Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 122 Ungkapan Cinta Andre


__ADS_3

Sepanjang jalan Eden dan Andre sama-sama terdiam dengan pikiran mereka masing-masing. Andre melirik dari ekor matanya, gadis itu sedang duduk membelakangi Andre sembari memandangi pemandangan jalan dari luar jendela.


“Ekheem.” Andre berdehem dan sontak membuat Eden menoleh sekilas, hanya sekilas kemudian ia kembali fokus memandangi pohon-pohon rindang dan gedung pencakar langit yang mereka lewati.


Melihat Eden terus mengabaikannya, Andre menekan tombol penutup kaca mobil hingga menghalangi pemandangan jalan tersebut, gadis itu menautkan alisnya kala menatap Andre, raut wajahnya tampak kesal.


“Duduk yang benar, aku tidak suka melihat punggungmu.”


Eden menuruti perkataan Andre dan membenarkan posisi duduknya tanpa menjawab dengan ucapan. Sejak di kampus tadi Eden terus mendiamkan Andre.


“Ada apa dengannya? Apa dia marah aku mengganggu waktunya bersama Arga? Tapi kalau aku tidak datang tepat waktu, bisa-bisa dia akan menerima laki-laki tengil itu.” Gumam Andre dalam hati sembari melirik singkat ke arah Eden.


“Sepertinya aku harus melarangnya terang-terangan agar dia tidak menerima cinta Andre.”


“Den.”


“Hmm.”


“Singkat sekali.” Batin Andre sedikit was-was, takut kalau gadis bermanik indah ini marah.


“Boleh aku tanya sesuatu?”


“Apa?” Eden balik bertanya tanpa melirik Andre sedikitpun.


“Apa kamu mencintai Arga?”


“Tidak.” Jawab Eden singkat, padat dan sama sekali tidak jelas.


“Tidak? Lalu kenapa tadi kamu hampir menerima cintanya?”


Kali ini Eden melirik pemilik wajah rupawan itu dengan tatapan datar, ya datar karena Eden benar-benar kesal saat ini.

__ADS_1


“Aku memang tidak mencintainya, tapi aku ingin belajar mencintainya.” Jawab Eden dengan lugas.


Mendengar ungkapan Eden, pria itu menepikan mobilnya di tepi jalan yang cukup sepi, kemudian menatap lekat sepasang netra cantik itu.


“Aku harap, kamu tidak membalas perasaannya Den. Jangan terima dia please aku mohon.” Ujar Andre dengan suara serak, raut wajahnya penuh permohonan.


“Kenapa? Kenapa kakak selalu menghalangi setiap langkah laki-laki yang datang padaku. Aku sudah dewasa kak, tidak seharusnya kakak mengekangku dengan cara seperti ini. Kak Ilham saja tidak keberatan, kenapa sekarang kakak yang keberatan? Kakak hanya ditugaskan kak Monita dan kak Ilham untuk mengantar jemput aku, bukan mengatur seluruh hidupku!” Imbuhnya dengan nada yang naik satu oktaf, kesal sekali rasanya gadis ini, Andre terus saja menyembunyikan perasaannya dan tidak berani mengutarakannya secara langsung pada Eden. Itu yang membuat gadis ini kesal hingga kini.


Seperti biasa Andre tetap bungkam kala Eden mempertanyakan alasan Andre melarangnya dekat dengan pria mana pun. Rasanya ingin Eden acak-acak otak pria ini agar dia sadar dan lebih peka lagi.


“Kakak tidak bisa menjawab kan? Sudah kuduga, kakak selalu tidak punya jawaban tiap kali aku bertanya soal ini.” Ucap Eden dengan senyum getirnya.


Hingga saat ini Andre masih berfikir bahwa Eden tidak punya perasaan apapun padanya. Padahal Ilham sudah memberi lampu hijau padanya, tapi Andre belum juga punya keberanian untuk mengutarakan perasaan cintanya.


“Baiklah, aku pikir kakak tidak punya alasan apa-apa untuk melarangku. Kalau begitu aku akan menjawab ungkapan cinta Arga tadi lewat pesan saja.” Tuturnya dengan santai, seraya merogoh ponsel dari dalam tasnya dan sontak membuat Andre segera mencekal tangan Eden.


“Tunggu Eden.”


“Apa sih.” Eden menepis tangan Andre kemudian kembali merogoh ponselnya.


“Ah persetan dia mau atau tidak.”


Eden hendak mengetik sesuatu di kolom chatnya bersama Arga, Andre jadi ketar ketir dan bergegas menghentikan jemari Eden yang mulai bergerak mengetik tombol qwerty di ponsel tersebut.


