
Malam sudah menyapa, tepatnya pukul 19.00 Nancy masih di rumah anaknya sedangkan suaminya pak Agam sudah pulang lebih dulu karena besok pagi-pagi sekali ada meeting sementara jarak antara rumah Ilham dan kantor pak Agam amatlah jauh.
Saat ini Ilham dan pak Agam memimpin perusahaan yang berbeda, Ilham CEO perusahaan utama sedangkan pak Agam CEO dari cabang perusahaan utama, namun masih dalam satu naungan.
Di saat Naomi tengah sibuk mengurung diri di kamarnya, Monita justru tengah menyibukkan diri membantu bi’ Ratih untuk menyiapkan makan malam.
“Nona, bibi’ itu senang sekali nona mau datang lagi ke sini.” Ujar sang bibi’ mengelus lembut bahu Monita.
Pelayan-pelayan di rumah itu memang sangat menyayangi Monita karena perlakuan hangat yang kerap ia tunjukkan.
“Iya bi’ Monita juga senang sekali bisa bertemu bibi’ dan bisa bertemu Ija.” Tuturnya sembari menatap gadis remaja itu dengan senyum hangatnya.
“Kak, dek Dikta lucu ya. Tadi Ija ajak bermain, dia senang sekali kak, dia memang anteng begitu ya kak? Suka dekat dengan siapa saja?”
“Iya dia memang seperti itu, kakak pikir mungkin karena usianya yang baru tiga bulan membuat dia suka dipeluk siapa saja karena bayi usia tiga bulan sebenarnya belum mengenal betul orang tuanya. Tapi sudah mau jalan empat bulan ini dia tidak berubah. Masih saja suka di peluk orang asing.” Celetuk Monita kemudian.
“Ija jadi penasaran, gimana ya kak rasanya punya anak?”
“Husss, sembarangan. Kamu masih anak kecil, jangan berpikir ke arah sana dulu. Awas kamu ya, sampe ibu’ tau kamu main-main dan mulai pacar-pacaran. Ibu sita hp kamu.” Ancaman paling klise yang kerap Ija dapatkan dan itu sudah tidak mempan lagi, karena nyatanya meski pernah ketahuan pacaran, ponselnya tidak pernah di sita.
“Hmmm paling juga cuma ancaman. Oh ya kak Monita, gimana si caranya biar bisa punya suami kaya seperti kakak.”
Mendengar pertanyaan anaknya, bi’ Ratih langsung panik dan spontanitas menepuk mulut sang anak yang seenak jidat kalau bicara.
Melihat itu Monita tertawa lepas, mereka bersenda gurau usai menyajikan makan malam di meja makan itu. Tak di sengaja sepasang mata tengah mengawasi mereka. Perasaan kagum mulai terasa.
“Pantas Ilham jatuh cinta sampai sebegitunya pada gadis itu, dia memang orangnya humble dan suka berbaur dengan orang kelas bawah meski kini dia sudah menjadi istri seorang CEO.” Gumam Nancy dalam hati memandang kagum ke arah Monita.
Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengayunkan kakinya menghampiri mereka.
“Ekheem.” Deheman Nancy sontak menghentikan tawa mereka, ekspresi ceria yang sejak tadi Monita tunjukkan beralih menjadi espresi tunduk campur gugup kala Nancy datang menghampiri mereka, dan menatapnya dengan intens.
“Kamu mau ini?” Tanya Nancy menawarkan sebuah kantong plastik putih yang bisa Monita pastikan itu berisi martabak telor kesukaannya.
“Ambil.” Nancy meraih tangan Monita dengan wajah yang masih sama angkuhnya dan meletakkan kantong plastik itu ke tangan Monita.
Mama Nancy memang baik dan lembut, namun akan berubah menjadi garang jika perasaannya disakiti apalagi sampai dipermainkan. Seperti saat ini, meski pun dia perhatian, namun dia tidak serta merta mengakui kalau dia sudah memaafkan mereka meski sikapnya menunjukkan kepedulian.
