
“Kau benar-benar keterlaluan mas! Sejak tadi kau terus menyudutkanku tanpa memikirkan perasaanku yang kau tinggalkan sewaktu aku dan Dikta dalam bahaya, kau tau? Anak ini hampir tidak selamat waktu aku mengalami perdarahan, namun apa yang terjadi? Kau hanya pergi meninggalkan aku dan lebih memilih mengejar mbak Naomi.”
“Aku tidak marah kalau kau kembali pada istri pertamamu itu mas, tapi yang aku sesalkan, kau pergi tanpa mempedulikan aku yang hampir meregang nyawa karena kehilangan terlalu banyak darah.” Jelas Monita dengan lirih.
Mendengar itu timbul perasaan menyesal dalam hati Ilham, sejenak dia merasa iba, namun dia kembali membayangan Monita melakukan hubungan intim dengan David, padahal itu hanya dalam imajinasinya saja namun itu tetap membuat hatinya terbakar.
“Kenapa mas? Apa kau meragukan aku? Dari dulu kamu memang hoby memfitnah, dulu kamu menuduhku sudah tidak perawan, tapi nyatanya kau membuktikannya sendiri, akhiri saja hubungan ini, kalau memang pernikahan itu ada.”
Api amarah dalam hati Ilham yang mulai meredup kembali berkobar begitu Ilham mendengar kata perpisahan dari Monita.
“Jangan harap aku akan melepaskan kalian Monita! Sampai kapan pun aku tidak akan membiarkan kalian pergi kemana-mana lagi.”
“Jangan merasa sok menderita Monita! Berapa uang yang dia berikan padamu? Dibayar berapa kamu sehingga kamu rela menjajakan tubuhmu padanya.”
Tangan Monita kembali terangkat, hendak mendartkan tamparan untuk ketiga kalinya namun putus ditengah jalan karena Ilham menahan tangannya.
Pria itu ingin memberikan hukuman atas kelancangan yang Monita lakukan, tak mau anaknya terusik dengan kegaduhan itu, ia menyeret Monita keluar dari kamar tersebut dan membawanya masuk ke kamar tamu, untung saja Eden tak melihatnya, karena saat ini Eden pergi keluar untuk merayakan ulang tahun salah satu temannya.
BRUAAKK
Ilham menutup pintu kamar itu dengan cara menendangnya.
“Ternyata kamu tidak pernah berubah, sikapmu ini sama persis seperti saat pertama kau merenggut paksa kesucianku.” Ujar Monita dengan santai disaat suaminya sibuk membuka kancing kemeja yang ia kenakan.
Melihat keberanian Monita, Ilham berhenti dan mundur seketika, hanya lima bulan berpisah tapi mampu merubah wanitanya sampai seberani ini padanya.
Merasa suaminya hanya menginginkan tubuhnya, meraih kepuasan darinya Monita kembali bertanya.
“Kenapa berhenti? Bukan kah kau menginginkan kepuasan dariku?”
“Jadi begini caranya kamu menjual tubuhmu Monita?”
Monita sudah muak mendengar berbagai spekulasi yang keluar dari mulut suaminya ini, jika ingin saling menyakiti lewat tajamnya lida, mari lakukan.
“Ya.. aku memang menjual tubuhku, dulu.. dulu sekali.. pada pria brengsek sepertimu!”
__ADS_1
“Cih, satu sen pun uang terlalu berharga untuk membayar tubuhmu yang kau obral itu.”
Monita tersenyum miris, lalu dengan berani, layaknya penggoda, ia membuka satu persatu pakaiannya.
“Monita, apa yang kau lakukan?” Tanya Ilham yang jadi terkejut melihat aksi wanita yang dulu dia anggap polos itu.
“Aku akan mengobral tubuhku.”
“Gila kamu Monita! Pakai bajumu!” Sentak Ilham jadi kaget sendiri.
Awalnya ia akan menghukum wanita itu, namun keadaan berbalik, dialah yang malah mendapat hukuman.
“Kenapa? Apa wanita murahan sepertiku tidak pantas untuk pria suci sepertimu? Mas orang kaya kan, bisa membeli apa saja.” Sindirnya.
“Omong kosong! Pakai bajumu!”
“Mau pakai baju sesopan apapun, aku akan tetap terlihat kotor di matamu.” Monita melempar baju atasan yang ia pakai, membuat Ilham semakin terbelalak, kini tubuh Monita sudah setengah telanjang.
