Rahim 1 Milyar

Rahim 1 Milyar
Eps 134 Ilham Tidak Sebodoh Itu


__ADS_3

“Terima kasih nona, kalau butuh jasa boleh hubungi saya lagi, saya akan bersedia membantu di mana pun saya berada.” Ucap pengendara motor yang hampir menabrak Syakil tadi. Pria itu ternyata seseorang yang dibayar Rosa untuk menjalankan misinya.


Sama sekali tidak Eden duga, semua ini adalah rekayasa Rosa demi bisa masuk di kediaman Ilham. Seperti yang pernah dia katakan sebelumnya, dia akan melakukan berbagai cara agar bisa kembali bebas keluar masuk di rumah megah tersebut.


“Baiklah, kamu sudah bekerja dengan baik hari ini jadi bayaranmu juga sesuai dengan hasil kerjamu. Cepat pergi dari sini, aku tidak mau ada orang yang melihat.” Imbuhnya mengahalau pria itu seraya melirik ke sana kemari, untuk memastikan bahwa tidak ada yang melihat.


“Siap nona, saya pamit.” Ujar pria itu sebelum menaiki motornya dan segera berlalu meninggalkan Rosa sendirian.


“Kenapa tidak dari dulu ya aku punya ide begini, bodohnya kau Rosa. Kalau dari dulu begini, aku pasti bisa memiliki mas Ilham bahkan saat dia masih berumah tangga dengan Naomi.” Perempuan itu bermonolog seraya merutuki kebodohannya.


“Tapi tidak apa-apa, setidaknya hari ini rencanaku berhasil.”


Keesokan harinya…


Ting Tong…


Suara bel pintu utama berbunyi, Eden yang kebetulan berada tak jauh dari ruang tamu bergegas membukakan pintu.


“Selamat pagi…”


“Rosa?”


Sepagi ini, Rosa sudah berada di rumah Ilham, bahkan di saat Ilham belum ke kantor. Dia sengaja datang pagi demi membawa sarapan untuk mereka semua.


“Tidak usah repot-repot Ros, bi’ Ratih juga sedang memasak.” Ujar Eden jadi tak enak hati.


“Jangan sungkan, aku senang kok, sengaja aku datang sepagi ini biar kalian bisa mencicipi masakanku, lebih baik kau ke dapur sekarang dan bilang sama pelayan kalian untuk berhenti memasak karena aku sudah membawakan sarapan untuk kalian.”


“Baiklah kalau begitu.” Eden segera berlalu ke dapur untuk menemui bi’ Ratih, sedangkan Rosa tengah sibuk menghidangkan aneka macam masakan yang ia bawa ke atas meja.


“Rosa?” Sapa Monita begitu dia dan Ilham baru turun dari kamar mereka.


“Selamat pagi Mon, selamat pagi mas.” Rosa menyapa Ilham dan Monita dengan menampilkan senyum yang sehangat mungkin. Satu hal yang membuat Monita mengerutkan dahinya, Rosa memanggil Ilham mas, sedekat apa hubungan mereka memangnya?


Sementara Ilham, tidak menggubris sama sekali sapaan Rosa padanya. Dia masih terus memasang wajah datar, meski pun keinginannya sudah Monita penuhi, tapi tetap saja dia masih dendam karena kemarin, gara-gara wanita ular ini dia sampai sakit kepala karena permainannya bersama sang istri terhenti di tengah jalan.


“Rosa, semua ini kamu yang masak?”

__ADS_1


“Iya Mon, coba deh kamu cicipi yang ini.” Ujarnya sembari menyuapkan satu sendok sop ayam pada Monita dan sontak membuat Ilham menepis tangan wanita itu hingga sop dalam sendok tersebut tumpah dan mengotori meja makan.


Ilham seketika panik, dan mengambil semangkok sop tersebut kemudian memeriksanya.


“Mas? Kenapa?” Tanya Monita yang terkejut melihat aksi suaminya yang diluar dugaan itu.


“Sop ini beracun, kamu jangan memakannya.”


“Hah? Tidak mungkin mas.”


“Mas memfitnahku?”


“Coba kamu cicipi kalau berani.” Ilham menyodorkan sesendok sop ke arah Rosa.


“Ada apa ini?” Tanya Eden yang baru saja tiba dari dapur.


“Tidak ada yang boleh menyentuh semua makanan ini.”


“Kenapa kak?” Tanya Eden yang semakin tak enak hati pada Rosa. Kenapa juga Ilham harus berbuat tidak sopan begini pada penyelamat anaknya pikir Eden.


“Kenapa diam? Cicipi sekarang!” Suara Ilham naik satu oktaf hingga membuat Rosa memejamkan matanya karena sentakkan Ilham.


“Apa perlu aku masukkan sendok ini secara paksa ke mulut kamu?!”


“Jangan mas.” Rosa memelas dengan ketakutan yang sejelas itu.


“Kenapa? Kau takut?”


“Bu.. bukan begitu mas.”


“Lalu apa?!”


Eden dan Monita dibuat bungkam, Rosa tampak ragu lalu dua wanita itu juga ikut curiga. Gelagat Rosa aneh, dia tidak berani mencicipi masakannya sendiri. Bagaimana mereka tidak curiga coba.