“Aku mencintaimu Eden!” Ungkap Andre dengan lantang. Akhirnya kalimat itu lolos juga dari mulut Andre setelah sekian lama dia bungkam. Ya Andre setakut itu mendapat penolakan dari gadis ini. Gadis yang sudah cukup lama mengisi relung hatinya, tapi berhasil membuat Andre gugup luar biasa saat menyatakannya.


Eden tertegun mendengar ungkapan Andre, pasalnya dia sudah menunggu lama kalimat sakral itu keluar dari mulut pria ini. Menunggu Andre mengungkapkan kalimat ini, bagaikan menuggu hujan turun di musim panas.


“Kenapa jadi gugup? Bukan kah ini yang aku tunggu-tunggu? Ada apa denganku sebenarnya, tapi tunggu, apa tadi dia mengungkapkan perasannya? Aku tidak salah dengar kan?” Batin Eden yang masih saja sulit mencerna ucapan Andre yang begitu mendadak baginya.


“Den? Kenapa diam? Kamu marah kakak mengutarakan perasaan kakak yang sebenarnya?” Tanya Andre mulai mewanti-wanti dan menyiapkan hati jika nanti mendapat penolakan dari Eden.

__ADS_1


“Hah? Kenapa kak?” Eden mendadak lag seketika, gadis ini jadi bingung sendiri apa yang harus ia katakan, pasalnya Andre tidak bertanya apa dia ingin menjadi pacar Andre atau tidak. Sungguh Eden jadi bingung sendiri perihal apa yang akan ia jawab nanti.


“Apa kamu marah kakak mengutarakan perasaan kakak?” Tanya Andre lagi masih dengan kesabaran penuh. Dia harus sabar karena ini adalah moment paling berharga di dunia.


“Ekhem.” Eden berdehem sejenak. Kemudian menatap Andre dengan santainya. Ya meski sudah begini, Eden masih memasang gengsinya. Padahal tanpa Andre ketahui, hati Eden sedang menjerit bahagia saat ini, rasanya dia ingin sekali menari-nari jika bisa.


“Jadi kakak mencintaiku?”


“Iya, apa kamu ingin menjadi pacarku?”


Tepat sekali! Pertanyaan itu yang Eden nantikan sejak tadi. Kenapa tidak dari tadi sih? Pikir Eden, kalau begini dia tidak perlu berpikir panjang jawaban apa yang harus dia katakan.


Tak lama, senyum manis terbit dari bibir ranumnya. Dia menatap Andre dengan lekat.


“Dia tersenyum? Apa arti senyuman itu? Apa itu artinya?” Andre membatin dengan sejuta harapan dalam benaknya.


“Jadi bagaimana Den? Apa kamu menerima kakak?”


Eden mengangguk dengan senyum yang terus terukir di wajah cantiknya. Tidak biasanya ia seperti ini, raut wajah Eden tampak malu-malu tapi mau.


“Jadi kamu terima kakak Den? Kita pacaran sekarang?” Tanya Andre dengan binar di wajahnya.


“Iya, kita pacaran kak.” Jawab Eden dan sontak mendapat pelukan erat dari Andre tanpa aba-aba.


Mereka sebahagia itu, ungkapan cinta itu benar-benar melegakan perasaan Andre saat ini. Kini dia sudah tidak penasaran lagi dengan perasaan gadis belia yang di depannya sekarang. Cintanya berbalas, mereka resmi pacaran. Andre berjanji, dia tidak akan menyakiti Eden walau hanya seujung kuku. Dia akan terus mencintai Eden selamanya dan seutuhnya tidak akan pernah pudar sekali pun dimakan usia.


“Kakak bahagia sekali Den, akhirnya kakak bisa memilikimu setelah sekian lama kakak memendam perasaan ini.” Ungkap Andre, seraya melepas tautan tubuh mereka lalu ia mengusap lembut wajah wanitanya ini.


Mendengar ungkapan itu, Eden sudah sangat paham, Eden adalah wanita perasa, dia paling cepat tanggap dengan segala sesuatu yang dia lihat. Tanpa Andre jelaskan, dia sudah tau perasaan Andre padanya sejak lama.


“Kakak mencintaiku sejak lama?”

__ADS_1


“Iya sayang, sudah cukup lama bahkan sebelum kamu duduk di bangku kuliah.”


“Rupanya aku duluan yang menyukainya. Tapi tidak apa-apa, yang penting sekarang dia sudah resmi jadi milikku.” Batinnya sembari terus mengulas senyum termanisnya.


__ADS_2