Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 56 Peluh di Malam Hari


__ADS_3

Saat itu Ilham tengah mendapati Monita yang berdiri di depan pintu dengan raut wajah tegang, Ilham tertegun melihat betapa cantiknya Monita malam ini, mereka saling pandang dengan tatapan yang berbeda, hingga akhirnya Ilham tersadar dan langsung menarik tangan Monita, membuat tubuh mungil itu jadi tertarik ke dalam kamar, lalu dengan cepat Ilham langsung menyambar begitu saja bibir ranum Monita.


Satu tangannya yang kokoh ia gunakan untuk menutup rapat serta mengunci pintu kamar, dan sebelah tangannya lagi mengusap lembut leher dan tengkuk Monita.


Monita yang sudah merasakan g*irah sebelumnya tentu tidak dapat melawan lagi, bahkan ia membalas ci*man suaminya dengan tak kalah ganas, mereka berdua terus melangkah dengan keadaan bibir yang masih bertautan satu sama lain.


Kali ini mereka tidak memilih ranjang sebagai sarana mereka bergulat, mereka memilih sofa panjang yang ada di salah satu sisi kamar itu, lalu Ilham terduduk, tersandar di sofa itu, kemudian Monita datang ke pangkuannya, dan kembali mela**p bibir Ilham dengan rakus.


Ilham lagi-lagi tersenyum, keliaran Monita yang kini mendominasi tubuh kekarnya, benar-benar sangat ia sukai, bagaimana tidak, Monita yang awalnya polos dan tidak tau apa-apa soal ranjang, berubah menjadi liar setelah beberapa kali mereka bercinta, Monita melepas tautan bibir mereka dengan nafas yang terengah lalu menatap wajah Ilham dengan begitu lekat.


“Apa kejadian tadi di dapur membuatmu berg*irah sayang?” Tanya Ilham pelan, sembari tangannya membelai lembut kedua sisi pipi Monita.


“Sentuh aku!” Ucap Monita dengan suara setengah berbisik.


Medengar hal itu, sontak membuat Ilham kembali tersenyum.


“Apa aku benar-benar sudah membuatmu berg*irah?” Tanya Ilham dengan terus tersenyum sembari mulai mencium pipi hingga rahang Monita.


Monita tak menjawab, ia memilih diam sembari menikmati sentuhan lembut Ilham dan mulai memejamkan matanya.


“I love you so much Monita.” Bisik Ilham lagi dan terus menci*mi Monita.


Ilham melahap bibir Monita dengan penuh tuntutan, Monita membuka mulutnya demi membiarkan lidah Ilham traveling di dalam mulut sang istri sesukanya, Monita tak mau kalah, ia mulai menarik kaos Ilham, Ilham tentu paham akan hal itu, ia membuka kaosnya, membuat lengan berotot serta perut six pack terpampang nyata, hal itu semakin membuat Monita berg*irah, apalagi aroma maskulin dari tubuhnya yang terendus oleh Monita, benar-benar membuatnya melihat Ilham jauh lebih macho.


“Kamu ingin melakukannya?” Tanya Ilham di sela-sela ciumannya.

__ADS_1


“Ya.” Jawab Monita singkat sembari membalas lum**an dahsyat Ilham.


“Apa di sini?”


“Di mana saja!” Jawab Monita nampak tak sabar.


Ilham pun akhirnya kembali tersenyum, ia mulai melepas tali kimono Monita hingga membuat tubuh mulus Monita terpampang jelas, kemudian Ilham mulai menciumi pundak Monita dengan penuh hasr**, lalu menjatuhkan tubuh mungil itu di sofa dan mulai menindihnya.


Ilham mulai bermain-main pada leher dan dada Monita, membuat Monita kembali memejamkan matanya dan membuat Ilham benar-benar lupa pada Naomi yang ia tinggalkan di kamarnya yang saat itu tengah tertidur pulas.


Satu persatu pakaian yang mereka kenakan mulai jatuh berguguran ke lantai, kini tubuh mereka sudah tampak polos tanpa sehelai benang pun.


