Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 65 Aku Tidak Sebrengsek Itu!


__ADS_3

Tepat pukul 06.00 pagi Ilham terbangun dari tidurnya, ia mengerjap-ngerjapkan mata dan bangkit dari tidurnya, Ilham sesekali masih menguap dan meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku.


“Sudah pagi rupanya.” Ucap Ilham lirih.


Ia menatap dua kamar yang berbeda, kamar tamu dan kamar utama, Ilham ingin mandi, tapi dia bingung mau mandi di mana, di kamar mandi kamar utama atau kamar mandi kamar tamu?


Ilham benar-benar pusing, poligami tidak semudah yang dibayangkan, menyatukan dua wanita yang cintanya terbagi tidak semulus kulit orang korea, sangat membingungkan.


Bahkan Ilham pikir, melihat keakraban Naomi dan Monita pertama kali, akan menjadi awal yang baik untuk rumah tangga mereka, nyatanya Ilham salah, lama kelamaan kebersamaan Ilham dan Monita mengundang petaka bagi rumah tangganya bersama Naomi.


Bimbang, itulah yang Ilham rasakan, terlalu dekat dengan Naomi akan membuat Monita sakit hati, terlalu dekat dengan Monita akan membuat Naomi marah dan kecewa, bahkan saking frustasinya Ilham mengacak-acak rambutnya sendiri, apa yang harus aku lakukan? Batinnya.


Ilham melirik jam dinding yang ada di depannya, waktu sudah menunjukkan pukul 06.30 pagi, dari pada terlambat ke kantor, lebih baik Ilham mandi, mau tidak mau dia memilih masuk ke kamar Naomi.


Begitu masuk, dilihatnya Naomi yang sedang duduk berselonjor di atas ranjang, namun seketika Naomi memalingkan muka nelihat Ilham masuk ke dalam kamar.


Ilham sangat merasa bersalah, Naomi benar-benar marah besar, Ilham pun memilih diam dan masuk ke kamar mandi, soal Naomi nanti akan dia bujuk setelah dia selesai siap-siap.


Sepanjang Ilham mandi dan berganti pakaian, Naomi tak bersuara.


Naomi melihat Ilham berdiri menghadap cermin, dan membetulkan dasinya.


Namun entah kenapa, naluri Naomi menuntun agar ia mendekati Ilham, semarah apapun, Naomi tidak bisa mengabaikan pria yang sudah lama menemaninya dan mengisi kekosongan hatinya selama bertahun-tahun lamanya.


Karena pada kenyataannya, cinta Naomi lebih besar bila dibandingkan dengan ego dan cemburu.


Akhirnya Naomi menghampiri Ilham, membetulkan dasinya dengan lembut, agar terlihat bagus saat Ilham kenakan.


Setelah dasinya sudah rapi, Naomi berbalik membelakangi Ilham hendak ke ranjang lagi, rasanya ia belum bisa berlama-lama dengan Ilham, sekelabat pemandangan semalam terlintas di benaknya, cemburu sudah menguras hatinya.


Merasa tak tahan, Naomi terus melangkah menghindari Ilham, namun baru beberapa langkah, sebuah tangan menarik tangannya, lalu dengan sigap mendekap tubuh ringkih itu dengan erat, menciptakan kehangatan di pagi hari.


Ilham memeluk erat tubuh Naomi, mungkin karena rasa bersalah atau karena cinta yang begitu banyak di hatinya untuk Naomi, bagaimana tidak, wanita itu sudah bertahta di hati Ilham selama belasan tahun.


“Maafkan aku sayang.”


Lumayan lama kedua tubuh itu saling bertaut, hingga akhirnya, Naomi melepaskan tautan tubuh mereka, dan menatap Ilham dengan lekat.


“Mas Ilham tidak lupa kan, begitu anak itu lahir, Mas akan meninggalkan dia? Kalian akan bercerai kan?” Tanya Naomi mempertanyakan janji Ilham, begitu anak itu lahir, mereka harus bercerai.


