Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 52 Main Kucing-kucingan


__ADS_3

Entah berapa lama sudah bibir mereka saling bertautan, Ilham yang merasa Monita mulai memberi lampu hijau padanya, membuatnya menginginkan hal yang lebih dari sekedar ciuman, Ilham akhirnya mengajak Monita ke kamarnya, begitu ia melepaskan tautan bibir mereka, ia beranjak dari duduknya dan menarik pelan tangan Monita.


“Mau ke mana Mas?” Tanya Minita begitu tangannya di tarik Ilham.


“Aku ingin melakukan hal yang lebih.”


“Tapi Mas aku…” belum sempat Monita menyelesaikan kalimatnya, tanpa aba-aba, Ilham langsung membopong tubuh Monita begitu saja menuju ke kamar mereka.


Monita sontak membulatkan matanya, ia memukul-mukul dada bidang Ilham untuk minta diturunkan, ia takut nanti Naomi melihat mereka.


“Mas, turunkan aku, nanti Mbak Naomi melihatnya.” Ujar Monita menatap tajam suaminya.


“Dia sudah tidur sayang.” Jawab Ilham berjalan santai sembari menapaki anak tangga.


Begitu sampai kamar utama, Ilham membuka pintu kamarnya dan kembali menutup rapat pintu itu menggunakan salah satu kakinya, karena kedua tangannya ia gunakan untuk menggendong Monita.


Ilham membopong Monita menuju meja yang ada di kamar itu karena meja itulah yang paling dekat dengan pintu, Ilham langsung mendudukkan Monita di atas meja itu, dengan penuh gairah, ia pun semakin dalam mencumbu Monita, Monita hanya bisa memejamkan matanya menikmati setiap sentuhan yang memang begitu ia rindukan.


Bagaimana tidak, ternyata Monita juga memiliki gairah *** yang tinggi, pasalnya Monita sudah lumayan lama tidak melakukan hal itu, dia merasa sangat kesepian.


“Eeehmmm.” Suara yang keluar begitu saja dari mulut Monita, saat bibir Ilham mulai beranjak menuju lehernya.


Ilham layaknya seekor singa yang tengah kelaparan, terus menji**ti area leher Monita dengan penuh nafsu, Monita semakin sulit mengendalikan gairahnya, hingga tanpa sadar, ia mulai mencengkram hingga menjambak pelan rambut Ilham.


“Eeehmm.” Monita mulai mengerang pelan.


Kini bibir Ilham mulai beranjak dari leher menuju dada Monita, dengan perlahan ia pun mulai membuka kancing baju Monita satu persatu.


Hingga akhirnya kancing terakhir pada baju Monita pun berhasil ia lepaskan, membuat bagian dalam tubuh Monita terpampang nyata, begitu pun bra merah yang menyanggah gundukan daging milik Monita juga terlihat dengan sangat jelas.


Melihat hal itu, membuat api gairah dalam diri Ilham semakin berkobar-kobar, dengan pelan tapi pasti, sebelah tangannya mulai merem**s gundukkan daging milik Monita, yang masih terlihat begitu kokoh berdiri, hingga membuat Monita semakin terpejam hingga mendongakkan kepalanya saking menikmati perilaku nakal sang suami.


Tak butuh waktu lama, kini baju Monita sudah terlempar ke lantai, menyisakan bra merah yang masih terlihat kokoh pada posisinya.


Namun tangan liar Ilham mulai kembali menjelajah, tangannya pun akhirnya mulai menuju ke arah punggung Monita.


Tanpa kesulitan, Ilham dengan satu tangannya melepaskan pengait bra milik Monita, hingga membuat bra itu terlepas dan mulai merosot ke pinggang Monita.


Meski sudah sering melihatnya, mata Ilham sedikit membulat saat kembali melihat gundukan daging yang masih terlihat begitu kencang dan membulat layaknya buah apel.


Melihat hal itu, membuat kerongkongan Ilham seolah terasa kering, layaknya seorang bayi yang tengah kehausan, ia pun mulai menghis*** sebelah gundukan daging milik Monita.

__ADS_1


“Aagghhh.” Membuat erangan Monita semakin pecah dan melengking dalam ruangan itu.


Mendengar suara Monita yang begitu seksi dan menggoda di telinganya, membuat Ilham semakin berg**rah untuk mengu*** dan memainkan gundukan daging milik istrinya yang memang terlihat begitu membulat.


Akan tetapi, tiba-tiba saja pintu kamar Monita diketuk, Ilham yang kala itu tengah terbakar api ga**rah sama sekali tak mempedulikan ketukan pintu kamar mereka, ia terus saja mencumbu Monita.


Saat itu mata Monita yang awalnya terpejam menikmati permainan lid*h Ilham, dibuat terbuka sejenak, dan secara tak sengaja ia pun melirik ke arah pintu yang terus diketuk.


Sontak mata Monita terbelalak begitu mendengar suara Naomi dari balik pintu memanggil namanya.


“Mas, Mas stop!” Ucap Monita yang panik sembari menepuk-nepuk pundak Ilham.


