
“Monita, apakah sangat sakit?” Tanya Ilham dengan bodohnya, tentu saja sakit, ini yang pertama kalinya untuk Monita.
Monita tidak menjawab pertanyaan Ilham, dengan meringis kesakitan, Monita perlahan turun dari ranjang hendak menuju kamar mandi.
“Kamu mau ke mana?” Tanya Ilham terkesiap saat Monita sudah berdiri di sisi ranjang.
“Kamar mandi.” Jawab Monita singkat dengan hanya menutupi tubuh polosnya dengan selimut, ia hendak melanjutkan langkahnya, sedangkan Ilham tidak tega melihat Monita berjalan tergopo-gopo seperti itu, akhirnya Ilham mengangkat tubuh mungil Monita dan membawanya masuk ke kamar mandi.
“Mas! Lepaskan, saya bisa jalan sendiri.” Ucap Monita sambil menggoyang-goyangkan kedua kakinya.
Ilham tak berniat menggubris ocehan Monita, dia terus membawa Monita dalam dekapannya menuju kamar mandi, begitu sampai kamar mandi, Ilham langsung menurunkan Monita.
“Panggil saya kalau sudah selesai.” Ucap Ilham singkat lalu berjalan menuju pintu kamar mandi, setelah keluar Ilham kembali menutup pintu tersebut, berniat memberi privasi untuk istrinya itu.
Menit berikutnya Monita sudah terlihat keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai piyama tidur, sementara Ilham yang melihat Monita keluar sendirian bergegas menghampirinya.
“Kenapa tidak panggil saya?” Tanya Ilham menatap Monita dengan kerutan di keningnya.
“Saya tidak apa-apa Mas!” Jawab Monita kemudian kembali melanjutkan langkahnya, meski langkah itu terlihat gontai, Monita tidak gentar, dia terus melanjutkan langkahnya seorang diri, tanpa perlu bantuan Ilham.
Jujur saja saat ini Monita sangat kesal dengan suaminya itu, sejak Ilham memangsanya secara brutal, dia jadi kehilangan senyumannya, wajahnya berubah jadi datar dan selalu di tekuk, bagaimana tidak, Ilham menggagahinya tanpa ampun, bisa dibilang Ilham sudah memperkosanya.
Meski pun itu dilakukan oleh suami sahnya, tetap saja, Monita tidak pernah menyangka jika harus dilakukan secara kasar seperti tadi, Monita memang akan memberikan tubuhnya untuk Ilham, tapi dengan kelembutan dan tanpa paksaan, bukan dengan cara kasar seperti itu.
Ilham tidak bisa berkutik saat melihat Monita mulai menaiki ranjang dan membaringkan tubuhnya kembali, Monita berbaring membelakangi Ilham, melihat perubahan sikap Monita, Ilham semakin merasa bersalah, istri mungilnya itu marah padanya, namun Ilham memaklumi hal itu, karena Ilham sadar, malam ini Ilham sudah merenggut paksa kesucian istri keduanya itu.
__ADS_1
Baru kali ini ada pelacur yang masih perawan pikir Ilham, ya pelacur hanya lah profesi yang disematkan pada Monita, namun kenyataannya Monita masih bersegel, sepintas Ilham mengutas senyuman tipis, ada rasa bangga yang menyelinap dalam hatinya, dia bangga memperistri Monita, sudah cantik, baik, pengertian dan tentunya masih perawan, berbeda dengan Naomi yang sudah tidak perawan jauh sebelum menikah dengannya, Ilham tidak sadar, kini hatinya sudah bercabang dua, Ilham memang jahat sudah melupakan istri pertamanya itu dan membandingkannya dengan Monita, tujuan awal mereka ke Swiss memang untuk menyusul Naomi, namun karena Naomi berbohong dan tidak ke sana, Ilham jadi tersulut emosi, saking emosinya dia melampiaskan amarahnya itu pada Monita dengan cara memperkosanya secara brutal.
Dalam pikiran Ilham, rencananya meniduri Monita secara paksa tadi, adalah agar dia bisa cepat menghamili Monita dan Naomi bisa cepat kembali padanya, rumah tangganya akan selamat, namun setelah mulai merasakan tubuh istri keduanya itu, semua niat yang ada dalam hati Ilham berubah, hatinya berkhianat, benih-benih cinta di hati Ilham yang sudah mulai tumbuh sejak awal bertambah ketika dia berhasil menjamah tubuh Monita, Ilham sampai tidak bisa melupakan bagaimana nikmatnya, Monita sudah menjadi candu baginya.
