Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 128 Pertunangan Eden


__ADS_3

Niat hati hanya ingin mengabaikan pertanyaan istrinya yang sangat berbobot itu, Ilham terlena hingga ia menenggelamkan diri bersama Monita ke dalam lautan kenikmatan, dengan Dikta yang kini sedang bersama Eden dan Andre. Gadis itu seakan paham dahaga Ilham, ia datang tepat waktu dan membawa Dikta pergi.


“Katanya 5 menit tapi sampe 1 jam.” Gerutu Monita seraya mengancing kemejanya.


Benar-benar menjengkelkan, ucapan Ilham tidak bisa dipercaya. Sewaktu merayu, dia berjanji hanya sampai 5 menit, namun nyatanya sampai satu jam.


“Maaf sayang, tapi aku bisanya klim*ks di 1 jam gimana dong?” Ucap Ilham sembari mengusap lembut perut rata Monita dengan bertopang dagu di bahu sang istri.


Monita memutar bola matanya malas. “Mas, aku mau ke_” belum selesai Monita bicara, Ilham sudah menahannya.


“Kenapa?”


“Kamu mau ke mana?”


“Mau ambil Dikta.”


“Sebentar, kita ngobrol-ngobrol saja dulu.” Ujar Ilham seraya memindahkan posisi Monita duduk bersandar di headboard ranjang.


“Ngobrol apa mas?”


“Aku ingin tanya satu hal.” Ujar Ilham seraya menatap istrinya penuh damba.


“Tanya apa memangnya?”


“Kamu harus janji jawab jujur dan tidak ada yang ditutup-tutupi.”


“Iya janji.”


“Sebenarnya kamu keberatan tidak jadi istriku?” Pertanyaan tiba-tiba Ilham itu membuat Monita tertawa sumbang.


“Harus jujur ya?”


“Iya, jawab saja jika memang keberatan.” Tuturnya mulai memiliki firasat buruk kala Monita tertawa sumbang usai mendengar pertanyaannya.


“Sebenarnya awal-awal aku keberatan, tapi mas datang dengan imbalan yang tidak main-main. Apa lagi saat itu aku sangat terdesak karena butuh uang demi ibu, tapi seiring berjalannya waktu, aku mulai mencintaimu. Semua cinta, ketulusan dan kelembutan yang mas berikan, mampu membuat cinta ini semakin tumbuh dan tumbuh setiap harinya.”


“Kenapa begitu? Kenapa kamu keberatan diawal?” Tanya Ilham yang merasa tidak puas dengan jawaban sang istri. Padahal pertanyaan Ilham tidak perlu dijawab, jelas saja karena mereka baru bertemu, mungkin bisa dibilang Ilham adalah pria yang berani melamar dengan cara berbeda, ngajak nikah di kali kedua pertemuan.


“Berat saja, menikah dengan pria yang baru dikenal. Bahkan bisa dibilang, hanya aku wanita yang berani menerima pria asing untuk jadi suami tanpa takut, apa pria itu baik atau tidak, psikopat atau tidak, bahkan dari dulu aku tidak pernah membayangkan akan menikah dengan pria beristri. Tapi aku berani menerima mas demi ibu.”


Monita tidak berbohong, memang awalnya dia berat menerima Ilham sebagai suami orang. Bahkan di depan khalayak ramai pura-pura menjadi orang asing dan merelakan suaminya memperkenalkan wanita lain sebagai istri, sebenarnya Monita berat dan ingin menyerah saja, padahal saat itu Ilham sudah memiliki dirinya seutuhnya.


“Tapi itu dulu kan, aku harap kamu benar-benar akan mencintaiku karena sekarang kamu adalah satu-satunya istriku Monita.”


“Tentu saja, saat ini aku sudah sangat sangat mencintai mas Ilham.” Ujar Monita seraya merapikan rambut suaminya. Ilham selalu pasrah setiap kali mendapatkan sentuhan manis dari sang istri.


“Sebesar apa cintanya?”


“Seujung kuku.” Jawab Monita sekenannya.


“Hah? Kenapa hanya seujung kuku?” Tanya Ilham seolah tak terima.


“Iya, karena setiap kali aku potong, dia akan tumbuh lagi dan lagi.”


Ilham tersenyum simpul mendengar penuturan istrinya, dan sontak menghujani Monita dengan ciuman.


“Andai nih ya… andai aku dan Dikta tenggelam, siapa yang akan lebih dulu kamu selamatkan?” Tanya Ilham mulai asal. Namun Monita paham, setiap pasangan pasti akan mempertanyakan hal ini untuk menguji seberapa besar cintanya.


“Dikta lah.” Jawab Monita cepat, dan Ilham sontak memasang wajah datar sedatar-datarnya.


“Kenapa begitu? Jadi kamu rela aku mati?”


“Bukan begitu, tapi kan mas bisa berenang, jadi jelas yang akan lebih dulu aku selamatkan duluan itu Dikta. Pertanyaannya mulai aneh ah.”