Kedua tangan Ilham terus memainkan kedua gundukan daging milik Monita, membuatnya mulai ingin mengerang, namun entah kenapa masih ia tahan.


Ilham benar-benar sangat haus, haus akan tubuh Monita yang begitu menyegarkan baginya, ia mulai mengulum dalam-dalam area coklat kemerahan pada gundukan daging milik Monita, hingga membuat Monita semakin tak terkendali.


“Ka.. kamu akan melakukannya?” Tanya Monita.


Monita bertanya karena sebelumnya Ilham tak pernah melakukan hal itu.


“Tentu saja.” Jawab Ilham yang tersenyum singkat, lalu mulai mencecapi bagian inti Monita tanpa ragu.


Seluruh bulu kuduk Monita berdiri tegak saat lid*h Ilham bermain-main di bagian intinya, kepala Monita terdongak, matanya merem melek merasakan betapa gelinya hal itu.


Suara-suara alunan merdu dari mulut Monita sayup-sayup terdengar, sedangkan tangannya terus meremas rambut Ilham.

__ADS_1


Entah sudah berapa lama Ilham berada di bawah sana, akhirnya perlahan ia kembali memunculkan wajah tampannya, dari balik kedua paha Monita, Ilham tersenyum begitu pun dengan Monita yang ikut tersenyum dengan nafasnya yang mulai terengah.


Beberapa menit berlalu dengan for**lay yang begitu memabukkan bagi keduanya, kini Ilham pun mulai memasuki lub**g kenikmatan mikik Monita, membuat erangan Monita pecah begitu saja, namun ia langsung menahannya dengan sebelah tangannya dan membekap mulutnya sendiri saat milik Ilham mulai menari-nari di bagian intinya, Monita menahan des**an dari mulutnya agar tidak keluar, terpaksa ia harus meredam suaranya agar tidak terdengar.


“Kenapa kamu menutup mulutmu sayang?” Bisik Ilham sembari membasahi area leher Monita.


“Ak.. aku aaagghh..” sesekali suara itu masih tetap keluar meski sangat pelan.


“Ak.. aku ingin menjerit saat ini, ta.. tapi aagghh aku ti…tidak bisa!” Ucapnya lagi dengan nafas yang tersengal.


“Keluarkan suaramu sayang, ayo keluarkan lah, aku ingin mendengar suara seksimu, jangan ditahan!” Bisik Ilham lagi sembari menarik ulur kepunyaannya pada bagian inti Monita.


“Tidak, tidak mungkin, aku tidak ingin Mbak Naomi mendengarnya.”


“Percayalah padaku sayang, dia tidak akan mendengarnya, menjeritlah sesukamu, aku sangat suka mendengarnya.”


“Apa kamar ini kedap suara?”


“Iya sayang, bahkan jika kamu mendesah keenakan dengan kepunyaanku, tidak akan terdengar.” Jawab Ilham kemudian kembali bermain pada gundukan daging milik Monita.


Akhirnya Monita pun kembali mengerang, suaranya benar-benar begitu menggema di ruangan itu tanpa di tahannya lagi, Ilham nampaknya begitu menikmati alunan des*han yang terdengar sangat merdu di telinganya, membuat ia semakin terbakar api g**rah kala itu.


Monita pun tentunya tidak mau kalah pada permainan malam itu, ia kembali mendominasi dan mulai duduk di pangkuan Ilham, kali ini dia lah yang menjadi penguasa gerakan.


“Kamu rupanya tidak mau kalah ya.” Ucap Ilham yang kembali memunculkan senyuman lebar.

__ADS_1


“Aku ingin agar permainan kita seimbang, aku tidak bisa melihat Mas bekerja sendirian.” Bisik Monita sembari berbalik arah membelakangi Ilham.


Entah sudah berapa gaya yang mereka lakukan, mulai berbaring, duduk, bahkan berdiri, peluh kedua insan itu mulai bercucuran dengan begitu derasnya, akibat hasil kerja keras mereka malam ini, Monita akhirnya terkulai lemas di atas tubuh Ilham yang sudah bermandikan keringat.


__ADS_2