
Hari ini, adalah jadwal kontrol kandungan Monita. Ilham meluangkan waktu bahkan rela meninggalkan meetingnya pada Andre demi bisa menemani istrinya periksa kandungan. Sebenarnya bisa saja Eden temani, tapi pria itu tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menikmati moment langkah ini. Bagaimana tidak, pria bertubuh atletis itu sudah melewatkan moment persalinan Monita waktu dia hamil Dikta. Tidak ingin hal itu terjadi, Ilham kerap menemani Monita di saat-saat seperti ini. Apalagi usia kandungan istrinya sudah masuk bulan ke sembilan, Ilham tidak ingin sedikit pun mengabaikan istrinya.
Berbicara soal Eden dan Andre, dua insan itu sudah melangsungkan pernikahan, tepatnya lima tahun yang lalu dan mereka juga sudah dikaruniai satu orang anak laki-laki yang kini sudah menginjak usia 4 tahun.
“Sayang apa kamu tidak ingin tau jenis kelamin anak kita apa?” Tanya Ilham kembali memastikan karena hingga saat ini, Monita belum mau melihat jenis kelamin calon bayinya biar jadi surprise katanya.
Lagi pula Monita tidak memilih harus bayi laki-laki atau perempuan, yang terpenting bayinya sehat dan selamat.
“Tidak perlu mas, mau dia laki-laki atau perempuan aku pasti akan menyayanginya. Lagi pula tujuan USG kan bukan hanya untuk melihat jenis kelamin bayinya, yang terpenting itu letak bayinya normal dan sehat.” Jawab Monita.
Ilham hanya mengangguk tanda mengerti, sama halnya dengan Monita, dia juga tidak mengharapkan jenis kelamin calon bayinya harus apa. Asalkan bayinya sehat dan selamat, Ilham sudah sangat bersyukur.
Adanya dia yang tumbuh dalam rahim istrinya saja sudah membuat Ilham bahagia tiada tara, satu rasa syukur yang patut Ilham panjatkan.
Belum lama dia menikahi Monita, Ilham sudah kerap mendapatkan anugerah tak terhingga dari tuhan melalui wanita ini hingga detik ini.
“Ck kau tidak punya mata?”
Ilham yang memang gampang marah, bahkan tidak segan menegur siapa pun yang berpotensi membahayakan istrinya. Orang itu secara tidak sengaja menabrak Monita.
“Maaf mas saya tidak sengaja.”
“Jelas-jelas jalan di sana masih luas kenapa harus menabrak istriku hah?!”
“Mas sudah, mungkin dia sedang buru-buru, tidak usa di perpanjang.” Ucap Monita berusaha menenangkan suaminya, berharap dengan kelembutannya suaminya akan takluk dan benar saja, meski pun wajahnya masih terlihat masam, namun dia berhenti memaki pria itu. Tidak bisa dibayangkan jika tidak ada Monita, mungkin bukan hanya makian yang ia lontarkan melainkan tangannya juga pasti akan menyakiti.
Pria itu minta maaf berkali-kali, bahkan dia berlalu dari hadapan mereka begitu Monita mengizinkannya pergi.
__ADS_1
“Bikin kesal saja! Matanya tidak berfungsi mungkin.” Omel Ilham yang terus memandangi punggung orang tersebut yang semakin menjauh.
“Sudah mas! Kan tadi sudah dia katakan kalau istrinya mau lahiran, jadi wajar kalau dia lari-lari begitu.”
“Tapi tetap saja dia bersalah, jangan hanya karena istri mau lahiran, seenaknya nabrak kamu. Kalau kamu sampai jatuh terus ikutan brojol di sini bagaimana!” Dada Ilham kembang kempis, begitu kentara dari raut wajahnya kalau pria itu emosi tak berkesudahan yang membuat Monita hanya terkekeh.
“Yang penting kan tidak sampai terjadi, coba deh jangan biasakan membesar-besarkan masalah seperti itu. Kalau mas berada di posisi dia, mas juga pasti akan melakukan hal yang sama.”
Penjelasan Monita tak membuat hati Ilham terketuk karena hatinya sudah terlanjur panas.
