
“Aku akan pergi mas, aku akan ke pengadilan sekarang juga dan akan mengajukan perceraian.” Setelah berkata seperti itu, Naomi langsung pergi meninggalkan kamar dengan setengah berlari.
“Naomi! Tolong jangan pergi!” Ilham berteriak panik ingin menyusul Naomi namun bersamaan dengan itu Monita memekik.
“Aakkhh!” Monita memegangi perutnya, rasa sakitnya seperti dililit kencang, seolah lilitannya sanggup memisahkan badannya, kepalanya pusing dan berkunang-kunang.
“Kakak!” Pekik Eden saking paniknya, ia berjongkok dengan perasaan cemas luar biasa, disusul dengan Andre yang juga ikut panik.
“Kak Ilham! Tolong kak Monita!” Eden menoleh ke arah Ilham yang hanya diam mematung seperti pajangan.
“Tuan Ilham! Ini istri anda sedang kesakitan, tolong bantu dia.” Pintah Andre kemudian.
“Ta.. tapi Ndre, Naomi…” Ilham sungguh tidak sanggup jika harus kehilangan Naomi, dia ingin menghalangi Naomi yang agar tidak mengajukan gugatan cerai ke pengadilan.
Tak lama rasa sakit yang Monita rasakan bertambah dua kali lipat lebih sakit dari yang tadi, bahkan Monita merasakan ada darah yang mengalir sampai ke betisnya, hingga akhirnya Monita terduduk karena kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya untuk berdiri.
“Kak Ilham! Kak Monita pendarahan!” Teriak Eden dengan paniknya, namun Ilham tetap diam membisu, Ilham dilanda dilema antara membawa Monita ke rumah sakit atau mengejar Naomi.
“Ndre tolong kau bawa Monita ke rumah sakit, aku harus mengejar Naomi sekarang juga!” Ucap Ilham kemudian, setelah berkata seperti itu, dia segera meninggalkan Monita yang sedang kesakitan lalu keluar dari kamar menyusul istri pertamanya,
“Jangan harap setelah ini kau bisa menemui kakakku!” Teriak Eden dengan emosi yang membuncah, namun Ilham sudah tidak mempedulikan sumpah serapah yang dilayangkan Eden padanya, soal itu nanti dia akan kembali membujuk Eden dan Monita saat waktunya sudah tepat.
“Kak Andre ayo kita bawa kak Monita ke rumah sakit sekarang juga.”
“Iya ayo.” Andre pun dengan sigap menggendong tubuh Monita menuju mobil di susul dengan Eden yang ikut berjalan cepat di belakang Andre.
Begitu sampai mobil, Andre langsung memasukkan Monita ke dalam mobil tepatnya di kursi belakang bersama Eden, kemudian dia duduk di kursi kemudi lalu dengan sigap menancap gas dan mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.
Di perjalanan, Eden tampak panik luar biasa, dia mengusap lembut perut Monita yang kini ia sandarkan di bahunya dalam keadaan sudah tak sadarkan diri.
“Kak, bisa tolong lebih cepat lagi.”
“Ini sudah cepat Den, kamu tenang ya.”
Akhirnya, tak butuh waktu lama, mobil Andre sudah sampai di gerbang rumah sakit, ia segera memarkir mobilnya di IGD lalu memanggil perawat dan dokter jaga di sana untuk membantu membawa Monita ke dalam.
Dengan sigap, dokter dan perawat jaga segera mendorong brankar menuju mobil Andre yang sudah di parkir tepat di depan teras IGD.
Beberapa perawat jaga segera memindahkan Monita ke brankar dan mendorongnya menuju ruang khusus penanganan.
“Tuan, nona, silahkan tunggu di sini saja ya, dokter akan segera melakukan penanganan.” Ucap seorang perawat perempuan pada Eden dan Andre.
__ADS_1
“Tapi sus..”
“Den, kamu tenang ya, biarkan dokter melakukan tindakan lebih dulu.” Saran Andre sembari merengkuh kedua pundak Eden.
Setengah jam kemudian dokter sudah berhasil melakukan penanganan pada istri kedua Ilham itu, Monita pun sudah mulai sadar, sedangkan Eden dan Andre ikut masuk ke dalam ruang khusus pemeriksaan begitu Monita sudah selesai ditangani.
