Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 104 Terungkap


__ADS_3

“Belum selesai kerjaannya?” Tanya Naomi keki sendiri, sejak tadi dia diabaikan seakan-akan Naomi hanya patung yang tak berharga.


“Sebentar lagi ya tunggu.” sahut Ilham tanpa menoleh ke arah istrinya.


Jujur saja, tak lagi ada kerinduan dari sorot tajam itu kala dirinya memandangi wajah cantik yang dulunya selalu teduh dipandang. Hatinya tak berdesir lagi seperti dulu, mungkin semua sudah dia berikan pada Monita sehingga tak tersisa lagi untuk Naomi. Secara sadar, pria ini sudah menggeser penghuni pertama di hatinya dengan orang lain.


Semua perhatian yang tidak Naomi berikan kini ia rasakan dari Monita, apa yang tidak ada pada Naomi semua ada pada Monita. Bagaimana dia tidak jatuh sejatuh jatuhnya pada makhluk Tuhan yang satu itu kalau setiap harinya dia dicurahkan cinta dan kasih sayang yang teramat besar.


Sepersekian detik, Ilham sudah menyelesaikan pekerjaannya. Kini dia melirik istri pertamanya itu dengan senyum hangat yang terukir dari bibirnya. Mungkin ada yang perlu dia sampaikan. Merasa bersalah karena tidak pulang-pulang selama beberapa hari ini, dia bersikap sebaik mungkin pada Naomi.


“Kenapa tidak pulang?” Tanya pemilik bibir ranum itu pada Ilham.


Pertanyaan itu benar-benar menohok, Ilham menelan salivanya, tidak tau harus menjawab apa. Kalau dia jawab menjaga Monita agar tidak kabur lagi, jelas saja itu akan menggores luka di hati Naomi. Tanpa menjawab dia hanya menatap lekat istrinya.


“Mas kenapa diam? Jawab mas.” Naomi menuntut jawaban.


“Kamu sudah makan siang?” Benar-benar tidak nyambung, di tanya apa malah balik tanya. Rupanya kebiasaan Ilham mulai kumat lagi setelah sekian lama dia hilangkan. Menjawab pertanyaan dengan pertanyaan lagi dan pura-pura tidak mendengarkan lawan bicaranya adalah kebiasaan Ilham sejak dulu, namun sudah tidak dia terapkan lagi setelah Naomi meminta untuk menghilangkan kebiasaan itu, karena itu benar-benar menjengkelkan kalau menurut Naomi.


“Mas, tolong lah kalau aku tanya itu dijawab, bukan balik tanya, heran deh kumat lagi. Kan aku sudah pernah bilang, hilangin kebiasaan itu, aku tidak suka mas.” omel Naomi menajamkan alisnya, ia mencebik kesal.


“Hahaha maaf, oh iya bagaimana kalau kita makan sea food? Sudah lama kan kamu tidak makan itu?” tanya Ilham mengalihkan perhatian Naomi dengan makanan kesukaannya. Biasanya cara ini berhasil, karena dulu Ilham kerap menggunakan cara ini saat Naomi marah dan bertanya hal yang tak ingin Ilham jawab. Dari pada berdusta lebih baik mengalihkan pembicaraan pikir Ilham.


“Mau mas, memangnya di mana?”


Ilham berseru yes dalam hatinya, rupanya ini masih berlaku. Ilham menggeleng-menggelengkan kepalanya sembari mengacak-acak rambut istrinya hingga tak beraturan.


“Mas aku baru catokan, gimana sih.” gerutu Naomi merapikan kembali rambutnya, dia benar-benar lupa tujuan awalnya adalah menginterogasi suaminya karena godaan sea food menggiurkan.


Mereka pun keluar dari ruangan Ilham dengan Naomi yang bergelayut manja di lengan suaminya. Sebenarnya Ilham risih mendapat perlakuan semanis itu dari Naomi, apalagi sekarang di depan ruangan ada Andre. Ilham segera melepaskan tangan Naomi dari lengannya, tentu saja dengan lembut.


“Kenapa di lepas? Kamu tidak mau aku gandeng lagi ya mas?” Jika dulu Ilham sangat suka Naomi seperti itu, beda halnya dengan sekarang. Naomi tidak bodoh, dia bisa membaca perubahan drastis yang ditunjukkan suaminya kini.


