
“Mas, kenapa sampai begitu?” Tanya Monita begitu mereka sudah dalam perjalanan pulang, sepanjang jalan dia hanya diam saja dan tidak mengajak bicara suaminya, hanya Eden dan Dikta saja yang terus berceloteh sepanjang jalan, Eden terus berinteraksi dengan bayi lucu itu seakan bayi itu terus mengajaknya berbincang. Dia pikir dia ingin bertanya nanti setelah sudah sampai, namun mulutnya rasanya tak tahan jika hanya diam saja sementara dadanya bergemuruh, selain itu dia juga butuh validasi kalau suaminya tidak seperti apa yang dikatakan David.
Ilham yang sudah siap dengan pertanyaan dadakan itu tampak santai tanpa ada rasa gugup sekali pun karena memang dirinya tidak bersalah, meski pun hatinya sedikit merasa ketar ketir Monita akan termakan ucapan pria dungu itu, ya Ilham mulai menjuluki David dengan sebutan pria dungu.
“Kamu salah paham sayang, aku tidak mungkin memukul seseorang kalau orang itu tidak memancingku, kamu tau kan bagaimana aku? Aku rasa pernikahan kita yang sudah berjalan lumayan lama ini cukup membuatmu mengenal sifat aku yang sesungguhnya.” Jelas Ilham lembut sembari menggenggam tangan istrinya dan mengecupnya.
Syukurlah, jawaban Ilham mampu membuatnya sedikit lega, sejak awal dia sudah menduga kalau suaminya tidak mungkin melakukan tindak kekerasan kalau bukan orang itu yang memulainya, pasti David sudah berkata yang tidak tidak hingga memantik kobaran emosi dalam hati suaminya.
Fakta bahwa David berani melakukan hal licik demi mengikat dirinya dalam tali pernikahan membuat kepercayaannya pada pria itu semakin luntur, bahkan hilang tak berbekas.
“Sayang?”
“Hmm?”
“Kenapa diam? Apa kamu marah?” Tanya Ilham mendadak khawatir kalau istrinya akan marah dan akan termakan ucapan David, jika hal itu terjadi Ilham akan membuktikan pada Monita tentang siapa yang salah di sini.
“Tapi setidaknya tidak usah main pukul segala, kan bisa diancam atau sekedar digertak saja mas.”
Tak disangka pernyataan Monita mampu mengundang panas di hati pria tampan itu, dia mendelikkan matanya menatap sang istri dengan wajah kusutnya persis baju yang belum disetrika.
“Kenapa? Kamu tidak rela dia terluka? Kalau begitu, biar aku buat dia tambah babak belur saja sekalian, bahkan bila perlu, usai mengantarmu pulang aku akan kembali lagi ke sini untuk menghajarnya sampai wajahnya tak berbentuk dan kamu tidak akan tertarik lagi melihatnya.” Cecar Ilham tidak masuk akal.
Jelas saja bukan itu maksud Monita, hanya saja dia yang sudah terlanjur panas berkata sedemikian rupa karena saking kesalnya, padahal Monita tidak tertarik sama sekali pada pria itu, bahkan hatinya tak bergetar sedikit pun kala melihat ketampanan David, karena pada kenyataannya, suami yang ada disampingnya ini tak kala tampan, bahkan lebih tampan dari David.
“Bukan begitu mas, aku berkata seperti itu karena tidak ingin saja melihat suamiku terjebak dalam masalah serius, aku tidak ingin melihat kamu di penjara kalau kak David menuntut kamu gimana? Kamu mau kita bertiga terpisah lagi?” Ungkap Monita menunjukkan kepeduliannya pada sang suami.
Jujur saja, pernyataan Ilham tadi membuat Monita menelan salivanya yang mendadak terasa pahit, ia bergidik ngeri. Hanya karena cemburu buta, suaminya nekat melakukan penganiayaan.
