
Tidak puas bermain dengan bibir, ranjang itu menjadi saksi bisu penanaman saham, saham yang akan ia tuai 9 bulan ke depan, bila Tuhan berkenan, maka pria itu akan mendapatkan keturunan lewat Monita, istri sirinya.
Ilham mulai menekan tombol off pada lampu kamar yang ada di dekat ranjang, kini kamar itu sudah gelap gulita, makin resahlah hati gadis itu.
“Bagaimana ini?” Bisiknya lirih, Monita cemas, tangannya sudah mulai meremas kain seprai yang ia tiduri, ini di luar ekspektasi Monita, tadi ia sungguh-sungguh tidak serius menyinggung kejantanan Ilham suaminya itu.
Monita tau Ilham lelaki perkasa, seratus persen yakin, karena mereka sudah pernah melakukannya sekali, tidak lebih tepatnya, hanya Ilham yang melakukannya, dia hanya korban dari kebringasan Ilham, luka lecet yang dialami Monita malam itu di kote Bern, adalah bukti bahwa pria itu benar-benar tangguh.
Kini belum apa-apa Monita sudah takut, sekelabat bayangan dirinya di perkosa Ilham malam itu terlintas, dia kembali merasa trauma membayangkan perih pada area intimnya.
Ketika Monita dibayang-bayangi dengan perasaan takut karena rasa perih, berbeda sekali dengan Ilham.
Kemarahan Ilham yang tadi terlihat kini berubah, situasi ini membuat kemarahan Ilham lebur berubah menjadi gelora yang hangat dan mulai memanas.
Wajahnya sudah terasa panas dingin, hati, jantung dan organ lain juga sudah mulai cenat cenut tak terkendali.
Tidak mau membuang waktu, Ilham pun beraksi, dia mengungkung Monita yang ada di bawahnya.
Kembali merampas bibir yang lipstiknya sudah hilang entah ke mana, menyisakan rasa manis, bagai candu, Ilham enggan melepas tautan itu.
Sementara Monita, dia kesal bukan main, sejak tadi Ilham terus saja menggigitnya, jengkel Monita balas menggigit bibir Ilham, kontan hal itu membuat Ilham kaget.
“Jadi dia mau bermain-main.” Batin Ilham, dia terpacu kembali dengan aksi Monita, Ilham pun melepas tautan bibir mereka.
Kini ia beralih ke leher jenjang yang bersih tanpa noda itu, sebentar lagi Ilham akan melukis banyak gambar di sana.
“Awww.” Pekik Monita tak lama kemudian.
Ilham benar-benar pandai mengerjai gadis yang tak gadis itu, dihisapnya leher Monita bagai Vampire yang haus darah, begitu banyak bekas di sana, sebuah jejak yang mungkin akan membuat Monita malu nantinya, bila ada yang menanyakannya.
Dalam permainan ini, Ilham yang menguasai, dia benar-benar tau titik lemah lawan, ia sukses membuat Monita melengkung merasakan serangan demi serangan yang ia luncurkan.
Baru juga mulai, tapi Monita sudah tampak tak berdaya.
Dengan senyum penuh kemenangan, Ilham kembali memulai aksinya.
“Kalau sudah begini, apa lagi yang akan kau katakan?” Bisik Ilham tepat di telinga Monita yang masih ada dalam kungkungannya.
__ADS_1
“Sekarang kamu tau bagaimana saya bila sudah marah?”
Di dalam kegelapan kepala Monita hanya mengangguk pelan.
“Katakan!” Kata Ilham yang ingin mendengar suara gadis yang menjadi tawanannya itu.
“Monita janji tidak akan membuat Mas marah lagi.” Ucap Monita lirih.
“Pintar, dan ingat, jangan pernah dekat-dekat dengan pria lain, terutama David!”
Tanpa sadar Monita sudah mulai menikmati permainan yang Ilham berikan, itu semua karena cinta, ya Monita sudah mulai mencintai Ilham, baginya Ilham hanya bayangan yang tak bisa disentuh, padahal ia ingin memiliki sosok nyata itu.
Seperti halnya wanita normal pada umumnya, Monita mulai serakah, dia ingin memiliki hati pria dingin itu.
Kini tangan Ilham sudah mulai aktif berkelana di balik kimono yang Monita kenakan.
