Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 72 Mertua Terbaik


__ADS_3

Malam harinya, tepatnya pukul 18.00 malam, Monita mendapati bu Nancy tengah mengurut kaki Naomi menggunakan minyak angin, wanita paru baya itu terlihat sangat menyayangi Naomi, apalagi begitu tau Naomi hamil, meski hanya pura-pura.


Bu Nancy tidak menaruh curiga sedikit pun pada menantunya atas kepura-puraan yang Naomi lakukan saat ini, dia benar-benar percaya kalau Naomi hamil, dan kabar kehamilan Naomi merupakan kebahagiaan terbesar bagi kedua orang tua Ilham.


“Monita? Sini.” Panggil Nancy saat tak sengaja melirik ke arah tangga, dimana Monita sedang berdiri.


Naomi pun ikut melirik ke arah Monita, namun matanya menunjukkan tatapan tak suka, tapi ia kembali merubah tatapannya begitu menyadari ada sang mertua di sampingnya, ia juga ikut memanggil Monita.


“Iya Monita, ayo sini.”


Monita tersenyum, ia menuruni anak tangga menuju sofa tempat bu Nancy dan Naomi berada, ia pun mendudukkan dirinya di sofa yang berada tepat di hadapan Nancy dan Naomi.


“Naomi sekarang gantian Monita yang diurut ya, mama lihat kakinya bengkak, jadi mama mau mengurut kakinya juga.”


Mendengar itu, hati Naomi sedikit berdenyut, mertuanya mulai menunjukkan perhatian lebih pada madunya, sedikit rasa cemburu kembali menyapa hati wanita cantik itu, namun kali ini ia mencoba mengalah, agar mama Nancy tidak curiga.


“Baik ma.” Jawab Naomi lalu bangkit dari duduknya dan beralih ke tempat duduk yang lain.


“Monita, ayo duduk sini.” Panggil Nancy lagi, sembari menepuk sofa kosong di sebelahnya.


Dengan ragu-ragu, Monita berpindah ke tempat duduk tepatnya di samping sang mertua, dia merasa tidak enak pada Naomi, apalagi melihat mimik wajah Naomi yang mengisyaratkan ketidaksukaan, namun apa boleh buat, agar mertuanya tidak curiga, Monita menuruti permintaan bu Nancy.


Begitu Monita duduk, Nancy langsung mengangkat kedua kaki Monita, namun dengan segera Monita melarangnya.


“Nyonya, tolong jangan memegang kaki saya, saya jadi merasa tidak enak.” Larang Monita sembari memegang tangan Nancy agar tidak menyentuh kakinya.


“Tidak apa nak, saya justru senang, ingat nak, kamu tinggal di rumah ini itu artinya kamu juga sudah seperti bagian dari keluarga ini, jadi saya akan memperlakukan kamu sebagaimana saya memperlakukan Naomi, jangan sungkan.” Ucap Nancy kemudian dan kembali meraih kedua kaki Monita.


Monita tersenyum tipis lalu membiarkan kakinya dipegang oleh Nancy, sedangkan Nancy, tanpa ragu ia meletakkan kedua kaki Monita di pahanya.

__ADS_1


Nancy mengambil minyak angin lalu membalur kaki Monita dengan minyak tersebut dan mengurutnya perlahan.


Melihat itu, lagi-lagi Naomi merasa panas dalam hatinya, dia kembali merutuki nasibnya yang sangat tidak beruntung itu, kini rasa takut menyeruak ke dalam hatinya, ia takut posisinya akan digeser oleh Monita, sudah cemburu karena suaminya sudah mulai mencintai Monita, kini mertuanya juga mulai menyayangi Monita, Naomi benar-benar dibuat gusar.


“Apa kau masih punya orang tua?” Tanya Nancy kemudian.


Monita terdiam sejenak, matanya berkaca-kaca begitu Nancy membahas tentang orang tua, pasalnya saat ini Monita adalah anak yatim piatu.


“Aku sudah tidak punya orang tua Nyonya, ayahku meninggal waktu aku kecil sedangkan ibuku meninggal beberapa bulan yang lalu karena menyelamatkan aku dari mobil yang akan menabrakku.” Lirih Monita dengan buliran bening yang membasahi pipinya.


Nancy sontak mengalihkan pandangannya ke arah Monita, Nancy terperanjat begitu mendengar kematian ibu Monita yang begitu tragis, malang sekali nasib gadis ini pikirnya.