Kini Monita tergeletak lesu di ranjang rumah sakit, ia sudah menjalani berbagai macam pemeriksaan.
Begitu melihat Eden dan Andre masuk, Monita melemparkan senyuman lirih karena masih merasakan sedikit sakit di perutnya.
“Terima kasih ya kak Andre, sudah mau membawaku ke sini, kalau tidak, aku tidak tau bagaimana keadaan janinku setelahnya.”
“Sudahlah nona, tidak usah berterima kasih, itu memang sudah tugas saya, lagi pula saya tidak mungkin membiarkan nona kesakitan lebih lama seperti tadi.”
“Kak, bagaimana keadaan perut kakak sekarang? Apa masih terasa sakit?” Tanya Eden sembari mengusap lembut perut Monita.
“Sudah lumayan.” Jawab Monita balas mengusap lembut tangan adiknya.
“Pokoknya mulai sekarang kakak tidak usah berhubungan lagi dengan laki-laki itu! Bagaimana bisa dia lebih memilih mengejar istrinya disaat calon anaknya dalam bahaya.” Ketus Eden dengan emosi membara.
Mendengar itu Monita terdiam, kini Monita sedang berada di persimpangan jalan, ia tidak tau harus mengikuti perasaannya atau logikanya, karena saat ini, perasaannya berkata kalau dia masih ingin bersama Ilham dan memaafkannya namun di samping itu logikanya juga berkata kalau dia harus meninggalkan Ilham dan membawa anaknya pergi jauh dari suaminya.
“Kak! Apa kakak dengar apa yang aku katakan tadi?”
“Den sebaiknya, biarkan nona Monita yang memutuskan akan bagaimana rumah tangganya nanti, sekarang kamu jangan memperkeruh suasana yang akan membuat kakak kamu semakin stres.” Saran Andre sembari menggenggam sebelah tangan Eden.
“Sampai kapan pun aku tidak rela kalau sampai kakak memberikan anak itu pada mereka berdua, kalau kakak mau setelah ini aku akan membawa kakak pindah dari apartemen itu dan memulai hidup baru, aku akan selalu ada di samping kakak untuk merawat dan membesarkan anak itu bersama.” Jelas Eden setelah hatinya sudah lumayan tenang.
“Mas! Aku masih mau memberikanmu kesempatan satu kali lagi, aku akan tunggu kedatanganmu kemari sampai besok siang, kalau sampai besok siang kau tidak datang menemuiku, aku akan menyetujui saran Eden lalu pergi dari kehidupanmu selama-lamanya.” Gumam Monita dalam hati.
****
Pagi hari yang cerah, mentari pagi menyapa lewat sela-sela jendela hingga mengenai wajah seorang pria yang msih terlelap bersama istrinya di balik selimut dalam keadaan tubuh yang sama-sama polos tanpa busana karena aktivitas panas yang mereka lakukan semalam, semenjak menikah dengan Monita, baru semalam Ilham kembali menyentuh Naomi, demi membujuk Naomi agar tidak menceraikannya.
Mentari pagi yang menembus sela-sela jendela itu tembus hingga mengenai wajah pria yang bernama Ilham itu, merasakan ada kehangatan mentari yang menerpa wajahnya, Ilham perlahan-lahan membuka matanya yang masih terasa begitu berat.
Ia menatap wajah Naomi dengan lekat, lalu membelai lembut sebelah pipi istri pertamanya itu namun pikirannya melayang jauh memikirkan keadaan istri kedua dan juga calon anaknya yang entah ada di rumah sakit mana.
Dari kemarin hingga pagi ini, semenjak dia sudah berhasil meluluhkan hati Naomi, dia sudah tidak bisa kemana-mana lagi, Naomi seakan sudah membelenggu dirinya dan hal itu berhasil membuat Ilham resah, ia susah payah memikirkan cara bagaimana dia bisa lari dari Naomi dan pergi menemui Monita yang entah di mana rimbanya.
