Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 73 Selalu Ada Kesempatan


__ADS_3

Setelah kepulangan bu Nancy dan pak Agam, Ilham dan juga Monita tengah duduk di ruang tamu, pikiran Monita yang tadinya sempat terhibur, kini kembali dibuat gelisah karena Eden belum pulang juga.


Monita berjalan mondar mandir seperti setrikaan sembari memegangi ponselnya, matanya sesekali melirik jam dinding besar nan mewah yang terletak di sudut ruangan.


“Sayang, duduklah, Andre dan Eden sudah dalam perjalanan ke sini.” Ucap Ilham sembari memegang kedua bahu istrinya.


“Kata siapa Mas? Dari tadi Eden tidak membalas pesanku.” Tanya Monita sambil menoleh ke arah Ilham.


“Andre yang mengirim pesan padaku.”


Monita menghela napas dalam dan melepaskan cengkaman tangan Ilham dari bahunya lalu mendudukkan dirinya di sofa.


Detik berikutnya, suara Eden sayup-sayup terdengar, Monita segera bangkit dari duduknya dan menatap ke ambang pintu dengan antusias.


Akhirnya yang di tunggu-tunggu pun datang, begitu melihat Eden sudah berdiri di ambang pintu, Monita berlari kecil ke arah Eden dan berhambur memeluk sang adik.


Tetes demi tetes buliran bening jatuh di pipi ibu hamil itu, rasa bersalah kian menyeruak ke dalam hatinya, Monita menyesal sudah berani menampar adiknya hanya demi membela rivalnya yaitu Naomi, beribu kata maaf pun keluar dari mulut Monita, namun Eden masih belum membalas pelukan sang kakak.


Monita melepaskan tautan tubuh mereka, dan memegang kedua bahu Eden dengan linangan air mata.


“Tidak seharusnya kakak menamparmu, maaf, sekali lagi kakak minta maaf, kakak menyesal.” Ucap Monita dengan tatapan sendunya.


Tanpa sepatah katapun, Eden mengangkat tangannya untuk mengusap air mata Monita.


Eden melepaskan cengkaman tangan kakaknya dari bahunya dan menggenggam kedua tangan itu, sambil tersenyum lirih Eden berkata.


“Mungkin ini juga salahku, karena aku sudah berani adu mulut dengan kak Naomi, padahal kakak dan ibu sudah mengajarkan aku untuk tidak berbuat kurang ajar pada orang yang lebih tua, tapi perlu kakak tau, tak peduli berapa pun umur orang itu, kalau dia berani menjahati apalagi sampai mengganggu kakak, aku tidak akan tinggal diam kak.”


“Sudah sayang, dendam itu tidak baik, kakak tidak setuju kalau kamu membiasakan sifat itu.”


Eden pun terdiam, dia tidak bisa berjanji pada kakaknya untuk tidak bersikap dendam, pasalnya jika itu sudah menyangkut keluarganya dia tidak akan tinggal diam.


“Jadi kamu memaafkan kakak?” Tanya Monita lagi.


“Aku yang salah kak, jadi kakak tidak perlu meminta maaf.”


“Tapi kakak juga salah, kakak sudah…”


“Sayang, sudahlah dari pada terus berdebat seperti ini, lebih baik biarkan Eden istirahat di kamarnya.” Sergah Ilham melerai perdebatan kecil antara dua kakak beradik itu.


“Ya sudah ayo kakak antar.” Monita menuntun Eden ke kamarnya.


****


“Pa, mama ingin mengajak Monita tinggal di rumah kita, mama kasihan melihat anak itu, dia sudah tidak punya ibu, suaminya juga jauh.” Ucap Nancy pada suaminya saat mereka sedang duduk bersantai di samping rumah.


“Sudahlah ma, kan di sana ada bi’ Ratih, papa yakin bi’ Ratih pasti bisa menjaga mereka berdua dengan baik.”


“Iya juga ya pa.”


“Oh ya pa, gimana kalau besok malam, kita ajak mereka bertiga makan malam.” Tambah Nancy mencetuskan sebuah ide.


