Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 22 Menjebol Gawang Monita


__ADS_3

Monita membuka matanya dengan perlahan saat sudah lumayan lama ia pejamkan, begitu matanya terbuka, jantungnya semakin berdetak tak karuan, wajah Ilham kini begitu dekat dengan wajahnya, semakin dekat, namun begitu bibir Ilham sudah semakin dekat dengan bibirnya, Monita memalingkan wajah dan melepaskan cengkraman tangan Ilham dari kedua bahunya, Monita hendak mengambil langkah seribu, dia ingin lari dari hadapan pria tampan yang ingin menerkamnya tanpa sisa.


Monita membalikkan tubuhnya dan hendak meraih gagang pintu, namun belum sempat dia memutar gagang itu, ia merasakan pinggangnya direngkuh oleh seseorang.


“Lepaskan saya Mas! Lepaskan!!” Pinta Monita memberontak.


Ilham tak banyak bicara, dia mengangkat tubuh mungil Monita lalu menghempaskannya begitu saja ke atas ranjang, lalu mulai mendekati Monita yang tampak gugup.


“Kenapa kau menolak saya hah? Penolakanmu ini bagai penghinaan bagi saya, maka jangan harap saya akan melepaskanmu begitu saja!” Cecar Ilham dengan tatapan tajam.


“Mas ku mohon biarkan saya pergi.” Pinta Monita dengan bibir bergetar.


“Tidak akan!! Kau harus melayani saya malam ini!” Balas Ilham menolak.


“Mas saya mohon lepaskan saya, jangan sentuh saya dengan cara seperti ini.” Rengek Monita dengan buliran bening yang membasahi pipinya.


“Kenapa kau harus menangis? Saya membayarmu untuk melakukan hal ini.”


“Tidak Mas, saya belum siap.” Tolak Monita seraya berusaha menjauh dari sentuhan Ilham.


“Diam!! Jangan sok polos Monita! Mana mungkin wanita malam sepertimu tidak terbiasa dengan hal semacam ini!” Bentak Ilham mulai hilang kesabaran.


“Kau pasti sudah dipakai oleh berbagai jenis laki-laki, kenapa dengan suami sendiri kau harus menolak hah?!”


Monita mengangkat wajahnya, ia menatap Ilham dengan tatapan marah bersamaan dengan air mata yang sudah membasahi wajah cantiknya.

__ADS_1


“Anda benar-benar keterlaluan tuan Ilham Adhitama! Perlu saya tekankan tuan Ilham yang terhormat! Walaupun saya bekerja sebagai wanita penghibur, tapi saya tidak sehina seperti yang anda katakan itu!” Ujar Monita dengan berani.


“Jika saya adalah wanita malam, otomatis saya adalah wanita kotor, lalu kenapa anda masih mau meniduri saya? Apa anda tidak merasa jijik? Lebih baik anda lepaskan saya sekarang!” Lanjut Monita sembari berusaha turun dari ranjang king size itu.


Mendengar perkataan Monita, Ilham jadi tersenyum meremehkan.


“Kau bilang tadi apa? Kau tidak sehina itu? Mana ada wanita yang berasal dari rumah bordil dan terkutuk itu akan keluar dalam keadaan suci! Kalau saya tidak mengeluarkanmu dari tempat kotor itu, tidak tau lagi akan berapa banyak pria yang akan menjamah tubuh kotormu ini!” Ilham menghina Monita habis-habisan.


“Iya saya memang hina, kotor dan menjijikkan! Lalu untuk apa anda mempertahankan saya, lebih baik ceraikan saya supaya saya bisa lanjut mencari pria hidung belang di luar sana untuk memuaskan hasrat saya!” Balas Monita dengan suara yang sedikit bergetar, Monita menggigit bibir bawahnya menahan tangisnya sekuat tenaga, dia tidak ingin terlihat lemah di mata pria yang tak berperasaan ini.


Mendengar penuturan Monita, entah kenapa membuat emosi Ilham semakin tersulut, sadar Monita yang kini sudah turun dari ranjang, membuat Ilham kembali mencekal kedua tangan Monita dan meletakannya di atas kepala gadis itu yang sudah kembali terbaring di bawah kungkungannya.


“Mas lepaskan!” Teriak Monita berusaha memberontak namun tenaganya tidak lebih besar dari Ilham.


