
“Kita mau ke mana mas?” Tanya Monita begitu mereka sudah dalam perjalanan menuju kediaman utama. Tak lupa dengan Dikta yang sedang terlelap di dalam dekapannya, Monita memang sepatuh itu sejak tadi, dia juga membawa Dikta sesuai permintaan Ilham.
Bukan tanpa alasan, sebab Monita patuh adalah karena dia begitu takut melihat sorot mata Ilham yang seperti elang seakan ingin menguliti seseorang. Ya begitulah Ilham ketika sedang gusar, dia akan menunjukkan sisi gelapnya yang membuat siapa pun akan bergidik ngerih. Bagaimana tidak, hari ini orang tuanya kini mengetahui rahasia besar mereka.
Bahkan sebelumnya dia sempat ke dapur untuk memberi peringatan kepada semua pelayan yang ada di situ agar tidak keluar dari dapur sebelum dia perintahkan. Ilham melakukan itu hanya semata-mata ingin agar istrinya nyaman saja tinggal di rumah megah itu bersamanya, terlebih karena perangainya yang memang tidak suka diusik kesenangannya.
Pria itu melajukan mobil dengan kecepatan sedang menatap lurus ke depan, meski hatinya ingin cepat sampai ke rumah utama, tetap saja yang jadi prioritas saat ini adalah keselamatan anak dan istrinya.
Tekadnya sudah bulat, dia ingin segera mengakhiri kebohongan ini. Bunga segar yang selama ini dia simpan, ingin segera dia kenalkan pada kedua orang tuanya. Saking besarnya rasa cinta yang ia berikan pada Monita, membuat ia buta bahkan tak memikirkan lagi perasaan cinta pertamanya Naomi.
Entah apa yang ada dalam pikiran Ilham saat ini, dia begitu yakin ingin memperkenalkan Monita dan anaknya pada kedua orang tuanya di rumah utama, rumah yang menjadi saksi cinta antara dia dan Naomi, rumah yang dia hadiahkan untuk wanita pertamanya itu. Keterlaluan? Ya jelas itu keterlaluan bagi Naomi, tapi mau bagaimana lagi, Ilham sudah tidak mau menyembunyikan rahasia ini lama-lama dari orang tuanya. Soal perasaan Naomi, nanti akan dia pikirkan lagi.
Dua puluh menit sudah perjalanan yang ditempuh, kini Ilham dan Monita sudah memasuki gerbang utama.
Jika Ilham sudah berucap, maka tidak ada yang bisa membantahnya. Pria itu tidak bercanda. Ia benar-benar membawa anak dan istrinya ke hadapan semuanya. Kala bias mentari kian menusuk kulit, Ilham justru menggandeng tangan Monita dengan erat seraya tangan yang satunya memeluk tubuh mungil Dikta, yang sudah berpindah di tangannya.
Ilham sengaja memeluk Dikta untuk menunjukkan secara jelas bahwa bayi itu adalah miliknya. Genggaman eratnya di tangan Monita ia tunjukkan bahwa, Monita adalah miliknya bukan milik David.
Dengan langkah panjang, Ilham berjalan menuju rumahnya untuk menemui semua yang hadir di sana.
Ilham benar-benar sudah siap dengan semua konsekuensinya. Bahkan kemungkinan Naomi akan menceraikannya terbayang jelas di benak Ilham, sedikit sesak sebenarnya, dia tidak berbohong, cintanya pada istri pertamanya itu masih ada, tapi saat ini yang lebih penting adalah memperkenalkan Monita dulu. Bahkan pria itu sudah tidak berfikir bagaimana jika kedua orang tuanya itu akan mencacinya, tak apa jika hanya dia yang dicaci, asal bukan Monita yang dicaci dia akan terima.
__ADS_1
Kehadiran Ilham di ambang pintu sontak menyita perhatian orang tua dan istri pertamanya. Mereka tercengang kala Ilham tak sendiri melainkan bersama Monita dan seorang bayi laki-laki yang beberapa waktu lalu sempat kenal baik dengan Nancy bahkan sempat Nancy sayangi.
