
“Sial!” Pekik Ilham nampak kesal sembari memukul setir kemudinya.
“Kenapa dia bisa lolos?! Padahal aku sudah yakin kalau dia masih ada di rumahnya dan dia tidak curiga sama sekali jika aku dan anak buahku akan datang mengepungnya, tapi kenapa dia malah kabur!”
Ilham nampak begitu emosi, gurat amarah kini tergambar jelas di wajah tampannya, dia benar-benar geram, karena tidak bisa menemui Rendy.
Flash back on…
Begitu Ilham tau kalau Rendy adalah pelakunya, Ilham menghubungi Rendy dan berpura-pura mengatakan kalau besok selesai meeting, dia akan berkunjung ke rumah Rendy untuk membicarakan kabar baik tentang kontrak kerja sama mereka.
Awalnya Rendy setuju, dan akan menunggu Ilham di rumahnya, bahkan ia juga berencana untuk menyambut Ilham, ia akan menyuruh pelayannya untuk menghidangkan makanan spesial untuk Ilham.
Setelah yakin kalau besok hari Rendy akan menunggu kedatangannya, Ilham pun menghubungi anak buahnya.
“Halo tuan.” Jawab seseorang dari seberang telepon, yang tak lain adalah anak buah Ilham.
“Besok siang kalian harus bersiap-siap, kerahkan anak buah kamu yang lainnya, begitu saya beri aba-aba, kalian harus mengepung Rendy di rumahnya, saya akan pergi lebih dulu dan pura-pura berbincang dengannya.” Perintah Ilham kepada anak buahnya yang merupakan ketua dari geng yang sudah ia bentuk sendiri.
“Baik tuan, akan kami laksanakan!” Tegas Roy selaku ketua geng tersebut.
“Bagus.” Ilham tersenyum sinis lalu mematikan sambungan teleponnya.
“Rendy, kau akan tau akibatnya jika berani berurusan denganku.” Seringai Ilham menatap tajam jalanan yang ada di depannya.
Keesokan harinya, sesuai rencana, begitu meeting berakhir, ia akan pergi ke rumah Rendy untuk menemuinya, dia begitu yakin jika saat ini Rendy sedang berada di rumah.
Ilham mengetuk pintu rumah Rendy beberapa kali, begitu ia sampai di depan pintu rumah Rendy.
Tok… tok… tok…
“Iya sebentar!” Terdengar suara wanita paruh baya dari balik pintu.
__ADS_1
Begitu pintu terbuka, tanpa basa basi, Ilham langsung menanyakan keberadaan Rendy.
“Permisi bi, apa ada Rendy?” Tanya Ilham masih terlihat ramah.
“Tuan Rendy sudah pergi pagi-pagi sekali, dia membawa koper besar, bibi bahkan tidak tau kemana tuan Rendy pergi.” Jawab pelayan itu dengan jujur.
“Apa?! Bibi benar-benar tidak tau dimana Rendy saat ini?” Tanya Ilham mendelikkan matanya, bibi pun menggeleng pelan.
“Saya sudah buat janji dengannya hari ini untuk bertemu, bahkan dia mengatakan kalau dia akan menyuruh bibi’ untuk membuatkan makan siang untuk menyambut kedatangan saya, bagaimana dia bisa tidak ada sekarang?” Tanya Ilham dengan sedikit meninggikan suaranya.
Pelayan itu sontak terkejut dan menundukkan kepalanya, dia tampak sedikit gemetar karena ia begitu tau jika saat ini dia sedang berhadapan dengan siapa, seorang Ilham Adhitama, pengusaha sukses dan muda, yang terkenal dengan sikap dingin dan arogannya, Ilham benar-benar memiliki pengaruh besar di negaranya.
“Semalam, tuan Rendy memang ada mengatakan itu pada saya, tuan memang memerintahkan saya untuk memasak makan siang untuk tuan Ilham, tapi entah kenapa, begitu saya hendak berbelanja bahan makanan di pasar, tuan Rendy mencegah saya dan tidak jadi menyuruh saya memasak…” Pelayan tersebut menggantung ucapannya.
“Lalu tidak lama kemudian, tuan Rendy sudah keluar dari kamarnya dan membawa koper besar lalu berjalan begitu saja tanpa bilang apa-apa pada seluruh pelayan yang ada di rumah ini.” Ucap pelayan itu melanjutkan penjelasannya.