Tak berhenti sampai di situ, kini wanita itu membuka bawahan yang ia kenakan.
“Hentikan Monita!” Bentak Ilham begitu bawahannya sudah sampai lutut.
“Kenapa disuruh berhenti? Mas ingin menodaiku kan?”
“Monita!!!” Pekik Ilham dengan amarah yang membuncah, diraihnya selimut dan menutupi tubuh yang hampir telanjang itu.
Monita menarik napas dalam, dia memejamkan matanya sejenak dengan buliran bening yang sudah lolos membasahi pipinya.
“Ceraikan saja aku jika kau jijik melihatku sekarang.”
Mendengar kata cerai itu lagi, Ilham duduk ditepi ranjang sembari mengusap wajahnya dengan berat, Ilham menghela napas panjang kemudian bicara.
“Baiklah kalau itu kemauan kamu, tapi tinggalkan putraku di sini.”
“Dugaanku benar kan, kau masih berusaha memisahkan aku dengan Dikta.”
__ADS_1
“Dikta! Dia juga putraku Monita! Bahkan nama jelek itu? Apakah pria itu yang memberikannya? Aku akan mengganti namanya.”
“Kau tidak boleh seenaknya mengganti nama yang sudah tiga bulan ini aku sematkan dalam dirinya!”
“Susah bicara dengan wanita gampangan!”
“Gampangan.. murahan… lalu apa lagi mas? Mengapa selalu menghinaku? Wanita gampangan ini bahkan tidak pernah pacaran sebelum bertemu denganmu. Ya aku menjadi wanita murahan setelah kau renggut kesucianku, bahkan sampai aku menjaga kehormatanku selama berpisah denganmu sampai detik ini kau masih menuduhku murahan!”
Usai mengeluarkan fakta yang ada, Monita menangis sembari menangkup wajahnya sendiri dengan kedua tangannya. Berusaha agar suaranya tak terdengar dari luar.
Mendengar rentetan kata-kata Monita, membuat Ilham tertegun, ia mencerna setiap kata yang keluar dari mulut istrinya itu.
“Kau tidak pernah tidur dengannya sekali pun?” Tanya Ilham mencoba meyakinkan lagi.
Monita hanya diam, dia malas menjawab pertanyaan suaminya yang selalu memandang rendah dirinya itu.
“Jawab Monita! Aku ingin mendengarnya!” Ilham berdiri dan mengguncang tubuhnya hingga selimut yang membalut tubuh Monita melorot.
Tidak ada tanda apapun, apa karena David tak seliar dirinya yang suka menciptakan tanda merah dengan apa yang menjadi milikinya.
Monita merasa risih Ilham terus mengamati seluruh tubuhnya, ia ingin kembali meraih selimut mencoba menutupi tubuhnya lagi namun sayang, sisi liar Ilham sudah terlanjur bangun, Ilham melempar kain itu sejauh mungkin.
“Kenapa kau melemparnya? Apa kau sudah mulai tertarik pada wanita gampangan ini?” Cetus Monita lalu mengambil apa saja untuk menutupi tubuhnya.
Tak peduli dengan Monita yang terus mengoceh, Ilham merampas bibir yang banyak bicara itu, ingin ia percaya bahwa Monita selama ini setia, namun setengah hatinya masih ragu, kali ini ia akan mencobanya, apakah rasanya masih sama?
Dengan perlahan dia melepas pakaiannya sendiri tanpa melepas pagutan bibir mereka, awalnya Monita menolak, namun tubuhnya berkhianat, ternyata cukup lama berpisah mampu membuka lubang rindu yang mengangah.
Monita membalas aksi Ilham seperti biasa.
Kali ini ciuman mereka cukup lama, bahkam mampu menguras tenaga dan pikiran, ini adalah tautan terdalam sepanjang sejarah, mereka sama-sama merasa kebas di bibir masing-masing, karena kelewat bersemangat, menuntaskan rindu yang tak terbendung.
“Puaskan aku sayang, apapun yang kau minta akan aku berikan.” Bisik Ilham.
“Aku hanya ingin Dikta.”
__ADS_1
Sebuah kecupan mendarat di mata Monita, hidung mancungnya, pipi lalu ke leher jenjang wanita itu, ia kembali menciptakan tanda kepemilikkan di sana, membuat Monita menggeliat karena rasa geli yang tak tertahankan.
“Hanya itu saja? Aku bahkan bisa memberikan banyak Dikta padamu!” Ucap Ilham lembut, kemudian ia mematikan lampu kamar tersebut.