Monita meringis karena merasa geli, melihat hal itu membuat Ilham makin tak tahan, puas memainkan benda-benda yang tak pantas disebut itu, Ilham langsung melempar celananya ke sembarang arah.
Kini Ilham kembali menggagahi Monita, kali ini tanpa paksaan, karena Monita memberikannya dengan sukarela.
Kantor Utama Anugrahjaya…
Saat matahari akan beranjak dan meninggalkan jejak jingga di sore hari, Andre buru-buru menuju ruang kerja atasannya.
Tok tok tok…
“Masuk!” Terdengar suara dari balik pintu.
“Tuan, ada informasi kalau bapak Aslan konsultan dari Turki akan menghadiri sebuah acara besar yang akan di hotel A bersama istrinya.”
“Baik, saya akan ke sana malam ini.”
“Tapi ini acara berpasangan tuan, apa perlu saya temani?”
“Tidak perlu!”
Andre pun memilih undur diri, sepertinya Ilham akan mengajak istri keduanya.
__ADS_1
“Saya permisi dulu tuan!”
Ilham mengangguk kemudian berbalik, ia menghubungi nomor Monita, ternyata semalam setelah pulang lembur, Ilham membelikan ponsel keluaran terbaru untuk Monita, namun karena keadaan semalam yang tak memungkinkan, membuat Ilham urung memberikan ponsel itu secara langsung, dia meletakkan ponsel tersebut di dalam lemari kamar, dengan sudah diberi sim card, ponsel itu sudah terisi, tinggal digunakan saja.
Sementara Monita yang kini baru keluar dari toilet kamar mereka, sontak terhenti saat mendengar dering telepon di sana, Monita membuka telinganya lebar-lebar, mendengar di mana sumber suara itu berasal, ah ternyata di dalam lemari, tapi ponsel siapa? Apa ponsel Mas Ilham ketinggalan? Batin Monita.
Akhirnya tanpa pikir panjang, Monita membuka lemari pakaian dan meraih ponsel yang ada dalam paper bag, Monita mengerutkan dahi.
“Ponsel siapa ini? Bukan ponsel Mas Ilham.” Gumam Monita dalam hati sembari membolak balikkan ponsel yang terus berdering itu di tangannya.
Dering ponsel itu masih terus berbunyi, menampilkan nama ‘suami tampanku’ dilayar ponselnya, Monita tersenyum geli membaca nama yang berkelap kelip di layar tersebut, hingga akhirnya, Monita menggeser ikon ke kanan, dan menjawab telepon tersebut.
“Halo.”
“Siap-siap sekarang!” Ucap Ilham tanpa basa basi lagi.
“Mau ke mana Mas?”
“Sudah jangan banyak tanya!”
Tut tut tut
Telepon terputus.
“Memangnya mau ke mana? Mau ke luar negeri lagi mencari Mbak Naomi?” Monita langsung layu, memikirkan istri pertama suaminya membuat dia sadar, sesadar sadarnya.
Berharap pada Ilham seperti menunggu Deddy Corbuzier tumbuh rambut, rasanya tidak mungkin.
Rupanya Monita sudah pandai mengatur penampilannya, ia memilih gaun yang dibelikan Ilham untuknya dan memoles make up di wajahnya, kini Monita tampak cantik dengan gaun lengan pendek berwarna biru tua, panjang gaun itu selutut, gaya rambut Monita ditata ala sanggul modern low updo, membuat Monita terlihat sederhana namun tetap elegant.
Ceklek…
Pintu kamar terbuka, sejenak Ilham dibuat terpana dengan penampilan Monita sekarang, mungkin Ilham sedang puber kedua, matanya tak beralih menatap pemandangan yang sedap di mata tersebut.
Monita tampil apa adanya saja membuat hati Ilham cenat cenut, apalagi sekarang Monita bak bidadari yang sangat mempesona.
“Ternyata dia sangat cantik, bahkan lebih cantik dari Naomi.” Ilham tersenyum bangga, namun dia kembali menepis pikirannya itu, bagaimana mungkin dia membandingkan cinta pertamanya itu, pujaan hati yang sudah bertahun-tahun lamanya dia cintai dengan Monita, sepertinya Ilham sudah gila, hati Ilham mulai bercabang dua.
__ADS_1