanjutkan aktivitasnya.
“Tapi nona, bibi’ takut tuan Ilham marah.”
“Bibi’ tidak usah takut, kalau sampai dia memarahi bibi’ aku yang akan balik memarahinya.”
“Tapi nona…”
“Sudah sudah lebih baik bibi’ duduk manis saja di sana dan tunggu aku selesai memasak dan bibi’ juga harus sarapan bersama kami di meja makan.” Ujar Monita mematikan kompor dan mendorong pelan tubuh bi’ Ratih dari belakang dan menuntunnya menuju meja makan.
“Bibi’ tidak berani nona, kalau harus makan di meja makan ini bersama nona dan seluruh majikan yang ada di rumah ini.” Ucap bi’ Ratih dengan raut wajah ragu.
“Tidak apa-apa bi’ panggil Ija dan pak Rudi juga biar mereka makan bersama kami di sini, lihat, masih ada tiga kursi kosong lagi, jadi bi’ Ratih, Ija dan pak Rudi bisa duduk di kursi yang kosong itu.” Ucap Monita kemudian hendak berlalu meninggalkan bi’ Ratih duduk sendirian di kursi yang ada di meja makan itu.
Monita memang sangat murah hati, sebelum kepulangan Naomi, Monita selalu mengajak bi’ Ratih dan keluarganya makan bersamanya di meja makan, namun kebiasaan itu terhenti semenjak kepulangan Naomi, Monita sudah tidak pernah mengajak pelayan mereka itu duduk makan bersamanya di meja makan, namun berkat persetujuan Naomi tempo hari, barulah Monita berani mengajak bi’ Ratih dan keluarganya makan di meja makan itu.
“Nah semua makanan sudah dihidangkan, aku tinggal memanggil semuanya untuk sarapan.” Ucap Monita sembari meletakkan menu terakhirnya, dengan tersenyum sumringah.
“Bi’ panggil Ija dan Pak Rudi ya, aku akan memanggil Eden, Mas Ilham dan Mbak Naomi.”
“Tapi non…”
“Sudah lah bi’ tidak usah pake tapi, panggil mereka sekarang ini perintah!” Ujar Monita dengan wajah yang dibuat-buat agar tampak serius dan mata yang sedikit melotot.
Melihat ekspresi nona muda mereka, membuat bi’ Ratih tidak berani lagi membantah, alhasil dengan terpaksa bibi’ memanggil anak dan suaminya untuk sarapan pagi bersama mereka di meja makan.
Begitu Monita sudah keluar dari kamar Eden untuk memanggilnya, Ilham dan Naomi sudah terlihat menuruni anak tangga dengan sudah berpakaian rapi, Ilham akan ke kantor sedangkan Naomi akan ke toko brand fashionnya.
“Mbak Mas, padahal baru saja aku mau ke atas untuk memanggil kalian.”
__ADS_1
“Monita, kau sudah bangun sejak tadi? Dan kau memasak?” Tanya Naomi yang malah fokus melihat Monita yang masih mengenakan celemeknya.
“Hehehe iya Mbak, habisnya aku bosan jika hanya diam saja dan tidak melakukan apapun di sini.” Jawab Monita cengengesan.
“Monita, sudah berapa kali aku katakan, kamu jangan terlalu lelah, kamu tidak usah memasak, biarkan ini menjadi tugas bi’ Ratih, mana bi’ Ratih? Kenapa malah kamu yang memasak, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan calon anakku.” Naomi mencecar Monita dengan berbagai ocehan.
Mendengar Naomi menyebut anaknya adalah anak Naomi, membuat hati Monita sedikit berdenyut, bagaimana bisa anak yang ada dalam kandungannya akan menjadi anak orang lain, bahkan Naomi sudah mengklaim kalau anak itu adalah anaknya jauh sebelum anak itu hadir dalam rahim Monita.
Namun Monita tidak ingin larut dalam pemikirannya yang tak karuan itu, ia kembali mencairkan suasana dengan menjawab pertanyaan Naomi yang menanyakan keberadaan bi’ Ratih.
“Mbak, tadi bi’ Ratih ingin membantuku, tapi aku melarangnya, jadi jangan salahkan bi’ Ratih ya Mbak.” Mohon Monita dengan raut wajah memelas.
Melihat wajah Monita yang begitu memelas, membuat Naomi mendengus dan akhirnya mengalah.
“Baik aku tidak akan menyalahkan bi’ Ratih, tapi kamu harus janji, jangan memasak lagi, jangan terlalu lelah, jaga diri dan calon anakku ya.” Ucap Naomi lembut sembari mengusap lembut perut Monita.
Monita pun mengangguk, sembari melirik singkat ke arah Ilham yang sejak tadi diam saja dan berdiri di samping Naomi.
