
Bencana yang menimpah istrinya membuat Ilham tidak bisa bekerja dengan fokus, dia tidak mungkin bisa bekerja sementara kedua istrinya diterpa isu miring yang merusak nama mereka. Bagaiamana tidak, Ilham terlambat satu langkah dari Naomi, pasalnya begitu Ilham ingin menemui Naomi dengan niat melindunginya agar tidak melihat isu yang juga menyeret namanya itu, Naomi sudah lebih dulu berkunjung ke rumah kedua untuk menemui Monita.
Naomi yang awalnya berpikir bahwa isu tersebut sudah sampai ke telinga Monita, berniat menemui Monita demi untuk menghiburnya. Namun nyatanya secara tidak sadar dia sedang mengasah belati untuk siap dia sayatkan ke hati madunya itu menggunakan tangannya sendiri.
Ilham tidak menyalahkan istri pertamanya atas kericuhan ini, mana mungkin dia berani. Ilham memaklumi, toh wanita bermanik indah itu juga tidak tau kalau berita hoax tersebut sampai ke telinga Monita atau tidak. Naomi juga berkali-kali meminta maaf.
Entah bagaimana hujatan netizen hingga hari ini, pasalnya sudah lima hari isu tersebut belum redam juga, malah semakin menjadi. Shaka juga sudah berusaha bertindak, namun belum ada titik terangnya juga.
Sesuai saran Andre, Monita perlu klarifikasi soal itu, namun Ilham tidak akan memberikan kesempatan awak media untuk meliput istrinya. Apalagi saat ini Monita masih sangat trauma bahkan dia enggan keluar kamar semenjak isu panas itu tersebar.
“Apa tuan yakin pelakunya nyonya Naomi?” tanya Kevin menatap serius Shaka yang sedang duduk di kursi kebesarannya sembari memainkan jemari telunjuknya di atas meja dengan membentuk lingkaran.
“Iya, aku curiga dia pelakunya Vin. Tapi aku belum mau mengatakannya pada Ilham, mengingat dia yang masih begitu mempercayai istrinya itu, apa lagi kita belum punya bukti yang kuat.” jawab Ilham perlahan mulai bangkit dari duduknya sembari memasukkan kedua tangannya di saku celana.
“Lalu kita harus bagaimana?”
“Kita tunggu saja dulu, jangan pernah hentikan penyelidikan.”
Jika di sisi lain Kevin dan Shaka tengah memecahkan masalah Ilham di kediamannya, saat ini Ilham tengah menatap kosong istrinya yang tampak terlelap, setelah seharian ini menangis karena isu tersebut semakin menjadi.
“Maaf sayang, hidupmu jadi semakin runyam karena aku.”
Ilham mengecupnya begitu lama, dalam sekejap semuanya kacau bersamaan. Bahkan notifikasi akun sosial media Monita saat ini sangat mengerikan, bagaimana tidak mereka dengan lancangnya mengambil foto Monita saat mereka berdua sedang berpelukan di bandara dulu. Hatinya bagaikan diiris-iris kala mengetahui dunia memandang Monita seperti sampah.
Ilham tidak akan membiarkan penyebar fitnah istrinya lolos begitu saja. Bahkan ia juga menatap datar beberapa isu yang kembali menyeret namanya, biarlah mungkin mereka kurang bahan pikirnya.
Namun matanya sontak membola, dadanya berkecamuk kala melihat berita yang kembali menyorot istri mudanya. Ilham membaca secara detail dan semua yang tertulis di sana membuat Ilham teriris.
Jodoh cerminan diri sendiri, Ilham Adhitama dan Monita Maheswari Kusuma sama buruknya, wanita malam yang berasal dari rumah bordil.
__ADS_1
Buang berlian demi batu kubur! Ilham Adhitama menikahi pelacur club A di ibukota.
Diduga tak becus urus suami! Naomi Ratu diselingkuhi Ilham Adhitama dengan yang lebih segar, daun muda lebih menantang.
“Badjingan! Berita macam apa ini?”
Dada Ilham berdebar, matanya memanas ia mengacak rambutnya dengan kasar. Hatinya sakit kala sebutan pelacur itu disematkan dalam dirinya. Dua wanita tercintanya di sorot sedemikian rupa. Takut Naomi frustasi dan semakin insecure melihat berita itu, Ilham mencoba menemuinya di rumah utama demi meredam isu miring tersebut.
Ilham memejamkan mata dan bangkit dari tempat tidur, ia meraih kontak mobil dan berlalu keluar, dia tidak pamit lebih dulu, yang dipikirannya saat ini dia harus secepatnya meredam berita tersebut agar tidak sampai ke telinga Naomi.
Ilham melaju dengan kecepatan tinggi, pikirannya tengah terfokus pada istri pertamanya. Kaki Ilham melangkah perlahan begitu dirinya sudah berdiri di depan rumah utama tersebut, tidak dikunci? Ilham melangkahkan kakinya memasuki rumah penuh kenangan itu.
“Naomi.” Ilham menyusuri ruangan demi ruangan yang ada di rumah itu, sepi tampak tak berpenghuni. Padahal ini sudah jam empat sore, mungkin pelayan yang lain sedang berada di belakang.
“Naomi…” Ilham memanggil Naomi untuk kedua kalinya namun tak ada sahutan, hingga begitu dia sudah meniti anak tangga dan sampai di lantai atas, langkahnya terhenti kala mendengar suara seorang wanita sedang berbicara lewat telepon sepertinya.