Ilham yang tak tahan dengan teriakan istrinya itu, buru-buru membungkam mulut Monita dengan sebuah ciuman, penyatuan bibir yang terkesan kasar dan menggebu tanpa ada kelembutan yang dirasakan.


Ilham yang berhasil membuka mulut gadis itu, kini semakin memperdalam ciumannya, ia tak peduli jika bibir gadis di bawahnya ini akan berdarah, penolakan yang gadis itu berikan justru semakin membangkitkan sisi tersendiri bagi seorang Ilham Adhitama.


Bibir Ilham berpindah ke leher Monita, sembari mulai membuka kemeja yang dikenakan gadis itu, kemeja sudah terbuka, dia melepaskan dan melemparkan kemeja itu begitu saja ke lantai.


“Jangan Mas, saya mohon.” Pinta Monita mencoba mencari belas kasihan dari Ilham.


Namun Ilham tidak peduli, dia malah melepaskan kaitan yang menjadi penutup bagian depan milik Monita dan kembali membuangnya secara asal.


Monita berusaha menjauhkan kepala Ilham dari dadanya.

__ADS_1


Ilham kembali mencekal tangan Monita yang kembali mengganggu aktivitasnya, ia semakin gencar bahkan menggigit tanpa ampun hingga meninggalkan bekas yang diyakini tidak akan hilang dalam semalam.


Tangis Monita membuat Ilham tersenyum senang.


Ia akan menaklukkan gadis di bawahnya ini dan membuatnya tak berdaya, Ilham mulai melepaskan seluruh pakaiannya dan pakaian Monita, hingga kini mereka sudah sama-sama polos.


“Akh…. sakit Mas!” Ringis Monita yang merasakan tubuhnya seperti terbelah dua.


“Aarrgghh.” Erang Ilham merasakan sesuatu yang menjadi dinding penghalang untuknya memasuki inti gadis itu.


“Sempit sekali.” Gumam Ilham dalam hati, namun dia kembali tak mempedulikannya, dia terus melanjutkan permainannya.


Hingga akhirnya, Ilham mulai kehilangan kesabaran, ia mendorong miliknya ke dalam milik Monita, mengundang cucuran darah yang mengalir disela-sela penyatuan mereka, namun rupanya Ilham belum menyadarinya, ia masih terus melanjutkan aksinya, ia semakin memaju mundurkan gerakannya dengan brutal, tak peduli dengan Monita yang kini meringis kesakitan, sakit yang tiada tara, Monita tidak bisa berbuat apa-apa selain menangis.


Ilham rasa ini sudah waktunya meluncurkan timah panas, sejak tadi sudah ada yang mau keluar dari tubuhnya, hanya saja ia menahannya, karena masih ingin berlama-lama menikmati tubuh istri keduanya ini yang tanpa ia sadari mulai menjadi candu baginya.


Detik berikutnya, Ilham mulai menembakkan senjatanya, dilihatnya wajah Monita yang menahan sakit dan perih.


Selesai itu, matanya menatap nanar saat melihat percikan darah dan berserakkan di seprai putih itu.


“Kamu masih gadis Monita?” Pria tak berhati itu mengira Monita sudah tidak perawan lagi, selama ini dia menilai Monita begitu rendah.


Bagaimana Ilham tidak berpikir seperti itu, nyatanya demi uang, Monita rela menjual rahimnya, apalagi Monita pernah bekerja menjadi wanita malam, itu artinya Monita juga pasti sudah menjajakan tubuhnya, namun nyatanya anggapan Ilham itu salah seratus persen, Monita adalah gadis baik-baik.


Percikan darah perawan itu, seolah menampar pipinya, fakta yang tak bisa di elak lagi, itu adalah bukti nyata bahwa selama ini Monita menjaga dirinya dengan baik, Ilham jadi teringat saat beberapa kali dia mengajak Monita melakukan hubungan suami istri, Monita seolah mengulur-ulur waktu, terlebih saat dia menyuruh Monita membuka baju lebih dulu, pantas saja saat itu Monita gemetar dan terlihat gugup, ternyata Monita memang benar-benar tak berpengalaman kalau menyangkut soal ranjang.

__ADS_1


Kini mata Ilham menatap nanar gadis yang sudah ia ambil kegadisannya.


Bukan lagi tatapan kesal penuh kebencian, tapi tatapan kasihan, ia tak mengira akan menerobos gawang itu secara brutal, mana dia tau kalau Monita masih perawan.


__ADS_2