Perlahan tangan Ilham yang memegang kedua bahu Naomi, lepas seketika.


Bagaimana bisa Ilham menceraikan Monita? Ilham memejamkan mata sejenak, dia sudah berjanji pada wanita yang tengah mengandung buah cinta mereka.


Seakan termakan janji sendiri, Ilham bingung harus mengatakan apa, Ilham seperti kena batunya, apa yang harus ia katakan pada istri pertamanya itu?


“Mas!” Panggil Naomi menatap mata suaminya dalam-dalam.


“Mas pasti akan menceraikan dia kan?” Dada Naomi semakin sesak, begitu dia menatap ke dalam manik mata suaminya itu, Naomi sangat hafal dengan ekspresi itu.


Naomi mulai muak, dia membalikan tubuhnya dan melangkah menuju ranjang, untuk duduk di tepinya.

__ADS_1


Mata itu seolah mengatakan tidak, mata yang dulu dengan penuh kasih menatap Naomi, seolah berkata bahwa, permintaan Naomi tidak mungkin ia kabulkan.


Naomi benar-benar pusing, ternyata seatap dengan madunya membuat Naomi bagai hidup di neraka.


“Naomi sudah tidak ingin anak lagi Mas!” Ucapnya dengan tangis yang semakin tak terbendung, dia sangat menyesal sudah menyuruh Ilham menikah lagi, nyatanya memberi kesempatan suami untuk bersama wanita lain, adalah kesalahan besar.


Entah ucapan Naomi itu benar adanya atau hanya ucapan karena emosi sesaatnya saja, padahal yang sebenarnya, jauh di dalam lubuk hati Naomi yang terdalam, dia masih mendambakan seorang anak, Naomi bimbang.


Ilham ikutan bingung, dia tidak tau harus bagaimana, dia tidak tau lagi cara apa yang harus dilakukan untuk menghibur Naomi, tidak mungkin dia membohongi Naomi dengan janji menceraikan Monita.


Detik berikutnya, dengan langkah gontai Ilham menghampiri Naomi lagi, seketika Ilham berlutut di hadapan Naomi.


“Lihat aku Naomi! Aku bukan pria brengsek yang dengan berani menghamilinya lalu meninggalkan dia begitu saja, aku tidak bisa mengambil anaknya dan menyuruhnya pergi, aku juga memiliki hati Naomi, dan dia juga punya perasaan.”


“Lalu? Bagaimana dengan perasaanku? Apa Mas tidak berpikir, ketika melakukan hal itu dengannya saat dia sudah hamil.” Naomi menatap marah pada suaminya, ia menuntut kenapa Ilham tega tidur seranjang dan menjalin hubungan dengan Monita.


Ilham mendengus kesal, Ilham sadar bahkan sangat sadar kalau dia salah, tapi semua yang dia lakukan itu karena terpaksa.


“Mungkin jika kalian terpisah, kita akan jarang berjumpa.” Ujar Ilham dengan jujur, tidak ada gunanya dia berdusta, toh istrinya ini paling kenal siapa dia.


Mendengar jawaban Ilham, Naomi seperti tertampar, lututnya terasa lemas, suaminya sudah bukan Ilham yang dulu, akhirnya dengan sisa tenaga yang ia punya, Naomi pun bangkit.


“Mungkin pembahasan kita sudah terlalu jauh.” Ujar Naomi sembari mengusap pipinya yang basah.


Naomi berjalan menuju lemari pakaian, mengambil koper besar yang ada di atas lemari.


“Naomi, kamu mau kemana?”


“Hubungan kita cukup sampai di sini saja.”


“Ini rumah kita!”


“Ini bukan lagi rumah kita, tapi neraka!”


“Neraka ini kamu yang minta!” Sentak Ilham dengan emosional.


