Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 33 Akhirnya Ilham Tau


__ADS_3

Monita dilarikan di rumah sakit terdekat di sana, wanita itu langsung mendapatkan penanganan dari dokter dan memintanya untuk dirawat di rumah sakit.


“Nona Monita, anda harus menjalani perawatan terlebih dahulu, saran saya agar anda jangan terlalu lelah atau stres, karena itu bisa membahayakan kandungan anda.” Tutur sang dokter setelah selesai menangani Monita.


Monita hanya menganggukkan kepala, ia melirik Ilham yang tampak mendengarkan penuturan dokter sembari menggenggam erat tangannya.


“Baiklah dokter, terima kasih.” Balas Ilham kemudian.


Dokter itu pun pergi dari ruang rawat Monita, Monita merasa sedikit lega karena bayi dalam kandungannya tidak benar-benar pergi meninggalkannya, namun ia harus lebih berhati-hati.


“Monita.” Panggil Ilham lembut.


Monita memalingkan wajahnya, ia melepas genggaman tangan Ilham lalu membalik badan membelakangi Ilham.


“Monita, kau harus menjelaskan padaku.” Tukas Ilham sambil memegang bahu Monita.


“Pergilah Mas, biarkan aku sendiri.” Balas Monita mengusir.


“Monita, aku memaksa untuk kau menjelaskannya padaku, kenapa kau tidak memberitahuku tentang kehamilanmu?!” Tanya Ilham mulai meninggikan suaranya.


Monita membalik badan, ia mengubah posisi menjadi duduk meski sedikit kesulitan, Ilham hendak membantu namun tangan Monita memberi gerakan untuk menghentikannya.


“Memaksa? Apa hanya itu yang bisa kau lakukan Mas? Memaksa dan memaksa tanpa memikirkan perasaanku!” Ketus Monita menatap Ilham dengan tajam.


“Soal kehamilan ini, kenapa saya tidak memberitahukannya padamu? Itu karena tidak ada yang akan berubah, kalian akan mengambil anak ini dan membuangku begitu saja, aku tidak bisa Mas, aku sudah jatuh cinta dengan anak ini.” Lanjut Monita dengan suara berat.


Ilham melototkan matanya, ia menatap Monita dengan tatapan tak menyangka, tangannya secara refleks mencengkram bahu Monita.


“Aku tidak sebejat itu Monita! Sudah berapa kali aku katakan, aku tidak akan melepaskanmu, kenapa kau tidak bisa mengerti juga?!” Tanya Ilham menatap mata merah Monita.


“Aku tidak akan memberikan anak ini pada kalian, mungkin kau berani mengatakan itu karena Mbak Naomi tidak ada di depan matamu, tapi kalau seandainya ada Mbak Naomi, pasti kau akan menuruti permintaannya untuk mengambil anak ini.”


“Monita, kau sedang mengandung anakku, aku tidak ingin kita bertengkar yang akan berakhir membuatnya dalam bahaya.” Sahut Ilham lalu mengusap perut Monita yang makin terasa.


Ilham tiba-tiba mengulas senyuman.


“Aku sangat bahagia kau memberikan hadiah terindah ini untukku, jadi ini alasannya kau muntah-muntah tadi pagi, ku kira karena kau sakit, ternyata sudah berbadan dua.” Celetuk Ilham lalu mencium perut Monita tanpa permisi.


Monita memejamkan matanya, ia merasakan sesuatu tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuhnya bagai tersengat listrik, Monita mendorong Ilham menjauh, membuat pria yang tengah asik menciumi calon anaknya lantas mendongak.


“Ada apa?” Tanya Ilham dengan lembut.


“Aku ingin istirahat, tinggalkan aku Mas!” Jawab Monita lalu kembali berbaring.

__ADS_1


Ilham tersenyum manis, ia lantas mencium kening Monita dengan hangat.


“Baiklah, aku akan menunggu di sofa, katakan padaku jika butuh sesuatu.” Tutur Ilham lalu beranjak dari brankar Monita.


