
Hari ini tepat dua bulan sudah Monita menghilang, Ilham sudah mencari istrinya ke mana-mana tapi tak kunjung ditemukan juga, Ilham sampai frustasi sendiri, bahkan saking frustasinya ia sampai sudah tak merawat diri lagi.
Ilham juga sudah menanyakan keberadaan Monita pada Andre, namun Andre tetap bungkam dan pura-pura tidak tau saat di tanya oleh Ilham.
Selama dua bulan pula Ilham sudah tidak masuk kantor, semua urusan pekerjaan ia serahkan pada Andre, ternyata semarah apapun dia pada Andre karena diduga sudah menyembunyikan Monita, namun dia tidak bisa memecat Andre karena kinerja Andre yang terlampau baik jika dibandingkan dengan karyawan yang lain.
Kini ia mencari Monita menggunakan orang suruhannya yang lain, dia sudah lelah meminta bantuan Andre untuk mencari istrinya, karena hasilnya tetap saja nihil.
Seperti hari ini, Ilham mengendarai mobilnya cukup kencang, seolah diburu waktu, pria itu mengendarai mobil begitu cepat.
Tidak peduli pada rambu-rambu lalu lintas, tidak takut kena tilang, polisi tidur ia lindas, Ilham tak peduli pada apapu lagi.
Monita, hanya nama itu yang kini berputar-putar dalam benaknya.
Mobil Ilham menepi di sebuah kawasan sederhana, di belakang gedung-gedung yang menjulang tinggi, ya Ilham ingin mencari Monita di setiap kost-kostan yang ada.
Tok…. Tok… Tok…
Ia mengetuk pintu rumah pemilik kost itu, lama ia menunggu, sepertinya tidak ada penghuni, sampai satu jam lebih akhirnya Ilham memutuskan untuk kembali, ini sudah kost ke sepuluh yang Ilham kunjungi.
Alih-alih pulang ke rumah, Ilham malah ke club malam, pusing tak tau lagi harus mencari istri mudanya itu ke mana, Ilham melampiaskan frustasinya pada minuman.
Kini, di depannya sudah ada beberapa botol minuman kosong, isinya sudah ia habiskan semua, sudah habis ia tenggak tanpa sisa.
Saat pulang, pria beristri dua itu sudah terlihat sempoyongan, hingga harus ada sopir pengganti untuk mengantarnya pulang.
Kediaman Ilham…
Sudah jam lima subuh, Naomi harus terbangun karena ada yang menggedor pintu kamarnya.
“Astaga mas? Kamu kenapa?” Naomi memapah tubuh suaminya hingga sampai ke ranjang.
__ADS_1
Direbahkannya tubuh sang suami, dilepasnya sepatu Ilham sembari menatap dengan miris, sungguh pemandangan yang sangat melukai hati.
“Pasti karena perempuan itu!” Batinnya.
Naomi tidak memberitahukan keberadaan Monita pada Ilham waktu itu karena ia takut Monita akan merebut Ilham darinya, perkataan Monita tempo hari yang meminta Naomi menukar Ilham dengan anaknya membuat Naomi takut dan was-was, dia lebih takut kehilangan suaminya.
Padahal Monita berkata seperti itu hanya agar Naomi menyerah dan tidak akan menuntut untuk memberikan anaknya pada mereka.
Setelah ingin melepas jaket yang dikenakan suaminya, begitu wajahnya dekat dengan wajah Ilham, ia menahan napas, bau alkohol itu sangat menyengat.
Ia kembali mendesis kesal, apa istimewanya Monita? Hingga membuat suaminya yang tidak pernah mabuk-mabukan jadi teler berat seperti ini.
Keesokkan harinya, Ilham terbangun dan memegangi kepalanya, ia merasa pusing dan perutnya tidak nyaman.
“Apa terasa pusing?” Tanya Naomi yang muncul di balik pintu.
Ilham tak merespon, ia malah fokus pada kepalanya yang terasa seperti ditusuk-tusuk.
“Minumlah!”
Sebenarnya Ilham tak butuh itu, hanya dengan bertemu Monita, rasa pusingnya akan langsung hilang.
Pukul dua belas siang, ketika matahari berada tepat di atas kepala, seorang pria suruhan Ilham yang lainnya datang ke rumahnya.
“Dia ada di ruang kerjanya!” Ucap Naomi dengan dingin pada orang itu.
Wanita itu kesal, dia sudah tau itu adalah orang baru suruhan Ilham untuk mencari Monita, pria itu sudah beberapa kali datang ke rumah.
Tok… tok… tok…
“Masuk!”
__ADS_1
Suruhan Ilham yang bernama Doni itu masuk ke dalam ruang kerja Ilham.
“Bagaimana?”
Doni menggeleng.
“Kerja yang benar Don! Saya membayar mahal tidak untuk omong kosong seperti ini!!”
Meski nadanya marah, pria itu terlihat putus asa, Monitanya hilang, entah ke mana. Sebagai pelampiasan rasa frustasinya, Doni yang kena getahnya.
“Kami masih berusaha mencarinya tuan!”
“Cari yang benar! Apa susahnya mencari wanita yang sedang hamil itu, pasti dia tidak akan lari jauh!”
Doni tak membantah, ia hanya mengangguk tanda mengerti, kemudian ia menyerahkan sebuah berkas ke atas meja.
“Ini sesuai permintaan tuan, nona Monita tidak akan bisa meninggalkan negara ini, tapi….”
“Tapi apa?!” Sentak Ilham yang frustasi.
“Pencekalan ini takkan berhasil kalau nona Monita mengubah identitasnya.”
“Bicara apa kamu Don! Anak itu ah….!! Anak itu mana tau perkara seperti ini.” Ketusnya kesal sendiri, sebenarnya dia juga takut kalau sulit menemukan Monita karena merubah identitasnya.
Sekarang dua pria itu duduk berhadapan dengan pikiran masing-masing, Ilham memikirkan Monita sedangkan Doni entah apa yang ia pikirkan.
Di tempat yang berbeda, di sebuah rumah yang megah dengan pagar yang menjulang tinggi.
Di dalam rumah itu, di salah satu kamar, seorang wanita dengan perut yang besar sedang terbaring lemah dengan kompres di dahinya.
Sedangkan di sisi ranjang, seorang pria menatapnya dengan intens, ada tatapan tak biasa, entah empati atau ketertarikan terhadap wanita hamil itu, membuat matanya tak beralih.
__ADS_1
Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan silih berganti, ini adalah bulan ketiga Monita menghilang tanpa jejak.
Ilham pun semakin frustasi, ia tak tau lagi harus mencari Monita ke mana, namun dia tetap tak putus asa, ia malah semakin bersemangat untuk mencari Monita, meski hatinya dipenuhi rasa gelisah, dia tetap tidak akan menyerah, karena kalau dihitung sesuai usia kandungannya, pasti saat ini anaknya sudah lahir, anak yang ia nanti-nantikan selama bertahun-tahun, anak yang ia tak tau jenis kelaminnya apa, namanya siapa, ah benar-benar membuat Ilham semakin frustasi.