Hal itu pun membuat Ilham terhenti dari segala aktivitasnya, dan menatap Monita dengan wajah bingung.


“Itu ada Mbak Naomi.” Ucap Monita lagi.


Ilham pun melirik sejenak ke arah pintu, seolah tak mau ambil pusing, ia kembali menatap Monita dan ingin kembali mencium bibirnya.


“Biarkan saja.” Jawab Ilham pelan.


“Tidak, tidak jangan diteruskan, yang kita lakukan ini salah!” Ucap Monita yang terlihat semakin merasa bersalah dengan matanya yang mulai terlihat berkaca-kaca.


Bagaimana pun dia tidak ingin menyakiti wanita yang sudah sangat baik padanya, dengan cara bermain api di belakang Naomi bersama suaminya sendiri.


“Ta, tapi kita…” ucap Ilham yang mencoba memberi pengertian pada Monita.


“Hentikan Mas!! Apapun alasannya yang kita lakukan ini tetaplah salah, dan ini juga termasuk salahku yang sudah terbuai dan membiarkanmu melakukan semua ini.” Jawab Monita sembari memakai kembali branya.


Ilham pun terdiam sembari memandangi Monita yang saat itu tengah memakai pakaiannya kembali.


“Kita tidak salah Monita, kita adalah suami istri, semua ini wajar untuk kita lakukan, tolong mengertilah!”


“Kamu yang harusnya mengerti Mas!!” Bentak Monita dengan suara yang agak keras.


Tok.. tok… tok…


“Monita!! Apa kau di dalam?” Tanya Naomi terus mengetuk-ngetuk pintu kamar Monita.


“Sudahlah, sebaiknya kau sembunyi di toilet atau di lemari, aku akan membukakan pintu untuk Mbak Naomi.” Ucap Monita sembari mendorong pelan tubuh Ilham menuju lemari.


“Aku mau sembunyi di toilet saja.” Ucap Ilham menghentikan langkahnya.

__ADS_1


“Ya sudah terserah saja!!”


Ilham pun bergegas menuju toilet dan bersembunyi di sana.


“Monita!!” Panggil Naomi lagi untuk ke sekian kalinya.


“Iya Mbak… sebentar.” Jawab Monita dengan suara yang dibuat-buat, agar terdengar seperti suara khas orang bangun tidur.


Monita melangkahkan kakinya menuju pintu dan membukakan pintu untuk Naomi.


“Ada apa Mbak?” Tanya Monita dengan mata yang dibuat sayu.


“Mon.. apa kamu melihat Mas Ilham? Sejak tadi dia tidak ada di kamarnya, sudah aku cari ke dapur dan segala isi rumah ini, tapi Mas Ilham juga tidak ada, hingga akhirnya aku mengetuk pintu kamarmu, mungkin kamu melihatnya begitu bangun tengah malam untuk ke dapur mengambil minum.” Tanya Naomi dengan mengerinyit bingung.


Deggg…


Deru jantung Monita bergemuru begitu cepatnya, dia tidak tega membohongi Naomi, pasalnya Ilham memang sedang bersamanya saat ini, tapi dia tidak punya keberanian untuk mengatakan yang sejujurnya, dia takut Naomi akan kecewa dan marah dengannya.


“Ak… aku… tidak melihat Mas Ilham Mbak, sejak tadi aku tertidur begitu pulas, jadi aku tidak tau di mana Mas Ilham sekarang.” Bohong Monita dengan detak jantung yang tak karuan.


“Oh begitu ya, aku pikir kamu melihatnya, maaf ya Mon.. aku sudah mengganggu tidurmu.” Ujar Naomi meraih satu tangan Monita dan mengusapnya.


“Tidak Mbak, tidak apa-apa.”


“Ya sudah, aku ke kamar dulu ya.”


“Iya Mbak.” Naomi pun berlalu meninggalkan kamar Monita, sembari bernafas lega.


“Untunglah Mbak Naomi tidak curiga.” Ucap Monita begitu pintu kamarnya sudah tertutup, dan bersandar di balik pintu sembari mengusap-usap dadanya.


“Sebegitu takutnya kamu ketahuan.” Suara Ilham sontak membuat Monita kembali terkejut.


Monita pun menghampiri Ilham sembari meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya sendiri.


“Pelankan suaramu Mas! Mbak Naomi bisa saja mendengarnya.” Ucap Monita begitu sampai di hadapan Ilham.


Ilham pun tersenyum menyeringai menatap Monita, lalu tanpa permisi, dia menarik tangan Monita hingga terduduk di pangkuannya.


“Dia tidak akan mendengarnya, kamar ini kan kedap suara, bahkan jika kamu mendesah dan merintih keenakkan saat aku menggagahimu di sini, tidak ada yang akan mendengarnya.” Ujar Ilham dengan senyuman yang penuh makna.


“Mas!!” Monita sontak mencubit pinggang Ilham.

__ADS_1


“Aduh sakit sayang.” Ujar Ilham kemudian dengan tersenyum jahil lalu menatap Monita dengan tatapan yang sulit diartikan.


__ADS_2