“Bukan Mi, malu di lihat orang. Sudah lama menikah, sudah tua juga tapi masih gandeng-gandengan, nanti kalau dibilang sok mesra gimana.” Bohong sekali, tua dari mana? Bahkan usia mereka masih cukup muda, menikah pun belum sampai belasan tahun, namun lain hanya jika bersama Monita, ia bahkan berani mengecup bibir Monita di depan banyak orang.


“Alasan saja.” gerutu Naomi berjalan sembari menghentak-hentakkan kakinya dan mengerucutkan bibir layaknya bocah TK dan berjalan mendahului Ilham.


Jika dulu Naomi seperti itu akan Ilham bujuk, lain halnya dengan sekarang. Ilham bahkan diam saja dan seakan tak terjadi apa-apa kala melihat Naomi merajuk seperti itu. Hati Ilham sepertinya sudah dia berikan seutuhnya untuk wanita keduanya yang ada di rumah.


“Dia tidak membujukku? Benar-benar sudah keterlaluan, sikapnya ini bahkan lebih parah dari yang sebelumnya.” tutur batin Naomi sekilas melirik ke belakang, bahkan yang dia lihat, suaminya malah sibuk mengutak-atik ponselnya seperti tengah mengirim pesan pada seseorang.


“Tapi terserah lah, dari pada dia tidak mau bersamaku siang ini. Sudah bagus sekarang dia mau ajak aku.” batinnya lagi.


“Sayang, tunggu sebentar ya aku masih ada meeting dengan klienku yang lain. Nanti selesai meeting aku jemput kamu ya.” isi pesan Ilham untuk Monita.


Kali ini Ilham terpaksa berbohong, dia tidak ingin Monita berpikir yang tidak-tidak jika dia jujur kalau saat ini dia sedang bersama Naomi. Walau pun sebenarnya Monita tidak punya kuasa untuk marah atau meminta Ilham menghindari Naomi, tetap saja Ilham lebih baik berbohong karena dia tidak ingin istrinya membatin.


“Baiklah mas, Monita tunggu di sini saja. Masih betah sama mama.” balas Monita setelahnya.

__ADS_1


Membaca pesan itu Ilham menarik sudut bibirnya. Rupanya pelan-pelan mamanya akan luluh pada Monita. Biarkan saja mereka semakin banyak menghabiskan waktu berdua, itu akan lebih bagus membangun kedekatan, pikirnya.


“Ya sudah, aku akhiri pesannya i love you my honey.”


“Love you to.”


“Jangan cuma love you to saja, kalau seperti itu kamu seperti ikut-ikutan.”


“I love you mas Ilham sayang.”


“Nah begitu baru benar.” pesan pun benar-benar berakhir.


Naomi yang sejak tadi memperhatikan gelagat suaminya yang senyum senyum sendiri bisa menebak dengan tepat kalau, suaminya sedang saling balas chat dengan Monita. Melihat itu hatinya berdenyut seketika, bahkan bersamanya suaminya sudah berani berbalas chat dengan wanita itu. Namun terpaksa dia mengalah untuk saat ini, yang terpenting sekarang Ilham sedang bersamanya.


Selama dalam perjalanan menuju restoran, Ilham hanya fokus mengemudi. Jika dulu dia selalu curi-curi pandang ke arah Naomi sembari menggenggam tangan wanita itu, kini dia terlihat berbeda. Jangan kan mengajak bicara, melirik saja dia tidak.


Hingga tak butuh waktu lama, mobil mewah dengan harga fantastis itu sudah terparkir sempurna di basement restoran tersebut.


Bahkan begitu turun, Ilham yang biasanya membukakan pintu untuk Naomi kini hanya berdiri saja menunggu Naomi turun. Bahkan Naomi sengaja sedikit berlama-lama di dalam mobil menunggu Ilham mebukakannya pintu namun nihil, semua tak sesuai ekspektasinya.


Terpaksa ia turun sendiri dan menampilkan senyum keterpaksaan di depan Ilham. Ia seakan tak ingin mempermasalahkan itu dulu, nanti saja kali ini hatinya sedang baik.