Padahal yang Monita khawatirkan tidak mungkin terjadi, Ilham tidak akan masuk penjara semudah itu. Kekuasaan serta kekayaan yang suaminya miliki mampu meredam semua itu dengan mudahnya.
“Tapi tetap saja sayang, aku tidak suka mendengar kamu melontarkan kalimat yang terkesan membela seperti itu.”
“Dan satu lagi, berapa kali aku katakan jangan memanggilnya dengan sebutan kak, bila perlu jangan pernah menyebut namanya lagi, paham?”
Eden yang melihat Ilham menunjukkan protesnya memutar bola matanya karena malas, dia berdecih, menurutnya kakak iparnya terlalu lebay. Eden memang sudah mendengar kelicikan David yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan kakaknya hingga membuat ia kecewa dengan sosok David yang terlihat hangat tapi nyatanya menyimpan kelicikan yang begitu besarnya, namun bukan berarti dia sudah berhenti marah pada Ilham.
Sementara Monita hanya mengangguk patuh, dari pada dia membantah lebih baik dia iyakan saja. Yang Monita lakukan sudah benar, tidak ada gunanya menjelaskan hal baik pada orang yang dilanda kecemburuan yang sudah mendarah daging itu.
Ilham mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang karena bagaimana pun keselamatan anak dan istrinya adalah nomor satu. Sesekali ia menatap Monita dan putranya yang sudah berpindah tangan dan sudah ada dalam pelukan istrinya karena ingin menyusu, membuat ia menarik sudut bibirnya setiap kali usai menatap mereka. Monita yang menyadari ekspresi wajah suaminya sampai mengerutkan dahi, suasana hati Ilham cepat berubah, tadinya marah-marah sekarang jadi senyum-senyum sendiri, benar-benar suami aneh.
__ADS_1
Cukup lama Ilham mengemudi, kini mereka sudah sampai di sebuah rumah dengan gerbang yang menjulang tinggi berwarna keemasan, raut wajah Monita menunjukkan kebingungan kala Ilham memasuki halaman rumah itu begitu security membukakan gerbang.
Tak lupa para security itu juga menyambutnya dengan hangat dan sopan layaknya menyambut bos besar mereka.
“Setelah ini kunci gerbangnya, jangan sampai ada yang seenaknya keluar masuk di rumah ini tanpa seizinku.”
“Baik tuan.” Jawab salah satu pria paruh baya yang sedang berinteraksi dengan Ilham.
Setelah memberikan perintah seperti itu, Ilham kembali menancap gas menuju garasi dan memarkir mobilnya di sana. Begitu sudah diparkir dia mengitari mobilnya dan membuka pintu untuk istrinya namun tak lupa membuka pintu untuk adik iparnya sebagai bentuk penghargaan pada adik iparnya sebagai satu-satunya keluarga Monita.
Di luar dugaan, begitu Ilham hendak membukakan pintu untuk Eden, gadis itu lebih dulu membuka pintunya sendiri dan keluar dari mobil seraya menatap kakak iparnya dengan tatapan tak bersahabat.
“Aku bisa buka sendiri.” Ketus Eden kemudian berjalan begitu saja mendahului Ilham dan Monita.
“Den.” Tegur Monita namun Eden terus melangkahkan kakinya masuk lebih dulu ke rumah megah itu membuat Monita tidak enak pada suaminya.
“Tidak apa-apa sayang, wajar dia marah yang aku lakukan padamu waktu itu sudah sangat keterlaluan, dan sampai saat ini aku sangat menyesali hal itu.” Tutur Ilham tampak lesu lalu ia tersenyum kembali agar terlihat seolah baik-baik saja agar istrinya tidak khawatir.