Pria itu menajamkan pendengarannya, sengaja menguping, karena sepertinya istrinya sedang fokus berbincang via telpon hingga tak menyadari kedatangannya.
“Oh iya, apa kau sudah menyorot namaku?”
“Ya semua itu sengaja ku lakukan by, supaya mereka tidak mencurigaiku sebagai dalang dibalik kekacauan ini, makanya aku menyuruhmu untuk ikut menyeret namaku juga.”
“Bereskan dia sekarang juga by, aku tidak ingin melihat Monita ada di dunia ini dan jangan pernah menyebut namaku, aku akan berikan imbalan besar untukmu jika ****** itu berhasil tewas.” cetus Naomi dengan senyum smirk yang terbit dari bibirnya, hingga begitu dia berbalik, alangkah terkejutnya ia kala Ilham sudah berdiri di belakangnya dengan tatapan seperti ingin menguliti Naomi hidup-hidup.
“M-mas! Se.. sejak kapan mas di sini?” tanya Naomi dengan terbata-bata wajahnya pucat pasi. Jangan ditanya perasaannya saat ini, jantungnya berdegub dua kali lebih cepat dari biasa seakan ingin berpindah dari tempatnya.
Wajahnya memerah menahan rasa gugup dan takut yang bersatu padu. Sebisa mungkin dia menetralkan perasaannya agar tak terlalu kentara, walau sudah terlanjur basah, Naomi masih ingin berkilah.
“Kenapa kau berubah jadi sekejam itu Naomi?” tanya Ilham dengan rahang mengeras dan gigi yang bergemeletuk.
__ADS_1
“Aku tidak_”
“Jangan coba-coba berdalih Naomi!” Bentak Ilham sembari menunjuk wajah sang istri dengan telunjuknya.
Naomi terhenyak kala Ilham membentaknya begitu keras. Bagaimana tidak, ini kali pertama Ilham bertindak sekasar itu padanya, hati Naomi yang memang sudah kacau kini hancur berkeping-keping. Dunianya seakan runtuh, sakit campur malu berkecamuk dalam dadanya. Malu karena Ilham mengetahui kemunafikannya, takut akan Ilham tinggalkan, sakit karena suaminya membelah madunya sampai sedemikian rupa, semua perasaan itu campur aduk dalam hatinya.
Ilham tidak menyangka, wanita yang selama ini begitu ia percayai tega membohonginya dan berani berbuat serendah itu. Dia yang meminta Ilham untuk menyayat hatinya dengan belati, tapi dia juga yang kembali menyalahkan Ilham atas semua luka yang menggores hatinya.
“Mas tolong dengarkan penjelasanku dulu.” Naomi mencoba meraih jemari suaminya namun Ilham segera mundur selangkah.
“Penjelasan apa lagi Naomi? Semua sudah jelas, aku bahkan sudah merekam semuanya, jika sampai terjadi hal yang tidak diinginkan pada Monita, maka aku pastikan itu ulahmu.”
“Mas ini tidak seperti yang kamu pikirkan!”
“Tidak seperti yang kupikirkan bagaimana?! Semua sudah terekam jelas di ponsel ini! Jadi jangan coba-coba untuk lari.” cetus Ilham dengan nada ancaman kemudian segera berlalu dari kamar itu namun Naomi segera berlutut dan menahan kakinya, wanita itu memohon dengan berurai air mata.
“Mas maafkan aku, tolong jangan tinggalkan aku mas, tolong jangan pergi. Perlu kamu tau mas, semenjak kamu menikahi perempuan itu, hatiku hancur, bahkan akhir-akhir ini aku tidak bisa tidur, setiap hari aku selalu menunggu kepulanganmu, walau nyatanya itu tidak mungkin.”
“Kau tega mas, kamu benar-benar tidak adil. Kepadaku kamu selalu bersikap dingin, tapi kepada Monita, kamu begitu sayang dan perhatian padanya. Aku juga haus kasih sayangmu mas, aku juga merindukanmu, aku butuh hangat pelukmu, seperti halnya Monita.”
Ilham terdiam, pria itu menghela nafas berat sembari memejamkan matanya. Benar saja, pasalnya selama ini dia kurang memperhatikan Naomi, dia keterlaluan? Jelas saja iya. Namun dia kembali teringat kelicikan Naomi, dia tidak bisa terima jika istri keduanya dicelakai, sekali pun itu oleh Naomi.
“Lepaskan Naomi!” Ilham menggerak-gerakan kakinya untuk melepas jeratan Naomi, namun Naomi tidak akan melepaskannya, kali ini wanita pemilik surai indah itu tidak akan membiarkan suaminya pergi meninggalkan dia dalam keadaan marah seperti itu.
“Aku tidak akan melepasmu lagi mas.”
“Baiklah, kalau kamu tidak akan melepas kakiku aku akan menjatuhkan_”
“Mas!!!” Pekik Naomi sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia mendongak menatap suaminya penuh iba.
__ADS_1
“Aku mohon jangan pernah keluarkan kata cerai dari mulutmu itu mas, aku tidak sanggup jika harus kehilanganmu. Aku mohon.” lirih Naomi dengan wajah memelas.
“Kalau begitu tolong lepaskan aku Naomi. Karena kalau tidak, aku benar-benar akan mengucapkannya sekalipun kau melarangnya dan satu lagi, kau harus bersedia untuk melakukan klarifikasi terkait masalah tersebut.” ancam Ilham dan sontak membuat Naomi melepas kaki Ilham. Setakut itu dia kehilangan suaminya, hingga apa yang Ilham katakan ia turuti.