Penuh tanya? Jelas, itu yang Nancy dan Agam rasakan. Berbeda halnya dengan Naomi yang justru merasa ketar ketir kala suaminya datang membawa madunya lengkap dengan anaknya. Perasaannya mulai tidak enak, feeling wanita itu kini campur aduk bagaikan bubur menado saja akibat tindakan yang Ilham tunjukkan saat ini.
Apa-apaan ini? Di saat dia setengah mati membelah diri dan berniat menyembunyikan kebohongan mereka, suaminya justru datang membawa Monita, seakan memberi jawaban atas kata tanya yang kini terukir jelas dalam benak kedua mertuanya.
Raut wajah bingung yang kian menyapa kini menghiasi wajah Nancy dan Agam. Kenapa ada Monita dan anaknya? Dan tunggu, bayi laki-laki itu, dia persis miniatur Ilham yang sejak kecil membuat dia gemas tak terkira, pikir Nancy.
Dengan wajah datar Ilham berjalan menghampiri kedua orang tuanya. Di saat dia diliputi rasa percaya diri yang tinggi berbeda halnya dengan Monita. Istri muda Ilham itu justru sangat gugup campur takut tak kala Ilham terus membawanya melangkah mendekati sang mertua, ya mertua yang sudah lama Monita akui jauh sebelum dia akan diakui.
Sejak mobil Ilham memasuki gerbang rumah ini sudah sangat menjawab pertanyaan Monita sejak tadi masih dalam perjalanan. Jawaban itu semakin jelas terlihat kalau suaminya akan melakukan apa setelah ini. Sebenarnya Monita takut bukan main kala melihat tatapan heran sang mertua dan tatapan tajam sang istri pertama mengarah padanya. Hingga membuat ia sontak menggenggam erat tangan suaminya dalam keadaan tangan yang sudah basah oleh keringat.
“Ilham? Ada apa ini? Tolong jelaskan, kenapa istri David Bramantyo beserta anaknya ada bersamamu?” Tanya sang mama ingin memecah tanda tanya besar yang sejak tadi mengganggu pikirannya.
DUAARR!!!
Bagai di sambar petir di siang bolong, Naomi terperanjat kala mendengar pengakuan Ilham yang begitu lugas. Istri mana yang tak sakit saat suaminya mengakui wanita lain sebagai istrinya di depan sang mertua? Apa lagi anak itu sudah lahir, anak yang seharusnya Naomi miliki.
Andai kebohongan itu berjalan mulus, kini anak itu sudah menjadi milik Naomi, kedua mertuanya tentu takkan curiga karena wajahnya yang sangat mirip Ilham, bahkan tak ada kemiripan satu pun dengan Monita jika menyangkut wajah dan postur anak itu. Soal kulit keduanya sama-sama putih, ya Ilham juga bisa dikatakan putih untuk ukuran laki-laki walau tak secerah kulit Monita.
Keterkejutan itu tak hanya dirasakan sendiri oleh Naomi, tapi oleh Nancy dan Agam juga. Kecewa karena dibohongi, marah karena sudah dipermainkan, tapi hati mereka tak bisa bohong kala melihat miniatur Ilham itu. Mereka terkesima dan terbuai sesaat.
__ADS_1
Anak itu semakin gemas saja kala dia tertawa menampakkan gusi-gusinya begitu sorot mata Nancy menatapnya dengan damba. Nancy tertegun sesaat.
Namun kembali ke pengaturan awal, dia menatap Ilham, Naomi dan Monita bergantian, seakan menuntut penjelasan dari sang anak. Bagaimana bisa Monita yang awalnya diakui sebagai istri David kini berubah status menjadi istri Ilham?
“Perkenalkan ma, pa, dia Monita Maheswari Kusuma, seorang gadis yang berasal dari desa, merantau ke kota demi mencari sesuap nasi untuk Almarhumah ibu dan adik perempuannya yang masih sekolah. Ilham hanya menolongnya kala dia dalam keadaan terdesak butuh uang untuk biaya operasi ibunya ya kala itu sedang berjuang di rumah sakit. Ilham terpaksa menikahinya untuk sekedar membayar rahimnya agar bersedia menampung benih Ilham.”
