Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 110 Cinta yang Tak Main-main


__ADS_3

Ilham semakin mengembangkan senyumnya dan mengecup singkat bibir ranum Monita.


“Aku juga sangat sangat sangat mencintai kamu.” ujarnya setelah melepas tautan bibir mereka.


Ilham menarik tangan Monita untuk membawanya duduk di tempat yang telah di siapkan.


“Aku tidak menduga mas menyediakan semuanya untuk hari ini, tapi kamu tidak memberitahukan padaku.”


“Sengaja sayang, biar surprise.” jawab Ilham santai dan akhirnya ikut duduk di hadapan Monita.


Ilham mulai membuka cemilan itu satu persatu, mereka mengobrol banyak hal sembari sesekali tertawa lepas. Belum pernah Ilham merasakan sebahagia ini, bagaimana tidak, selama dengan Naomi mereka tidak pernah piknik di tempat favorit Ilham seperti ini. Dari dulu, Ilham maupun Naomi selalu punya perbedaan dari segi banyak hal, termasuk tempat favorit mereka. Beberapa kali Ilham pernah mengajaknya piknik di alam bebas seperti ini, tapi Naomi kerap menolak dengan alasan, takut kuku kakinya rusak karena harus memasuki hutan.


Bersama Monita, pria itu menemukan pasangan yang sefrekuensi. Wanita cantik itu tampak menyukai apa yang disukai Ilham.


Monita bahkan tak ragu menyuapi Ilham snack yang ia makan. Seakan tak mau kalah, Ilham juga sama, ia menyuapi buah cherry kesukaannya ke mulut Monita.


“Apa mas juga pernah mengajak mbak Naomi ke sini?” Tanya Monita penasaran, siapa orang pertama yang dibawa Ilham ke tempat favoritnya ini.


“Tidak, Naomi tidak akan mau aku bawa ke sini.” jawab Ilham dengan senyum getirnya.


Monita yang awalnya begitu sumringah, perlahan mulai menyembunyikan senyumannya.


“Kenapa mas? Bukan kah kalian sudah lama bersama?” tanya Monita mendadak jadi prihatin pada suaminya kini.


“Dia tidak pernah mau kalau aku ajak ke tempat seperti ini, katanya kuku kakinya bisa rusak. Dia hanya senang kalau aku ajak shoping ke mall.” ungkap Ilham dengan pelan.


Tak lama Ilham pun mulai mendengus pelan, dan kembali menampilkan senyumannya yang masih terlihat sendu.


“Apa iya mas?” tanya Monita menarik sudut bibirnya dengan sangat tipis bahkan nyaris tak terlihat. Wanita itu seolah mendapat angin segar, pasalnya dia masuk dalam kategori wanita idaman Ilham karena punya hoby yang sama.


“Tapi untung aku punya satu istri lagi yang ternyata sefrekuensi denganku, jadi aku tidak kesepian lagi saat saat datang ke sini.” Ilham memang tengah membanding-bandingkan istri pertama dan istri keduanya, pasalnya dua-duanya punya karakter yang sangat jauh berbeda, dan dia lebih cocok dengan karakter Monita yang menyukai banyak hal yang sama dengannya.

__ADS_1


“Mas, Monita jadi tidak enak hati dengan mbak Naomi yang selalu terabaikan karena aku.” jika tadi ia seakan mendapat angin segar, berbeda halnya dengan sekarang, dia mendadak jadi tidak enak hati kala mengingat Naomi. Secepat itu suasana hatinya berubah.


“Sayang, semua bukan karena kamu, semua karena takdir, dan takdir ini Naomi yang memintanya. Mulai sekarang kamu tidak usah merasa bersalah lagi karena Naomi sudah menerima kehadiran kamu di tengah-tengah rumah tangga kami. Bahkan dia juga sudah menerima Dikta.”


“Benarkah mas?” tanya Monita dengan binar di wajahnya.


“Iya.” jawab Ilham singkat, padat dan sama sekali tidak jelas.


Ilham tidak semudah itu dibodohi, dia yang merasa tidak yakin seratus persen Naomi sudah menerima Dikta dan Monita sepenuh hati akan terus waspada dan siap melindungi keduanya jika ada hal yang tidak diinginkan terjadi. Ilham bukan sengaja mencurigai istri pertamanya itu, dia hanya mewanti-wanti saja, karena demi apapun Ilham merasa ada yang janggal dengan pernyataan Naomi tadi pagi, yang katanya sudah mulai menerima Monita dan putranya.