****


Hari-hari berlalu dengan begitu cepat, hari ini mama Nancy mulai bergerak menjalankan rencananya untuk mencari tau tentang Naomi. Tujuan pertamanya mengunjungi apartemen sahabat dekat Naomi yang bernama Sinta, karena yang Nancy tau, antara Sinta dan Naomi tidak ada rahasia. Karena yang Nancy tau mereka adalah teman sedari kecil, bahkan beberapa kali Sinta sering mengunjungi Naomi sewaktu menantunya itu tinggal di rumahnya, jadi dari situ dia sudah mengenal Sinta.


Tak lupa ia membawa Doni, mewanti-wanti jika nanti dia tidak jujur, maka dia akan meminta Doni untuk mengambil tindakan hingga wanita itu membuka mulutnya.


Detik berikutnya, pintu sudah dibuka oleh seorang wanita tinggi semampai dengan seluruh rambutnya yang dia jepit dengan jedai, jika dilihat dari penampilannya pagi ini, sepertinya Sinta sedang beres-beres.


“Tante?”


“Hai Sinta apa kabar? Boleh tante masuk?” Tanya Nancy dengan senyum manisnya dan wajah yang teramat teduh tentu saja.


“Ah iya tan ayo masuk.” Sinta mempersilahkan Nancy dan Doni masuk.


“Maaf tan, rumahku masih berantakan, aku belum selesai beres-beres.” ujarnya begitu Nancy dan Doni masuk sembari tangannya merapikan bantal sofa itu dengan benar. Dia ingin tamunya nyaman ketika berkunjung.


“Tidak apa-apa, lagi pula ini masih pagi, memang ini waktunya beres-beres. Tante saja yang datangnya kecepetan.” jawab Nancy sembari mendudukkan dirinya di sofa empuk itu setelah dipersilahkan duduk.


“Mau Sinta buatkan teh tante?”


“Ah jangan repot-repot nak, tante hanya sebentar kok.”


“Tapi kan tan-“


“Sudah tidak perlu, ayo duduklah. Tante tidak akan lama.”

__ADS_1


“Oh iya baik lah tante.” Sinta pun turut mendudukkan dirinya di sofa yang berada tepat di depan Nancy.


“Masih sering bertemu Naomi?” Tanya Nancy membuka pembicaraan.


“Iya tan.. kemarin Sinta juga sempat ke rumahnya.”


Nancy pun mengangguk-angguk sebelum memulai pertanyaan intinya.


“Kamu pasti tau banyak kan tentang rumah tangga Naomi?”


Mendengar itu Sinta memicingkan matanya, rupanya mertua sahabatnya ini sedang mencari tau sesuatu. Namun dia masih tetap sopan dan memperlihatkan senyum termanisnya di hadapan wanita paruh baya ini. Yang ia tau hubungan Nancy dan Naomi masih baik-baik saja, pasalnya Naomi belum bercerita insiden kemarahan Nancy dan Agam tempo hari di rumah utama.


“Memangnya kenapa ya tan?”


“Tante mau bertanya, siapa dalang dari sandiwara pernikahan ulang Ilham dengan Monita?”


Deeeggg…


Sinta tersentak mendengar pertanyaan kilat itu, bibirnya sedikit menganga, seketika tubuhnya membeku, detak jantungnya seakan terhenti dan ikut membeku juga seperti tubuhnya. Bagaimana tante Nancy bisa tau? Pikirnya, karena yang dia tau itu adalah rahasia Ilham dan Naomi itu sudah mereka simpan rapat-rapat bahkan dia pun ikut merahasiakannya. Pasalnya Naomi hanya terbuka padanya dan juga Amira. Namun Nancy tak mendatangi Amira karena dia juga tidak tau sedekat apa mereka, oleh karena itu dia hanya menuju pada Sinta.


“Jawab Sinta.” ujar Nancy membuyarkan lamunan Sinta, namun masih dengan suara yang teramat lembut.


“Tan-te, tau dari mana kalau Ilham menikah lagi?” Hanya itu yang mampu keluar dari mulut Sinta saat ini, dia tidak mungkin mengaku karena itu sama halnya dia memasukkan sahabatnya sendiri ke dalam jurang. Ya mereka memang sedekat itu.


