Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 79 Melepas Rindu


__ADS_3

Pagi harinya Monita sedang asyik memasak di dapur, dia memasak nasi goreng sea food kesukaan Ilham, istri muda Ilham itu berencana membuatkan sarapan untuk Ilham dan mengantarkannya langsung ke kantor.


Dua puluh menit sudah Monita berkutat di dapur, akhirnya nasi goreng pun sudah selesai di masak, Monita mulai memindahkan nasi goreng itu dari wajan ke tupperware.


Selesai dengan urusan nasi goreng, bumil itu langsung membereskan dapur yang sedikit berantakan karena aktivitasnya tadi.


Pagi ini Monita tampak bersemangat menyelesaikan semua pekerjaannya, begitu semuanya beres, Monita melangkahkan kakinya menuju kamar untuk siap-siap ke kantor.


“Sudah selesai memasak?” Langkah Monita terhenti oleh suara bariton yang tiba-tiba santer terdengar di telinganya, ia melirik ke arah sumber suara dengan alis mengkerut.


“Mas? Kamu tidak ke kantor?” Tanya Monita berjalan menghampiri suaminya yang tiba-tiba saja muncul di apartemennya sepagi ini.


“Ini kan masih pagi sayang.”


“Tapi kan mas sudah rapi pagi-pagi begini.” Monita melangkah menuju sofa tempat dimana suaminya terduduk, dan ikut duduk di samping sang suami.


“Kenapa semalam kamu membiarkan David berlaku semesra itu padamu hah?” Tukas Ilham dengan nada pelan dan tatapan mengintimidasi.


“Aku kan hanya menjalankan sandiwara yang mas dan mbak Naomi suruh.”


“Tapi itu bukan ideku sayang, kenapa kamu tidak berlaku sewajarnya saja.”


“Aduuuuu…” keluh Monita sembari menutup kedua telinganya dengan tangannya sembari memejamkan matanya.


“Kalau mas datang ke sini cuma mau ajak Monita berdebat, lebih baik mas pulang saja.”


“Sayang, kenapa kamu malah mengusirku sih? Aku kan ke sini karena merindukanmu.”


“Ya sudah kalau begitu, tidak usah banyak bertanya, kan dinnernya juga sudah selesai, kenapa harus di ungkit-ungkit lagi sih.”


“Ok ok, aku tidak akan bertanya lagi, tapi sebagai gantinya, aku akan menginap di sini selama seminggu.”


“Hah?! Tumben.” Ujar Monita tampak sangsi.


“Serius sayang, aku akan menginap di sini selama 1 minggu, aku sudah izin ke Naomi dan dia setuju.”


“Ada yang janggal, mana mungkin mbak Naomi setuju kalau mas datang ke sini untuk menginap denganku.”


“Sayang sudahlah, tidak usah banyak bertanya yang pasti aku mau ke sini dan tinggal bersama istri tercintaku.” Tutur Ilham sembari menyandarkan kepalanya di bahu sang istri dengan manjanya.


“Terserah mas saja, kalau begitu ayo ke meja makan dan makan tu nasi goreng sea food buatan aku tadi.”


“Jadi kamu berkutat di dapur tadi untuk memasak makanan kesukaan aku?” Tanya Ilham dengan raut wajah berbinar-binar.


Beberapa menit kemudian, nasi goreng sea food yang Monita hidangkan sudah habis, Monita menatap lekat manik mata Ilham.


“Kenapa sayang?”


“Mon… Monita rindu mas Ilham.” Tak lama Monita langsung menubrukkan tubuhnya ke tubuh besar Ilham, untung saja Ilham mempunyai refleks yang bagus, jadi dia tidak sampai jatuh terperosok ke lantai.

__ADS_1


“Aku juga merindukanmu.” Aku Ilham, ia pun membelai lembut rambut Monita, perlakuannya itu membuat dirinya sendiri tenang, berbeda sewaktu mengelus rambut Naomi, tak ada rasa apa pun di sana.


Di dalam rengkuhan Ilham, air mata Monita menetes setelah lumayan lama menggenang di pelupuk matanya.


Ilham mengubah posisi Monita ke atas pangkuannya, dan menyeka air mata istrinya itu dengan lembut.


“Apa yang kamu rasakan selama tinggal terpisah denganku? Apa kamu kesulitan?”


“Tidak mas, apalagi saat mas ada di sini, semua kesulitan yang Monita rasakan hilang seketika.” Monita tersenyum begitu manisnya.


Ilham gemas sendiri melihat pipi istrinya yang membulat tiap kali tersenyum, ia segera mengecupnya bertubi-tubi, membuat Monita terkikik geli.


“Katanya bumil itu susah tidur, tidurnya disambung lagi ya? Pasti semalam kamu tidak bisa tidur kan?”


“Emm kenapa mas bisa tau?” Tanya Monita dengan alis mengkerut.


“Jelas aku paham sayang, aku sudah banyak membekali ilmu tentang kehamilan, jadi aku tau masalah psikologis ataupun fisiologis yang dialami ibu hamil.”


Rupanya pria ini sudah dibekali banyak ilmu tentang kehamilan, sesuai yang ia lihat di internet dan juga sering ia dengar dari mamanya kalau, ibu hamil itu sulit tidur di tengah malam karena perut yang semakin besar atau sering buang air kecil.