“Andai kita dipertemukan lebih awal, jauh sebelum aku mengenal Naomi, mungkin aku lah lelaki yang paling bahagia di dunia ini, menjalani rumah tangga tanpa ada rasa bersalah pada siapapun.” gumam Ilham dalam hati sembari menatap lekat istrinya dan merapikan anak rambut Monita yang dirasa mengganggu wajahnya.


“Mas, aku bersyukur bisa menikah denganmu, kamu definisi laki-laki yang nyaris sempurna di mataku, dan aku merasa beruntung akan hal itu.” ucap Monita sembari melemparkan senyum teduhnya ke arah sang suami.


“Tapi mas, dengan baiknya mbak Naomi padaku seperti ini justru akan semakin membuat aku merasa bersalah.” tambah Monita lagi.


“Jangan bicara seperti itu sayang.” ucap Ilham mulai menegakkan tubuhnya dan meraih kedua pipi Monita dengan lembut.


“Mau bagaimana lagi, faktanya saat ini hatiku sepenuhnya untukmu sayang.”


“Tapi mas sudah menjadi suami orang, mas tidak bisa mengelak kalau mbak Naomi adalah cinta pertamamu.”


“Aku tidak peduli, yang jelas perasaanku ini tidak bisa dikendalikan oleh Naomi sekalipun.”


“Tapi mas, apa sudah tidak ada lagi perasaanmu untuk mbak Naomi walau hanya secuil? Dia istri pertamamu mas, wanita pertama yang menempati hatimu sebelum aku.”


Entah kenapa Ilham mulai sangsi, yang tersisa dari perasaannya untuk Naomi tinggal rasa bersalah yang setiap hari menghantui hari-harinya. Dia tidak ingin Monita yang memang sudah tidak enak hati pada Naomi akan semakin merasa bersalah jika Ilham jujur bahwa dia juga merasakan hal yang sama. Di depan Monita, Ilham pura-pura tegar dan seakan tidak merasa besalah sedikit pun karena ini semua adalah keinginan Naomi.


“Semua perasaan cintaku ini sudah sepenuhnya kuberikan untukmu sayang, sebenarnya, aku tipekal laki-laki yang sulit jatuh cinta, aku tidak bisa mencintai dua orang wanita sekaligus dalam waktu bersamaan, rasa cintaku ini sepenuhnya sudah kupersembahkan untukmu dan semua itu di luar kuasaku sayang. Aku juga tidak tau kenapa. Tapi apapun rintangannya, akan tetap kuhadapi, asal aku bisa bersamamu.” tegas Ilham yang terdengar begitu menyejukkan hati Monita.


“Bolehkah aku egois mas? Ungkapanmu itu, membuat aku merasa jadi wanita paling beruntung di dunia karena memiliki cintamu.” Monita pun akhirnya mulai tersenyum tipis.

__ADS_1


“Kamu memang beruntung, jadi aku mohon jangan pergi lagi, tetaplah di sisiku apapun yang terjadi ya?” Ilham pun tersenyum manis sembari terus mengusap pipi mulus istrinya.


Monita mengangguk sembari terus mengembangkan senyumannya.


“Good girl!” Ucap Ilham pelan sembari mengecup singkat bibir Monita.


Setelah berbincang cukup lama, Ilham akhirnya bangkit dari duduknya, memandangi kolam tersebut lalu tiba-tiba saja membuka bajunya.


“Mas, kenapa bajunya dibuka?” tanya Monita yang jadi sedikit bingung.


Tanpa menjawab pertanyaan Monita, Ilham membuka celana jeans panjangnya hingga menyisakan boxer yang membalut aset berharganya. Pria itu menoleh singkat ke arah Monita, lalu melangkahkan kakinya mendekati kolam tersebut.


“Mas benar-benar mau berenang di kolam itu?”


Ilham sejenak menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Monita dengan senyuman khasnya.


“Akan sangat rugi kalau kita sudah jauh-jauh ke sini tapi tidak menyentuh air yang begitu bening ini.” jawab Ilham kemudian.


“Ya sudah hati-hati mas.” ucap Monita yang saat itu tidak berniat untuk mandi karena begitu dinginnya.


“Kamu tidak ikut?” tanya Ilham lagi.


“Ikut mandi ke kolam itu?”


Ilham pun hanya mengangguk sembari mengangkat singkat kedua alisnya.


“Aku tidak membawa baju ganti, airnya juga terlihat sangat dingin.”


“Kan ada bajuku, airnya memang sangat dingin tapi aku bisa membantumu mengatasinya.”


“Dengan cara apa?”

__ADS_1


“Nanti kamu tau sendiri kalau kamu ikut mandi.” jawab Ilham dengan senyum manisnya, kemudian melanjutkan langkahnya menuju kolam, meninggalkan Monita yang masih terdiam dengan tatapan yang tak biasa.


__ADS_2