Ilham benar-benar kesal, apa istri pertamanya ini lupa ingatan atau bagaimana, jelas-jelas dulu dia yang memaksa bahkan mengancam ingin cerai jika Ilham tidak menikah lagi, di saat Ilham sudah terjebak dan terlanjur jatuh hati pada istri mudanya itu, Naomi malah tidak terima, salah siapa menyuruh suami sendiri nikah lagi? Bagaimana pun Ilham adalah lelaki normal yang mudah terbuai jika diberi kesempatan untuk bersama wanita lain.


“Yang aku inginkan hanya anak Mas! Bukan wanita itu! Aku akan berikan semua hartaku padanya, sebagai gantinya anak itu untukku, dan dia harus pergi.”


Ilham mengusap wajahnya dengan kasar, benar-benar membuatnya hampir sinting.


Sedangkan di luar Monita mendengar semuanya dengan jelas, keributan dua pasutri itu berhasil menarik perhatian Monita, begitu dia ingin menuju kamar setelah selesai menyiapkan sarapan dari dapur, tanpa sengaja dia mendengar Ilham dan Naomi berteriak-teriak, karena penasaran Monita pun mengintip, ia mengintip karena mereka berdua menyebut-nyebut kata ‘wanita itu’.


Monita pun berjalan menuju kamarnya, dengan langkah lemas, ia terus melangkah, Monita tak percaya, Naomi yang terlihat baik dan ikhlas jika mereka berbagi suami ternyata sangat membencinya, dengan adanya Monita di rumah ini, membuat Naomi seperti tinggal di neraka.


Menyadari keberadaan dirinya bagai petaka, Monita memilih mundur.


Tapi Monita tidak akan memberikan anaknya, pikiran Monita benar-benar sudah berubah, yang awalnya ia berpikir untuk memberikan anak ini pada Naomi, dia malah mengurungkan niatnya, biarlah Naomi mendapatkan suami bersama itu, biar Ilham kembali pada istri pertamanya, sedangkan Monita, bersama anak yang ia kandung.


Monita sudah meraih koper besar dan memasukkan pakaiannya di dalam, kemudian ia bergegas menyeret kopernya dan berjalan keluar, kini ia sedang menuruni anak tangga, Monita meraih ponsel dan mengetik nomor Eden untuk diajaknya pergi, namun begitu Monita sibuk mengetik nomor Eden, tubuhnya tak sengaja menabrak tubuh kokoh seseorang, Monita terkejut dan sontak mendongak, alangkah terkejutnya Monita melihat Ilham yang sudah berdiri di hadapannya.

__ADS_1


“Mau ke mana kamu Monita?”


Monita terdiam sembari menundukkan wajahnya, melihat Monita diam, Ilham meraih dagunya, untuk menatap wajah polos gadis belia itu.


“Kamu mau ke mana?”


“Pergi Mas!” Monita menepis tangan Ilham di dagunya lalu memalingkan wajah.


“Kenapa?” Tanya Ilham lembut dan kembali meraih dagu Monita.


Kini tatapan mereka saling beradu, mereka saling menatap manik mata masing-masing.


“Karena rumah ini seperti neraka bagi Mbak Naomi kalau aku terus di sini.”


Bisa dipastikan Monita mendengar semua perdebatan dirinya dan Naomi tadi, pikir Ilham.


“Tidak Monita, selagi masih ada aku di sini, kamu tidak boleh pergi ke mana-mana, ini juga rumahmu!”


“Ini rumah Mbak Naomi Mas!”


“Iya aku tau, tapi aku tidak bisa jauh darimu Monita, apalagi sekarang kau mengandung anak kita.”


Tanpa sadar, omongan Ilham itu di dengar Naomi yang kini berdiri di tangga rumah mereka, dadanya kembali sesak, buliran bening jatuh membasahi pipinya, kata ‘anak kita’ yang diucapkan Ilham tadi, membuat Naomi merasa ada jarak yang terbentang panjang antara dirinya dan Ilham, kata kita hanya untuk suami dan madunya, makin lama hati Naomi makin teriris.