Sedangkan disisi lain Monita sedang makan disuapi oleh Eden, adiknya itu benar-benar merawat Monita dengan baik, hari ini kondisi kesehatan Monita sudah lebih baik dari kemarin, dokter pun sudah memperbolehkan Monita pulang, namun mereka masih ingin bersiap-siap dan mengurus administrasi perawatan, untung saja masih banyak sisa uang bulanan pemberian Ilham di atm Monita, jadi uang itu yang ia gunakan untuk biaya perawatannya selama di rumah sakit, bahkan sepertinya uang itu akan cukup sampai Monita melahirkan nanti.
__ADS_1
Tak terasa, waktu begitu cepat berlalu, pagi berganti siang dan tibalah waktu di mana Monita akan pulang, semua urusan administrasi sudah selesai tinggal menunggu jemputan dari Andre.
Untung saja hari ini Andre tidak bertemu Ilham karena Ilham belum masuk kerja, jadi dia bisa bebas menghindar dari pertanyaan Ilham yang pasti akan menanyakan tentang keberadaan istrinya.
Kini Monita dan Eden sedang menunggu di lobi rumah sakit, namun beberapa menit kemudian seorang pria menghampiri mereka.
“Akhirnya aku menemukanmu.” Ucap sang pemilik suara bariton yang tak asing di telinga, hingga membuat Eden dan Monita sama-sama menoleh.
Namun begitu mengetahui siapa yang datang, Eden langsung berdiri menghalangi pria itu agar tidak mendekati Monita, ya pria itu adalah Ilham.
“Den, tolong biarkan saya bicara dengan Monita dulu.” Mohon Ilham pada adik iparnya itu.
“Tidak, aku tidak akan pernah mengizinkan kamu untuk bertemu kakakku lagi.” Ketus Eden dengan raut wajah memerah karena marah.
“Den please aku mohon tolong biarkan aku bicara empat mata dengan Monita.” Ilham memelas.
“Tidak akan! Lebih baik kamu urus istri pertama kamu itu, jangan menemui kak Monita lagi!” Eden menghalangi Ilham dan menyembunyikan Monita dibalik punggungnya.
“Sayang…” kali ini Ilham memanggil Monita yang hanya duduk diam membisu dengan tatapan kosong, matanya berkaca-kaca menahan kecewa yang teramat dalam.
“Tolong kau pergilah mas! Dari kemarin aku di sini, tapi kenapa kamu baru datang sekarang? Sudah terlambat, lebih baik mas kembali ke mbak Naomi dan biarkan aku hidup bahagia bersama anakku.”
“Tapi sayang..”
“Monita?” Tiba-tiba David muncul di depan mereka.
“Kak David?” Monita pun langsung berdiri begitu melihat David datang.
“Kak David sudah datang? Lebih baik kita langsung pergi saja ya kak.” Setelah berkata begitu Monita langsung menarik tangan David dan hendak berlalu dari hadapan Ilham saat itu juga, namun Ilham segera mencekal tangan Monita.
“Lepaskan mas!” Monita berusaha memberontak namun cengkraman tangan Ilham begitu kuat hingga membuat ia kesulitan untuk melepaskan tangannya.
“Aku tidak akan rela jika kamu pergi bersama dia!”
Sementara Andre yang baru saja sampai langsung bersembunyi begitu melihat kericuhan itu, dia berniat untuk tidak menampakkan batang hidungnya di depan Ilham agar Ilham tidak selalu menghantuinya dengan menanyakan keberadaan Monita.
“Sebaiknya kamu lepaskan dia Ilham, lihat! Bukan kah dia ingin pergi bersamaku?”
“Diam kau brengsek!” Ilham hendak meninju wajah David namun Monita segera menghalaunya.
“Pergi mas! Jangan salahkan kak David karena dia yang sudah menolongku saat calon bayiku dalam bahaya bukan kamu!” Bohong Monita pada Ilham agar Ilham merasa bersalah dan membiarkannya pergi dari sana, karena yang Monita inginkan saat ini adalah segera pergi dari hadapan Ilham saat itu juga.
__ADS_1
“Tapi sayang…”
“Tolong dengarkan apa kata kak Monita, kata dokter dia tidak boleh terlalu stres, sudah cukup kak Ilham membuat kak Monita dalam bahaya kemarin, jangan buat dia kembali dalam bahaya hari ini.” Ujar Eden kemudian.