“Te-terima kasih ma. Tapi boleh Monita bagi dengan mas Ilham?” Tanya Monita dengan polosnya. Raut wajah takut yang sejak tadi ia tampilkan berubah kala dia menatap sang pemilik wajah ayu yang tengah menyembunyikan keayuannya itu dengan binar keceriaan, tentu saja itu akan membuat hati siapa saja yang melihatnya luluh.
Nancy hanya mengangguk dan berlalu begitu saja dari hadapan mereka. Benar-benar polos, pikir Nancy. Meski Nancy sudah menampilkan tatapan tak bersahabat, namun dia tidak ciut sama sekali. Berbeda halnya dengan Naomi yang sejak tadi hanya mengurung diri di kamar usai amarah yang Nancy dan Agam lontarkan pada mereka tadi.
Perlu Nancy akui, perbedaan Monita dan Naomi jelas terlihat. Nancy bukan baru kali ini mengenal Monita. Sewaktu Monita tinggal di rumah itu, Nancy yang kerap berkunjung ke sana memperhatikan semua perilaku Monita.
Wanita yang berasal dari desa itu sangat rajin dan muda bergaul tentu saja. Terbukti dengan kedekatan mereka yang sempat terjalin meski baru beberapa kali bertemu.
Kepolosan, keceriaan serta kelembutan Monita membuat hati Nancy terenyuh. Bahkan dia teringat sewaktu wanita manis itu memasak makanan kesukaan Nancy dan bergantian memijat kakinya, jujur selama bertahun-tahun ini, Nancy tidak merasakan hal semanis itu dari menantunya Naomi.
__ADS_1
Bahkan Nancy juga tau bahwa, Naomi tidak pernah serius dalam merawat anaknya Ilham. Nancy kerap mendapati Naomi yang malah asyik memainkan benda pipih miliknya ketimbang melayani kebutuhan suaminya. Pagi harinya, Naomi malah tertidur pulas dan akan bangun ketika matahari sudah meninggi tanpa mempersiapkan segala keperluan Ilham untuk ke kantor.
Namun semua itu tidak Nancy jadikan masalah asalkan anaknya bahagia. Selagi masih ada pelayan di rumah itu, tidak masalah walau pun Naomi tidak memasak, toh masih ada mereka yang akan menyiapkan semua keperluan Ilham. Untung saja pelayan di rumah mereka bukan wanita muda yang pintar menggoda, dan beruntungnya anak Nancy ini bukan tipe laki-laki yang suka bermain wanita. Jadi hal yang tidak diinginkan bisa diminimalisir kala Naomi lalai dalam tugasnya sebagai istri dan malah menyerahkan sepenuhnya tugas itu pada pelayan.
Bagaimana pun buruknya perangai menantunya, asal tidak selingkuh. Nancy tak berniat ikut campur karena meski tak pernah merasakan kejahatan sang mertua namun Nancy benci kala melihat seorang mertua menindas menantunya dan selalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Itulah mengapa Nancy tidak mau ikut campur terlalu jauh dalam urusan rumah tangga anaknya karena jika hal itu di posisikan padanya tentu saja itu sangat menjengkelkan, pikirnya.
****
Di rumah yang lain, Eden sedang menunggu kepulangan kakaknya yang sejak pagi pamit ke rumah utama dan sampai sekarang belum pulang juga.
Hal itu membuat Eden gusar, sudah hampir seharian kakaknya tidak pulang juga. Bukan tanpa alasan, Eden benar-benar merasa kesepian. Hingga akhirnya, notifikasi pesan masuk dan menampilkan nama Andre yang bisa ia lihat dari layar kunci ponselnya.
Melihat Andre mengirim pesan padanya Eden sontak menarik sudut bibirnya. Dia tersenyum senang dan langsung meraih ponsel tersebut dan segera membuka pesan masuk Andre.
“Sudah makan?” Tanya Andre basa basi padahal memang basi sekali.