“Mas!” Panggil Monita dengan tetap membelakangi Ilham.
“Emmm.” Ilham terkesiap saat Monita memanggilnya.
“Besok aku ingin pulang!” Tegas Monita kemudian.
“Iya, kita pulang besok pagi ya.” Jawab Ilham tidak berani membantah, lebih baik dia menuruti saja keinginan Monita karena kalau tidak, bisa-bisa Monita minta pulang sendiri, Ilham tidak bisa membiarkan Monita pulang sendiri, Ilham sadar, dia mulai mengkhawatirkan istri sirinya itu.
Pagi hari yang cerah….
Tepat pukul 06.00 pagi, Monita dan Ilham sudah berada di bandara Zurich, pada saat mereka sedang duduk menunggu pesawat take-off, sayup-sayup Monita mendengar suara berat seseorang memanggilnya.
“David?”
Melihat itu Ilham jadi terperangah, bagaimana bisa Monita mengenal David.
“Kau sedang apa di sini? Dan Ilham? Apa itu kau?” Tanya David yang kini beralih menatap Ilham.
Ilham hanya tersenyum tipis menjawab sapaan David, perasaannya mulai tak karuan, pernikahannya bersama Monita ini kan dirahasiakan, sementara David, sudah melihat mereka bersama, Ilham jadi keringat dingin sendiri, bagaimana kalau semuanya bocor, bagaimana kalau orang tuanya tau, Ilham tidak bisa membayangkan itu terjadi, bayangan mama dan papanya memarahi dirinya habis-habisan membuat Ilham bergidik ngerih.
“Ilham, kenapa kau bisa bersama Monita?” Tanya David dengan mengerinyitkan dahi.
__ADS_1
“Emmm, itu..”
“Saya sepupu Mas Ilham.” Jawab Monita seakan tau kegelisahan yang dirasakan Ilham.
Ilham pun melongo mendengar jawaban Monita, kenapa dia harus mengaku-ngaku sebagai sepupu Ilham? Padahal kan kalau Ilham jujur saja itu akan menutup jalan bagi David untuk mendekati Monita, pikirnya, melihat gelagat David, Ilham jadi curiga kalau David juga akan menyukai istri kesayangannya itu.
“Untung lah, saya pikir kalian ada sesuatu, tapi saya percaya, Ilham Adhitama adalah pria yang setia, bukan begitu tuan Ilham?” Tanya David berhasil membuat Ilham geram, dia sangat menyesali ketidakberdayaannya sekarang, menutupi pernikahannya bersama Monita, itu sama saja dengan membuka kesempatan untuk pria lain mendekati wanitanya, Ilham jadi frustasi sendiri.
“Oh ya, Mas David mau pulang juga?” Tanya Monita mengalihkan topik pembicaraan.
“Mas? Kenapa dia harus memanggil begundal ini dengan sebutan Mas? Tidak tidak hanya aku satu-satunya yang boleh dia panggil Mas.” Celetuk Ilham dalam hati dengan mendelikan matanya ke arah Monita.
Monita yang mendapat tatapan seperti itu sontak mengerutkan dahi, dia tidak mengerti dengan tatapan Ilham padanya itu.
“Iya saya juga akan pulang ke Indonesia hari ini, itu artinya kita akan satu pesawat.”
“Oh ya Mon, boleh saya minta nomor whatsapp kamu?” Tanya David mulai meraih ponselnya yang ada di saku celana.
“Dia tidak punya ponsel! Mohon maaf tuan David, saya dan Monita jalan duluan ya, takut ketinggalan pesawat.” Sergah Ilham lalu kemudian menarik tangan Monita berjalan menjauhi David ketika mendengar pengumuman kalau pesawat mereka akan segera berangkat.
David yang mendengar itu semakin mengerutkan keningnya, ketinggalan pesawat bagaimana, sedangkan mereka satu pesawat.
David menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah rekan bisnisnya itu, mungkin dia sedang posesif saja.
“Saya akan berjuang mendapatkan restunya.” Ucap David seorang diri sembari tersenyum penuh arti.
__ADS_1
David berjalan seorang diri mengikuti langkah Ilham, kini dia sudah menemukan titik terang, dia jadi tau lewat jalur mana dia akan mendekati Monita, siapa lagi kalau buka lewat Ilham, yang dikiranya sepupu dari wanita yang baru saja ia sukai itu.