“Tapi Mas, aku tidak enak pada Mbak Naomi, bagaimana pun Mas adalah suaminya dan Mbak Naomi adalah istri pertamamu Mas, aku tidak mau menjadi perusak rumah tangga orang, secara tidak langsung, aku sudah seperti pelakor di antara kalian Mas.” Ujar Monita dengan air mata yang membasahi pipinya.


“Tapi aku tidak bisa jauh darimu Monita! Tolong kau mengertilah, aku tidak bisa tidur dengan tenang dan bekerja dengan fokus, kalau kamu tidak tinggal serumah denganku.” Kali ini Ilham mengusap pipi kanan Monita.


“Mas! Aku tidak bisa menyakiti hati Mbak Naomi lebih jauh lagi, Mbak Naomi sudah terlalu baik padaku, aku tidak sampai hati jika harus menghancurkan hatinya.” Ucap Monita menurunkan tangan Ilham dari pipinya dengan sudah banjir air mata.


“Baiklah, kamu boleh pergi dari sini tapi di tempat pilihanku nanti, aku harus tau kamu pergi ke mana, dan setelah kesibukanku selesai tentunya, tiga hari ini aku sibuk dengan proyek besar yang akan aku jalankan bersama klien baruku, aku harus fokus menjalankan proyek itu agar tidak gagal dan menyebabkan kerugian besar, jadi waktuku hanya di kantor dan di rumah, mungkin aku akan sering pulang telat karena lembur, begitu semuanya selesai, aku akan membawamu pindah dari sini.” Jelas Ilham sembari mengusap air mata Monita.


“Baiklah Mas! Tapi Mas janji ya akan membawaku pindah dari sini.”


“Iya sayang aku janji.” Ilham memeluk hangat tubuh Monita tepat di depan mata Naomi.


Semua apa yang dilihat dan didengar oleh Naomi berhasil membuat hatinya ngilu luar biasa, definisi sakit tak berdarah, itulah yang Naomi rasakan, dengan langkah gontai Naomi putar haluan kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.


Sedangkan Ilham menyeret koper Monita dan mengantarkannya masuk kamar.


Begitu sampai kamar, Ilham mengeluarkan semua isi koper Monita dan menatanya kembali ke tempat semula, lalu ia berjalan menghampiri Monita yang duduk di tepi ranjang, Ilham bersimpuh di depan Monita dan mensejajarkan tubuhnya dengan Monita, sembari menggenggam erat kedua tangan wanita itu.


“Janji, tidak akan kabur lagi?” Monita pun mengangguk patuh.


“Hari ini aku akan selalu memeriksa cctv rumah ini, kalau kamu berani kabur, tak peduli sedang sibuk meeting atau apapun itu, aku akan pulang dan mencarimu sampai ketemu, ingat Monita, aku akan mencarimu meski kau lari ke planet Mars sekalipun!”


“Iya Mas, Monita tidak akan kabur lagi kok.” Jawab Monita sembari menahan senyumnya.


Melihat itu Ilham jadi gemas sendiri, ia pun mencuri ciuman dari bibir Monita, diciumnya istri mudanya itu agak lama, seketika Monita teringat jika Ilham akan terlambat ke kantor, Monita segera melepaskan tautan bibir mereka.


“Nanti kamu terlambat Mas.”

__ADS_1


Ilham pun tersenyum, lalu mengecup kening Monita, turun ke mata, hidung, pipi dan terakhir ke bibir Monita, dia sedikit melu**tnya kemudian berlalu meninggalkan Monita di kamarnya.


Bisa-bisa Ilham akan semakin terlambat ngantor jika berada lama-lama dengan Monita, dia akan khilaf dan pasti akan kembali menggerayangi tubuh si bumil, pagi itu.


__ADS_2