“Aku tidak akan begitu, suru siapa istri mau lahiran tapi dia malah keluyuran tidak jelas sampai lari-lari seperti itu, seharusnya kan di dampingi sejak masih di rumah.”
Lihatlah, mulut Ilham memang setajam ibu-ibu kompleks, namun Monita tetap memakluminya. Walau pun sebenarnya Monita takut mendengar cara bicara Ilham, jangan sampai Ilham kena karmanya karena kebetulan dia juga tengah hamil lanjut.
“Sayang tunggu sebentar ya aku bayar adiministrasinya dulu.”
Monita hanya mengangguk patuh, begitu Ilham sudah berlalu wanita itu mencari kursi yang ada di sekitar sana kemudian mendudukkan diri di tempat yang sudah disediakan.
“Jalan pake mat_”
Kalimat Ilham terhenti kala sorot tajamnya menyadari siapa wanita itu. Namun Ilham tampak biasa saja sementara wanita itu sontak terperanjat dengan mulut yang menganga lebar, matanya membeliak begitu menyadari siapa pria yang kini berada di hadapannya.
“Mas Ilham?” Seru wanita cantik dengan badan bak model itu, binar kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.
****
Drrrt drrtt drrtt
__ADS_1
Ponsel Monita berdering, ia merogoh ponsel yang ada di dalam tasnya. Detik berikutnya, ia menorehkan senyum bahagia di wajah cantiknya.
“Haiii Monita.” Sapa wanita beranak dua itu dengan wajah berbinar. Suara cemprengnya sampai menelisik indera pendengaran Monita.
“Amira?! Kenapa baru sekarang kasih kabar? Sudah lima bulan ini kamu menghilang, kemana saja sih?” Cecar Monita dengan pertanyaan beruntut. Ya wanita itu adalah Amira Zavia.
“Maaf maaf, aku sibuk Mon. Apa lagi sekarang aku sedang hamil, makanya aku tidak sempat kabarin kamu.”
“Apa?! Kamu hamil Mir?” Tanya Monita dengan binar kebahagiaan. Seakan mendapatkan jackpot tak terduga, ia bersorak gembira.
Amira hanya mengangguk seraya tersenyum simpul.
“Sudah berapa bulan? Aku juga sedang hamil sekarang.”
“Waaahhh padahal kita tidak janjian loh. Kehamilan aku sudah masuk bulan ke sembilan dan kata dokter, anak aku cewek Mon.”
“Oh ya? Jodoh Dikta dong.”
“Ya ampun Mon, baru juga jadi janin, emang kamu mau anakku jadi mantu kamu?”
“Ya mau lah, jaga calon menantuku baik-baik ya, pokoknya kamu harus ekstra menjaga kondisi tubuh kamu, jangan sampai kelelahan dan stres.” Pesan Monita persis wanita yang menitipkan janinnya di rahim perempuan lain.
“Aduh Mon, sekarang Shaka makin posesif, aku mau turun tangga saja harus diiringi, kalau tidak ada dia, minimal harus Queen atau Samudra yang mengiringi, kayak pengantin aja tau nggak.”
“Persis kayak mas Ilham, semenjak aku hamil anak kedua ini, perutku tidak boleh diusap siapapun termasuk mama Nancy. Mereka sampai adu mekanik kalau sampai mama Nancy berani elus perut aku di depan dia. Katanya janinnya tidak mau disentuh kecuali mama dan papanya, aneh kan.”
Dua wanita ini tengah mengeluhkan tindakan suami mereka yang super posesif itu. Apalagi Ilham, mana ada janin bisa tau perut mamanya dielus orang lain atau bukan, benar-benar mengada-ngada.
__ADS_1
Posesifnya Ilham dan Shaka sudah tak tertolong lagi, dua pria itu selalu menjadi suami yang kelebihan siaga, bahkan saking siaganya sampai membuat Amira mau pun Monita risih bukan main.
Seperti halnya tempo hari, Monita sedang makan cilok di pinggir jalan, Ilham dengan tanpa perasaannya melontarkan pertanyaan yang sontak membuat Monita ingin mencakar wajahnya saat itu juga dan meminta maaf pada abang-abang jualan cilok tersebut. Bagaimana tidak, dia mempertanyakan kehigienisan makanan tersebut pada Monita tepat di depan abang-abangnya.