Sore harinya, Monita sudah bangun dari tidur, ia melihat Ilham yang nampak tertidur di sofa, lebih tepatnya Ilham hanya memejamkan mata, dan Monita mengira dia sedang tertidur.


Monita menghela nafas, ia memegangi perutnya lalu berusaha untuk turun dari brankar, namun tanpa sengaja, kakinya tersangkut selimut dan hampir saja terjatuh jika Ilham tidak sigap menangkap tubuhnya.


“Aaakkhh.” Ringis Monita dengan pelan sembari mengusap perutnya.


“Kau mau ke mana Monita? Kau tidak apa-apa kan?” Tanya Ilham masih dengan menahan tubuh Monita.


“Aku mau ke toilet Mas.” Jawab Monita pelan.


Ilham melempar asal ponsel yang ada di tangannya ke brankar, lalu tanpa aba-aba ia menggendong tubuh Monita dan membawanya ke kamar mandi, Monita memberontak minta di turunkan, namun kecupan ringan di bibir menghentikan ocehannya.


“Panggil aku jika sudah selesai, dan jangan melakukan apapun sendiri.” Tutur Ilham seraya mengusap pelan puncak kepala Monita.


Monita tak menjawab, ia hanya diam saja sampai Ilham benar-benar keluar dari kamar mandi, Monita buang air kecil lalu mencuci wajahnya, setelah selesai ia pun memanggil Ilham.


“Mas!” Panggil Monita sangsi.


Tak lama pintu terbuka, Ilham masuk lalu kembali menggendong Monita, wajah Monita yang begitu dekat dengan dada Ilham membuat ia bisa merasakan detak jantung pria itu.


Monita refleks memegang wajahnya, Ilham tergelak lalu mencium pipi Monita dengan gemas.


Monita mengulas senyum tipis, namun dia kembali teringat dengan ucapan Ilham yang sudah merendahkan dirinya, ia menghilangkan senyuman di wajahnya lalu kemudian berbaring.


“Kau kenapa sayang?” Tanya Ilham dengan lembut.


“Tidak, tolong jangan ganggu aku dulu Mas!”


Ilham hanya tersenyum, ia mengusap lembut pipi Monita lalu beranjak kembali menuju sofa, ia begitu faham kalau ibu hamil sering mengalami mood swing.


Saat baru saja mendudukkan diri di sofa, ponsel Ilham berdering dengan menampilkan nama Andre di layar ponselnya.


“Halo ada apa?”


“Tuan, satu minggu lagi persiapan untuk peresmian produk susu untuk ibu hamil akan segera diselenggarakan, semuanya sudah hampir rampung.” Ujar Andre dari seberang telepon.


“Baik Ndre, kau urus saja semuanya, saya sedang sibuk mengurus Monita di rumah sakit, ternyata dia sedang hamil dan mengalami perdarahan, untung saja bisa cepat ditangani, kalau tidak saya tidak tau apa yang akan terjadi pada istri dan anak saya.” Jelas Ilham secara seksama.


“Benarkah tuan? Nona Monita hamil? Akhirnya, saya turut bahagia tuan, anda akan memiliki seorang anak.” Seru Andre dari seberang telepon.

__ADS_1


“Terima kasih Ndre.” Balas Ilham lalu mengakhiri panggilannya.


Andre begitu bahagia mengetahui pasal kehamilan Monita, walau pun hanya bawahan, tapi Andre sudah menjadi orang kepercayaan Ilham jauh sebelum Ilham menikah, bisa dibilang Andre adalah anak buah kesayangan Ilham, dia selalu berbagi cerita dengan Andre, entah itu cerita sedih atau cerita bahagia.


Begitu pun dengan Andre, ia begitu bahagia jika melihat bosnya itu bahagia, sebaliknya jika Ilham menderita dan terpuruk, Andre juga merasakan hal yang sama.


Di Sebuah Rumah…


Di siang yang begitu cerah, seorang wanita tengah duduk di balkon kamar sembari memegangi ponselnya dengan raut wajah bimbang.