__ADS_1


Melihat ekspresi Ilham yang makin sebal membuat Monita terkekeh. Padahal memang benar apa yang Monita katakan, meski secinta itu pada suaminya, logika Monita tetap jalan.


“Menyebalkan, jawabannya tidak memuaskan.”


“Sudah ah aku mau ambil Dikta.”


“Tapi sayang_”


Drrrtt drrrttt drrrtt


Ponsel Ilham bergetar dengan menampilkan nama Doni di layar ponselnya.


“Sial! Mengganggu saja.”


Namun pria itu tetap menjawab panggilan telpon Doni dan merelakan istrinya berlalu meninggalkannya sendirian di kamar.


“Hmmm ada apa?”


“Tuan gawat tuan!”


“Gawat kenapa?!” Ilham tersentak lalu bangkit dari duduknya dengan raut wajah panik, apa mungkin terjadi sesuatu di perusahaan?


“Nyonya Naomi sudah siuman.” Jawab Doni yang sontak membuat Ilham lemas seketika. Pria itu memutar bola matanya malas mendengar pengaduan Doni. Dia pikir apa, nyatanya hanya ingin menyampaikan info tidak berbobot itu.


“Lalu? Kenapa harus beritahu aku? Apa itu penting?” Pria itu kesal sekali, gara-gara Doni dia kehilangan waktu berdua dengan istrinya.


“Masalahnya… dia sering memanggil nama tuan.”


“Biarkan saja! Aku tidak peduli.”


“Tapi tuan..”


“Ada apa lagi?”


“Dokter menyarankan agar aku menghadirkan tuan saat ini juga, mungkin nyonya Naomi akan sadar sepenuhnya jika tuan datang menemuinya.”


“Kau saja yang temani dia Doni! Saya sibuk, minggu depan adik ipar saya tunangan, jadi saya hanya akan fokus pada acara pertunangannya.” Sahut Ilham seraya mengakhiri panggilan telepon itu secara sepihak.


Seminggu kemudian…


Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba. Andre akan segera mengikat Eden sebelum mereka menikah. Rasa tak menyangka, menyeruak ke dalam relung hati Monita kala melihat adik yang dulunya masih kecil dan sering berebut mainan dengannya kini beranjak dewasa dan sudah dipinang.


Sepersekian detik berlalu, Monita terkesima pada saat ia menyelesaikan sentuhan terakhir di wajah adiknya. Benar-benar cantik, wajah Eden sejenak mengingatkan Monita pada mendiang ibunya. Diantara mereka berdua, Eden yang punya kemiripan 100 persen dengan sang ibu, sementara Monita, mirip ayahnya.


“Kamu cantik sekali Den.” Puji Monita dengan bangganya. Bagaimana tidak bangga, adiknya terlihat cantik karena hasil karyanya. Ya hasil sentuhan tangan Monita sudah hampir mirip MUA, wanita itu sudah banyak belajar dan saat ini hasil make upnya sudah mumpuni.


“Tumben, biasanya kakak tidak pernah memujiku. Ini juga kakak puji karena kakak yang make up-in kan?”


“Iya lah, kalau kamu tidak pake make up juga tetap cantikan aku.” Jawab Monita tak mau kalah.


“Tuh kan, kalau muji yang ikhlas dong kak.” Celetuk Eden mencebik kesal.


“Yee emang kenyataan cantikan aku kemana-mana.”


“Dasar kepedean.”


Tok… tok… tok


“Monita apa sudah selesai? Andre sudah tiba.” Panggil mama Nancy dari balik pintu.


“Iya sudah ma.”


“Ayo cepetan.” Monita segera menarik tangan Eden untuk segera turun ke bawah.

__ADS_1


“Iya pelan-pelan dong kak, nanti robek kebaya aku.” Kesal Eden yang melihat kakaknya nampak terburu-buru.


Monita segera membuka pintu kamarnya dengan membawa serta Eden yang sudah ada disampingnya.


“Wah anak mama cantik sekali.” Puji Nancy yang memang sudah menganggap Eden sebagai putrinya juga.


“Terima kasih ma.” Jawab Eden tersenyum kikuk, dia masih secanggung itu ketika berhadapan dengan ibu mertua dari kakaknya ini.


“Kamu sudah pintar make up Mon.” Puji mama Nancy yang sontak membuat Eden menghela napas kasar. Bukan wajahnya yang dipuji, tapi make upnya, padahal sejak tadi dia sudah berekspektasi tinggi kalau dia memang cantik. Padahal Eden juga tak kalah cantik, hanya kurang percaya diri saja.


“Iya lah ma, gimana? Monita sudah cocok jadi MUA belum?”


“Cocok sekali, kamu kursus?”


“Ah tidak, Monita belajar otodidak ma.”