Ilham diam saja karena semua apa yang akan Ilham katakan sudah Naomi wakilkan, jadi Ilham tidak perlu terlalu menunjukkan kepeduliannya terhadap Monita agar Naomi tidak salah paham dan sakit hati padanya, dia tidak ingin jika Naomi tau mereka sering bertemu diam-diam di belakang wanita itu, Naomi akan murka dan mengusir Monita dari rumahnya, Ilham bisa saja memberikan Monita apartemen bahkan mansion untuk Monita, namun Ilham tidak ingin jauh dari Monita, dia ingin tinggal seatap dengan Monita.
Tak lama bi’ Ratih, Ija dan pak Rudi pun datang, Monita mempersilahkan mereka duduk di meja makan dan menikmati sarapan pagi bersama.
“Mas Ilham.”
“Hmmm.” Jawab Ilham singkat.
“Sepertinya, aku akan keluar negeri lagi, aku akan ke Paris untuk membahas brand baru dari Prancis yang akan aku luncurkan bersama rekan bisnis fashionku di sana.”
“Sampai kapan?”
“Tidak tau, mungkin sebulan Mas.”
“Padahal kamu baru saja pulang dari Paris seminggu yang lalu, sekarang mau ke Paris lagi.”
“Ini urusan pekerjaan, aku janji begitu urusanku selesai, aku akan segera pulang, apa Mas merindukanku jika berada jauh darimu?” Tanya Naomi sembari menggenggam tangan Ilham di depan Monita dan juga Eden.
__ADS_1
“Mas tenang saja, jaga diri baik-baik, aku akan meminta Monita untuk menyiapkan segala keperluan kantormu selama aku tidak ada, kamu jangan khawatir ya.” Ucap Naomi walau pada kenyataannya dia tidak pernah menyiapkan keperluan kantor Ilham apalagi sarapan pagi, Naomi pun mengecup singkat pipi kiri Ilham.
Ilham hanya diam mematung, bukan karena cemas dengan kepergian Naomi, tapi ia tidak enak hati dengan Monita yang melihat perlakuan Naomi padanya yang begitu agresif, dia takut Monita akan marah dan salah paham.
Sedangkan Eden yang melihat itu, sontak melirik Monita, dia ingin memastikan apakah kakaknya baik-baik saja melihat adegan kemesraan itu di depan matanya atau tidak? Eden tidak ingin kakaknya bersedih.
Namun yang dilirik hanya diam sembari menundukkan kepalanya, dia tampak lesu, perasaan sakit menjalar ke dalam hatinya yang terdalam.
“Kamu mau ke luar negeri kapan?” Tanya Ilham kemudian.
“Siang nanti, kamu tidak perlu mengantarku ke bandara seperti waktu itu, biar aku pergi sendiri saja, kamu selesaikan pekerjaanmu di kantor.” Jawab Naomi santai.
“Bagaimana kalau aku saja yang mengantar Mbak Naomi ke bandara?” Tanya Monita menawarkan.
“Ah tidak tidak, kamu jangan terlalu banyak keluar dengan kendaraan, aku bisa sendiri kok, kamu di rumah saja ya Mon jangan ke mana-mana.”
“Tapi kan Mbak…”
“Sudah jangan menbantah ok!” Ucap Naomi kemudian semakin mengembangkan senyumannya.
“Ya sudah kalau begitu aku ke kantor dulu.” Ucap Ilham yang mulai bangkit dari duduknya.
“Aku juga mau pamit.” Naomi pun ikut berdiri sembari meraih tasnya.
“Eden juga pamit ya kak.” Ucap Eden sembari mencium kedua pipi kakaknya.
“Iya kalian hati-hati ya.” Monita pun bangkit dari duduknya dan mengantarkan mereka sampai ke teras depan.
Begitu sampai teras depan, Ilham menatap Monita dan tersenyum tipis.
“Aku pergi ya.” Ucap Ilham sembari mengusap lembut salah satu pundak Monita.
“Iya Mas.” Monita meraih tangan Ilham dan menyalaminya.
Melihat itu hati Ilham tersentuh, Monita benar-benar istri idaman, dia seakan menghormati Ilham sebagai suami, meski pun Ilham tidak meminta untuk dihormati namun sikap Monita selalu saja membuat ia merasa dihormati, bahkan hal kecil seperti itu tidak pernah Ilham rasakan dari Naomi, semua perhatian kecil yang tidak pernah Naomi berikan padanya, diberikan oleh Monita.
__ADS_1
Untung saja saat Monita mencium tangan Ilham, Naomi tidak melihatnya karena sibuk memasukkan tas dan beberapa map berisi berkas-berkas ke dalam mobil, jadi tidak ada drama-drama sakit hati pagi itu.
Mereka pun berangkat, Naomi mengendarai mobilnya sendiri sedangkan Ilham dan Eden menaiki mobil Ilham yang akan disupiri Andre, Naomi tidak pernah berangkat kerja satu mobil dengan Ilham karena kantor Naomi dan kantor Ilham berlawanan arah, kecuali Eden, ia sering ke sekolah bersama Ilham dan Andre karena kantor Ilham dan sekolah Eden satu arah dan seperti biasa, Ilham duduk di kursi samping kemudi dan Eden duduk di kursi belakang.