“Apa aku harus menghubunginya? Sudah dua bulan ini aku tidak mendengar kabar dari mereka, siapa tau hari ini aku mendengar kabar baik itu.” Batin wanita itu menimbang-nimbang.


Dia mulai membuka ponselnya, memasang sim card lama di ponsel tersebut lalu menghidupkannya.


Setelah di nyalakan, puluhan bahkan ratusan panggilan tak terjawab dari Ilham di susul dengan pesan masuk yang begitu banyaknya, wanita itu yang tidak lain adalah Naomi kian terperangah, sebegitu giatnya Ilham mencarinya, rasa bersalah pun kian menyapa, dia sudah terlalu lama meninggalkan suaminya itu.


Akhirnya Naomi memutuskan untuk menghubungi Ilham, namun baru saja dia ingin memencet nama ‘suamiku’ di layar ponselnya, dia kembali mengurungkan niatnya.


“Sebaiknya aku tundah dulu, aku akan memberi surprise padanya, Mas! tunggu urusanku di sini selesai dalam waktu dua minggu, baru setelah itu aku akan pulang ke rumah kita.” Gumam Naomi seorang diri dengan wajah sumringah.


Naomi saat ini sedang berada di Paris, dia tinggal di vila mereka yang di sana, awalnya Naomi berkunjung ke sana untuk memberi kesempatan pada Ilham dan Monita melakukan hal itu, namun seiring berjalannya waktu, dia disibukkan dengan sebuah kegiatan yang entah lah itu kegiatan apa hingga membuat kepulangannya harus tertundah.


Sementara di sebuah rumah, dua orang pasangan paru baya sedang duduk menikmati secangkir teh di samping rumah.


“Pa, kenapa Ilham dan Naomi sudah tidak pernah berkunjung ke rumah kita lagi? Apa mereka sudah melupakan kita.” Cetus bu Nancy pada suaminya yang sedang duduk tenang sembari menyeruput tehnya.


“Mungkin mereka sibuk Ma, kenapa tidak di telepon saja?”


“Sudah Pa, tapi mama rasa ada yang aneh.”


“Aneh bagaimana?” Tanya pak Agam mengerinyitkan dahi.


“Aneh saja, setiap kali mama menelepon, mama hanya bisa bicara dengan Ilham, saat mama minta mau bicara dengan Naomi, kata Ilham Naomi tidak ada, lagi keluar lah, shoping lah, lagi sakit lah, ada-ada saja alasannya, mama jadi curiga deh pa.” Ketus Nancy dengan raut wajah kesal.


“Curiga apa lagi?” Tanya pak Agam yang tampak cuek, dari dulu tuan Agam memang seperti itu, semenjak putranya menikah, dia tidak terlalu ambil pusing masalah rumah tangga anaknya, menurut dia Naomi adalah istri yang baik, keharmonisan rumah tangga mereka terbukti tidak pernah ada masalah selama ini, mengingat Ilham maupun Naomi tidak pernah mau melibatkan Nancy dan Agam dalam urusan rumah tangga mereka, karena mereka lebih banyak menyelesaikannya sendiri.


“Curiga kalau mereka itu bertengkar, lalu Naomi pergi dari rumah.”


“Ma, jangan berprasangka buruk dulu, kalau sudah seberat itu masalahnya, Ilham tidak mungkin diam saja dan tidak menceritakannya pada kita berdua.”


“Begini saja, begitu papa pulang dari luar kota, kita akan ke sana menjenguk anak dan menantu kita, mama tenang saja ya.” Tutur Agam menenangkan istrinya.


Nancy diam saja, ia menepis tangan suaminya yang bertengger di bahunya, Nancy jadi keki sendiri karena suaminya itu kelewat cuek sampai tidak peka dengan keadaan sekitar, ia pun beranjak dari duduknya menuju kamar untuk mencoba merilekskan pikiran.

__ADS_1


__ADS_2