“Wah hebat, nanti mama bilangin Ilham untuk kasih modal buat kamu jadi MUA. Kamu mau kan jadi MUA terkenal?”


“Mau si ma, tapi… Monita fokus urus anak saja. Monita tidak mau kasih sayang anak Monita terbagi hanya karena kesibukan Monita. Cukup Ilham saja yang sibuk, Monita di rumah saja.”


“Padahal mama punya kenalan MUA loh, mama bisa promosiin kamu.”


“Iya tapi kayaknya_”


“Kak? Ini acara tunangan atau ajang berbisnis sih?” Tanya Eden segera memotong percakapan mereka, karena kalau tidak, sampai subuh mereka pasti akan terus berbincang seperti ini. Eden mulai pegal berdiri dan mulai lelah mendengar rencana masa depan kakaknya yang bukannya mengantar dia ke bawah tapi malah berbisnis bersama mertuanya.


“Oh iya, kakak hampir saja lupa.”


“Ya ampun iya juga ya, ya sudah ayo cepat bawah Eden turun.” Pungkas mama Nancy yang mulai mengambil posisi di sisi Eden untuk menuntunnya turun.


Hingga akhirnya, sorot mata Andre menatap sosok wanita cantik yang kini sedang berjalan perlahan menuruni anak tangga dengan balutan kebaya mustard yang senada dengan kemeja batiknya.


Saat itu, Eden yang memang sudah terlihat cantik tampak semakin cantik begitu rambutnya disanggul dan ditata indah di tengkuk dengan make up flowless yang membuat kecantikannya semakin bertambah.


Monita dan mama Nancy terus mengiringi langkah Eden berjalan ke arah calon mempelai pria. Jantung Andre semakin tak karu-karuan, padahal ini baru tunangan Andre sudah segugup ini, bagaimana nanti kalau sudah acara pernikahan. Terlebih begitu tangan Eden sudah berada dalam genggamannya, Andre semakin gugup saja bahkan berkeringat dingin.


Sementara Eden yang merasakan tangan Andre yang basah dan dingin sontak mengerutkan dahi, karena khawatir akhirnya Eden bertanya, tidak lucu kan kalau sampai Andre pingsan di acara sakral ini.


“Kenapa tangan kakak dingin?” Bisik Eden dengan raut wajah cemas.


“Kakak gugup Den.” Jawab Andre yang sontak membuat Eden lega rasanya. Dia pikir diare, ternyata hanya gugup dan Eden sontak terkekeh.


“Rileks kak, ini baru tunangan loh. Coba deh, inhale exhale!” Pinta Eden dan Andre sontak mengikuti arahan wanita ini.


“Sudah tenang kan?”


“Lumayan.”


Disaat mereka sedang bahagia-bahagianya, di sisi lain, masih berada di tempat yang sama, seorang lelaki menatap Eden penuh damba. Namun dia tidak bisa berbuat apa-apa, karena Eden lebih memilih Andre. Meski Eden sudah menyampaikan permintaan maafnya dan menolak Arga secara halus, namun sebenarnya berat baginya untuk merelakan Eden bersama pria lain.


Arga mencoba pasrah walau sebenarnya hatinya rapuh, karena merebut milik orang lain sebenarnya bukan sifat Arga sama sekali. Waktu itu dia bersih keras mendekati Eden karena gadis itu belum ada yang memiliki, berbeda halnya dengan malam ini, Eden telah diikat oleh Andre untuk nanti menjadi milik Andre seutuhnya.


Acara pertunangan pun berlangsung dengan khidmat, berbagai rangkaian acara malam ini sudah terselesaikan tanpa halangan apapun. Acara tukar cincin pun sudah terlaksana, kini Eden menyandang status baru, menjadi tunangan Andre.


Satu persatu tamu undangan menyalami mereka dan memberi selamat. Tak lupa pula dengan Arga yang juga turut memberi selamat dengan sejuta perasaan sesal di dada.


“Selamat ya, jangan menyakitinya, sedikit saja abang membuat dia sakit hati, aku akan siap merebutnya dari pelukanmu.” Bisik Arga seraya memeluk singkat Andre lalu memberi warning berkedok ucapan selamat yang sukses membuat Andre mendelik.


“Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi. Mana mungkin aku merelakan Eden jatuh ke pelukan pria aneh sepertimu.” Jawab Andre dan sontak membuat Eden menoleh. Hal apa yang mereka bahas sehingga Andre menatap Arga dengan tatapan sengit.


“Bahas apa sih?”


“Ah tidak, selamat ya Den semoga kau bahagia dengan pilihanmu.” Ujar Arga hendak meraih jemari Eden namun Andre segera menepuk tangan lelaki itu.

__ADS_1


“Terima kasih Ga.”


“Ngomong-ngomong, kau terlihat semakin cantik malam ini.” Arga memberikan pujian seraya mengerlingkan matanya dan sukses membuat Andre meradang.


__ADS_2