Eden hanya terdiam tanpa membalas pesan Andre. Dia tidak berkeinginan untuk langsung membalasnya untuk membuat Andre penasaran. Seperti halnya wanita pada umumnya, Eden juga kerap kali suka jual mahal, walau sebenarnya jiwanya meronta-ronta menginginkan Andre.
“Mau ku bawakan seblak?” Tanya Andre lagi dan sontak membuat mata Eden membulat dengan senyum bahagia yang terukir di wajah manisnya.
Dengan segera ia membalas pesan Andre. Padahal tadi dia masih ingin jual mahal, tapi begitu Andre membahas makanan kesukaannya, gengsi yang sudah Eden bangun dengan susah payah runtuh seketika. Seblak memang makanan kesukaannya, meski sedang marah, hatinya akan cepat berubah jika sudah ditawari seblak.
“Mau mau..” jawab Eden dengan emoji ngiler.
“Sharelock alamat barumu.” Tanpa pikir panjang Eden langsung menshare lock lokasinya saat ini.
Saking tak sabarnya, Eden bahkan menunggui Andre di post satpam. Eden ingin menunggu di depan gerbang, namun karena Ilham memerintahkan security agar tidak ada yang boleh keluar masuk rumah itu tanpa izinnya, jadi mereka patuh.
“Pak security tolong biarkan aku menunggu di depan saja. Kalau di sini kan aku tidak bisa melihat dengan jelas mobil yang akan datang.” Eden memohon dengan nada memelas kepada kedua security itu.
“Tidak bisa nona, kami sudah mendapat mandat dari tuan muda, agar tidak sembarang membiarkan orang keluar masuk rumah ini.” Jawab Security itu dengan tegas. Karena tidak mau kena getahnya.
“Tapi kan…”
Tin tin tin…
Ucapan Eden tertahan begitu mendengar bunyi klakson mobil yang tak asing itu dari balik gerbang.
Seketika bibirnya mengukir senyum kebahagiaan, dengan wajah girang dia berlari menghampiri gerbang itu untuk menanti kedatangan Andre yang akan membawakannya seblak.
“Pak tolong buka gerbangnya.” Titah Andre pada kedua security itu begitu dia menurunkan kaca mobilnya.
“Maaf tuan, sesuai perintah tuan muda kami tidak boleh sembarangan membuka kan gerbang untuk orang asing.” Tegas security itu. Mereka adalah security baru, tentu saja mereka tidak mengenal siapa Andre. Berbeda dengan security di rumah utama, Andre bisa keluar masuk rumah itu dengan bebas karena dia juga memiliki derajat yang sama di mata para pekerja Ilham dengan tuan rumah mereka.
“Tapi saya asisten pribadi tuan kalian, jadi tolong biarkan saya masuk.”
“Andre.” Pria itu menoleh ketika mendengar suara berat dari mobil lain memanggil namanya.
__ADS_1
“Tuan.”
“Biarkan dia masuk! Dia asisten pribadi saya.” Titah Ilham pada kedua security itu. Mendengar itu mereka jadi merasa tidak enak pada Andre lalu dengan sigap segera membukakan gerbang untuknya.
“Maaf tuan kami tidak tau.” Ujar salah satu pria paruh baya itu menunduk sopan.
Namun Andre tak menggubrisnya, ia segera menancap gas dan menjalankan mobilnya memasuki pekarangan rumah Ilham.
Seketika kedua security itu merasa takut dan nyali mereka ciut kala melihat tatapan Andre yang luar biasa tajam setajam tusuk gigi. Asistennya juga sama garangnya dengan sang majikan, gumam kedua security itu.
****
“Coba jelaskan padaku Andre, bagaimana kamu bisa menyembunyikan mereka dari saya?” Tanya Ilham datar. Ilham tidak marah suaranya masih biasa. Namun kenapa itu terdengar menakutkan bagi Monita dan Eden.
Di saat dua wanita itu ketakutan, Andre justru tampak santai. Asisten Ilham ini memang terlihat tegas, jika Ilham benar, dia akan senantiasa mendukung Ilham. Tapi jika pria itu salah, Andre tidak akan mendukungnya sama sekali.