“Mengaku kamu! Kalau tidak, sop sebaskom ini akan saya masukkan ke mulut kamu secara paksa.”


“Iy.. iya mas aku mengaku.”

__ADS_1


“Aku menaruh racun dalam sop itu, dan itu kuberikan khusus untuk Monita.” Jawab Rosa sembari menundukkan kepala. Tubuhnya bergetar, dia takut sekali apa yang akan terjadi padanya setelah ini.


Ilham menarik sudut bibirnya sembari menggeleng-gelengkan kepala, demi bisa masuk ke rumahnya wanita ular ini sampai melakukan hal serendah ini.


Sedangkan Eden dan Monita, mereka terperangah dan tidak bisa berkata-kata lagi kala mendapat pengakuan dari Rosa terkait sop beracun tersebut.


“Kau mau membunuh kakakku? Siapa kau sebenarnya Rosa? Apa kau masih mencintai kak Ilham?”


Lagi-lagi Monita terperanjat, matanya membeliak lalu menatap Eden dan Ilham bergantian.


“Apa yang kamu ketahui Den?” Tanya Monita kemudian.


“Rosa adalah wanita yang dulu begitu terobsesi ingin memilikiku, bahkan waktu aku masih bersama Naomi, dia juga kerap mengganggu rumah tangga kami sayang. Dan sekarang, dia juga ingin melakukan hal yang sama untuk merusak rumah tangga kita. Bahkan kali ini lebih parah, dia ingin melenyapkan nyawamu. Tadi aku sudah mencium bau racun dari sop ini dan ternyata kecurigaanku benar. Wanita ini tidak lebih dari wanita iblis yang suka melakukan hal di luar nalar seperti ini.” Jika Rosa pikir dia bisa membodohi Ilham maka dia salah besar, Ilham tak segampang itu dibodohi.


Mendengar itu Monita menutup mulutnya yang sedikit menganga. Satu fakta yang tidak dia tau, Rosa wanita yang dulu sering mengerjainya di rumah bordil ternyata mencintai suaminya.


“Tapi kenapa mas baru bilang sekarang kalau kalian pernah dekat?”


“Itu karena mas ingin menyelidikinya terlebih dahulu sayang, dan lihat sekarang, semua kecurigaan mas tentang perempuan ini terbukti kan.”


Monita mencoba mengerti kemudian beralih menatap Rosa, ia berjalan mendekat ke arah wanita itu dan mendaratkan telapak tangannya ke wajah Rosa. Rosa merasakan panas diwajahnya hingga meneguk salivanya susah payah. Baru kali ini dia merasa setakut itu pada Monita, rival beratnya dalam hidup.


“Tega kamu ya, atau jangan-jangan sewaktu Syakil hampir ditabrak kemarin juga itu rencana kamu? Aku sudah berbaik hati mau menyambut kamu di rumah ini, tapi nyatanya apa? Ini balasan kamu? Kamu berniat mencelakai aku dan calon anakku!” Sentak Monita dengan suara melengking memenuhi ruang makan itu.


Rosa terdiam, dia tidak bisa berkata-kata lagi. Hendak menyangkal tapi dia yang akan mati nanti kalau tidak mengaku. Rosa berada di persimpangan jalan hingga tak ada pilihan, dia terpaksa mengakui kesalahannya karena sejauh ini, Rosa sangat paham bagaimana nekatnya Ilham kalau sudah murka. Dia tidak segan menyakiti musuhnya bahkan akan membunuh mereka jika berani mengusik ketenangan dirinya dan keluarganya.


Sebagai orang yang sudah mengenal Ilham sejak lama tentu tau dan pernah menyaksikan bagaimana kejamnya Ilham jika mengatasi musuhnya. Dia tidak suka melibatkan pihak berwajib, akan lebih puas rasanya jika dia menghabisi musuhnya dengan caranya sendiri. Hanya Rendy dan Naomi saja yang dia penjarakan karena mungkin sudah bertaubat begitu dia menikahi Monita. Ya begitu banyak pengaruh Monita dalam merubah perangai buruk Ilham. Tapi tidak tau sekarang bagaimana cara dia menghukum Rosa yang sudah hampir mencelakai dua permata hatinya.


“Roy! Doni!” Panggil Ilham pada dua pengawalnya.


“Ya tuan.” Secepat kilat dua pengawal itu datang memenuhi panggilan tuan mereka.


“Bawa perempuan ini keluar dari rumah ini, dan buat sampai dia tidak akan masuk lagi ke sini.” Titah Ilham pada dua bodyguard andalannya.


Mendengar itu jelas saja Rosa ketar ketir, hendak dibawa ke mana dia? Sungguh ketakutan itu menggelora dalam batinnya, demi apapun Rosa cemas, apa yang dia takutkan akan terjadi.


“Mas, tolong maafkan aku. Aku berjanji tidak akan mengusik keluarga kalian lagi.” Bujuk Rosa dengan wajah memelas.

__ADS_1


“Mon, tolong aku.” Namun wanita itu membuang muka, dia sudah terlanjur kecewa.


Begitu Rosa menatap Eden, wanita itu juga tidak menggubrisnya. Alih-alih menanggapi Rosa, dia malah berlalu dari tempat itu dan meninggalkan mereka.


__ADS_2