Mendengar itu, Ilham tampak mendengus kesal, benar-benar di luar dugaannya, kenapa Rendy seakan kabur begitu tau Ilham akan datang? Apa Rendy tau rencana Ilham yang mengepungnya? Apa mungkin Rendy sudah tau kalau Ilham sudah mengetahui kebusukannya, rentetan pertanyaan muncul satu persatu di benak Ilham.
Flash back off…
Kini Monita, Eden dan Ija sedang berada di perjalanan menuju kota dengan disupiri Andre.
Entah kenapa, Monita jadi begitu merindukan Ilham yang sebelumnya sudah sangat membuatnya kesal.
“Mungkin aku harus lebih mengerti lagi dengan semua kesibukannya selaku CEO perusahaan besar, dalam hal ini mungkin aku yang sudah keterlaluan karena selalu menuntut perhatian darinya padahal ia sedang sibuk.” Batin Monita sembari melihat ke arah luar jendela.
“Begitu sampai, aku harus langsung menemuinya.” Gumam Monita lagi.
Monita melirik jam yang ada di ponselnya, tak terasa sudah hampir dua jam mereka menempuh perjalanan, kini mobil yang dikemudikan Andre sudah memasuki jalanan kota yang ramai dan padat penduduk itu.
“Begitu sampai, aku akan memasak makanan favoritnya, dia pasti senang.” Celetuk Monita lagi lalu tersenyum tipis.
__ADS_1
Selang beberapa menit, kini mobil yang dikemudikan Andre sudah sampai di depan rumah Ilham, saat itu Monita merasa jika amarahnya kian memudar, ia ingin segera menemui Ilham.
Setelah mengantarkan Eden ke sebuah kamar yang ada di lantai dasar, dengan langkah penuh semangat, Monita terus menapaki anak tangga dan berniat ingin menemui Ilham di kamar mereka, namun begitu pintu dibuka, Monita tidak menemukan siapa pun di sana, Monita terus masuk ke dalam dan mencari Ilham di toilet, balkon dan walk in closet namun nihil, tidak ada Ilham di sana.
“Mungkin di kamar tamu.” Monita pun melangkahkan kakinya menuju kamar tamu, namun lagi-lagi hal tak terduga terjadi, saat Monita sudah berjarak cukup dekat dengan pintu kamar tamu, ia dikejutkan dengan Naomi yang terlihat keluar dari kamar itu.
“Mbak Naomi??” Ucapnya yang seketika langsung menghentikan langkahnya.
“Monita? Kau sudah sampai?”
“Emm iya Mbak…”
“Kapan kau sampai?”
“Baru saja, Mbak Naomi kapan pulangnya?”
“Kemarin sore, namun Ilham tidak ada di rumah rupanya dia ada di rumahmu ya, katanya ibumu meninggal, aku turut berduka cita ya Monita, maaf tidak bisa datang, kalau saja aku tau lebih awal, pasti aku akan ke sana sendirian untuk menemuimu.” Tutur Naomi dengan raut wajah yang tampak sendu sembari memeluk tubuh Monita dan mengusap lembut punggung gadis yang sembilan tahun lebih muda darinya itu.
“Iya Mbak tidak apa.” Jawab Monita.
Tak lama, Ilham pun nampak keluar dari kamar tamu itu.
“Sayang, siapa yang datang?” Tanya Ilham dari balik kamar.
Ilham pun juga nampak sedikit terkejut saat mendapati Monita yang sudah berhadapan dengan Naomi di depan pintu kamar mereka, apalagi menyadari panggilan sayangnya pada Naomi, membuat Ilham jadi tidak enak pada Monita.
Monita pun melirik singkat ke arah Ilham dan mengurungkan niatnya lalu masuk ke dalam kamarnya setelah berpamitan pada Naomi.
Ilham yang melihat itu bersusah payah menahan dirinya agar tidak menyusul Monita, bagaimana pun di dalam hatinya ia begitu ingin menyusul Monita dan ingin berlama-lama dengan gadis manis pujaan hatinya itu, dan melepas rindu tentunya.
Entah kenapa, semenjak kepulangan Naomi, Ilham sudah tidak pernah menyentuh Naomi lagi, bahkan sikapnya terhadap Naomi sudah berubah drastis, dia yang dulunya yang begitu perhatian dan selalu menomor satukan Naomi, kini berubah menjadi sedikit cuek padanya, namun di dalam hatinya, dia masih mencintai Naomi.
__ADS_1