“Besok malam papa lembur ma, lusa malam saja ya.”

__ADS_1


“Hmmm papa selalu saja begitu, tiap mama ajak tidak pernah langsung setuju, sudah berapa kali mama katakan, serahkan saja perusahaan papa itu pada Roni, dia pasti bisa menghandle semuanya dengan baik, sudah waktunya papa pensiun dan istirahat di rumah, ingat, umur papa sudah tidak muda lagi.” Ketus bu Nancy.


“Belum bisa ma, masih banyak yang perlu papa urus, nanti kalau semuanya selesai, baru papa akan meminta Roni untuk menghandle semuanya, apalagi cucu kita akan segera lahir, papa jadi semakin tenang sekarang.”


Roni adalah lelaki yang usianya 10 tahun lebih muda dari pak Agam, dia adalah orang kepercayaan pak Agam sejak dulu.


“Tapi janji ya pa, lusa malam papa harus ada waktu.”


“Iya papa janji.”


****


Waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 malam, di saat semua orang sudah terlelap dan terbang ke alam mimpi, ada jiwa yang sedang berkelana, di kamar utama tepatnya kamar mereka berdua, Ilham tidak bisa tidur karena memikirkan si bumil di kamar sebelah, pasalnya Naomi terus memeluk erat tubuhnya dari samping, itulah mengapa dia tidak bisa keluar dari kamar itu.


Naomi sudah semakin menununjukkan keegoisannya, dia sudah tidak memberikan sedikit pun kesempatan pada Ilham untuk menemui Monita.


Monita sedang termenung sambil bersandar di sandaran ranjang, dia tidak bisa tidur, malam ini terasa lebih panjang dari malam-malam sebelumnya, pikirannya melayang-layang memikirkan sang suami yang sedang berduaan dengan istri pertamanya.


“Ah Monita, jangan serakah! Wajar jika mas Ilham berduaan dengan Mbak Naomi, mereka kan suami istri, dan mbak Naomi itu istri pertama mas Ilham, cinta pertamanya, jangan rakus Monita!” Batinnya.


Dia kembali menyadarkan dirinya, baginya terlalu rakus jika menginginkan uang sekaligus Ilham, siapa dia? Hanya wanita yang dibayar untuk meminjamkan rahimnya.


Tak ingin terus tenggelam dalam kegelisahan, Monita beranjak dari ranjang menuju dapur untuk membasahi tenggorokannya yang terasa kering.


Sementara di kamar utama, Ilham semakin dibuat gelisah, pikirannya tambah kalut, dua istri dalam satu atap yang sama, bila hatinya teguh seperti semula, maka tidak akan gamang seperti malam ini.


Sayang, hati pria dingin itu kini mulai tumbuh cabang yang baru, ia mencintai istri pertamanya namun tak bisa hidup tanpa istri mudanya.


Tidak bisakah ia memiliki keduanya? Hatinya juga sudah mulai serakah.


Dia berjalan mengendap-endap keluar dari kamar, membuka pintu dengan perlahan hingga tak menimbulkan bunyi, begitu sudah di luar kamar Ilham bernapas lega, ia segera berjalan menuju kamar Monita yang ternyata tidak terkunci, Ilham membuka pintu kamar itu, dia menyipitkan mata begitu melihat ranjang yang kosong, ia pun melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar itu dan mencari Monita di kamar mandi namun nihil tidak ada satu orang pun di sana, di balkon dan walk in closet juga tidak ada.


Detik berikutnya, Ilham berjalan menuruni anak tangga menuju dapur dan benar saja, Monita sedang berada di dapur sedang menenggak segelas air minum.


Ilham pun menyunggingkan senyumannya, ia mengayunkan kakinya mendekati Monita.


“Kenapa belum tidur?” Tanya Ilham ketika ia sudah berdiri di belakang Monita.


Monita pun sontak terkejut dan hampir saja tersedak, dengan cepat ia meletakkan gelas yang sudah kosong di atas meja dan membalikkan tubuhnya menatap Ilham.