“Maaf, saya tidak bermaksud….”


“Ah tidak apa Nyonya, saya mengerti, saya hanya terbawa suasana saja makanya saya menangis.”


Nancy pun mengusap air mata Monita dan usapannya beralih ke dagu, matanya menatap Monita dengan sendu, lalu dia tersenyum lirih.


Mendengar itu Monita kembali menangis haru, begitu lembut hati ibu mertuanya ini, namun sangat disayangkan Monita tidak bisa mengakui secara terang-terangan kalau wanita yang ada di depannya ini adalah mertuanya, jika saja dia bisa mengakui bu Nancy sebagai mertuanya secara terang-terangan, dia pasti akan sangat bangga saat semua orang tau betapa beruntungnya memiliki ibu mertua sebaik ini.


Namun rasa bersalah kian menyeruak jauh ke dalam sanubarinya, dia sudah ikut andil membohongi bu Nancy dengan menutupi kehamilannya, dan mengakui kehamilan pura-pura Naomi, namun dia bisa apa, dalam cerita ini dia hanyalah pion, yang harus mengikuti arahan dari Naomi.


Ilham yang melihat perhatian mamanya pada sang istri muda sontak tersenyum bahagia, hatinya menghangat melihat pemandangan yang menyejukkan mata itu, seandainya mereka tau kalau Monita sedang mengandung cucu pertama mereka, pasti mereka akan sangat bahagia, namun dia masih menjaga perasaan Naomi.


Sementara Naomi, ia segera pamit untuk ke kamarnya karena tidak tahan melihat sang mertua memberi perhatian lebih pada madunya, dadanya semakin sesak, dia tidak mampu lagi menahannya, dia takut air matanya yang sudah menggenang dalam pelupuk matanya jatuh di depan mertuanya, untuk mengantisipasi hal itu, lebih baik dia pergi dari hadapan mereka.


****


Merasa sudah terlalu lama berada di apartemen Andre, Eden pun memutuskan untuk kembali mengaktifkan ponselnya.

__ADS_1


Berada lama di apartemen Andre membuat mood Eden kembali membaik, bagaimana tidak, seharian di apartemen Andre selalu menghiburnya dan membelikan makanan kesukaannya, selain itu, dia juga tidak tega membiarkan kakaknya berlama-lama mengkhawatirkannya.


Begitu ponsel diaktifkan, banyak notifikasi pesan dari kakak dan juga kakak iparnya masuk.


“Kak, aku mau pulang.” Ucap Eden selesai membaca pesan dan sontak menghentikan langkah Andre, begitu Andre lewat di depannya.


“Benarkah? Apa mood mu sudah membaik?”


“Sepertinya begitu.”


“Apa kamu tidak ingin tidur di sini saja?” Tanya Andre dengan isengnya.


“Apa? Tidur di sini? Berdua saja? Maaf itu tidak akan terjadi!” Cetus Eden kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu.


“Bercanda kok, tunggu biar aku antar.” Andre pun mengambil jaket yang tergantung dan menyambar kunci mobil yang ada di atas meja.


Sedangkan bu Nancy dan pak Agam, pamit pada Ilham dan Monita untuk pulang ke rumah mereka.


Mereka sudah tidak sempat pamit pada Naomi, karena sejak tadi Naomi terus mengurung dirinya di kamar, Ilham beralasan pada kedua orang tuanya kalau Naomi sudah tidur.


“Ya sudah mama sama papa pamit pulang dulu ya.”


“Iya ma.” Jawab Ilham dan Monita secara bersamaan.


“Kamu jaga diri baik-baik ya, meski pun suami kamu sudah pulang nantinya, jangan lupa untuk sering main ke sini atau ke rumah mama, kami akan dengan senang hati menerima kamu dengan tangan terbuka.” Ujar Nancy sembari mengusap lembut pundak Monita.


“Iya ma, terima kasih ya ma.” Jawab Monita.


“Iya sama-sama, mama sama papa pulang dulu ya.” Ucap Nancy lalu kemudian mengecup kedua pipi Monita.

__ADS_1


Kelembutan sikap Nancy benar-benar membuat Monita merasa sangat nyaman, dia seperti kembali merasakan kasih sayang seorang ibu yang sudah lama ia rindukan, hari ini, Monita sangat bahagia, meski Ilham mengabaikannya tapi dengan datangnya bu Nancy, hati Monita jadi membaik dan tidak merasa kesepian lagi.


__ADS_2