“Aku sudah memaafkanmu mas, aku harap kejadian yang sudah-sudah tidak akan terulang lagi, walau pun sebenarnya aku tidak tau keputusanku kembali padamu ini benar atau tidak, karena sejujurnya aku merasa tidak enak berada di posisi ini, menjadi istri kedua, hal ini membuat aku semakin merasa bersalah pada mbak Naomi.” Ungkap Monita yang memang masih merasa posisinya saat ini tidak lah benar karena pasti akan menyakiti hati sang ratu penghuni pertama hati Ilham.
Mendengar itu, Ilham tertegun sejenak, benar juga, hal ini membuat ia kembali dalam posisi sulit. Dia pasti akan kembali menjadi suami yang tidak adil, buktinya kebersamaan dia dan Monita saat ini akan menyakiti hati istrinya yang lainnya. Memang manusia tidak akan pernah adil sebagaimana adilnya Tuhan.
“Kamu janji ya tidak akan meninggalkan aku lagi.” Pintah Ilham kemudian.
Monita mengangguk, sejujurnya hatinya masih ragu, tapi dia memilih patuh saja. Biarkan semua mengalir seperti air.
Melihat anggukan sang istri, Ilham menarik sudut bibirnya lalu mengecup kedua pipi sang istri berulang-ulang, lalu beralih ke bibirnya.
Mendapat serangan dadakan begitu, Monita jadi panik sendiri. Pasalnya Ilham menciumnya kala dia tengah menggendong Dikta.
“Mas, jangan buat mata Dikta jadi tercemar. Kamu tidak boleh menciumku di depan anak kita.” Protes Monita menatap luar biasa tajam pada sang suami yang selalu memangsanya di sembarang tempat.
“Tidak apa-apa sayang, Dikta nanti kalau kau sudah besar kau harus banyak mencium banyak wanita, agar kau bisa merasakan betapa indahnya menikmati hidup.” Ujar Ilham sembari menatap anaknya yang kini juga sedang menatapnya dan tersenyum lebar seakan mengerti apa yang papanya katakan.
Disaat Ilham berinteraksi seperti itu dengan Dikta, Monita justru semakin geram. Ia mendelikkan matanya ke arah sang suami seakan ia ingin menguliti suaminya hidup-hidup. Bagaimana tidak, anak sekecil ini diajari yang tidak-tidak, dasar laki-laki, kalau berbicara suka seenak dengkul.
“Bercanda sayang.” Nyali Ilham langsung ciut begitu mendapat tatapan tajam dari sang istri, demi membunuh salah tingkahnya, ia segera menurunkan koper-koper Monita dan Eden dari mobil dan mengajak Monita masuk.
Begitu masuk ke dalam rumah, Ilham langsung mengunci pintu rumahnya dan memasukkan benda kecil itu ke dalam saku celananya.
__ADS_1
Monita yang melihat itu merasa suaminya seperti akan mengurungnya dalam sangkar emas ini, bukan tanpa alasan, Ilham melakukan itu agar istrinya tidak kabur-kabur lagi seperti yang sudah-sudah. Ketakutan Ilham akan kehilangan Monita membuat dia benar-benar mengurung istrinya di istanah mewah itu.
“Mas, ini rumah kamu?” Tanya Monita demi membunuh rasa penasarannya yang sejak tadi menyelimuti hatinya. Entah sudah rumah keberapa itu.
“Rumah kamu sayang, semuanya atas nama kamu. Aku tidak akan membawamu ke apartemen sempit itu lagi atau ke rumah utama.”
“Rumahku? Sejak kapan rumah ini mas beli?”
“Sejak kamu kabur, aku memang membeli rumah ini untuk mengurungmu agar tidak kabur-kabur lagi, kamu kan punya hoby kabur.” Jawab Ilham santai dan sontak membuat Monita merasa kesal, merasa seperti tawanan suami sendiri.
“Apa perlu harus ada mereka juga?” Tanya Monita menatap kesal 4 orang pria berbadan kekar dengan seragam hitam mereka sedang berdiri tegak di luar tepatnya di depan pintu rumah itu.