Tak lama Ilham tersenyum penuh misteri, dia menggendong tubuh sang istri ke dalam kamar, mendudukkan Monita di kasur dan menyelimuti setengah badan.


“Tidur ya.”


Ilham mendudukkan diri di tepi ranjang tepatnya di samping Monita, dan mengecup tangan mulus Monita itu membuat Monita meleleh dibuatnya.


Saking terharunya, mata Monita berkaca-kaca.


“Monita tidak menyangka saja mas Ilham datang ke sini dan mau tinggal di sini menemani Monita, apa benar mas akan di sini selama seminggu?”


“Iya sayang bahkan bila perlu sampai kamu bosan.”


“Kalau Monita tidak pernah bosan?”


“Berarti aku akan selalu di sini.”


“Bagaimana dengan mbak Naomi.” Pandangan Monita tiba-tiba meredup.


“Jangan memikirkan orang lain dulu sayang, pikirkan dirimu dulu, urusan Naomi biar aku yang pikirkan.” Ujar Ilham.


“Tapi kan mas…”


“Ssstt diam ya.” Bujuk Ilham.


Ilham hanya ingin Monita fokus memikirkan dirinya sendiri dan berbahagia tanpa perlu memikirkan kebahagiaan orang lain.


“Oke.” Monita akhirnya mengalah.


Ilham memang benar, dokter juga berkata seperti itu, dokter melarangnya untuk stres agar dia dan janinnya baik-baik saja.

__ADS_1


“Ya sudah Monita tidur ya mas.”


Siang harinya ponsel Ilham berdering, tapi sang empunya masih bergelut di atas ranjang, bahkan nyawanya masih berkelana entah ke mana, sedangkan Monita yang berada dalam kungkungan Ilham, menggeliat perlahan, deringan ponsel yang memekakkan telinga membuat Monita terganggu, dua pasutri itu sedang tidur siang rupanya.


“Mas ponselnya bunyi.”


Monita menepuk-nepuk lengan Ilham yang melingkar di perutnya, berharap suaminya bangun dan mengakhiri kebisingan di siang bolong ini.


“Mas angkat teleponnya.” Ujar Monita lagi, kali ini tepukannya di lengan Ilham semakin kencang.


Namun Ilham malah hanya bergumam tidak jelas, ia semakin mengeratkan pelukannya, detik berikutnya ia menggesekkan hidungnya di punggung Monita yang tidak tertutup sehelai benang pun.


“Astaga mas, geli ih.”


Bumil itu menggeliat, dia paling benci bagian tubuhnya yang paling sensitif di kerjai, namun Ilham malah semakin fokus menggesekkan hidungnya ke punggung Monita.


“Lepas mas, Monita mau mandi, badan Monita rasanya lengket.”


Mereka memang habis bertempur pagi tadi, karena Ilham berkali-kali mengerjai tubuh Monita, sampai bumil itu jadi lemas, Ilham bahkan tidak memberikan jeda untuk Monita beristirahat.


Siang ini tubuh Monita seperti remuk redam, bahkan membalik bada saja tidak ada tenaga, Ilham benar-benar seperti orang kesurupan tadi pagi.


“Memangnya kamu punya tenanga?”


“Tidak hehehe.” Jawab Monita cengengesan.


“Ya sudah kalau begitu tidur lagi, nanti pas bangun tidur kita mandi berdua.”


Monita mendelikkan matanya lalu menggeserkan tubuhnya sedikit menjauh dari Ilham, sembari menggeleng cepat.


“Dari pada mas menggoda Monita tidak jelas seperti itu, lebih baik mas angkat tu telepon yang sedari tadi berdering, kuping Monita sakit mendengarnya.” Omel Monita pada suaminya.


“Iya iya.” Ilham pun menggeser icon hijau dari ponselnya tanpa melihat si penelepon.


“Halo.” Jawab Ilham dengan suara parau, khas bangun tidur.


“Mas kamu baru bangun tidur?”


Mendengar suara Naomi dari seberang telepon membuat Ilham sontak membulatkan mata, tubuhnya menegang, deru jantungnya terdengar tak karuan, Ilham diam tak berkutik, takut menimbulkan bunyi yang mencurigakan.


“Tadi aku baru sampai Mi, saking lelahnya aku sampai ketiduran.” Jawab Ilham tampak cengengesan.


Saat mengetahui Naomi yang menelepon, Monita mencoba melepaskan diri dari pelukan Ilham namun pria itu menahannya, sejujurnya Monita risih dan tidak mau berada di antara percakapan Ilham dan Naomi.


“Di sini saja, tidak usah ke mana-mana.” Ucap Ilham selirih mungkin, ia menjauhkan ponselnya sejauh-jauhnya agar Naomi tidak mendengar.


Namun Monita melayangkan protesnya dengan cara menggeleng cepat-cepat, sungguh dia seperti orang ketiga saja bila tetap bertahan di situ.


“Ssstt… diam di sini nanti Naomi curiga.”

__ADS_1


Akhirnya Monita mengalah, ia pun meringkuk ke dalam kungkungan Ilham, ia mencoba untuk tidak mempedulikan percakapan antara dua pasutri itu, Monita pun membalikkan tubuhnya dengan posisi memunggungi Ilham.


__ADS_2