“Apa itu penting Sinta? Jawab saja pertanyaan saya, siapa dalang di balik sandiwara itu?” kesabaran Nancy tak setebal dompetnya, jadi dia mendesak Sinta agar cepat menjawab pertanyaan yang ia lontarkan.


“Maaf tan, untuk hal itu, aku tidak bisa jawab.” jawab Sinta sembari menundukkan wajahnya. Ia tak berani menatap manik tajam Nancy saat ini.


“Jawab atau pelatuk ini aku tarik?” Ancam Doni menodongkan sebuah pistol tepat di kepala Sinta.


Sinta mengangkat wajahnya dengan mata yang membulat sempurna. Mulutnya menganga lebar, kali ini jantungnya berdegub dua kali lebih cepat, seketika tubuhnya bergetar bahkan bernapas saja dia takut. Dia tidak ingin bernasib sama seperti orang yang pernah berbuat jahat pada Ilham dan papanya dulu. Papa dan anak itu sama-sama nekat, mereka suka menyelesaikan masalah dengan menghabisi musuh-musuhnya. Jika bukan dibuat cacat maka akan dibuat mati. Itulah yang ia dengar dari cerita Naomi, berurusan dengan keluarga Adhitama adalah kesalahan besar.


“Jawab saja Sinta kalau kamu sayang dengan nyawamu.” tutur Nancy santai tanpa melirik ke arah Sinta sembari memainkan jemarinya. Tak hanya papanya, ibunya juga sama sadisnya.


Sinta terdiam, kini dia dilanda dilema, di sisi lain dia menyayangi sahabatnya namun dia juga sayang nyawanya. Wanita itu memejamkan mata sejenak dan menghela napas dalam demi menetralkan rasa takutnya dan memantapkan hatinya untuk mengatakan yang sebenarnya. Sesayang-sayangnya dia pada Naomi, dia lebih sayang nyawanya.


“Da-dalangnya adalah Naomi sendiri tante.” jawab Sinta dengan suara lirihnya, dia kembali menundukkan wajah dengan ketakutan yang membelenggu.


Mendengar itu hati Nancy bagai di lempar bongkahan batu besar tepat mengenai dadanya. Kini ia tertampar kenyataan. Batinnya terkoyak. Terasa sesak, bahkan pasokan udara di sana tidak mampu untuk melegakan pernapasannya.


Bagaimana tidak, menantu yang selama ini dia percaya, dia sayangi layaknya menyayangi anak kandung sendiri tega membohonginya sedalam ini.


Bahkan yang sangat disayangkan lagi, terakhir kali begitu mereka sudah ketahuan, Naomi masih berani berbohong dan dengan teganya menjadikan Ilham sebagai tameng demi melindungi dirinya. Dari sini saja Nancy sudah paham, sejauh apa cinta Naomi untuk anaknya, ternyata cintanya hanya secuil, karena istri yang baik dan benar-benar mencintai suaminya tidak akan melakukan hal rendahan seperti itu.


Semakin bencilah Nancy pada menantunya itu, bahkan sampai dia dalam perjalanan pulang, ungkapan Sinta masih terngiang-ngiang dalam benaknya. Dia masih terdiam dengan raut wajah penuh kekecewaan. Bahkan bisa-bisanya dia memojokkan putranya dan menuduh kalau putranya sudah tega mengkhianati dan menduakan Naomi. Dan bodohnya Ilham malah tidak masalah jika dijadikan tameng oleh Naomi, Nancy benar-benar tidak terima ini.


Apa sebenarnya yang ada dalam otak anaknya itu. Apa dia masih mencintai istrinya? Jika memang iya, maka Nancy sudah tidak bisa menerimanya lagi, bahkan jika cinta itu masih melekat dalam hati putranya, dia akan berusaha menghapus nama Naomi dari hati Ilham jika bisa. Ya kini Naomi sudah tidak mengantongi restu lagi dari mama mertuanya. Kebencian Nancy sudah di ubun-ubun, tidak ada toleransi lagi untuk pembohong ulung seperti Naomi.

__ADS_1


__ADS_2