“Iya mereka pengawal yang aku tugaskan untuk menjaga kalian di sini, jadi jangan coba-coba lari karena mereka sudah terlatih untuk mengejar orang hilang dan akan dengan mudah mereka temukan meski kau mengganti identitas sekalipun.” Jawab Ilham menakut-nakuti persis seorang ayah yang menakuti anaknya di kala anaknya melakukan kenakalan.
Ilham tau istrinya tidak akan nyaman diperlakukan seperti itu, namun demi menjaga kewarasannya yang hampir gila ditinggal Monita, membuat dia terpaksa harus menjaga Monita seketat ini. Tidak hanya itu, hal ini juga bisa melindungi mereka dari orang jahat yang akan berniat mencelakai keluarga kecilnya.
****
“Bi’ bagaimana bisa bibi’ pingsan begini? Apa yang terjadi?” Tanya bu Nancy yang merasa ada yang tidak beres di rumah putranya ini.
Setelah merasa cukup tenang, bi’ Ratih menjelaskan kronologinya dari awal kejadian hingga bagaimana dia pingsan tak sadarkan diri.
Mendengar itu bu Nancy sontak menutup mulutnya yang menganga, dia cukup syok mendengar cerita ini, rupanya rumah putranya ini sudah tidak aman lagi, dia juga sempat menyayangkan Ilham yang kurang menjaga keamanan rumah tanpa adanya bodyguard yang berjaga, padahal belum tau saja bu’ Nancy, seluruh bodyguard Ilham sudah ia tugaskan menjaga kediaman sang istri kedua.
“Mas, cek cctv, kita harus menemukan orang yang sudah berani menyelinap masuk ke rumah ini.” Titah bu Nancy pada suaminya yang juga memiliki akses cctv rumah itu.
Agam hanya mengangguk lalu mengeluarkan ponsel dari sakunya untuk melihat cuplikan cctv semalam.
“Lalu di mana Naomi bi’? Apa dia baik-baik saja?” Tanya Nancy yang belum sempat memeriksa menantunya karena sibuk mengembalikan kesadaran bi’ Ratih.
“Nyonya Naomi masih ada di kamarnya sebelum kejadian itu nyonya.” Jawab bi’ Ratih dengan suara serak seakan masih syok dengan kejadian tadi.
“Aku ke kamar Naomi dulu ya pa, mama khawatir terjadi sesuatu padanya, lagi pula Ilham mana lagi, kenapa belum pulang juga.” Nancy berdecak kesal, ia tau Ilham keluar kota karena Naomi yang menceritakan.
“Tunggu ma, ada yang akan papa perlihatkan.” Suara suaminya menghentikan langkah Nancy yang hendak beranjak menuju kamar menantunya.
Dari raut wajah Agam, terlihat gurat kemarahan di sana, Nancy sendiri tidak paham apa yang terjadi, kenapa suaminya jadi tampak begitu marah. Ia berkesimpulan, mungkin pelakunya sudah diketahui, sehingga Nancy penasaran dan kembali mendudukkan dirinya di sofa lalu menunggu apa yang akan suaminya tunjukkan.
Begitu Nancy menyaksikan rekaman cctv itu, dia sontak menutup mulutnya yang menganga, matanya membulat sempurna. Ini lebih mengejutkan dari sekedar mengatahui pelaku kejahatan semalam. Jantungnya seakan berhenti berdetak dan merasakan panas yang menjalar di sekujur tubuhnya. Dia merasa lemas seketika.
__ADS_1
Rupanya, pada saat Agam ingin menyaksikan cuplikan cctv semalam, yang ada dia malah salah pencet dan tangannya malah memencet rekaman cctv beberapa bulan lalu di ruang keluarga, yang menampilkan aktivitas Naomi yang cukup membuat mereka kaget bahkan mendapatkan satu fakta yang teramat sangat mencengangkan.