“Mas? Sejak kapan kau di sini? Bikin kaget saja.” Gerutu Monita agak kesal.


“Kenapa belum tidur?” Bukannya menjawab Ilham malah balik bertanya.


“Tidak bisa tidur, mas sendiri? Kenapa belum tidur?”


“Aku? Aku tidak bisa tidur.” Jawab Ilham pelan.


“Tidak bisa tidur? Kenapa?” Dahi Monita sedikit mengkerut.


Ilham mulai mendekati Monita, lalu meraih pinggang Monita dan merengkuhnya hingga tubuh Monita menempel di tubuh Ilham, hal itu membuat Monita membulatkan matanya dan jadi panik sendiri.


“Because I miss you.” Jawab Ilham, suaranya terdengar begitu pelan namun sangat dalam.

__ADS_1


Bahkan sorot matanya saat itu juga nampak begitu lekat menatap Monita yang sontak terpaku saat mendengar pengakuan sang suami.


“Apa kamu tidak?” Tanya Ilham lagi.


“Ak… aku…” Monita semakin kikuk dan bertambah gugup saat di tatap begitu lekat oleh Ilham dalam jarak yang dekat, serta pertanyaan itu juga membuatnya semakin gugup, Monita juga semakin gerah saat merasakan pusaka Ilham yang mulai menonjol dari bawah sana dan mengenai perut bagian bawah Monita.


Bahkan rasa gugup yang kini Monita rasakan mengalahkan rasa marahnya pada Ilham yang sudah sering mengabaikannya.


“Apa kau benar-benar tak merindukan aku?” Tanya Ilham lagi dengan tatapan penuh harap.


“Ak.. aku… aku… tidak tau.” Jawab Monita seolah ingin melepas rengkuhan Ilham dari pinggangnya namun sulit.


“Jawab aku.” Ucapnya lembut.


“Mas, kamu sadar ini dimana?”


“Di dapur.”


“Ini tempat terbuka mas.”


“Lalu kamu mau kita berpelukan dimana?”


“Jangan mulai deh mas, lepas!” Pintah Monita sembari berusaha melepaskan rengkuhan Ilham.


“Jawab dulu pertanyaanku tadi.” Ucap Ilham sembari terus mengeratkan pelukannya.


Monita pun mulai membalas tatapan Ilham, saat itu sorot mata Ilham benar-benar serius hingga membuat Monita menelan ludahnya.


“Anggap saja begitu.” Jawab Monita akhirnya.


Mendengar hal itu, seketika membuat Ilham mendengus pelan namun akhirnya tersenyum.


“Jawabanmu tidak sesuai harapanku, tapi itu sudah lumayan dari pada tidak ada jawaban sama sekali.” Ungkap Ilham.


Monita pun akhirnya ikut tersenyum meski pun sangat tipis.


“Tapi kau sangat kejam sayang, sudah membiarkanku terperangkap oleh rasa rindu.”


“Lalu aku harus bagaimana?”


“Tentu saja harus tanggung jawab!” Jawab Ilham masih dengan suaranya yang pelan.


“Caranya?” Monita pun kembali mengerinyitkan dahi.


Begitu mendapat pertanyaan seperti itu dari Monita, Ilham sontak tersenyum lebar, perlahan kedua tangannya mulai meraih pipi Monita yang saat itu nampak sedikit memerah karena gugup, lalu mengusap-usapnya dengan lembut.


“Hanya ada satu cara.” Jawab Ilham setengah berbisik dan kemudian langsung menyambar bibir Monita tanpa permisi.


Awalnya Monita syok serta panik, hatinya benar-benar tak tenang saat sang suami melakukan hal itu di tempat terbuka, area yang paling sering dilewati oleh orang-orang penghuni rumah.


Yang ada dalam bayangan Monita saat itu adalah, ia takut tiba-tiba bi’ Ratih atau Ija bangun dan memergoki mereka berdua, apalagi jika sampai ketahuan Naomi, matilah Monita.


Namun di sisi lain, Monita juga tidak mampu untuk menolak pesona suaminya.

__ADS_1



__ADS_2