Ilham menjeda kalimatnya sejenak dan didengarkan dengan seksama oleh mama dan papanya.
“Perjanjian sewa rahim itu terjadi karena saling membutuhkan. Ilham butuh seorang anak dan dia butuh uang untuk biaya pengobatan ibunya yang jika tidak segera di operasi, ibunya terancam meregang nyawa.”
“Namun siapa sangka ma? Seiring berjalannya waktu, Ilham mulai tertarik dengan kelembutan hatinya dan juga kebaikannya ma. Terlebih ketika dia sudah mengandung anak kami, Ilham semakin jatuh hati. Ilham tidak bisa memilih kepada siapa hati ini berlabuh, semua terjadi di luar kendali Ilham. Sekuat tenaga Ilham menahan perasaan Ilham untuk tidak mencintainya, tapi hasilnya nihil, nyatanya berada jauh darinya membuat Ilham hampir gila. Ya di saat usia kandungannya menginjak 8 bulan, Monita pergi dari rumah karena Ilham memilih mengejar Naomi kala Monita dan anak Ilham ini yang masih dalam kandungan dalam bahaya karena terlibat cekcok bersama Naomi, dan kepergian Monita itu, membuat Ilham terpukul dan hampir gila.” Jelas Ilham panjang lebar.
Memang benar, beberapa bulan terakhir ini putranya mengalami penurunan berat badan yang cukup signifikan, wajahnya murung seperti tidak ada gairah hidup. Nancy dan Agam pikir itu hanya masalah pekerjaan saja, namun nyatanya, wanita manis itulah penyebabnya. Nancy tidak menyalahkan Monita, tidak sama sekali, dia hanya marah pada Ilham dan Naomi, namun dia juga kecewa pada Monita yang ikut andil dalam kepura-puraan ini.
“Ilham, sejak awal mama dan papa tidak akan menuntut cucu pada kalian andai saja kalian jujur tentang apa yang terjadi sebenarnya. Apa kamu sadar? Tindakanmu ini melukai hati istri pertamamu Naomi. Apa kamu tidak sadar Ilham? Mama tidak mengajarkan anak laki-laki mama mengkhianati istrinya apa lagi sampai menduakannya, tapi kenapa kamu lakukan?” Tanya Nancy yang masih mengirah bahwa dalang dari semua ini adalah putranya sendiri.
Dalam hal ini, Ilham sengaja tidak menyebut Naomi sebagai dalang utamanya karena merasa tak tega istrinya itu tersudutkan. Entah karena masih cinta atau memang pure tidak tega. Ilham sendiri ragu dengan perasaannya pada Naomi saat ini. Semakin ke sini Ilham sangsi, apakah wanita itu masih menjadi tahta teratas dari dalam hatinya? Atau justru sudah tergantikan oleh Monita? Sungguh Ilham tidak paham dengan perasaannya saat ini, yang dia tau saat ini dia amat sangat mencintai Monita. Namun juga tak sanggup bila harus kehilangan Naomi.
Dari dulu, Ilham begitu mencintai Naomi tanpa merasa curiga sedikit pun padanya, cintanya tak bersyarat dan cintanya tanpa karena.
“Maafkan Ilham ma.” Tutur Ilham dengan nada pelan bahkan hampir tak terdengar. Hanya kata itu yang mampu ia ucapkan.
__ADS_1
“Jangan bilang kalau kamu juga yang merancang kebohongan kalau Monita adalah istri dari David rekan bisnismu?”
Ilham terpaksa mengangguk, Naomi tidak tau dalam situasi ini dia harus senang atau sedih. Di sisi lain Ilham melindunginya dan tidak mengatakan hal yang akan semakin membuat kedua mertuanya membencinya. Namun di sisi lain dia kecewa Ilham menjelaskan secara gamblang perasaannya pada Monita. Sakit? Sangat sangat sakit tentunya. Namun untuk saat ini Naomi tidak bisa berbuat apa-apa, dia hanya menangis dengan berurai air mata, hatinya teramat gusar, dan kekesalan itu dia tujukan pada Monita.