“Maaf tuan, tapi keputusan nona adalah benar, saya pikir, akan lebih baik kalau dia pergi menenangkan diri dulu dari pada terus merasa tertekan dengan keadaan. Semua itu saya lakukan demi nyawa Dikta yang saat itu masih dalam kandungan. Karena jujur saja, pada saat dokter memeriksa keadaan nona yang memburuk waktu itu, dokter secara tegas melarang nona untuk tidak banyak berfikir karena itu akan sangat membahayakan calon bayinya.” Jelas Andre tanpa rasa takut sedikit pun.
Mendengar itu Ilham terdiam, sejujurnya hatinya sesak jika kembali mengingat kebodohannya yang dengan tega meninggalkan Monita yang hampir meregang nyawa demi mengejar Naomi agar tidak ke pengadilan. Rasanya dia seperti suami yang tak berperasaan kala mengingat peristiwa pahit itu.
Rasa bersalah Ilham kembali muncul. Jika saja terjadi apa-apa dengan Dikta waktu itu, dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri. Rasa sakit itu kian menyeruak jauh ke dalam lubuk hatinya, kala sorot matanya menatap manik indah Monita dengan sendu. Dari netra cantik itu, masih ada sedikit kekecewaan yang terbaca. Kembali terbayang dalam benaknya wajah kecewa Monita menatapnya di tengah isak tangisnya menahan sakit. Dan hal itu sukses membuat dada Ilham terasa sesak.
Namun masih ada hal yang menjadi tanda tanya besar darinya untuk Andre, dan itu benar-benar mengganjal pikirannya. Hingga ia kembali bertanya.
“Ndre! Apa kau tau Monita hampir menikah dengan David? Andai kau juga tau soal itu, kau benar-benar tega membiarkan istri saya hampir dimiliki pria lain Andre! Dan hal itu tidak akan ku biarkan.” Geram Ilham kembali melayangkan tatapan tajam ke arah sang asisten.
Andre mengerutkan dahi, pasalnya dia benar-benar tidak tau perihal itu. Dia memang tau keberadaan Monita dan Eden, bahkan dia tau David menyediakan tempat baru dan nyaman untuk mereka. Tapi soal pernikahan, Andre benar-benar tidak tau perkara itu.
“Hampir menikah?”
“Kau bertanya karena benar-benar tidak tau atau hanya pura-pura…” ucapan Ilham terhenti kala Monita menyergah tudingan itu.
“Mas!”
“Apa sayang?”
“Kak Andre tidak tau apa-apa soal pernikahanku dan David. Jadi mas jangan menyalahkan kak Andre seperti itu. Hanya aku David dan Eden yang tau, jangan melibatkan orang lain dalam masalah ini, dan cukup mas! Tidak perlu dibahas lagi, bukan kah kita juga sudah baik-baik saja? Kenapa kamu terus mengungkitnya? Bahkan di saat kamu meninggalkan aku dengan tega seperti dulu saja akan aku lupakan tapi kenapa kamu tidak?”
Deegg
Jika ibu negara sudah bersuara, tandanya dunia tidak baik-baik saja. Ilham yang sejak tadi memperlihatkan ketegasannya seketika ciut begitu istrinya melayangkan protes, apalagi sampai mengungkit kesalahannya. Itu benar-benar sangat menohok bagi Ilham.
“Maaf sayang.”
Melihat perubahan suasan hati Ilham tersebut membuat Andre menahan tawanya. Seorang CEO yang terkenal dingin dan kejam, bisa takluk juga jika sudah berhadapan dengan wanita tercintanya ini.
“Suami takut istri ternyata.” Batin Andre dengan wajah tengilnya.
__ADS_1
“Sialan kau Andre! Awas saja kalau sudah di kantor, aku akan memberikanmu pelajaran.” Gumam Ilham dalam hati, yang sadar dengan wajah tengil Andre.